
Rumi merasa bahagia karena bisa pergi kerja bersama Jaka laki-laki yang di cintai nya sejak pertama kali mereka bertemu itu. Sungguh ia tidak menyangka bahwa pagi ini ia bisa berboncengan dengan Jaka seperti dalam mimpi saja.
"Na... Na... Na... La.. La... La" Rumi bersenandung masuk ke dalam cafe untum memulai pekerjaan nya pagi ini. Yah karena mendapatkan ucapan semangat dari Jaka membuat gadis itu semakin bertambah semangat.
"Nanti malam aku mau nginap di kos nya Dea lagi ah. Siapa tahu besok Jaka akan mengantar ku pergi kerja lagi seperti tadi" Batin nya sambil tersenyum senang.
***
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Sumi yang sedang menyuapi Denis makan menghentikan kegiatannya.
"Siapa yang datang pagi-pagi ini?" Tanya Sumi kepada Denis.
Denis hanya menggelengkan kepala nya karena memang ia tidak tahu siapa yang datang berkunjung di rumah sederhana nya itu.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi" Ucap orang tadi sambil terus mengetuk pintu.
"Iya sebentar" Jawab Sumi dari dalam rumah.
"Sebentar ya nak. Ibu bukain pintu dulu" Ucap nya terus membuka pintu rumah nya itu.
Terlihat seorang gadis berambut ikal berdiri di depan pintu rumah nya. Gadis itu tersenyum dengan ramah kepada wanita paruh baya yang ada di hadapan nya itu.
"Iya, cari siapa ya?" Tanya Sumi dengan heran.
"Maaf mengganggu. Apa benar ini rumah nya Dea?" Tanya gadis tadi yang merupakan orang suruhan dari Rini.
"Iya benar ada apa ya?"
"Saya teman nya Dea dari kota. Nama saya Sari. Apa boleh saya masuk?" Ujar nya.
"Oh teman nya Dea ya. Boleh kok silahkan masuk"
Sari masuk ke dalam rumah sederhana yang memang memiliki perabotan yang sudah bisa di katakan antik. Dan beberapa perabotan rumah itu terlihat sudah rusak.
Denis yang memang sedari tadi duduk di ruang tamu di atas kursi rodanya pun tampak heran dengan kedatangan gadis itu.
"Siapa buk?" Bisik nya.
"Teman kakak mu dari kota" Balas Sumi dengan berbisik pula.
"Ini adik nya Dea ya. Gimana kabar nya?" Tanya gadis tadi dengan basa basi.
"Alhamdulillah baik kok kak. Kakak saya di kota bagaimana keadaan nya?" Denis balik bertanya.
"Oh Dea baik kok. Malahan terlihat sangat baik" Ucap nya lagi.
"Oh ya kedatangan saya ke sini hanya ingin melihat keadaan kalian saja untuk memastikan kepada Dea bahwa adik dan ibu nya baik-baik saja. Boleh saya mengambil foto kalian agar bisa saya kirim ke Dea sebagai tanda bukti nya" Ujar Sari.
"Oh tentu saja boleh"
Sari mengambil foto Denis dan ibu nya. Tak lupa ia pun mengambil foto bertiga dengan mereka. Namun sebelum mengambil foto, gadis itu memakai topi, kacamata dan masker agar tidak begitu jelas wajah nya terlihat.
"Terima kasih ibu, saya permisi pamit dulu. Dan Ini ada sedikit hadiah untuk kalian. Yah anggap saja ini sebagai tanda perkenalan kita" Ujar Sari memberikan amplop yang berwarna coklat itu kepada Sumi.
"Gak perlu nak"
"Gak apa-apa kok buk. Tolong di terima ya" Ujar nya lagi.
Dengan sedikit di paksa, Sumi pun menerima amplop yang diberikan Sari tadi kepadanya. Sari pun pergi meninggalkan rumah itu karena tugasnya telah selesai untuk sekedar melihat keadaan dan situasi yang ada di dalam rumah itu.
***
"Assalamualaikum buk" Ucap salam Dea kepada Sumi saat wanita paruh baya itu menghubunginya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam nak. Apa kamu sibuk?"
"Gak kok buk, aku masih masuk sif malam buk. Jadi aku masih banyak waktu saat ini"
"Sekarang kamu lagi ngapain?"
"Lagi baring-baring aja kok buk di kos. Ibu dan Denis gimana kabar nya?"
"Alhamdulillah baik kok nak. Oh ya tadi teman mu Sari datang ke sini lo"
"Sari? Teman Dea?" Tanya Dea heran.
"Iya Sari teman mu dari kota. Kata nya sih dia hanya ingin melihat keadaan kami di sini. Dan dia juga memberikan ibu sebuah amplop kata nya sih sebagai tanda perkenalan" Jelas Sumi lagi.
"Apa? Tunggu, aku gak ada lo buk teman yang nama nya Sari. Apa lagi dari kota, lagian ngapain juga aku meminta nya untuk datang ke sana melihat keadaan kalian?" Ujar Dea.
