
Aria tetap memikirkan mengapa Baskoro setega itu pada dirinya.
Ia tak pernah merasa berbuat sesuatu hal yang merugikan dan salah pada Baskoro.
Aria masih menganggap Baskoro adalah teman yang baik bagi dirinya sejak dahulu.
Ketika sampai rumah Aria menceritakan semua pada Anita.
Anita makin jengkel dengan Baskoro.
Lalu tanpa sadar ia merutuki tingkah Baskoro.
Aria yang heran lalu bertanya pada Anita.
" Anita.. kenapa kamu marah sekali mendengar ceritaku mengenai Baskoro ?" tanya Aria heran.
.
" Ya mas aku jengkel dengan Baskoro sebab ia itu pernah mengancam aku bahwa pernikahanku itu tak akan bahagia selamanya," katanya masih kesal.
" Haa benarkah Baskoro bilang seperti itu padamu dan kenapa ia bisa bicara begitu ?" tanya Aria kaget.
" Ya mas. Maaf aku mau terus terang padamu
Baskoro itu diam- diam suka padaku mas sejak dari kuliah.
Dia pernah mengutarakan cintanya berkali- kali padaku, tetapi aku tolak.
Yang terakhir ketika aku mau bertunangan denganmu mas, ia minta aku untuk menjadi pacarnya.
Ya jelas aku menolaknya karena memang aku tidak mencintainya. Aku sudah katakan tak mungkin aku mencintainya karena aku sudah mencintai mas lebih dulu dan aku tak ada rasa padanya, hanya menganggap teman.
Di situ rupanya dia marah mas padaku. " jawab Anita.
" Mengapa waktu itu Baskoro atau kamu tidak bicara padaku ? " tanya Aria lagi.
" Aku melarang untuk bicara pada mas karena aku tahu sifat mas pada Baskoro.
Dari dulu akan mengorbankan apapun yang ada pada diri mas untuk diberikan pada Baskoro.
Dan aku takut mas akan mengalah pada Baskoro untuk mendapatkanku. " jawab Anita.
" Anita.. sayang... ya tidak mungkin aku akan berikan kamu pada Baskoro, memangnya kamu barang apa .. aku pasti akan pertahankan kamu orang yang ku cintai, tidak mungkin aku semudah itu memberikan apa yang dia sukai apalagi orang yang ku cintai. " kata Aria.
" Itu yang ku takuti mas, dia tetap menganggap aku itu cintanya, sehingga ketika ku tolak pada saat kita mau menikah yang bertemu di cafe ia berkata bahwa ia sakit hati telah ditolak. Mungkin akhirnya ia berbuat seperti ini salah satunya untuk tujuan membuat kita jadi keluar uang lagi dengan tujuan akhirnya nanti usahaku akan bangkrut.
Tega sekali dia pada kita mas. " kata Anita.
" Aku akan bertemu Baskoro, aku akan bicara padanya hati ke hati, agar tahu permasalahan yang sebenarnya. " kata Aria.
," Mas... bila Baskoro jawab bahwa ia lakukan itu karena dendam denganku dan masih tetap mengharap cintaku bagaimana mas ?" tanya Anita kuatir.
" Ya aku pun tetap akan jawab bahwa Anita itu Isteriku, dan tidak ada hak dari Baskoro melakukan itu padamu. Perbuatannya ini bisa kuadukan pada polisi sebagai ancaman bagi keselamatan dirimu." kata Aria geram.
" Sudah sayang tidak usah kuatir, nanti mas yang akan selesaikan dengan Baskoro, kamu tenang saja ya.
Lain kali coba bicarakan pada mas, jangan kamu pendam sendiri. Bila waktu itu kamu bicara pada mas, mungkin persoalannya tidak seperti ini jadinya. Tapi yang sudah terjadi biarlah.. lain kali kamu harus bicara pada mas apapun itu, jangan kamu pendam sendiri.
