Gadis Ku

Gadis Ku
Bab 41


__ADS_3

Dea di berikan sebuah gaun berwarna dusty oleh Marco agar gadis itu untuk dikenakannya sangat pergi acara anniversary yang diadakan oleh orang tua Marco yang ke tiga puluh tahun.


***


Laki-laki yang telah melakukan challenge di cafe nya Marco gimana challenge itu menghabiskan tiga potong chicken crispy dengan saus sadis. Laki-laki tadi sudah bisa menghabiskan sepotong chicken crispy yang ia pesan tadi. Laki-laki yang terlihat usia nya hampir sama dengan Marco itu pun tampak kepedasan. Ia mengambil teh es yang di pesan nya tadi dan menyedot teh itu hingga ludes.


"Mbak, tolong teh es nya satu lagi. Pedas banget" Ujar nya.


"Iya, sebentar ya" Jawab Dea langsung mengambil teh yang di minta oleh orang tadi. Yah memang sedari tadi Dea menunggu laki-laki itu sejak awal ia melakukan challenge.


"Ini teh nya" Ujar Dea memberikan teh tersebut kepada laki-laki tadi.


"Kamu duduk di sini dong, di samping ku biar aku semakin semangat untuk melakukan challenge ini" Ujar nya.


"Ha? Maaf pak, saya berdiri di sini saja sambil menunggu bapak selesai melakukan challenge ini" Ujar Dea lagi.


Laki-laki tadi pun kembali melakukan challenge. Ia kembali menyantap sepotong lagi chicken crispy itu. Baru dua kali gigitan, laki-laki tadi tampak semakin berkeringat kasar dan mata nya mulai memerah karena kepedasan.


"Aduh, seperti nya aku tidak sanggup lagi melakukan challenge ini. Ini terlalu pedas" Ujar nya.


Dea tersenyum mendengar ucapan laki-laki tadi.


"Seperti yang telah diketahui jika bapak tidak berhasil melakukan challenge ini, maka bapak harus membayar makanan yang bapak pesan tadi di kasir" Ujar Dea sambil tersenyum ramah.


"Baik lah, aku aku akan membayar nya nanti. Oh ya aku Toni. Boleh tahu nama mu?" Tanya Toni kepada gadis yang memiliki lesung pipi itu. Toni mengulur tangannya untuk berkenalan dengan gadis itu.


"Dea" Ucap Dea berjabat tangan dengan Toni.


"Maaf saya harus melanjutkan pekerjaan saya. Permisi" Tambah nya lagi.


Gadis itu pun langsung pergi ke dapur meninggalkan Toni sendirian yang masih berdiri di tempatnya.


Dea pun mencoba menghindar dari laki-laki itu agar tidak terjadi kesalahpahaman nanti nya bersama Marco. Yah gadis itu bisa mengetahui dari gerak-gerik laki-laki itu bahwa ia memiliki rasa terhadap Dea. Yah pasti kalian juga bisa merasakan jika seseorang itu mempunyai rasa terhadap mu bukan? Begitu lah yang di rasa kan Dea saat itu. Ia bisa menyadari bahwa Toni mempunyai maksud tersendiri. Karena itu lah ia mencoba untuk menghindar dari laki-laki itu.


"Benar-benar gadis misterius. Jadi penasaran" Batin Toni.


***


Tok... Tok... Tok


Terdengar suara pintu kamar kos Dea di ketuk dari luar.


"Assalamualaikum sweety" Ujar Marco yang sudah datang untuk menjemput kekasih nya itu.


"Waalaikumsalam sebentar ya" Jawab Dea dari dalam kosnya.


Marco berdiri di teras kamar kos nya itu. Sambil melihat bunga yang berwarna warni tertata rapi di pot nya masing-masing. Yah penghuni kamar kos di sebelah kamar kos nya Dea memang mempunya hobi menanam bunga. Karena itu lah di teras kamar kosnya itu banyak terdapat berbagai macam jenis bunga yang berwarna-warni.


"Maaf mas menunggu lama" Ujar Dea keluar dari kamar kos nya.


