
Betapa kecewanya rumit kepada Jaka yang telah menghianati nya. Rasa cinta di hati nya kini telah berubah menjadi benci. Gadis itu berusaha menghapus rasa cinta itu di hatinya terhadap laki-laki yang berkacamata itu.
***
Toni kembali lagi ke cafe Marco. Laki-laki itu kembali untuk makan siang sekalian mau bertemu dengan Dea gadis yang telah membuat nya penasaran.
Ia duduk di pojok cafe sambil menunggu kedatangan gadis itu untuk melayaninya. Padahal di sana banyak karyawan lain yang berlalu lalang melewatinya. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak ingin dilayani oleh mereka. Ia hanya ingin dilayani oleh Dea.
"Pak mau pesan apa?" Tanya salah satu karyawan yang berjenis kelamin laki-laki kepada Toni.
"Oh maaf, apa gadis uang bernama Dea itu kerja hari ini?" Bukan nya menjawab apa yang ditanyakan oleh karyawan tadi melainkan ia bertanya balik tentang Dea apakah masuk kerja hari ini atau tidak.
"Oh Dea, iya pak Dea masuk kerja kok hari ini. Emang nya ada apa?"
"Saya mau Dea yang melayani saya disini. Apa bisa?"
"Oh tentu bisa pak. Sebentar saya panggilkan dia dulu" Ujar Karyawan tadi pergi memanggil Dea yang sibuk melayani meja lain di lantai dua.
"Dey,"
"Iya Soni ada apa?" Tanya nya saat Soni datang menghampiri nya.
"Itu di lantai bawah meja nomor lima meminta kamu yang melayani nya" Jelas Soni tanpa basa-basi kepada gadis yang memiliki lesung pipi itu.
"Lo, kenapa?" Dea heran.
"Aku juga gak tahu sih. Yang jelas dia minta kamu untuk datang ke sana dan melayaninya"
"Ya sudah sebentar lagi aku menghampiri nya" Ujar Dea. Meski di benak nya masih banyak sekali pertanyaan tentang orang yang meminta di layani oleh nya itu.
"Siapa sih orang itu? Kenapa juga harus aku yang melayaninya bukan karena sedikit lagi karyawan yang lainnya bisa melayaninya dalam menyajikan makanan" Cerutu Dea. Tanpa atau di layani oleh nya, toh orang itu bisa saja makan di cafe nya. Karena yang di cari di sana hanyalah makanan bukan?
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dea saat tiba di meja yang di katakan oleh Soni tadi.
Toni yang sedari tadi melihat menu-menu makanan yang ada di cafe itu. Dimana daftar menu tersebut yang berbentuk buku menutupi wajahnya sehingga Dea tidak bisa melihat siapa orang yang minta dilayani olehnya tadi.
Toni menutup daftar menu tersebut dan menatap Dea. Mereka pun saling bertatapan mata.
"Anda?" Tanya Dea kaget melihat Toni lagi bertemu dengannya. Toni tersenyum manis kepada Dea.
"Hai, kita bertemu lagi" Ujar nya dengan ramah.
"Ngapain sih ini orang lagi? Kenapa juga meminta ku untuk melayani nya" Batin nya lagi.
Dea mengukir senyuman yang tampak di paksa kan. Sejujurnya gadis itu tidak merasa nyaman dengan kehadiran Toni yang memintanya untuk melayani diri nya mengantarkan makanan.
"Mau pesan apa pak?" Tanya Dea dengan senyuman yang dipaksakan.
"Hmm... Tolong buatkan saya makanan yang terfavorit dan yang termahal di cafe ini" Ujar nya lagi.
"Apa bapak tidak mau melakukan challenge lagi?" Tanya Dea dengan tatapan menyelidik.
"Oh gak. Terima kasih. Itu saja pesanan saya" Ujar Toni lagi.
"Baik lah tunggu sebentar ya pak"
Setelah beberapa menit kemudian dia pun kembali dengan membawa makanan yang terfavorit di cafe itu.
"Silahkan di nikmati" Ujar nya lagi.
"Terima kasih"
__ADS_1
Dea pun melangkah ingin pergi dari tempat duduknya Toni.
"Kamu mau kemana?"
"Saya harus melanjutkan pekerjaan saya pak"
"Jadi kamu tidak menemaniku makan seperti kemarin?"
"Maaf pak, kemarin karena bapak melakukan challenge, makanya saya menemani bapak hingga bapak selesai melakukan challenge tersebut" Jelas Dea.
"Maaf pak saya permisi dulu" Ujar nya lagi beranjak dari tempat itu.
Toni hanya menatap kepergian Dea dengan tatapan hampa. Dimana dia sangat berharap bahwa Dea bisa menemani dirinya makan siang itu seperti kemarin telah pupus sudah.
Setelah selesai makan siang, Toni pun kembali memanggil Dea untuk meminta bil pembayaran. Dea menyerahkan bil pembayaran kepada Toni. Uang yang Toni berikan kepada Dea telah diselipkannya sebuah kartu nama peserta surat kecil untuk Dea.
