Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 103. Anton Menawarkan Yang Lain


__ADS_3

Intan membawa Anton ke suatu tempat di mana Anton sendiri tidak mengetahui maksud dan tujuan Intan yang sebenarnya.


Anton mengira Intan hendak mengulang kembali masa- masa indah mereka berdua.


Apalagi Intan menyuruh Anton untuk menyetir mobilnya menuju arah rumah Intan.


Pikirannya terus berkecamuk di hatinya, ia merasa Intan tak pernah bisa lepas dari cengkraman asmara Anton.


Semakin dekat rumahnya semakin membuat Anton tak sabar lagi. Ia mulai berkhayal masa- masa yang lalu bersama Intan.


Intan menyadarkan Anton dengan memanggilnya.


" Pak Anton.. pak.. sudah sampai, kenapa bapak bengong ?" tanyanya.


" Oh .. maaf .. aku melamun rupanya, mari turun Intan, kita masuk yuk, sudah lama aku tak pernah lagi masuk rumah ini," kata Anton bergegas ingin masuk.


Intan membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Anton masuk.


Anton mengedarkan pandangannya, ia teringat dulu saat ia yang mengajak Intan untuk membeli rumah ini agar Intan tidak lagi kost tapi punya rumah sehingga sewaktu- waktu ia datang tidak akan ada gunjingan dari teman kost Intan.


" Masih seperti yang dulu ya Intan, sudah hampir 2 tahun yang lalu, saat kita masih sering bersama, " kata Anton.


" Ya.. kenangan dulu pak, membuat akhirnya saya yang harus ditinggal bapak," kata Intan.


" Ditinggal bagaimana, kamu yang pergi bersama Bagas, kamu yang tinggalkan aku," ada nada cemburu Anton saat bicara itu.


" Yang menyuruh aku dekati Bagas siapa? yang suruh aku untuk bersama Bagas siapa? Bapak kan ?" tanyanya lagi.


" Ya.. sudah.. kita jangan bertengkar, baru bertemu lagi, aku kangen banget padamu Intan, aku ingin mengulang masa- masa dulu, karena itu kamu bawa aku ke sini kan? ayo kita ke kamar ya, aku sudah nggak sabar," kata Anton mulai mendekati Intan dan memeluk Intan.


Intan mendorong tubuh Anton dan berkata," Sebelum mulai.. aku mau tunjukkan sesuatu pada bapak, " kata Intan.


" Apalagi Intan, nanti saja tunjukkannya, aku sudah tak sabar," katanya.


Tangan Anton terus bergerak kesana kemari.


" Sabar pak Anton.. bapak tunggu saja di kamar. Saya akan segera ke kamar dalam waktu 10 menit lagi.


" 10 menit lagi ?? apa aku sanggup bertahan menunggu 10 menit lagi?" tanya Anton dengan mata terbelalak.


" Pasti sanggup pak. Tunggu di kamar ya, persiapkan semuanya, aku mau siap- siap dulu," kata Intan seraya tersenyum manis.


Anton pun mengangguk dan melangkah menuju kamarnya.


Setelah Anton masuk kamar, ia mengunci kamar itu lalu bergegas keluar rumah.


Intan pergi ke rumah bu Darsih ingin mengambil Dion.


Ya .. dia akan menunjukkan Dion pada Anton bahwa inilah anaknya, agar Anton mengakuinya.

__ADS_1


" Bu Darsih .. bu.. " panggil Intan dari luar.


Tampak pintu rumah terbuka, muncul bu Darsih yang sedang menggendong Dion.


" Intan, ini Dion sedang tertidur lelap, baru menyusu. Anak baik ini tidak rewel," kata bu Darsih.


" Terima kasih ya bu Darsih sudah mau menjaga Dion. Saya mau ambil Dion. Sudah selesai urusan saya bu," kata Intan.


" Ya, sama- sama Intan. Kemarilah bila kamu memerlukan ibu," kata bu Darsih.


" Baik bu, terima kasih." kata Intan seraya pergi menuju rumahnya.


Lalu Intan bergegas menuju rumahnya lagi.


Sesampainya di rumah ia mengatur napasnya dulu sebelum ia membuka kunci kamarnya.


Ia menaruh Dion yang terlelap di meja yang besar di depan kamarnya, lalu ia membuka pintu kamar.


Tampak Anton yang mulai terlelap menunggunya.


Dia lalu melangkah membangunkan Anton.


" Pak .. bangun.. " katanya.


" Ya Intan lama sekali kamu ini, ketiduran aku jadinya," kata Anton mulai bersemangat lagi.


" Intan .. kau buat aku seperti ini, aku tak mau tahu kamu permainkan aku dari tadi ," kata Anton gemas.


Intan melangkah ke arah pintu, lalu dia masuk membawa Dion.


" Apa itu Intan, apa yang kau bawa?" tanya Anton.


" Baaayii ... " kata Anton kaget.


" Apa- apaan maksud kamu Intan ? " tanya Anton mulai meninggikan suaranya.