Marco berbalik dan menatap gadis itu. Laki-laki itu tampak terpaku melihat gadis yang ada di hadapan nya itu. Untuk yang ke dua kali nya Marco kembali terpukau dengan keanggunan dan kecantikan alami yang dimiliki oleh Dea.


"Mas, kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" Tanya Dea mencoba mengaca untuk melihat wajahnya apakah ia berdandan terlalu menor di kaca jendela kamar kos nya.


"Gak kok, kamu sangat cantik benar-benar cantik" Jawab Marco.


"Mas, kamu bisa aja. Jangan terlalu memuji ku deh. Entar aku terbang lo. Terus kalau aku sudah terbang terlalu tinggi nanti aku jatuh malah sakit" Ujar Dea dengan manja nya.


"Jika kamu jatuh, aku akan menangkap mu kok sweety. Tidak aku biarkan kamu jatuh kesakitan di tanah" Balas Marco lagi.


"Udah ah, gombal aja dari tadi. Ayo kita berangkat" Ajak Dea.


"Oke"

__ADS_1


***


"Selamat datang di rumah ku sweety" Ujar Marco membuka pintu mobil nya saat mereka sudah tiba di istana megah milik kedua orang tua nya Marco. Rumah yang berdomisili berwarna putih itu memiliki dua lantai. Rumah itu sangat besar. Mungkin jika membuat hajatan dengan mengundang tamu satu kampung, mungkin muat di rumah itu.


Melihat rumah yang begitu megah dan besar itu membuat nyali Dea semakin ciut. Yah rasa percaya dirinya kini semakin hilang ketika langkah kakinya mulai masuk ke dalam pintu utama rumah mewah itu. Dea menghentikan langkahnya saat melihat beberapa keluarga Marco berada di ruang tamu. Mereka semua menatap Dea. Seorang wanita yang bisa di bilang lebih tua lima tahun dari Marco datang menghampiri kedua anak manusia yang berlainan jenis kelamin itu.


"Marco, siapa dia?" Tanya nya.


"Kenalin kak, ini Dea kekasih ku" Jawab Marco dengan bangganya.


"Sweety kenalin ini kak Dewi. Kakak sepupu ku. Anak dari kakak nya papa" Jelas Marco memperkenalkan mereka berdua. Kedua wanita yang berbeda usia itu pun saling berjabat tangan berkenalan.


"Wah, gadis mu cantik juga ya Marco"


"Iya dong kak, aku mana pernah salah pilih gadis untuk menjadi pasangan ku"


"Iya deh iya. Memang ku akui kamu memang pintar dalam memilih pasangan"


Marco tersenyum penuh dengan bangga mendengar pengakuan dari kakak sepupunya itu.


"Aku mau ke dalam dulu ya kak. Mau memperkenal kan Dea sama mama dan papa" Ujar Marco.


"Oke"


***


Terlihat mama dan papa Marco sedang berdiri di pojok ruangan sambil ngobrol dengan beberapa keluarga besar nya. Sesekali ada juga orang-orang mengucapkan selamat kepada mereka berdua atas usia pernikahan mereka saat ini.


"Iya terima kasih ya atas ucapan nya" Ujar Ratna.


"Iya terima kasih juga sudah hadir" Nurdin menyempeli.


"Ayo Dey kita samperin mereka" Ajak Marco menggandeng tangan gadis itu. Dea masih terpaku dan tidak mau melangkah mengikuti Marco.


"Aku merasa takut mau berkenalan dengan papa dan mama mu"


"Lo, takut kenapa sih sweety. Mama dan papa ku nggak monster kok yang akan menggigit kamu" Ujar Marco sedikit bercanda.


"Bukan itu mas, aku hanya takut jika mereka nantinya tidak menyukaiku" Dea tertunduk lesu.


Marco mendekati kekasih nya itu. Ia memberanikan diri untuk mengangkat wajah kekasihnya yang tertunduk agar menatap bola matanya.