Dea sama sekali tidak menyadari keberadaan surat dan kartu nama itu. Gadis yang memiliki lesung pipi itu langsung memberikan semua yang ia dapat dari Toni tadi kepada kasir.
Tina yang bekerja di kasir itu pun memilah-milah uang yang di berikan Dea tadi. Hingga terjatuh lah kartu nama dan surat kecil tersebut. Tina pun membaca isi surat itu.
"Dea" Panggil nya setelah melihat gadis itu melewatinya.
"Iya, ada apa Tina?" Dea menghampiri Tina.
"Ini ada surat untuk mu" Ujar nya lagi sambil menyerahkan kartu nama dan juga surat yang ia jumpai tadi.
"Surat?" Dea mengerutkan kening nya merasa heran ada surat yang ia tidak di ketahui dari siapa.
"Cie, ternyata ada penggemar rahasia nih, sepertinya pak Marco akan mendapat saingan yang berat" Ujar Tina meledek Dea.
"Apaan sih Tina" Dea tersipu malu.
"Hay gadis manis. Wajah mu selalu menghantui di setiap malam ku. Ini kartu nama ku. Aku harap kamu bisa menghubungi ku. Aku ingin berkenalan dengan mu dan dekat sebagai teman. Toni" Isi surat itu.
Bukan bermaksud sombong atau bagaimana, gadis itu saat ini sudah memiliki kekasih yaitu Marco. Ia hanya ingin menjaga hati laki-laki itu agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Karena ia tahu Marco sangat tidak bisa melihatnya dekat dengan laki-laki lain. Laki-laki itu sangat over protektif terhadap Dea.
***
"Selamat siang buk, mari buk duduk di sini? Saya akan menyajikan makanan terfavorit di cafe ini" Ujar pak Suardi sebagai manajer cafe menyambut kedatangan Ratna mamanya Marco di cafe milik anaknya itu.
"Terima kasih" Wanita paruh baya itu duduk di kursi yang disediakan oleh Suardi dengan gaya elitnya.
"Oh ya Suardi. Marco nya ada? Apa dia tidur di cafe ini tadi malam?"
"Iya buk. Pak Marco tidur di cafe tadi malam"
"Terus di mana dia sekarang? Aku mau bertemu dengan nya"
"Pak Marco sedang berada di kantornya dan sampai saat ini dia belum kembali"
"Oh begitu, kalau begitu aku mau menunggunya di ruangannya saja" Ujar Ratna berdiri menuju ke ruangan Marco.
Baru saja ingin memasuki ruangan Marco, ini langkahnya berhenti saat melihat gadis yang ada di pojok ruangan cafe itu. gadis itu tampak sibuk menyajikan makanan yang dipesan oleh pelanggannya.
"Bukan kah itu gadis kampung yang datang bersama Marco tadi malam" Batin nya.
"Eh, Suardi apa itu Dea?" Tanya Ratna memastikan.
"Iya buk. Itu Dea"
"Apa dia bekerja di sini?"
__ADS_1
"Iya buk, dia memang bekerja di sini. Pak Marco yang meminta nya untuk bekerja di sini" Jelas Suardi apa ada nya. Yah memang waktu itu Dea sama sekali tidak diterima oleh Suardi bekerja di cafe itu. Tapi karena Marco yang meminta laki-laki paruh baya itu menerimanya maka dengan terpaksa Suardi pun menerima Dea untuk kerja di cafenya
"Ternyata gadis itu memang sudah memanfaatkan putra ku. Aku pikir dia bekerja di cafe lain tidak di cafe ini. Tapi ternyata aku salah. Jika dia berada di sini, maka Marco dan gadis itu akan sering bertemu? Ini sebab nya kenapa Marco sering menghabiskan waktu nya di cafe" Batin Ratna.
Dengan tatapan yang penuh dengan kekesalan, wanita paruh baya itu datang menghampiri Dea. Ia menarik lengan gadis itu dengan kasar. Dea yang tadinya masih sibuk menyajikan makanan pun kaget dengan keberadaan wanita paruh baya itu di hadapannya.
"Ternyata kamu bekerja di sini? Kamu sengaja ya mau dekat-dekat dengan anak saya. Dasar gadis kampungan mata duitan" Maki Ratna lagi kepada Dea.
"Maaf tante, saya tidak ada bermaksud seperti apa yang tante tuduhkan. Saya bekerja di sini jauh sebelum saya menjalin hubungan dengan mas Marco" Jelas Dea dengan tertunduk ketakutan.
"Apa kamu bilang? Mas? Kamu panggil anak ku dengan sebutan mas?" Ratna tersenyum mengejek kepada gadis yang ada di hadapannya itu.
"Eh, Marco itu atasan kamu, bos kamu. Kamu itu harusnya sadar antara kamu dan Marco seperti langit dan bumi. Jauh sangat-sangat jauh" Ujar Ratna lagi.
Sontak semua pengunjung yang ada di sana melihat kejadian itu. Dea merasa malu karena telah direndahkan di depan banyak orang seperti ini oleh Ratna.
