
Antom terpekur sejenak saat Bagas katakan bahwa Intan berterus terang pada ibunya anak yang dikandungnya itu anak Anton. Juga sudah di test DNA itu bukan anak Bagas.
" Kau sendiripun tidak percayakan itu anakmu, sampai di test DNA segala, iya kan ?" tanya Anton kemudian.
" Aku test DNA itu bukan karena aku tak percaya itu anakku, orang tuaku yang mengatakan bahwa anak itu tidak mirip denganku.
Intan mendengar dan dia yang minta untuk anaknya di test.
Tidak ada dalam hatiku sekalipun untuk mengatakan bahwa ia bukan anakku, malah aku menyayanginya." kata Bagas menatap Anton.
" Lalu mengapa Intan ketika telepon aku mengatakan bahwa ia ada di kampungnya ? Apakah orangtuamu mengusirnya ?" tanya Anton lagi.
" Aku dan orangtuaku tidak ada yang mengusirnya. Sepertinya Intan sudah tahu anak itu bukan anakku. Beberapa hari setelah test DNA Intan minta ijin padaku untuk pulang menengok ibunya yang sedang sakit parah. Karena pekerjaanku sedang sibuk sekali aku ijinkan dia pulang dengan mengatakan aku akan menyusul untuk melihat ibu dan dia di kampung.
Memang saat menunggu hasil test Intan ada berkata dia minta maaf atas segala kesalahannya padaku.
Aku yang bingung dengan perkataan Intan tak curiga dengan sikap dia mengatakan itu di telepon.
Ketika hasil test kulihat, ternyata memang bukan anakku Dion itu, aku shock dan ku telepon Intan tapi tak pernah aktif lagi sampai pada suatu hari ia telepon minta maaf padaku dan mengatakan ia sakit dan tak lama meninggal " kata Bagas seraya matanya menatap jauh ke depan.
Ia masih memikirkan peristiwa itu di mana Intan pergi meninggalkannya.
Dua laki- laki itu terdiam seraya pikirannya melayang jauh mengingat kebersamaan mereka masing- masing dengan satu wanita yang sama- sama mereka cintai dulu yakni Intan.
" Sekarang di mana anak itu Gas ?" tanya Anton pelan.
" Aku tidak tahu, karena sejak aku tahu itu bukan anakku aku tidak mengetahuinya.
Bisa saja ada bersama ibunya Intan atau mungkin ada di panti asuhan. Aku tidak tahu," jawab Bagas seraya mrnghela napas.
" Aku pun sekarang sudah berpisah dengan istriku, Gas, karena pada saat Intan menemuiku waktu itu, ada yang menyampaikan pada istriku sehingga istriku marah padaku dan mengancam akan membuat hidupku miskin dan dijalanan bila aku terdengar macam- macam lagi, dan sekarang aku tidak sebebas dulu Gas, jadi kuputuskan sekarang aku melupakan Intan dan fokus pada keluargaku saja. " kata Anton pelan.
Ia membayangkan ketika itu terjadi istrinya marah besar dan sempat mengusirnya. Anton mohon- mohon maaf pada istrinya agar dimaafkan kesalahannya.
__ADS_1
Beruntung Anton masih diberi kesempatan satu kali lagi sehingga ia tak dilemparkan di jalan.
Hanya hak saham Anton dibekukan untuk sementara oleh mertuanya agar Anton sadar bahwa ia tidak dapat bermain- main.
Kendali perusahaan diambil alih mertuanya dan dia hanya bekerja dan harus tunduk akan aturan dari mertuanya dalam memegang perusahaan.
Bila dulu ia bebas melakukan apapun dan semua diatur olehnya sekarang akibat ia berselingkuh dengan Intan dulu membuat dirinya tak berdaya dengan kekuasaan mertuanya.
" Wah.. hampir jadi gembel kau ini Anton?" tanya Bagas tersenyum.
" Iya.. aku sadar sekarang. Dulu aku terpikat Intan karena aku tak melihat sisi baik dari istriku. Ternyata ia masih peduli padaku, ia perjuangkan aku pada ayahnya sehingga aku tidak jadi gembel.
Karena itu aku sekarang sadar, harta yang berharga bagiku sekarang keluargaku.