Masih kamu ragukah mas itu akan melepas sesuatu yang sangat berharga di hidup mas demi seorang yang bernama Baskoro?" tanya Aria menatap dalam Anita.
Anita tertunduk dan hanya dapat bicara,
" Maafkan aku mas, aku meragukan cinta mas padaku. " .
Aria mengusap lembut pucuk kepala Anita lalu dipeluknya serta dicium kening Anita .
__ADS_1
" Satu pinta mas, mulai sekarang jangan pernah ragukan cinta mas padamu ya," kata Aria.
Anita mengangguk lalu tersenyum manis.
Keesokan harinya Aria mendatangi lagi kantor Baskoro, tetapi aneh sudah hampir 1 bulan ini Baskoro tak datang ke kantor. Masalah di kantor sudah dipercayakan pada asistennya yang sangat dipercaya.
Menurut kabar Baskoro sedang ada di suatu daerah untuk membuka cabang di sana.
Tetapi asistennya tidak dapat memberikan nomor telepon Baskoro pada siapapun. Itu yang dikatakan Baskoro sebelum ia pergi.
Aria pun mendatangi rumahnya Baskoro.
Lama mengetuk pintu akhirnya ada nenek Baskoro yang membuka pintu.
" Selamat siang nek, Baskoronya ada," tanya Aria.
" Cari siapa ?" tanya nenek itu lagi.
" Yang keras ya bicara sama nenek, karena pendengaran nenek sudah berkurang," katanya lagi.
" Cari Baskoro nek, apa ada di rumah ?" tanya Aria dengan volume suara dikeraskan.
" Baskoro sudah lama tidak ada di sini, sudah pindah. Coba cari ke rumah barunya yang di jalan Rajawali. " jawab nenek.
Aria menanyakan alamat lengkap Baskoro, lalu ia pun bergegas menuju alamat yang diberikan.
Tak lama Aria sampai di alamat itu. Suasana rumah terlihat sepi.
Tetapi ia mencoba untuk mengetuk pintunya.
Maka keluarlah seorang wanita dari dalam rumah dan menyapa Aria.
" Siapa ya ?" tanya wanita itu.
Aria langsung membalikkan tubuhnya menghadap wanita itu lalu bertanya.
" Iya, betul ini rumah Baskoro. Anda siapa?" tanyanya heran.
" Saya temannya Baskoro dari kuliah sampai sekarang bu," jelas Aria pada wanita itu.
" Baskoro tidak ada, belum pulang. Katanya sedang di daerah. Minggu ini sudah pulang. Apa ada pesan?" tanyanya.
" Bilang saja Aria mencarinya, dan tolong bilang jangan pergi bila urusan belum diselesaikan. " sahut Aria.
" Baik nanti saya sampaikan." jawab wanita itu.
Aria pun pulang dan bertekad akan datang lagi dalam beberapa hari ke depan.
Dua minggu kemudian Aria mendatangi lagi rumah itu dan mendapati Baskoro belum pulang juga.
Ada rasa kesal merasa dipermainkan.
Pada saat akan pulang ia pun berkata pada wanita itu lagi yang membukakan pintu pada saat Aria ada.
" Bu.. tolong jangan sembunyikan Baskoro itu, masa ibu tidak tahu keberadaannya dan nomor teleponnya?" tanyanya jengkel.
" Masa saudara tidak tahu dimana dia, keluarga macam apa yang tidak peduli Baskoro menghilang! " ujarnya sengit karena menahan marah.
" Hee mas, saya juga benar tidak tahu keberadaannya, nomor ponselnya saja sudah lama tidak aktif.
Jangan sembarangan menuduh membawa- bawa nama keluarga. Saya bisa labrak mas kalau caranya seperti ini.
Kok tidak sopan datang malah nuduh seperti itu ! " jawab wanita itu balik marah pada Aria.
" Habis ibu tak mau memberi nomor Baskoro. Dia itu sudah menipu saya bu. " kata Aria makin kesal.
