
Ratna datang berkunjung ke cafenya Marco untuk bertemu dengan Putra bungsunya itu karena kemarin malam Marco sama sekali tidak pulang ke rumah mereka.
Namun, wanita paruh baya itu sama sekali tidak menyangka bertemu dengan Dea di cafe anak nya itu. Hal itu dimanfaatkan olehnya untuk menghina Dea dan mempermalukan gadis itu di hadapan orang banyak.
Dea Hanya bisa pasrah dan menghadapi semua itu dengan tangisan karena ia tidak bisa melawan wanita paruh baya itu. Marco pun datang dan meminta Arya asisten pribadinya untuk mengantar Ratna kembali ke rumah agar Ratna berhenti membuat kerusuhan di cafenya.
"Mari buk, saya antar ibu pulang" Ujar Arya mencoba memegang tangan wanita paruh baya itu dengan lembut.
"Jangan sentuh aku. Aku bisa jalan sendiri. Marco, kamu tega sekali mengusir mama seperti ini. Kamu lebih membela gadis kampungan itu dari pada mama yang telah melahirkan mu" Ujar Ratna dengan kecewa di hati nya.
"Ma, nanti kita akan bahas masalah ini di rumah. Sekarang mama pulang dulu bersama Arya" Ujar Marco masih dengan lembut nya.
Meski masih ingin berada di cafe itu dan masih belum puas untuk menghina gadis yang bernama Dea itu, wanita paruh baya itu terpaksa kembali ke rumah megah nya. Karena Marco telah berjanji akan pulang dan membicarakan masalah ini di rumah.
"Ya sudah, mama akan turuti kemauan kamu. Mama akan pulang tapi kamu harus tepati janji akan pulang nanti ke rumah" Pinta Ratna kepada Putra bungsu nya itu.
"Ya ma, nanti aku akan pulang" Ujar Marco lagi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh putra bungsunya itu, Ratna pun pergi pulang bersama Arya asisten pribadi nya Marco.
"Dea kamu baik-baik saja" Tanya Marco menghampiri kekasih nya yang tampak terpaku. Tatapan gadis itu kosong ke depan karena masih syok di labrak secara mendadak oleh mama Marco laki-laki yang ia cintai itu.
"Dey, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Marco lagi menyentuh bahu gadis yang memiliki lesung pipi itu.
Dea kaget.
"Mas" Jawab gadis itu memeluk kekasih nya. Kini air mata nya kembali tumpah di dalam dekapan Marco.
"Maaf kan mama ya Dea. Ayo kita ke ruangan ku" Ajak Marco kepada gadis itu. Mereka pun pergi ke ruangan Marco.
Dea duduk di sofa yang ada di ruangan Marco.
"Ros tolong ambilkan air" Pinta Marco. Tanpa di suruh kedua kali, Ros pun mengambil segelas air putih dan di serahkan nya kepada Marco.
Marco menyodorkan air putih itu kepada Dea.
"Tenang ya Dey, semua nya sudah berakhir. Mama benar-benar keterlaluan. Mama harus di tegur" Ujar Marco merasa kesal dan kecewa kepada mama nya itu.
"Jangan mas, tolong jangan bertengkar lagi dengan mama mu. Aku tidak mau melihat kalian bertengkar lagi" Ujar Dea menatap dengan Sendu kepada Marco.
"Tapi mama sudah sangat kelewatan"
"Tidak Mengapa mas, semuanya sudah berlalu. Jadi aku mohon sama kamu jangan membahas masalah ini lagi. Lupakan saja semuanya. Aku tidak mau membuat mamamu semakin membenciku" Ujar Dea.
Marco menghela nafas beratnya mendengar permintaan dari kekasihnya itu. Laki-laki yang bertubuh sixpack itupun memeluk gadis yang ia cintai dengan penuh kehangatan.
"Berjanji lah mas jangan bertengkar lagi bersama mama mu. Kamu juga harus minta maaf kepada mamamu, karena kamu telah bersikap mengusir mama mu tadi.
"Iya Dey, nanti aku akan bicara sama mama dan meminta maaf kepada nya" Ujar Marco lagi.
__ADS_1
"Terima kasih ya mas"
Marco hanya menatap dengan tatapan kosong ke depan. Meski gadis itu berada di dalam pelukan nya, dan meminta nya agar tidak memperpanjang masalah ini, ia masih memikirkan tentang mama nya yang menurut nya sudah kelewatan.
"Maaf kan aku Dey, aku tidak menyangka mama akan bertindak seperti ini. Aku merasa tidak enak hati kepada mu. Mama telah membuat mu malu seperti ini" Batin Marco.
***
"Marco benar-benar kelewatan" Ujar Ratna dengan kesal saat ia tiba di rumahnya. Wanita paruh baya itu duduk di atas sofa rumahnya dengan perasaan kecewa terhadap Marco yang tega mengusirnya seperti tadi.
Nurdi yang memang sedari tadi duduk di sofa itu sambil membaca koran menatap heran ke arah istrinya yang secara tiba-tiba pulang dalam keadaan marah-marah seperti itu.
