Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 116. Mira Menjalani Hari- Hari


__ADS_3

Mira menjalani hari- hari bahagia dalam pernikahannya dan kehamilannya.


Ia sempat berpikir 3 tahun menjalani kehidupan bersama Aria tetapi belum ada tanda- tanda kehamilan.


Mira bersyukur Aria bukan type suami yang menuntut untuk Mira cepat hamil, itu dibuktikan dengan pernikahan mereka yang sudah 3 tahun berjalan Aria tidak menuntutnya. Aria mengerti kondisi dan keadaan Mira.


Karena itu ketika Mira hamil Aria sangat senang.


Mira bersyukur sekali punya suami sebaik dan sangat pengertian seperti Aria.


Kehidupan mereka memang sangat bahagia dengan makin lengkapnya kehamilan Mira.


Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa kehamilan Mira sudah memasuki 6 bulan.


Mama Lena berencana untuk mengadakan syukuran 7 bulanan kehamilan Mira agar selamat sampai melahirkan ibu dan anak nanti 9 bulan.


Aria mula- mula tak setuju karena ia takut Mira kecapean.


Tetapi mama Lena ingin mengadakan itu dan yakin Mira tidak akan kecapean karena acaranya tidak usah lama cukup sebentar saja agar ada doa untuk calon bayi yang ada dalam perut Mira dan Mira sendiri diberi kesehatan dan kekuatan.


Mama berjanji tidak akan melibatkan Mira dalam persiapan itu agar Mira tetap sehat dan kuat pada saat acaranya.


Lena pun saling bertelepon dengan Sari, ibu Mira untuk acara ini.


Aria terlihat beberapa kali memberikan pengertian pada mamanya akan kondisi Mira. Ia sangat kuatir Mira kecapean dengan kehamilannya ini.


Tetapi akhirnya Aria memutuskan akan melihat perkembangan kesehatan Mira lebih dahulu 1 minggu sebelum acara 7 bulanan itu.


Dan mama Lena menyetujuinya.


Malam itu Mira tidak bisa tidur, ia gelisah dan terus mencari posisi yang enak untuk tidur. Semakin besar kehamilannya ia makin merasa lapar.


Malam inipun ia lapar, dilihatnya Aria yang sudah tertidur, ia menatap wajah Aria, ingin membangunkannya, tetapi ketika didengarnya dengkur halus dari Aria ia membatalkan membangunkan Aria.


Dengan perlahan dan agak susah untuk bangun Mira berusaha untuk duduk dan bangkit berdiri.


Kehamilan Mira yang ke 2 ini memang membuat berat badan Mira naik dengan cepat.


Mira kadang tak tahan untuk makan di malam hari.


Aria melarang Mira untuk diet atau menahan lapar, karena ia ingin anaknya tumbuh sehat.


Malam inipun ia lapar, maka ia pun melangkah ke dapur.


Di dapur ia mencari sesuatu di kulkas, ternyata masih banyak bahan makanan yang bisa diolah, tetapi ia merasa malas untuk masak apalagi jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.


Akhirnya ia mengambil buah apel dan duduk di meja makan.


Ketika ia sedang makan, Aria menghampirinya. Mira kaget karena ia makan sambil melamun.

__ADS_1


" Mas... kenapa bangun? Aku kaget mas datang," kata Mira.


" Kamu lagi apa? lapar ? itu makan buah ya," kata Aria mengelus rambut Mira.


" Ya mas, habis lapar, ada bahan makanan tapi aku malas masaknya. Jadi ku ambil buah apel untuk menganjal perutku yang lapar," kata Mira tersenyum.


Aria melirik jam di tangannya, lalu ia berkata," Apa makan apel 1 kamu akan kenyang sayang?" tanya Aria menatapnya.


" Hehe... sepertinya tidak sih mas. Kehamilanku yang ke 2 ini aku cepat lapar mas, karena itu berat badanku pun cepat naik," kata Mira tersenyum malu.


" Jangan kamu tahan lapar ya Mir.. anak kita harus dapat asupan gizi banyak agar sehat," kata Aria.


" Ayo ambil jaketmu, kita keluar cari makan, kamu mau apa, mudahan masih banyak yang buka ya," kata Aria mengajak Mira.


" Wah betul mas, aku senang sekali. Aku ambil jaket dulu kan nanti kalau pilih makanan aku tidak kedinginan kena angin malam," kata Mira bersemangat.


Aria tertawa kecil melihat tingkah Mira yang kegirangan mau pergi makan.


" Mas ambil kunci mobil dulu ya, " kata Aria.


Maka mereka pun pergi malam itu mencari tempat makan yang masih buka. Sesekali Aria memegang perut Mira dan mengelusnya.


Ia sangat menikmati suasana tengah malam itu dengan pergi berdua istrinya.