"Terus apa amplop nya ibu terima?"
"Iya, dia memaksa ibu untuk menerima nya"
Sontak Dea kembali berpikir tentang teror yang dialami beberapa waktu lalu.
"Apakah ini ada sangkut paut nya dengan orang yang selama ini meneror ku? Dan sekarang ia sudah beraninya menampakkan diri di hadapan ibu dan juga Denis. Itu arti nya mereka benar-benar dalam bahaya" Batin Dea.
"Dey, Dea. Apa kamu masih di sana?"
Dea kaget dari lamunan nya.
"Eh, iya buk. Buk dengerin aku ya buk. Jika nanti ada orang yang tidak ibu kenal datang ke rumah, atau bahkan mengaku-ngaku sebagai teman ku, ibu jangan gampang percaya ya buk. Apa lagi mempersilahkannya untuk masuk ke rumah. Bisa jadi mereka itu orang jahat buk yang mencari kesempatan untuk melakukan kejahatan kepada ibu dan Denis. Apalagi di rumah kita tidak ada laki-lakinya jadi ya itu akan mempermudah mereka untuk melancarkan aksi mereka terhadap ibu dan Denis di sana" Jelas Dea.
"Iya, kamu benar juga ya Dey. Jadi benar bahwa gadis tadi itu bukan teman mu"
"Bukan buk, aku sama sekali tidak ada teman yang bernama Sari di sini"
"Aduh, gimana ya? Terus amplop ini gimana?" Tanya ibu nya bingung.
"Atau gak ibu buang saja amplop itu buk. Jangan atau di bakar saja biar aman" Jelas Dea lagi.
"Ya sudah ibu bakar saja ya amplop ini"
"Iya buk bakar saja" Dea dan Sumi mengakhiri percakapan nya di ponsel.
"Siapa yang sebenar nya gadis yang di maksud oleh ibu? Apa ini merupakan salah satu teror yang mereka rencanakan lagi kepadaku" Batin Dea.
Ting...
Notifikasi ponsel Dea berbunyi tanda pesan masuk di ponselnya. Dengan terkesah-gesah Dea langsung membuka isi pesannya dikirim oleh nomor yang tidak dikenal tadi.
Dea membulatkan matanya saat melihat foto yang dikirim oleh nomor yang tidak dikenal tadi di mana foto itu ia ambil saat berkunjung ke rumah Dea.
Dea tidak bisa mengenali orang yang telah berfoto bersama Denis dan juga ibunya itu. Karena gadis itu memakai topi, kacamata dan juga masker yang menutupi wajahnya.
"Akan terjadi sesuatu yang besar nantinya bersama mereka karena kamu meremehkan ancamanku. Kamu hanya bisa menunggu dan mendengar kabar yang sangat menghebohkan nantinya" Tulis pesan dari nomor yang tidak dikenal tadi di bawah foto yang dia kirim.
Sontak Dea semakin cemas dan juga gelisah mendengar ancaman itu mengenai ibu dan adiknya di kampung.
Ting...
Lagi-lagi ponsel nya berdering menandakan telah masuk satu pesan lagi.
"Kamu masih mendekati Marco, jadi jangan salah kan aku jika aku melakukan hal ini kepada keluarga mu"
Dea langsung menelepon nomor tadi. Namun nomor itu sudah tidak bisa dihubungi.
"Siapa sih kamu? Kenapa mengancam keluarga ku yang tidak tahu apa-apa itu? Kamu sakiti saja aku jangan mereka" Pesan Dea kepada nomor tadi.
"Jika aku hanya menyakiti mu, itu tidak lah seru. Dan aku yakin, kamu semakin tidak peduli dengan peringatanku ini. Jadi aku memutuskan untuk melakukannya kepada keluargamu saja di kampung agar kamu sadar bahwa aku ini tidak main-main dengan ucapanku" Balas nomor tadi lagi.
__ADS_1
"Jauhi Marco atau kamu akan menyesal"
***
"Permisi selamat siang" Terdengar suara beberapa orang di luar rumah Sumi.
Sumi yang sedang memasak di dapur pun heran mendengar suara ribut-ribut dari luar rumah nya. Sedangkan Denis tidur karena telah minum obat saat itu.
"Iya sebentar" Teriak Sumi membuka pintu rumah nya.
Terlihat dua orang laki-laki tegap dengan berseragam polisi di depan rumah nya.
"Ada apa ya pak?" Tanya Sumi dengan heran.
"Apa benar ini rumah nya buk Sumi?"
"Iya saya sendiri ada apa pak?"
"Maaf buk, kami dari kepolisian datang ke sini untuk menggeledah rumah ibu karena ada yang melapor bahwa ibu sebagai pengguna barang terlarang narkoba" Jelas salah satu polisi tadi.
"Lo pak, ini nama nya fitnah pak. Saya sama sekali tidak memakai barang terlarang itu. Melihatnya saja saya tidak pernah" Jelas Sumi lagi merasa ketakutan. Yah karena ia benar-benar tidak mengerti. Kenapa ia bisa dilaporkan ke polisi atas tuduhan memakai barang terlarang itu.