__ADS_1
Ketika mereka berdua saling adu mulut, keluarlah seseorang dari dalam rumah.
" Ada apa mbak, kenapa teriak- teriak begitu, " katanya panik.
" Iru orang ada nanya Baskoro, tapi malah menuduh mbak sembunyikan Baskoro. Aneh itu orang !" kata wanita itu.
" Mbak Farti sabar ya mbak, biar aku yang menghadapinya. " jawab pria itu.
" Mas.. ada apa ya, kok bisa jadi ribut dengan mbak saya, perlu apa mas ke sini ?" tanya pria itu seraya mengamati Aria.
"Kenalkan aku Bagas sepupu Baskoro," katanya.
Aria menatap lama pria itu lalu mengangguk dan tersenyum serta berkata, " Baiklah jadi kamu tahu dan dengar masalah Baskoro ya. " kata Aria.
Mereka berdua pun lalu mendekat dan saling bersalaman.
Bagas lalu mengajak Aria masuk.
" Aku ini dengan mas Baskoro sepupu. Ini mbak Farti, kakaknya mas Baskoro. " kata Bagas.
" Ada apa Aria kamu mendatangi rumah mas Baskoro?" tanya Bagas heran..
" Aku mencari Baskoro. Dia itu dulu teman karib ku dari kuliah. Lalu kita bertemu lagi setelah sama- sama bekerja.
Baskoro beberapa bulan lalu menawarkan bantuan dana untuk memodali usaha bisnis online istriku. " kata Aria tersenyum ketika mbak Farti datang menyuguhkan minuman.
" Mbak duduk dulu sini biar tahu masalahnya," kata Bagas.
Farti pun menurut dan duduk mendengarkan.
" Lalu ? " tanya Bagas penasaran.
" Aku dan isteriku setuju untuk meminjam modal tambahan pada temannya Baskoro. Dan bulan ini aku melunasinya semua, tetapi beberapa hari yang lalu ada penagih yang datang ke rumah, dia bilang hutang istriku masih 6 bulan lagi.
Kaget aku, lalu ku datangi bos yang meminjam uangnya dan bilang memang belum terbayar 6 bulan sekitar 300 juta lebih padahal hutang pinjaman isteriku sudah lunas.
Aku selalu membayar pada rekening yang diberikan oleh Baskoro padaku.
Tetapi setelah 3 bulan, uang itu tak pernah di setor pada perusahaan pada Baskoro.
Karena itu aku datang mau menanyakan pada Baskoro, apa maksud semua ini dia lakukan pada keluargaku. " kata Aria.
" Wah kenapa Baskoro seperti itu ya Gas, mbak nggak ngerti, memang dia sudah tidak punya uang lagi kah sampai menipu orang begitu?" tanya mbak Farti heran.
" Aku juga nggak tahu mbak, dari dulu kan Baskoro ini tertutup. Aku nggak tahu permasalahan perusahaan dia," kata Bagas.
" Tolong kalau Baskoro sudah pulang kasih tahu ya, aku mrncarinya dan jelaskan mengapa dia tega pada saya," kata Aria geram.
" Baik mbak Farti dan Bagas, aku pamit dulu. Ini ada nomor teleponku.
Tolong kabari kalau Bagas pulang. Aku akan segera kemari.
Maafkan aku ya mbak Farti, tadi marah- marah. Habis aku emosi susah sekali mencari Baskoro. " katanya seraya menyalami wanita itu.
" Ya tidak apa mas.
Kasihan sekali kamu mas kalau ternyata Baskoro menipu kamu. " katanya lirih.
" Terima kasih ya Bagas. Aku pulang. " kata Aria.
Bagas menatap punggung Aria yang sudah melangkah menjauh.
Ia bertekad akan menolong Aria untuk mempertemukan dengan Baskoro.
Dan siapa yang tahu setelahnya ternyata Aria akan bertemu kembali dengan Bagas waktu setelah Mira cerai dengan Bagas.
__ADS_1
***