" Kau bilang tidak ada siapa- siapa? pasti kau bawa Bagas kemari untuk menjebakku ya?" tanya Anton marah.


" Tidak pak, aku tidak bawa Bagas kemari. Aku hanya bawa Dion. Aku ingin menunjukkan bayi ini pada bapak. Ini anak bapak. Darah daging bapak," kata Intan tegas.


" Apa ?? Anakku ?? Mimpi kali kau Intan ? Kamu kan dah menikah dengan Bagas, kenapa kamu bilang itu anakku ? Kamu mau apa dariku? memerasku ? Mau uang berapa Intan, sebutkan ! Licik sekali perbuatanmu itu, menjebakku," kata Anton marah dan mulai bangkit berdiri memakai baju kembali.


" Saya tidak menjebak bapak, tidak juga mau memeras bapak, saya hanya ingin menunjukkan ini anak bapak, hasil hubungan kita berdua sebelum saya bersama Bagas," kata Intan .


" Kau coba menipuku Intan? Kapan kita berhubungan lagi setelah kamu bersama Bagas? Hampir setiap hari kamu bersama Bagas, tidak mungkin tidak pernah berhubungan. " kata Anton.


" Bapak lupa atau pura- pura lupa? Sebelum aku pergi ke Jakarta, aku ijin pada bapak untuk menemui Bagas.


Bapak bilang mengijinkan asal aku harus menemani bapak 2 hari sebelumnya.

__ADS_1


Aku sebenarnya tidak mau tapi demi ketemu Bagas aku mau.


Pada hari aku menemani bapak itu apa yang bapak lakukan padaku? Bapak tidak mau lepas dariku sampai berbohong pada ibu keluar kota padahal kita di sini, di rumah ini.


Bapak terus menerus mengajakku berhubungan padahal aku sudah bilang pada bapak bahwa aku lagi masa subur tetapi bapak tak perduli, " kata Intan.


" Ini hasilnya pak, aku sudah test DNA, ini bukan anak Bagas, Bagas bukan bapak biologisnya Dion. Aku sampai berpisah dengan Bagas pak, karena aku merasa bersalah membohongi Bagas.


Ibu dan bapak mertuaku bilang mereka curiga ini anak bukan anak Bagas karena dari wajah pun tak mirip, maka itu aku nekat test DNA agar aku tahu Dion ini anak siapa, ternyata Dion ini anakmu pak," kata Intan.


Anton terdiam. Ia masih belum dapat mencerna semua yang terjadi dan yang ada di depan matanya.


Ia sangat kaget, bahwa apa yang dilakukannya akan berdampak pada rumah tangganya nanti.


" Intan.. ini bukan anakku, bukan.. jangan kau coba membohongiku," kata Anton.


" Masih belum percaya bapak? Kita akan test DNA untuk membuktikannya," tantang Intan.


" Tidak usah, .. aku tidak mau test. Begini saja.. ya sudah kalau memang seperti itu apa maumu Intan?" tanya Anton.


" Nikahkan aku pak agar status anak ini jelas," kata Intan.


" Tak mungkin Intan.. kamu mau buat istriku marah padaku, ingat dulu pun ketahuan kamu kan dipecat oleh istriku, apalagi ini kalau benar anakku pasti istriku akan ceraikan aku," kata Anton.


" Bagus... kan sesudahnya kita akan menikah," kata Intan.


" Tak semudah itu Intan, perusahaan itu atas nama istriku, karena semua harta dari orangtuanya dulu, aku hanya mengelolanya karena menikah dengannya, bila aku diceraikan maka aku akan jatuh miskin, apa kata orang- orang bila aku jatuh miskin ?" kata Anton.


" Lalu bagaimana?" tanya Intan.


" Aku akan membiayai anak itu sampai besar. Semua kebutuhan anak itu dan kamu akan kupenuhi dengan 1 syarat," kata Anton.


" Apa syaratnya?" kata Intan.


" Kamu tidak berhak mengusirku bila datang ke rumah ini dan kamu tidak boleh menolak bila aku ingin berhubungan denganmu," bagaimana?" tanya Anton.


" Licik kamu pak," kata Intan.


" Ya terserah, bila tak mau akupun akan menolak anak ini untuk ku akui,"


" Nikah siri saja pak agar ini anak ada status, dan aku janji tidak akan menganggu rumah tanggamu pak," kata Intan terus mendesak. " Nanti sejalan waktu aku akan nikahkan kamu ya.. tapi penuhi dulu semua syaratku baru kupertimbangkan semuanya," kata Anton.


Intan berpikir sejenak lalu ia mengangguk. Ia pun sedang memikirkan untuk biaya hidup ia dan Dion di Bali dan ada Anton yang menawarkan akan mencukupinya.


Ya sudah.. ia pun setuju dengan semua itu asal anaknya dapat dipenuhi semua kebutuhan hidupnya walau itu artinya ia hanya akan menjadi pemuas saja bagi Anton.


Intan tak punya pilihan lain.


***

__ADS_1


__ADS_2