Akhirnya ada tempat makan yang masih ramai orang yang makan, Aria pun parkir dan menuntun Mira untuk keluar dan mencarikan tempat yang enak untuk Mira duduk.


Mira memesan nasi goreng sedangkan Aria memesan mie goreng.


Sesudah makan Aria mengajak Mira untuk keliling Simpang Lima, tempat yang banyak orang suka untuk melihat keindahan kota di waktu malam.


Setelah puas berkeliling, Aria mengajak Mira pulang.


Sesampainya di rumah Mira langsung menuju kamar dan ingin tidur karena sudah kenyang dan mengantuk.


" Mas.. Mira tidur dulu ya, ngantuk ini bayinya ngajak tidur, makasih ya mas sudah ajak Mira makan dan keliling kota," kata Mira seraya mengecup pipi Aria.


Tak lama Mira pun tidur di pelukan Aria.


Aria yang melihat Mira sudah tertidur lelap, mencium bibir Mira yang menggemaskan.


Hasratnya sempat muncul, tapi melihat istrinya yang sudah terlelap, Aria menahannya. Ia sangat cinta pada Mira tetapi ia tak mau Mira kecapean atau kesakitan . Sehingga ia pun menahan hasrat itu dan cepat- cepat memejamkan mata untuk ikut tidur.


Dan taklama keduanya pun tertidur.


Kesesokan harinya Aria bangun lebih dahulu. Dilihatnya Mira yang masih tergolek lelap di sisinya.


Aria mencium kening Mira dengan mesra, lalu bangun menuju kamar mandi.


Segar badannya terkena air dingin. Setelah itu ia memakai baju dan siap untuk berangkat.

__ADS_1


Demi dilihatnya Mira yang masih tidur, Aria keluar kamar dan menuju ruang makan untuk minum teh.


Tiap pagi biasanya Mira yang sediakan tetapi Aria sempat bilang pada mbok bila Mira belum bangun maka mbok Wati yang buatkan sarapan.


" Mbok.. buat sarapan apa? Ini teh buat saya ya." tanyanya


" Iya den, itu mbok buat teh masih hangat untuk tuan. Ini ada roti coklat dan roti keju mbok dah buatkan," kata mbok dengan sopan.


" Makasih ya mbok," kata Aria dengan tersenyum.


" Ya den," kata mbok Wati juga tersenyum.


Mbok Wati ini sudah lama bekerja sejak Aria kuliah dulu sampai sekarang masih mengabdi pada keluarga mama Lena.


Ketika Mira dinyatakan hamil, mama Lena menyuruh mbok Wati untuk membantu di sana. Karena pembantu yang dulu mengurus Antony pulang kampung menikah.


" Mbok.. nanti kalau Mira bangun, cepat buatkan roti dan teh seperti ini ya, jangan suruh Mira buat sendiri, dia tak boleh kecapean mbok," kata Aria bersiap- siap untuk pergi kerja setelah rotinya habis ia makan.


" Baik den.. " kata mbok Wati tersenyum.


Ia terharu anak majikannya ini sangat baik, sayang dan perhatian sekali pada Mira.


Tepat pukul 9 Mira terbangun. Ia kaget ketika melihat jam. Ia lalu melihat mas Aria sudah tidak ada di kamar. Ia pun menuju ruang makan. Tak ada mas Aria di sana. Ia berpikir mas Aria belum makan dan langsung pergi


Ia pun melangkah ke dapur di lihatnya mbok sedang mencuci piring.


" Mbok, mas Aria sudah pergi ya?" kata Mira


" Ya mbak Mira, den Aria sudah pergi. " Tidak sarapan dulu mbok?" tanya Mira lagi.


Ia menyesal sekali bangun kesiangan, tugas yang biasa dikerjakan olehnya tidak dikerjakan.


" Sudah mbak.. tadi sarapan roti dan teh," kata mbok.


" Oh .. sudah sarapan ya," Mira menghela napas agak lega.


" Iya, tadi juga pesan pada mbok untuk menyiapkan sarapan untuk mbak Mira, tidak boleh dikerjakan sendiri takut kecapean katanya mbak," sahut mbok.


" Bersyukur mbok melihat den Aria sangat sayang pada mbak Mira, sama seperti pada ibu Anita dulu," kata mbok terdiam.


" Ya mbok, mas Aria juga katanya dulu sayang pada ibu Anita," kata Mira.


" Oh ya mbok, Antony dan Yunia sudah sarapan tadi sebelum sekolah?" tanya Mira.


" Sudah mbak, tadi Nia di suapin Neni, terus mereka pergi bersama naik mobil sama tuan muda Antony ," kata mbok.


" Makasih ya mbok, untuk sarapannya," kata Mira tersenyum lagi.


Ia senang menjalani hari - hari yang penuh kebahagiaan dengan dikelilingi orang- orang terdekat yang sayang pada dirinya.

__ADS_1


***


__ADS_2