Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 95. Intan Ingin Pulang


__ADS_3

Pagi itu Bagas membangunkan Intan agar bersiap- siap untuk ke rumah sakit.


Intan terlihat tak bersemangat sampai Bagas menegurnya.


" Sayang.. kenapa kamu sakit kah? kok tidak bersemangat begitu? cepat kamu mandikan Dion kita ke rumah sakit sekarang agar tidak macet di jalan," kata Bagas seraya masuk kamar mandi.


Selepas dari kamar mandi Bagas heran melihat Intan yang sedang melamun .


" Hei.. ada apa ? kenapa dari tadi melamun? Lekas mandi kita segera berangkat.


" Mas... apa tidak bisa di tunda saja ke rumah sakitnya?" tanya Intan.


Bagas menatap Intan heran dan bertanya," Ada apa kamu Intan? Kemarin kamu semangat sekali untuk test, sekarang kok kamu malas- malasan? Kenapa ?" tanyanya.


" Jawab Intan, mas jadi bertanya- tanya ini, maksud kamu apa sebenarnya?" tanyanya lagi.


Intan tersenyum dan berkata," Nggak mas, tidak ada apa- apa, cuman badan Intan agak lemas aja," katanya.


" Tetap saja kita berangkat, mas sudah ijin hari ini tidak masuk kantor, cuti, masak nanti mas cuti- cuti terus, papa kan lagi lihat kinerja kerjaku," kata Bagas seraya memakai pakaian.


Tak lama mereka pun pergi ke rumah sakit, tak lama maka Intan dan anaknya di test DNA.


Petugas mengatakan bahwa hasil akan keluar paling lambat 1 minggu tapi nanti yang pastinya akan diberitahukan pada ponsel Bagas.


Mereka memanfaatkan cuti Bagas hari itu untuk membeli beberapa kebutuhan Dion yang habis.


Malam harinya Bagas sedang mengerjakan beberapa tugas yang dibawa pulang karena hari ini cuti.


Intan datang menghampirinya membawa teh.


Bagas menatap istrinya yang terdiam seperti ingin mengatakan sesuatu.


" Ada apa sayang?" tanyanya.


" Mas.. aku kangen ayah dan ibu di Jawa, " katanya.


" Telepon lah mereka, kamu juga kan harus silaturahmi dengan mereka, sapa mereka di telepon." kata Bagas.

__ADS_1


" Sudah mas, tapi tidak aktif. Aku curiga ibu ganti nomor ponselnya, aku mau kabari ibu soal Dion, biar ibu pun senang sudah ada cucu," katanya.


" Mas... boleh aku lusa pergi ke rumah ibu dan ayah bawa Dion? biar mereka lihat Dion dan aku juga kangen banget dengan mereka," kata Intan lirih.


" Loh kok lusa ? aku kan baru cuti hari ini, ya nggak bisa minggu ini Intan, aku harus ijin lagi sama papa, mana lagi banyak kerjaan sayang di kantor," kata Bagas menatap Intan.


" Ya mas nggak usah ikut, biar aku dulu saja yang pergi duluan, nanti kalau mas sudah tidak sibuk ambil cuti sekitar 1 minggu, biar kita menikmati dulu suasana di kampung," kata Intan seraya bergelayut manja.


" Mana bisa Intan.. masa mas tidak antar kamu, nanti apa kata ibu dan ayahmu, menantunya kok nggak ikut," kata Bagas lagi.


Intan tertawa.. lalu berkata," Ayah dan ibuku nggak pernah punya pikiran negatif begitu mas, mereka ini polos dan selalu positif sama orang," katanya sambil tertawa lagi.


Bagas berpikir sejenak lalu berkata," Begini saja, besok mas kasih keputusan ya, mas mau coba bilang papa dulu, kalau boleh mas akan antar, nanti sesudahnya mas pulang lagi setelah mas menginap di sana 2 hari, bagaimana?" tanyanya pada Intan.


Intan mengangguk lalu tersenyum dan pamit pada Bagas untuk tidur duluan.


Keesokkan harinya ketika Bagas akan pergi kerja Intan mengatakan sesuatu," Mas.. tadi subuh ada pesan masuk di ponselku dari abang Rendi," kata Intan.


" Abang Rendi ? Siapa dia Intan ?" tanya Bagas menatap tajam Intan.


