
Intan berniat untuk mencari Anton ketika Dion sudah genap berusia 2 bulan.
Ditunggunya hari itu, karena memang Anton harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan.
Baru terpikir oleh Intan betapa repotnya memiliki seorang anak, mengasuhnya sendiri, belum beban mental dicibir dan diomongkan oleh tetangga bahwa punya anak tanpa ayah dan sebagainya.
Intan ingat ketika baru sampai rumah, ia disambut dingin oleh tantenya, Aya.
Intan menunduk malu ketika tantenya menyindir dia dengan mengatakan bahwa Intan itu seperti kacang lupa pada kulitnya.
Memang benar yang dikatakan oleh Shinta bahwa ibunya Intan sudah meninggal ketika ia masih di SMP. Ayahnya bertahan merawat Intan sampai hampir 1 tahun. Ketika Intan naik kelas 3 SMP ayahnya pergi meninggalkan Intan ke Sulawesi untuk bekerja, tetapi tak kunjung pulang. Ketika SMA ia mendengar ayahnya sudah menikah lagi dan tinggal di sana serta melupakan Intan.
Intan kemudian tinggal bersama tantenya Aya, dia yang merawat Intan sampai Intan lulus SMA.
Setelah lulus SMA itulah Intan pergi ke kota untuk bekerja dan melanjutkan kuliah dari uang hasil ia bekerja.
Ia tak pernah lagi mencari dan datang pada tantenya, karena itu dia sangat mengerti pada saat ia butuh, tantenya menyindir dia habis- habisan tentang jasa tante pada dirinya, apalagi pulang dalam keadaan sudah punya anak tanpa ada suami.
Banyak warga yang ramai mengunjingkannya tetapi Intan menahan diri dan tak ingin berinteraksi dengan mereka.
Pernah Intan keluar membawa Dion untuk berjemur ada tetangga ibunya dulu yang masih mengenali dirinya.
" Intan.. ini Intan ya," tanyanya dengan terus menatap Intan.
" Ya bu, saya Intan," sahut nya.
" Wah.. saya tidak salah berarti, kamu cantik seperti ibumu dulu," katanya lagi.
" Ibu kenal dengan ibuku?" tanyanya heran.
" Kami dulu teman akrab di kampung ini saat gadis, tetapi sejak ibumu menikah maka kami tak lagi akrab, ibumu sibuk dengan keluarga, sampai akhirnya aku di bawa pergi ke kampung sebelah oleh suamiku, aku tak pernah dengar lagi tentang ibumu.
Tetapi ketika aku pulang kesini, aku mendengar ibumu meninggal, sedih hatiku ia teman ibu dulu saat sedih dan senang," kata ibu itu terdiam mengenang masa itu.
__ADS_1
" Ini anakmu Intan?" tanyanya.
" Iya bu," jawab Intan.
" Suami mu mana? Kamu datang ke sini tidak bersama suamimu?" tanyanya lagi.
" Tidak bu, dia ada di kota," kata Intan.
" Oh.. ibu kira kamu bawa pulang anak tanpa suami seperti di kisah sinetron yang sering ibu tonton," katanya sambil tertawa.
Intan tersenyum kecut mendengarnya.
Saat asyik berbincang tantenya Intan, Aya keluar dari dalam, ia menyapa tetangganya.
" Wah ada bu Ningsih, tumben kemari bu," tanya Aya .
" Iya bu Aya, saya ini lagi lewat, terus lihat Intan ini, saya sampai tidak mengenalinya, tapi saya penasaran menyapanya karena wajahnya tak asing mirip ibunya dulu waktu muda," katanya.
" Ibu Aya sudah kenal dengan suami Intan?" tanyanya.
" Belum bu, saya juga tidak pernah tahu siapa suaminya, lah dia datang tiba- tiba sudah bawa anak, nikahnya aja keluarga nggak tahu kok," kata Aya dengan nada sinis.
" Oh gitu ya, saya tadi tanya juga nggak di jawab Intan, hanya di jawab ada di kota," kata bu Ningsih tiba- tiba melihat Intan.
Intan yang melihat itu langsung membawa Dion masuk ke dalam rumah.
Bu Ningsih pun lalu bergegas pulang setelah pamit pada Aya.
Aya bergegas masuk rumah dan mencari Intan, dilihatnya Intan sedang mengusap airmata yang menetes di pipinya.