"Maaf buk, kami akan memeriksa rumah ibu terlebih dahulu. Jika kami menemukan bukti, maka ibu harus ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan penjelasan" Ujar polisi itu lagi. Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah Sumi dan langsung menggeledah untuk mencari barang bukti.
Beberapa warga yabg hadir menyaksikan kejadian itu pun tampak mengekuarkan pro dan kontra mereka. Yah ada yang merasa simpati, ada yang mengejek menertawakan. Semua nya terdengar jelas di telinga wanita paruh baya itu. Ia hanya bisa pasrah kepada sang pencipta tentang apa yang mereka katakan terhadap nya saat ini.
"Ya Allah, siapa yang tega menuduh ku seperti ini. Apa untung nya jika menuduh ku? Dan jika aku masuk ke penjara, bagaimana dengan Denis? Pasti dia akan terbenggalai sendirian di sini" Batin Sumi merasa cemas dan bimbang.
Mendengar rumah nya ribut-ribut, Denis pun terbangun dari tidur nya.
"Buk, ibu" Teriak nya melihat salah satu polisi masuk ke dalam kamar nya.
"Iya nak" Sumi langsung menghampiri putranya itu dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Buk, ada apa ini buk? Kenapa ada polisi di rumah kita?" Tanya Denis takut.
"Gak apa-apa sayang. Pak polisi ini hanya memeriksa keadaan rumah kita saja" Jelas Sumi. Sumi dan Denis pergi ke luar kamar dan duduk di ruang tamu untuk menunggu hasil dari pemeriksaan polisi-polisi tadi atas rumahnya.
"Bagaimana? Apa ada kamu menemukan barang yang mencurigakan?" Tanya polisi tadi kepada teman nya.
"Tidak pak. Seperti nya semua nya aman"
"Baik lah kalau begitu. Maaf buk Sumi. Dari hasil pemeriksaan kami, kami tidak menemukan barang yang mencurigakan di rumah ibu ini. Itu artinya tuduhan mengenai Ibu telah memakai barang terlarang itu salah. Kami permisi dulu dan maaf jika kami menganggu" Ujar polisi tadi pamit meninggalkan rumah sederhana itu.
"Sumi, siapa sih yang tega menuduh mu dan membuat laporan tentang kamu menggunakan barang terlarang itu kepada polisi?" Ujar buk Juni menghampiri tetangganya itu.
"Aku juga tidak tahu buk. Yang jelas tiba-tiba saja kedua polisi itu datang ke rumahku dan mengatakan untuk memeriksa apakah ada barang terlarang itu di sini" Jelas Sumi.
"Oh begitu, ya ampun Sumi. Aku gak nyangka deh ada orang yang tega kepada kamu. Ya sudah Sumi aku permisi pulang dulu ya. Semoga saja orang yang jahat itu mendapatkan hidayah dari sang pencipta dan meminta maaf kepada mu" Ujar Juni.
"Ya terima kasih ya buk atas doa nya"
Seketika Sumi kembali teringat dengan amplop coklat yang di berikan oleh Sari kepada nya tadi pagi.
"Apa jangan-jangan amplop itu berisi barang terlarang itu ya?" Batin nya bertanya-tanya yang memang Sumi sama sekali tidak membuka amplop tersebut dan melihat isi yang ada di dalamnya.
"Ternyata benar apa yang di katakan Dea tadk
"Untung saja aku langsung membakar nya tadi sesuai dengan apa yang dikatakan Dea kepadaku. Jika tidak mungkin saat ini aku sudah berada di tahanan. Dan pasti Denis akan terbenggalai karena sendirian" Batin Sumi.
"Ya Allah terima kasih karena telah melindungi ku dari orang-orang yang jahat terhadap ku" Ujar Sumi merasa bersyukur karena telah di selamatkan oleh Allah Tuhan semesta alam.
"Mulai sekarang aku harus berhati-hati dan tidak boleh terlalu percaya kepada orang yang tidak kukenal" Ujar Sumi. Yah selama ini ia selalu mempercayai orang meski orang itu baru ia kenal.
"Dimas, dengerin ibu ya nak. Jika nanti ada orang yang tidak di kenal datang ke rumah kita atau bahkan memberikan sesuatu kepada mu, kamu jangan mau terima ya nak. Mungkin saja orang itu mempunyai niat jahat kepada kita. Dan lihat lah apa uang terjadi hari ini. Mungkin saja gadis yang mengaku sebagai temannya kakakmu itu mempunyai niat buruk kepada kita dengan memberikan amplop tadi yang mungkin saja amplop itu berisi barang yang dicari oleh polisi-polisi tadi"
"Terus amplop tadi di mana buk"
__ADS_1
"Ibu sudah membakar nya. Kakak mu bilang tidak ada teman nya yang bernama Sari. Dan dia meminta ibu untuk membakar barang itu. Yah meski ibu tidak tahu pasti apa isi amplop tadi" Jelas Sumi kepada putranya itu.