Mungkin itu karma bagiku karena aku menyalahgunakan kebaikan istriku, sekarang aku menyesal dan bersyukur kehidupan keluargaku bersatu kembali. " kata Anton .
" Intan sudah meninggal Ton.. sudah hampir 2 tahun sekarang akibat sakit kanker rahim. " kata Bagas.
" Ya tadi kau sudah sebutkan itu. Aku kaget mendengarnya. Berarti yang waktu itu dia datang padaku itu sudah sakitkah Intan ?
Ternyata Intan memang sakit. Aku tidak menyangka secepat itu ia meninggal. Diusia 30 an ia berpulang. Aku berdosa padanya karena selalu memaksa padanya untuk melayaniku, aku menyesal mendengar Intan meninggal." kata Anton menunduk.
" Sekarang yang ada penyesalan Ton.. akupun menyesal tidak memaafkannya. Tetapi biarlah ini menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk kita dapat menguasai keinginan kita untuk berdosa. Kita harus ingat menabur pasti menuai.
Kita sedang menuai apa yang sudah kita tabur. " kata Bagas menunduk juga.
" Ya betul Gas.. akupun sudah tua sekarang. Usiaku sudah hampir kepala 6, aku sudah mulai tak sekuat dulu, aku harus perbanyak doa dan ibadah agar aku tetap ingat Tuhan dalam hidupku.
Intan yang sehat pun kena sakit dan meninggal padahal usianya masih muda.
Apalagi aku yang sudah tua ini, aku harus lebih mengamalkan kebaikan dalam hidup agar nanti ketika aku meninggal aku bisa membuat anakku sedikit bangga dengan kebaikanku semasa hidup." ujar Anton dengan pikiran yang menerawang jauh.
" Ya .. aku pun begitu Ton.. aku walau sampai saat ini masih sendiri, aku menyadari kesalahanku karena itu akupun sudah mulai memperbaiki hidupku dengan tidak meninggalkan ibadah dan doaku agar hidupku lebih tenang. " kata Bagas menatap Anton.
__ADS_1
Mereka pun terdiam dan tersadar ketika pengeras suara memanggil peserta yang sudah selesai santap siang dan istirahat sejenak untuk masuk ke dalam ruangan untuk mengikuti acara kembali.
Bagas dan Anton pun segera bangkit dari kursinya lalu mereka tersenyum, berjabat tangan, berangkulan sebentar lalu merekapun bergegas masuk untuk mengikuti acara selanjutnya.
Senyum dan langkah mereka beriringan masuk seirama dengan ketetapan hati mereka untuk melupakan masa lalu yang suram, insyaf dan bertobat dari hal yang buruk dan mulai melangkah menyambut hal yang baik dalam kehidupan mereka masing- masing.
Mereka merenungkan itu semua, kadang manusia lupa dan terlena ketika ada godaan yang membuat dirinya tidak fokus lagi pada apa yang ada.
Melupakan semua yang sudah Tuhan anugerahkan bagi hidupnya.
Ketika mereka tersadar itu sudah terlambat.
Yang ada hanya penyesalan dan tangisan.
Mulai mencari Tuhan dalam hidupnya, dan memperbaiki hidupnya.
Bila masih diberi umur panjang bersyukur, bila tidak diberi umur panjang berusahalah meminta maaf pada orang yang pernah disakiti.
Itu yang terus ada dalam pikiran Anton dan Bagas.
Walau sudah masuk materi acara tetapi pikiran mereka masih terus memikirkan itu.
Peristiwa itu yang membuat akhirnya Anton dan Bagas tersadar bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini.
Tak terasa materi acara hari ini selesai.
Mereka semua kembali ke kamar masing- masing.
Bagas dan Anton bertemu kembali dan mereka berencana akan makan malam bersama dan membicarakan hal- hal tentang perusahaan dan kehidupan pribadi mereka masing- masing.
" Gas.. nanti malam kita ketemu ya dan kita akan berbicara untuk kita makin mendekatkan diri pada Tuhan di saat usia kita sudah tak muda lagi," kata Anton.
Bagas mengangguk dan masuk ke lift yang menuju lantai kamar hotel ia menginap.
__ADS_1
" Baik nanti malam kita bertemu sewaktu makan malam bersama," ujarnya.
***