Didekatinya ia lalu duduk disebelahnya, dengan lembut ia berkata," Intan .. ceritakan semua, kenapa kamu kembali ke kampung ini setelah sekian puluh tahun kamu tinggalkan dan lupakan? Tante tidak tahu ada apa, tante malu itu tetangga pada bertanya pada tante, siapa kamu, mana suamimu, kok pulang bawa anak, itu terus yang mereka tanya pada tante, tante harus jawab apa, karena kamu tak pernah cerita," kata Aya.
Intan terdiam lalu tak lama ia menjawab," Tante.. apa penilaian tante akan sama seperti yang lain pada saya?" tanyanya.
__ADS_1
" Tergantung.. kalau kamu tidak cerita pada tante, bagaimana tante bisa tahu yang sebenarnya," kata Aya seraya menatap Intan
Intan menghela napas lalu ia menceritakan pada tantenya, tetapi tidak semuanya, karena hati kecilnya dia masih belum percaya sepenuhnya pada tantenya yang ia tak terlalu akrab dengan tantenya ini di masa ia ada sampai SMA di kampungnya.
" Kenapa kamu lakukan itu Intan, di mana harga dirimu sebagai seorang wanita Intan? Kamu korbankan semua itu hanya demi harta, ingin hidup enak dan kaya, tapi kamu lupa kamu sudah menjalani kehidupan yang tidak diperbolehkan oleh Tuhan." kata Aya.
" Terus.. siapa bapak nya Dion? Jangan kamu sebut kamu juga tidak tahu bapaknya.. Intan ! " kata Aya dengan nada agak tinggi.
" Aku tahu siapa bapaknya tante," katanya.
" Terus kenapa tidak kamu menikah dan hidup dengannya? Apa kamu dicerai atau kamu disia- siakan?" tanyanya lagi.
Intan terdiam. Aya terus menatap Intan.
" Atau.... jangan- jangan kamu pelakor ya Intan?" tanya tante Aya penuh selidik.
Intan masih terdiam.
" Jawab Intan.. kamu pelakor ya?" tanyanya lagi dengan tegas.
Ketika dilihatnya Intan terdiam lagi, Aya mendatanginya lalu ditamparnya pipi Intan dengan keras.
" Pantas kamu pulang dengan anak itu, kamu membuat malu tante dan keluarga. Kamu jadi bahan gunjingan di sini, aku malu punya ponakan sepertimu. Ibumu walau disakiti ayahmu dulu, tapi ibumu tidak pernah buat nama keluarga malu, aku kecewa padamu Intan," kata Aya dengan marah.
" Kamu cari itu ayahnya Dion, kasihan ia nanti besar bila tak punya ayah, bisa diejek teman- temannya, apa kamu tidak berpikir sampai situ Intan? Apa yang ada diotakmu itu cuma kenikmatan sesaat saja? Aku tak habis pikir anaknya kakakku bisa jadi pelakor, mbak Dewi... mbak Dewi.. kalau mbak tahu anakmu seperti ini apa jadinya kamu mbak.." seru Aya seraya mengusap air matanya memanggil nama kakaknya yang sudah tiada yang tak lain adalah ibunya Intan.
" Pergilah kamu cari ... jangan sampai aku pun ikut jadi gunjingan warga yang kamu tahu mulut mereka di sini lebih tajam daripada silet, aku tak mau anak- anakku ikut menderita dan diasingkan karena ulahmu, cepat atau lambat warga di sini akan tahu semua kebusukanmu, jadi lebih baik pergilah kamu Intan dari desa ini, nanti tante akan ikut membantumu untuk ongkos pergi kamu mencari ayah anakmu itu," kata Aya sambil menunjuk Dion yang terlelap di pangkuan Intan.
" Anak ini tidak bersalah, ia tidak pernah memilih dilahirkan oleh siapa, tetapi orangtuanyalah yang salah bila mereka tidak dapat memberikan pendidikan dan keteladanan yang baik dan sesuai. Karena itu dengan kamu mencari ayahnya, kamu dapat menyelamatkan hidupnya nanti di masa depannya," kata Aya seraya beranjak pergi ke kamarnya.
Intan termenung sendiri, ia memikirkan semua kata- kata dari Aya, ia tidak boleh egois, ia harus memikirkan masa depan Dion.
***
__ADS_1