
Desi pulang dengan termenung. Harapannya bahwa ia dapat bekerja kembali sirna.
Ia merasa dunia sedang tidak adil bagi dirinya.
Ia hanya berpikir bahwa apa yang pak Andi katakan waktu itu benar, sehingga ia mengambil keputusan yang sangat tergesa untuk mengundurkan diri.
Tetapi ternyata semua yang ada di perusahaannya mengira Desi mengundurkan diri karena dia sudah membuat rugi perusahaan dan mengakibatkan pak Bagas marah besar padanya.
" hmm memang keputusanku mengundurkan diri itu sudah tepat daripada aku di pecat karena aku dikira membuat rugi perusahaan. Itu lebih memalukan, apalagi itu ku lakukan karena suruhan pak Krisna.
Aku tak menyangka pak Krisna sejahat itu padaku.
Lihat nanti pembalasanku pak Krisna.. aku tidak terima di tuduh membuat rugi perusahaan. Apa maksudnya pak Krisna memperalat aku ya ?" batinnya berkata seraya ia berjalan keluar dari perusahaan Bagas.
Ketika sedang melamun memikirkan itu, tiba- tiba ia terlonjak kaget mendengar bunyi klakson mobil yang sangat memekakkan telinganya.
Lekas ia membalik badannya lalu menoleh dengan wajah tak suka.
Ketika ia melihat mobil siapa itu, ia tertunduk dan diam.
Tiba- tiba Bagas membuka pintu dan turun lalu menghampiri Desi.
Ia menatap tajam Desi dan berkata, " Desi.. masih berani kamu datang kemari ? Kamu mau mempertanggungjawabkan apa yang sudah kamu perbuat ? Kamu buat perusahaanku bangkrut, dan setelah kamu tahu kamu lalu mengundurkan diri. Licik kamu Desi. Aku akan bawa kamu ke kantor polisi sekarang juga," kata Bagas.
Lalu Bagas menyeret Desi untuk masuk ke dalam mobilnya.
Desi meronta dengan berteriak.
Satpam yang mendengar teriakan Desi lalu berlari menghampiri mereka.
Satpam itu kaget melihat Bagas sedang menarik paksa Desi masuk ke dalam mobilnya.
" Maaf pak Bagas ada apa ini? Kenapa Desi ditariķ - tarik masuk mobil bapak ?" tanya satpam kebingungan.
" Dia itu mau saya bawa ke kantor polisi, karena sudah buat rugi perusahaan saya. Sudah jangan banyak tanya, bantu saya untuk paksa dia masuk mobil saya," jawab Bagas ketus
" Tapi pak... kasihan dia kan wanita, masa di paksa dan di tarik seperti itu ?" tanya satpam lagi.
" Diam kamu.. apa kamu sudah bosan kerja di sini ?" tanya Bagas dengan marah.
" Ehh.. iya pak.. maaf, mari saya bantu," katanya dengan terpaksa.
Setelah berusaha dengan menarik Desi masuk ke mobilnya maka Bagas langsung tancap gas menuju kantor polisi.
Di dalam mobil Desi menangis karena ketakutan di bentak terus oleh Bagas.
Desi tak di beri kesempatan sedikitpun untuk menjelaskan bagaimana dia pun bingung dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Dan akhirnya ia pun pasrah. Diusapnya air mata yang mengalir dengan deras di pipinya.
Tak lama mereka sampai di kantor polisi. Dengan ketakutan Desi melangkah masuk.
Bagas terus membentaknya untuk cepat berjalannya.
" Ayo cepat jalannya.. kamu pasti mau mengelak kan.. jadi berjalan lambat ingin kabur, ya kan ?" tebak Bagas seraya mencibir.
Desi hanya terdiam. Dirinya merasa sakit hati dan terluka oleh sikap dan tindakan Bagas padanya.
Bagaspun menghampiri polisi yang sedang piket.
Disapanya dengan sopan lalu ia duduk.
" Permisi pak, mau lapor. " kata Bagas.
" Apa perkaranya pak ?" tanya polisi itu.
" Ini pak, saya mau laporkan mantan anak buah saya, dia membuat rugi perusahaan saya dan yang saya marah dia mengundurkan diri dulu sebelum perbuatannya diketahui oleh saya sebagai direkturnya.
Karena dia memberi discount pada konsumen sampai 50 % tanpa persetujuan saya sehingga ketika para konsumen tertarik maka omset yang ada tidak mampu untuk mendongkrak keuangan perusahaan sehingga perusahaan nyaris bangkrut karena rugi.
Saya minta dia mempertanggungjawabkan perbuatannya yang membuat perusahaan rugi." kata Bagas panjang lebar.
" Saya ingin mendengar dari saudari Desi dulu, apa benar yang dituduhkan oleh bapak Bagas padamu ?" tanya polisi itu.
Bagas yang melihat itu tampak semakin kesal.
Lalu dibentaknya dengan keras agar Desi mau menceritakan semuanya.
" Sudah kamu dramanya Desi. Dari tadi hanya menangis terus. Lebih baik kamu mengaku agar hukumanmu menjadi lebih ringan dengan kamu jujur. " kata Bagas dengan emosi.
" Tenang pak Bagas.. jangan.emosi. Desi tampak ketakutan bila bapak tidak tenang seperti ini. Coba bapak kendalikan sikap bapak. Saya butuh keterangan yang lengkap, jadi bapak jangan halangi proses untuk saya menanyakan yang jujur semuanya pada Desi..," tegas pak polisi pada Bagas.