"Kenapa sih ma? Ada apa lagi dengan Marco?" Tanya Nurdin dengan lembut kepada istri nya itu.
"Itu lo pa Marco. Benar-benar keterlaluan"
"Keterlaluan bagaimana?"
"Ternyata gadis kampungan itu bekerja di cafenya Marco pa. Apa sih hebatnya gadis itu sampai-sampai Marco bisa seperti itu kepadanya?" Wanita paruh baya itu menyandar kan tubuh nya di sofa sambil kedua tangan dilipat di dadanya.
"Lo, emang nya kenapa sih ma jika Dea bekerja di cafenya Marco? Apa salah nya Dea bekerja di sana untuk mencari nafkah" Ujar Nurdin pengertian.
"Pa, pa kenapa Papa menyebut nama gadis itu? Mama gak suka sama dia pa, menyebut bahkan mendengar namanya saja Mama nggak sudi" Ujar Ratna dengan angkuh nya.
Nurdi yang sedari tadi sibuk dengan koran nya kini menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Laki-laki paruh baya itu menutup korannya dan menaruhnya kembali di atas meja.
"Ma, kenapa sih mama bersikap seperti ini? Apa salah nya Dea sama mama?" Tanya Nurdin dengan nada suara sedikit meninggi.
Nurdi menggeleng-gelengkan kepala nya. Ia sangat tidak menyangka bahwa wanita yang ia cintai itu telah berubah drastis seperti ini. Yah dulu Ratna tidak angkuh seperti ini Ia wanita yang lemah lembut dan penuh dengan sopan santun itulah Nurdin jatuh cinta kepadanya. Namun, setelah menjadi orang kaya dan bergaul dengan istri-istri sosialita membuat wanita itu berubah. Dan lupa asal usul nya dari mana.
"Ma, mama apa-apaan sih tadi marah-marah seperti itu kepada Dea?" Ujar Marco yang secara tiba-tiba pulang ke rumah nya.
"Pa, lihat, lihat anak mu ini pa. Sekarang dia sudah berani bersikap kurang ajar seperti ini kepada mama hanya untuk membela gadis yang tidak tahu diri itu" Ujar Ratna lagi.
"Pa, bagaimana Marco gak kesal pa. Mama sudah membuat Marco malu. Mama telah menghina Dea di depan banyak orang. Marco jadi bahan omongan oleh karyawan dan pelanggan nya Marco" Jelas Marco.
"Marco, gadis itu pantas mendapatkan nya. Dia hanya gadis...."
"Cukup ma...cukup" Potong Nurdin. Laki-laki paruh baya itu sudah merasa tidak tahan lagi dengan tingkah laku istrinya yang angkuh seperti itu.
"Cukup ma, tolong mama jangan menghina gadis itu lagi"
"Pa, papa masih mau membela....."
"Cukup ma, papa bilang cukup" Bentak Nurdin membuat Ratna tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ia kaget setengah mati mendengar Nurdi membentak nya seperti itu. Yah baru kali ini Nurdin membentak dirinya selama mereka.
Selama ini Nurdin selalu bersabar dan mengalah menghadapi Ratna. Tapi kali ini Ratna sudah kelewatan. Ia telah lupa siapa diri nya hingga dengan gampang nya menghina seseorang seperti itu.
"Selama ini papa sudah sabar menghadapi mama. Tapi kali ini Mama sudah kelewatan. Kenapa mama begitu tega menghina Dea. Apa mama lupa siapa mama sebenarnya?" Ujar Nurdi lagi. Sebenar nya laki-laki paruh baya itu tidak ingin mengungkit tentang masa lalu Ratna. Namun semakin ke sini, istri nya itu semakin tidak tahu diri dan terus menghina Dea.
__ADS_1
Ratna tertunduk diam. Mulut nya kini terkunci dan tidak bisa lagi mengeluarkan perkataan nya.
"Ma, ingat mama juga berasal dari keluarga yang sederhana. Tapi kedua orang tua papa tidak pernah melarang papa untuk berhubungan dengan mama. Mereka telah memberi restu kepada kita berdua. Bahkan mereka yang meminta kita untuk segera menikah. Dea dan mama berasal dari keluarga yang sama. Tapi kenapa mama begitu menghina gadis itu? Jika mama tidak menikah dengan papa, apa mama bisa hidup seperti ini?" Ujar Nurdin sedikit menyinggung perasaan istrinya. Namun ia harus melakukan hal itu agar istrinya sadar bahwa ia tidak berhak menilai orang dengan sebelah mata.
Marco membulat kan mata nya mendengar apa yang di katakan oleh papa nya itu. Laki-laki itu sama sekali tidak tahu asal usul mama nya. Karena selama ini mereka sama sekali tidak pernah pergi berkunjung ke rumah keluarga mama. Ratna anak semata wayang. Ayah dan ibu nya Ratna telah tiada. Karena itu lah mereka tidak pernah bertemu dengan keluarga Ratna.
Selama ini Marco dan Jordy berpikir bahwa mamanya berasal dari keluarga yang kaya juga. Hal itu dikarenakan Ratna selalu memilih untuk anaknya yang harus bibit bobotnya yang jelas.