"Dengar ya sweety, aku yakin mama dan papaku pasti setuju dengan hubungan kita. Selama ini mereka sama sekali tidak pernah komplain saat aku berpacaran. Dan aku yakin kali ini juga seperti itu. Lagian yang menjalani kehidupan ini adalah aku bukan mereka" Jelas Marco dengan mantap nya.


"Itu kan dengan gadis kota mas, tidak gadis desa seperti ku"


"Sudahlah sweety kamu Jangan berpikir yang bukan-bukan seperti itu dong terhadap kedua orang tuaku. Mereka pasti akan menyukai kamu aku yakin itu. Ayo kita ke sana" Ajak Marco lagi.


Dea menarik nafasnya dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat untuk menghilangkan rasa gundah di hatinya. Dea pun mengangguk dan melangkah mengikuti Marco menuju ke tempat orang tuanya berdiri sedari tadi.


"Eh ini dia anak bungsu mama" Sambut Ratna terhadap Marco.


"Selamat ya ma untuk usia pernikahan kalian. Semoga kedepannya hubungan pernikahan kalian kekal sampai maut memisahkan dan selalu bahagia lahir dan batin" Ujar Marco mencium punggung tangan mama dan papanya.


"Terima kasih ya sayang" Jawab Ratna memeluk anak laki-lakinya itu begitupun dengan Nurdin.


"Oh ya ma, pa, kenalin ini Dea teman dekat nya Marco. Dan bisa di katakan kekasih nya Marco" Ujar Marco.


Deg...


Ratna kaget mendengar apa yang dikatakan Marco barusan kepada mereka. Yah ia sudah mempunyai rencana untuk menjodohkan Marco kepada anak temannya yang sudah jelas bibit dan bobotnya. Namun, ternyata selama ini Marco sudah memiliki kekasih.


"Selamat ya om, tante" Ujar Dea dengan hormat sambil ingin bersalaman dengan kedua suami istri itu. Tapi Ratna sepertinya tidak menghiraukan gadis itu. Ia seolah-olah tidak melihat bahwa gadis itu ingin bersalaman dengannya. Melihat itu Dea beralih ingin bersalaman dengan Nurdin. Untung saja Nurdin menyambut salaman dari gadis itu.

__ADS_1


"Pacar?" Tanya Ratna memperhatikan penampilan Dea dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.


"Kamu asal nya dari mana?" Tanya Ratna dengan tetapan sinis nya.


Dea yang mendapatkan pertanyaan demikian terlihat beberapa kali menelan Silva nya.


"Saya berasal dari desa sejangat tante, riau"


"Sejangat, desa maksud nya? Jadi kamu gadis kampung?" Ujar Ratna penuh penekanan.


Dea mengangguk pelan.


"Masih kuliah atau sudah kerja?"


"Saya sudah tidak kuliah lagi kok tante. Saya hanya tamatan SMA dan sekarang saya sedang bekerja di salah satu cafe yang ada di Menteng" Dea menunduk tidak berani menatap tatapan tajam dari Ratna kepada nya.


Ratna terdengar tertawa mengejek terhadap Dea.


"Jadi kamu hanya tamatan SMA, terus gadis kampung. Kamu ini mempunyai urat malu atau urat malumu sudah putus sehingga kamu berani-beraninya mendekati anak saya yang bibit bobotnya jauh di atas kamu" Ujar Ratna lagi mencoba menjelaskan kepada Dea bahwa mereka tidak layak untuk bersama.


Deg....


Terasa seperti di tusuk pedang yang sangat tajam di hati nya Dea saat ini. Gadis itu tidak mendapatkan perlakuan yang memalukan seperti ini. Dimana ia telah di hina oleh mamanya Marco di hadapan banyak orang. Dea hanya bisa tertunduk menerima semua hinaan yang diberikan oleh Ratna kepadanya.


"Ma, apa-apaan sih? Tidak seharusnya Mama bilang seperti itu kepada Dea" Ujar Marco membela kekasih nya.


"Lo, memang kenyataan nya seperti itu kan?"