Bagaspun terdiam dan mendengar apa yang polisi akan tanyakan pada Desi.
" Saudari Desi.. silahkan kamu ceritakan versimu apa yang terjadi. " kata polisi itu.
" Begini pak.. saya itu sudah bekerja di kantor bapak Bagas lebih dari 6 bulan.
Saya bekerja menjadi staff pemasaran.
Beberapa hari yang lalu saya mengundurkan diri dari perusahaan, karena ada kepala staff pemasaran itu yang bilang saya akan dipecat saja bila tidak ikut aturan yang ada dan saya di nilai bersalah karena tidak ikut aturan di kantor.
Hari ini saya di panggil pak Andi ke kantor untuk di tanya masalah saya memasarkan barang dengan discount 50 % itu adalah inisiatif saya katanya sehingga membuat perusahaan rugi dan ketika saya sudah jelaskan pada pak Andi saya pulang, tetapi di gerbang kantor pak Bagas melihat saya dan langsung menarik paksa saya untuk naik mobil ke sini pak. " jelas Desi dengan berlinang air mata.
" Ya itu pak, saya langsung seret dia ke sini karena sudah buat perusahaan saya rugi pak. " kata Bagas emosi
__ADS_1
" Tenang pak Bagas.. jangan emosi. Ini kantor polisi, kalau anda tidak bisa kami kasih tahu, jangan salahkan kami anda pun kami perkarakan. " tegas polisi itu.
Bagas pun akhirnya terdiam kembali.
" Desi.. kenapa kamu mengundurkan diri dari perusahaan ? Apa kamu sudah melakukan perbuatan yang dituduhkan pak Bagas ?" tanya polisi itu menatap Desi.
" Saya mengundurkan diri dari perusahaan karena kesalahan saya yang tidak mengikuti aturan yang sudah ada yaitu para karyawan harus naik lift yang untuk karyawan, saya naik yang lift khusus direktur tanpa saya melihat lagi karena saya tidak fokus.
Akhirnya saya satu lift dengan pak Bagas dan sewaktu saya melihat seisi lift saya kaget ternyata ada pak Bagas dalam lift itu dan ternyata saya salah naik lift.
Dan siang harinya sesudah istirahat saya di marahi pak Andi dan mengatakan bahwa bila saya tidak mengikuti aturan yang ada saya akan di pecat, dan pak Andi bicaranya dengan serius dan marah.
Saya sudah yakin pak Andi akan memecat saya karena saya mendengar dari teman- teman yang lain pak Andi bila sudah marah, apa yang diucapkannya itu pasti akan jadi kenyataan.
Oleh karena itu saya berkesimpulan seperti itu, saya akan dipecat maka saya mengambil lembur untuk menyelesaikan semua tugas saya dan saya membuat surat pengunduran diri dan saya taruh di meja pak Andi bersama berkas- berkas tugas saya.
Ada saksinya saya lembur pak polisi yaitu satpam kantor bernama pak Kosim untuk membuktikannya, bisa ditanya apa betul saya lembur malam itu.
Tetapi saya tidak pernah tahu bahwa apa yang saya lakukan itu dengan memberi discount murah itu membuat perusahaan merugi, saya baru tahu saat saya di panggil oleh satpam Neno suruhan pak Andi untuk datang menemui pak Andi dan beliau menjelaskan itu semua pada saya pak. " sahut Desi.
" Mengapa kamu Desi menjual barang dengan discount 50% padahal barang itu tidak sedang ada promo discount? Apa ini inisiatif kamu sendiri untuk menjual di bawah harga standar sehingga akhirnya perusahaan merugi ?" tanya polisi itu lagi.
" Saya karyawan yang termasuk masih baru pak, mana berani saya seenaknya untuk menurunkan harga tanpa ada bertanya lebih dahulu atau di suruh seseorang pak.
Saya ada di suruh pak Krisna pak, katanya semua barang ini diturunkan harganya agar cepat habis.
Karena pak Krisna sudah lama di perusahaan ini maka saya ikuti apa yang dia bilang tanpa saya curiga sedikitpun pak.
Kalau tidak percaya bapak bisa bertanya pada pak Krisna nya sendiri. " jawab Desi .
" Hmm... bohong dia pak. Krisna itu anak buah saya yang sudah lama bekerja pada saya. Tidak mungkin dia akan berbuat seperti itu.
Ini pasti akal bulusnya wanita ini pak, untuk menjatuhkan anak buah saya dan bersikap seolah- olah wanita ini tidak bersalah. " sahut Bagas jengkel.
" Bila bapak tak percaya, silahkan panggil pak Krisna nya agar masalah ini jelas, siapa yang salah.
Apa salah saya pak Bagas? Bapak selalu mencari kesalahan saya terus.
Setiap apa yang saya kerjakan selalu salah di mata bapak. Karena itu saya mengundurkan diri salah satunya karena saya tidak ada benarnya di hadapan bapak.
Saya mohon maaf pak bila saya mempertanyakan ini di sini, karena saya pun ingin tahu kenapa saya selalu salah . " tanya Desi seraya menghapus air matanya.
Ia sudah sangat terluka hatinya oleh perbuatan, perkataan dan tindakan pak Bagas pada dirinya yang sudah kelewatan.
Pak polisi menatap tajam pada Bagas.
Ia berpikir ada yang disembunyikan Bagas pada keterangan yang disampaikannya.
__ADS_1
" Bagaimana pak Bagas? Anda bisa menjawab sekarang pertanyaan Desi ?" tanya polisi itu.