"Kamu itu seharusnya sadar dong, kamu tidak pantas menjadi pendamping hidupnya Marco. Dan aku mama nya Marco sama sekali tidak pernah setuju atas hubungan kalian" Ujar nya lagi.
"Tapi tante, saya dan mas Marco saling cinta"
"Saling cinta kamu bilang" Lagi-lagi senyuman mengejek di perlihatkan oleh Ratna.
"Sadar dong, cinta kalian tidak akan pernah bersatu karena aku akan melarang keras Marco untuk menjalin hubungan dengan gadis miskin seperti kamu. Kamu pasti hanya ingin mengincar hartanya Marco kan?"
"Ya Allah tante, saya tidak pernah sama sekali mempunyai pikiran seperti itu"
"Jangan munafik kamu jadi orang miskin seperti kamu pasti sedang mengincar harta karena sudah capek hidup susah"
"Eh kalian semua yang ada di sini. Kalian, harus berhati-hati dengan gadis ini karena gadis ini mata duitan. Dia juga bukan gadis yang baik karena disebabkan oleh dia, anakku Marco, rela meninggalkan rumah dan menginap di sini. Gadis macam apa yang membiarkan seorang ibu dan anaknya bertengkar seperti itu. Harus nya dia itu membujuk aku dong untuk kembali ke rumah. Benar kan?" Tanya Ratna kepada pengunjung yang hadir. Untung saja saat itu hanya ada beberapa pengunjung yang datang ke cafenya Marco.
"Tante, jangan menuduhku seperti itu tante, saya sudah meminta mas Marco untuk kembali ke rumah dan meminta maaf kepada tante. Saya sama sekali tidak pernah menghasut mas Marco untuk bertengkar dengan tante" Jelas Dea lagi. Kini air mata yang berusaha ia bendung mengalir sudah di pipinya. Pipi mulus gadis itu pun basah dengan air mata.
Para pengunjung yang hadir pun tanpa berbisik-bisik membahas apa yang baru saja mereka saksikan di cafe itu. ada yang merasa simpati kepada Dea, ada juga yang menyinyir gadis itu.
Saat ini Iya bener-bener kembali merasa malu. Entah bagaimana lagi ia harus menyembunyikan wajahnya akibat hinaan yang diberikan oleh Ratna kepadanya di hadapan orang banyak.
Gadis itu tidak kuasa untuk membela diri karena ia tahu bagaimanapun ia membela dirinya karena pasti akan lebih menghinanya dan menyakiti perasaannya. Karena itulah Dea memilih diam dan tertunduk sambil menangis.
"Ma" Tegur Marco yang baru saja datang dan pulang dari kantornya. Marco mendekati kedua wanita yang berbeda usia itu.
Dea yang sudah dari tadi menangis tidak berani menatap laki-laki yang ia cintai itu ia terus menunduk.
"Mama apa-apaan sih, kenapa masih bertingkah seperti ini di hadapan orang banyak. Apa mama tidak malu dilihat orang banyak seperti ini?" Tanya Marco.
"Ha? Kenapa mama harus malu, mama hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Dan mama sama sekali tidak berbohong"
"Tapi perbuatan mama ini sama saja memang sudah mempermalukan diri mama sendiri"
"Ha? Apa sih maksud kamu Marco. Kamu masih saja membela gadis ini?" Tanya Ratna. Yah wanita paruh baya itu memang bertingkah abal-abal karena ia berasal dari keluarga yang tidak berpendidikan tinggi. Jelas etika nya juga berkurang. Tingkah abal-abal nya masih saja melekat di diri nya saat ini. Yah dia menjadi kaya raya seperti ini karena menikah dengan papanya Marco. Tapi Ratna seperti kacang yang lupa kulitnya. Ia tidak sadar bahwa dulunya itu dia berasal dari keluarga yang sederhana sama seperti Dea.
"Sudah dong ma, jangan seperti ini lagi. Lebih baik mama pulang saja" Ujar Marco.
"Kamu mengusir mama Marco? Kamu tega mengusir Mama seperti ini hanya karena gadis kampungan ini?"
"Ma, saat ini mama sedang berada di cafe Marco. Sikap mama yang seperti ini membuat semua pelanggan Marco merasa tidak nyaman. Secara tidak langsung mama juga mempermalukan Marco karena tinggal mama seperti ini. Marco akan menjadi bahan perbincangan orang ma" Ujar laki-laki itu lagi.
"Harus nya kamu mengusir dia bukan mengusir mama" Ujar Ratna lagi masih tidak mau mengalah.
"Ma, Dea ini karyawan ku. Tidak mungkin aku mengusir dirinya tanpa ada alasan yang jelas"
"Lo, alasan nya jelas bahwa dia ini tidak pantas bersama kamu. Dia hanya memanfaatkan kamu saja Marco sadar dong nak"
__ADS_1
Marco menghela nafas beratnya menghadapi tingkah laku mamanya yang tidak mau mengalah sama sekali seperti itu.
"Arya tolong kamu bawa mama pulang. Semakin lama dia di sini dia akan semakin membuat kerusuhan. Bisa-bisa para pengunjung cafe ini kabur" Pinta Marco kepada asisten pribadi nya itu.