"Ma, udah dong jangan membuat keributan di acara anniversary pernikahan kita" Ujar Nurdin mencoba untuk menenangkan istrinya.


"Jeng... " Terdengar suara Susi memangil Ratna.


"Eh, jeng... Sini-sini" Sambut Ratna dengan terlalu senyuman di wajahnya. Susi datang bersama anak gadis nya yang langsing dan tinggi, kulit nya putih bersih dengan rambut pirang sebagai mahkota nya. Gadis itu memiliki wajah blasteran jerman-indonesia yang memang cantik dan lebih cantik dari Dea. Tapi Marco sama sekali tidak tertarik kepada gadis blasteran itu. Hatinya telah terpikat dengan gadis yang bernama Dea.


"Aduh, aku pikir kamu gak datang tadi Jeng" Ujar Ratna bercupika cupiki dengan Susi.


"Ya jelas aku harus datang dong Jeng. Secara aku sudah janji kepada kamu untuk membawa putriku ke sini agar bisa berkenalan dengan putramu" Ujar Susi.


"Gak mungkin kan aku mengecewakan calon besanku" Bisik Susi ke telinga Ratna. Ratna tersenyum mendengar ucapan teman nya itu.


"Ini dia jeng putri ku nama nya Alicia"


"Selamat ya om, tante" Ujar Alicia mencium punggung tangan kedua suami istri itu.


"Wah, cantik sekali putri mu jeng. Sudah cantik, pintar, lulusan di kuliah di luar negeri lagi. Yah jelas dong bibit bobot nya jelas. Dan yang pasti nya status nya sederajat" Ujar Ratna sedikit berbisik.


"Tidak seperti yang di sana, sudah kampungan, tamatan SMA dan kerja nya hanya sebagai pelayan cafe. Beda level dong" Tambah wanita paruh baya itu terdengar menyindir Dea.


Sontak hal itu semakin membuat hati Dea menjadi sakit. Ia tidak pernah merasa serendah ini sebelumnya.


"Alicia ini anak tante nama nya Marco" Ujar Ratna memperkenal kan mereka. Alicia tersenyum dan tersipu malu saat melihat Marco. Sedangkan Marco hanya menatap dengan dingin ke arah Alicia dan terus menatap Dea yang dari tadi hanya tertunduk.


"Marco, ini baru cocok sama kamu. Kamu nya ganteng dan Alicia nya cantik. Berbeda dengan yang ono, bisa-bisa nya dia bermimpi untuk menjadi upik abu. Emang nya cerita dongeng apa" Ujar Ratna sambil tertawa mengejek.


Sungguh hinaan demi hinaannya diucapkan oleh Ratna kepada Dea membuat gadis itu semakin sakit hati. Sedari tadi wajah gadis itu telah dipenuhi dan basah dengan air mata. Ia bertahan hanya karena memikirkan Marco laki-laki yang ia cintai.. Tapi sebagai manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Dan ia sudah tidak tahan lagi mendengar hinaannya diberikan oleh Ratna kepadanya. Hingga gadis yang memiliki lesung pipi itu pun langsung berlari keluar rumah Marco.


"Dea" Teriak Marco memanggil gadis itu.


"Mama, mama apa-apaan sih. Bagaimana pun, Marco tidak akan mau menuruti keinginan mama. Marco hanya mencintai Dea. Dia gadis yang berbeda dan istimewa. Mama tidak ada hak apa pun untuk menentukan pilihan Marco" Ujar Marco langsung berlari mengejar Dea gadisnya itu.


"Marco" Teriak Ratna mencoba untuk menghentikan langkah putranya itu. Namun, Marco sama sekali tidak menghiraukan wanita paruh baya itu yang memanggilnya.


"Jeng, kenapa ini? Apa maksud Marco?" Tanya Susi dengan heran nya.

__ADS_1


"Oh bukan apa-apa kok jeng. Marco hanya sedikit kecewa kepadaku. Ya kami sedikit ada masalah tadi. Hanya salah paham. Nanti juga akan baikan" Bohong Ratna kepada Susi calon besan nya itu.


__ADS_2