" Abang Rendi itu adik nya ibu yang paling kecil, dia bekerja di Jawa, mas mungkin belum pernah bertemu," katanya lagi.


Intan tiba- tiba menangis, Bagas kaget lalu ia bertanya," Ada apa Intan? Kenapa? Jangan buat mas bingung," lanjutnya.


" Ibu sakit mas, parah, bapak yang jaga sekarang, aku harus pulang segera mas, kasihan ibu, aku anak satu- satunya mas, nanti kalau ibu ada apa- apa, aku tidak mau menyesal nantinya mas," sahut Intan sambil menangis.


" Ya sudah.. kamu tenang dulu, biar nanti mas ketemu papa minta cuti lagi ya," katanya.


" Ngaak usah mas, nanti saja kalau mas sudah tidak sibuk, aku tidak apa- apa mas, yang penting aku bisa lihat ibu dulu, nanti bagaimana praktisnya kita bicarakan setelah aku di sana ya mas," kata Intan masih terisak- isak.


" Jadi kapan kamu mau pulang?" tanya Bagas.


" Besok mas, besok sore, pakai travel saja biar sampai depan rumah paginya," kata Intan.


" Cepat sekali Intan, mas ingin ikut tapi bagaimana ya?" katanya bingung.


" Mas.. susul saja nanti ya," katanya tersenyum manis.

__ADS_1


" Baiklah.. siap- siapkan saja pakaian dan baju Dion ya, mas berangkat kerja dulu," sahut Bagas seraya mencium kening Intan dan mencium Dion yang terlelap di pangkuan Intan.


Intan sedari siang sibuk menelepon seseorang. Dion yang kehausan pun diabaikan Intan. Setelah tangis Dion terdengar, Intan pun tersadar, lalu ia menyusui dan menidurkan Dion.


Intan sibuk membereskan baju- bajunya dan baju Dion serta peralatan yang mau di bawa.


Siang itu juga Bagas menelepon papanya ingin minta cuti.


" Halo pa, maaf bila menganggu," sapa Bagas di telepon.


" Ada apa Gas, tumben kamu telepon papa di saat jam kerja," sahut papa.


" Ya pa, Bagas ada perlu sama papa, kalau diperbolehkan Bagas mau ambil cuti 1 minggu ini pa," kata Bagas berharap.


" Kenapa kamu mau cuti 1 minggu, mau kemana?" tanya Yanto heran.


" Kalau boleh, mau antar Intan ke kampung nya, ibunya sakit parah," kata Bagas pada papanya.


" Gas.. bukannya papa tidak memperbolehkan, tetapi minggu ini sangat banyak tugas kita untuk menyelesaikan yang di minta oleh rekan bisnis kita sejalan dengan proyek yang mau kita tandatangani," kata papa.


" Terus siapa yang akan kerjakan ini semua bila kamu cuti Gas? Ingat ya nak.. kamu lagi papa promosikan untuk pegang jabatan wakil direktur di perusahaan papa, jadi bekerjalah dengan benar, " jawab papa.


" Baik pah, aku akan tetap konsisten dengan pekerjaanku ini," jawabnya.


" Dia bisa pulang ke Jawa naik travel kan, itu akan sampai di depan rumah," sahutnya.


" Ya pa, Intan bilang juga mau naik travel saja," katanya Bagas.


" Ya sudah.. kalau dia sudah bilang begitu, kenapa kamu repot- repot mau cuti segala?" tanya Yanto.


" Jangan terlalu kau manjakan wanita itu, kalau dia bisa sendiri, biarkan saja sendiri," lanjut Yanto.


" Tapi Bagas kan tidak enak dengan orangtuanya pa, nanti di kira tidak bertanggung jawab lagi," jawab Bagas.


" Apa orangtuanya tahu bahwa kamu suami orang ?" tanyanya tajam.


" Apa dia sudah kasih tahu orangtuanya bahwa kamu dan dia menikah siri selama ini ?" lanjut Yanto.

__ADS_1


" Mungkin saja dia belum kasih tahu keluarganya dan kepulangannya ini mau memberitahukan mereka, jadi biarkan saja dulu ia pulang sendiri, nanti kalau sudah dia bilang pada orangtuanya, baru kamu datang ke sana sekalian silahturahmi pada keluarga besarnya." kata Yanto.


Bagas terdiam mengiyakan perkataan papanya dalam hatinya.


__ADS_2