"Jadi mama?" Ujar Marco dengan kaget nya.
"Iya Marco, mamamu dulunya hidup sederhana juga sama seperti Dea. Tapi papa tidak mempermasalahkan hal itu begitu juga dengan kedua orang tua papa"
"Ma, biarkan saja Marco memilih pasangan hidup nya. Jadi lah seperti kedua orang tua papa yang tidak mempermasalahkan pasangan hidup untuk anak nya. Toh yang menjalani kehidupan berumah tangga itu adalah mereka" Ujar Nurdi kembali berbicara dengan nada pelan.
"Jadi papa mohon sama mama. Jangan mempermasalahkan hal ini lagi kasihanilah Marco, biarlah dia hidup bahagia dengan pilihannya sendiri" Ujar Nurdi lagi berlalu dari hadapan kedua ibu dan anak itu.
Untuk beberapa saat Ratna terdiam dan tampak berpikir. Entah apa yang di pikirkan oleh wanita paruh baya itu. Setelah seperkian menit Ratna terdiam, ia menatap ke arah Marco dengan tatapan kekesalan kemudian berlalu dari hadapan putra bungsu nya itu.
***
Sudah dua minggu Rumi tidak masuk bekerja. Bahkan untuk mandi dan makan saja ia tidak bersemangat. Gadis berambut ikal itu lebih memilih untuk berdiam diri di kos nya. Untuk mengurus diri nya saja ia tidak mau. Gadis itu memang tampak sangat hancur dan putus harapan. Hal itu di karena kan kehormatan nya telah hilang dan kekasih nya telah menghianati nya. Kesakitan yang Rumi alami kini berlipat ganda. Bisa di katakan sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Saat ini gadis itu duduk di pojok kamar kos nya. Ia memeluk lutut nya dengan sangat erat. Air mata nya terus saja mengalir membasahi pipi. Jika sudah lelah menangis, ia akan tertidur. Begitu lah hari-hari ia lalui.
"Assalamualaikum" Ucap Dea memberi salam. Gadis itu datang berkunjung ke rumah teman nya itu. Yah hanya bermaksud ingin curhat dengan sabahat nya tentang masalah yang ia hadapi saat ini.
Rumi mengangkat kepala nya yang tadi bersatu dengan lutut nya.
"Dea" Ujar nya lirih, Rumi bangkit dari duduk nya dan pergi membuka pintu.
Dea membulatkan mata nya saat melihat keadaan sahabatnya itu yang sudah tidak karuan. Yah rambut nya sangat berantakan, pipi nya terlihat tirus dengan di penuhi air mata. Mata nya sangat sembab karena terus menangis, dan tubuh nya sangat dekil serta agak bau karena sudah dua minggu tidak mandi. Dan baju gaun pemberian Jaka yang ia sobek masih melekat membaluti tubuhnya .
"Rumi kamu kenapa?" Tanya Dea khawatir dengan keadaan teman nya itu.
"Dea...." Ujar Rumi kembali menangis dan memeluk Dea untuk menenangkan hati nya yang sedang hancur saat ini.
"Ya Allah Rumi. Ayo kita masuk bicarakan masalah ini di dalam saja ya. Tidak enak di luar nanti di lihat orang" Ujar Dea menuntun Rumi untuk kembali masuk ke dalam kosnya.
Lagi-lagi gadis itu terpana melihat kos Rumi yang begitu berantakan. Tepat nya seperti kapal pecah. Botol mineral kosong ada di mana-mana, banyak juga barang-barang yang pecah yang berserakan di lantai seperti alat-alat make up yang diberikan oleh Jaka kepadanya. Semua nya telah ia hancur kan di lantai. Kos Rumi benar-benar terlihat sangat berantakan.
"Rumi, kenapa? Ada apa dengan mu?" Tanya Dea lagi dengan berhati-hati takut jika temannya itu nanti semakin frustasi.
Rumi masih terdiam dan terus saja menangis di dalam pelukan Dea. Gadis berambut ikal itu masih membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya agar bisa menceritakan semuanya kepada temannya itu.
Melihat Rumi terus saja menangis Dea pun tidak mau bertanya lebih lanjut tentang apa yang terjadi kepada Rumi. Gadis itu memberi waktu kepada Rumi agar untuk menenangkan dirinya. Jika sudah siap, Rumi pasti akan menceritakan apa yang terjadi kepada.
"Ya sudah, kamu tenangkan diri mu dulu ya. Aku akan membantu mu untuk membersihkan tempat ini" Ujar Dea. Dea mencoba untuk melepaskan pelukannya dengan Rumi.
"Jangan Dea, aku membutuhkan mu. Biarkan aku memeluk mu hingga hati ku tenang" Akhir nya Rumi membuka suara nya.
__ADS_1
Dea kembali duduk di kursi yang berada di ruang tamu kosnya Rumi. Gadis itu kembali memeluk sahabatnya itu agar hati Rumi bisa tenang.
"Tenang Rumi, ada aku di sini. Aku akan selalu membantu mu" Ujar Dea mengelus dengan lembut rambut ikal sahabat nya itu.