
Andi termenung ketika Ina menceritakan semua tentang Desi.
Ia merasa tak boleh semena- mena untuk membuat Desi merasa bersalah seperti itu.
Setelah mendengar cerita Ina, Andi bertekad akan menyuruh secepatnya Desi untuk datang ke kantornya untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini.
" Baik Ina.. kalau begitu cukup penjelasanmu. Saya mulai mengerti ternyata Desi sama sekali belum tahu tentang omset yang turun akibat perbuatannya.
Nanti saya akan tanya langsung padanya. " kata Andi.
" Baik pak, ini alamatnya . Silahkan bapak suruh orang datang ke rumahnya. Saya sudah 1 kali datang ke rumahnya pak. Jadi tidak mungkin dia bohong soal alamat rumahnya. " kata Ina.
" Ya Ina terima kasih ya. " kata Andi
Ina pun mengangguk lalu pamit keluar dari ruangan Andi.
Lalu Andi menelepon Neno, satpam di perusahaan itu untuk datang ke ruangannya.
" Halo Neno.. kamu lagi bertugas sekarang ?" tanya Andi.
" Tidak pak.. baru gantian shif. Ini Simon yang baru jaga pak.
Saya rencana mau pulang pak, tapi bila bapak ada perlu saya siap kerjakan. " kata Neno
" Kamu datang ke ruanganku ya sekarang. Ada tugas untukmu. " sahut Andi.
" Baik pak, saya ke ruangan bapak sekarang. " jawab Neno.
Tak lama terdengar ketukan pintu.
Tok.. tok.. tok..
" Masuk Neno.. " sahut Andi.
" Permisi pak.. Ada tugas apa untuk saya pak ?" tanya Neno langsung.
" Duduk dulu Neno, sebentar saya lagi periksa berkas ini sebentar. " sahut Andi.
Neno pun duduk menanti Andi menyelesaikan tugasnya.
Lima menit kemudian Andi selesai dan menatap Neno.
" Neno.. aku punya tugas, kamu datangi rumah Desi.
Kamu harus bertemu dengannya dan katakan saya memanggilnya ke sini.
Jadi bila sore ini kamu sudah bertemu dia, besok jam 11 suruh datang ke ruanganku.
Bila sore ini belum ketemu rumahnya, cari besok pagi dan bila bertemu suruh dia datang ke kantor jam 5 sore.
Kamu mengerti maksud saya Neno ?" tanya Andi.
" Mengerti pak. " sahut Neno.
" Oke.. kalau begitu kamu boleh pergi cari sekarang ya. Ini alamatnya saya dapat dari Ina sahabatnya. " sahut Andi.
" Baik pak.. saya permisi pulang . " sahut Neno bergegas meninggalkan ruangan Andi.
Sementara itu di sudut kota lain..
Aria sedang memperhatikan anak bungsunya bermain di halaman rumah.
" Papa... main bola yuk," ajak Stefan pada Aria.
" Stefan tendang saja bolanya, nanti papa akan lari merebut bola itu," kata Aria seraya tersenyum.
__ADS_1
Maka mereka berdua pun bermain dengan penuh kegembiraan.
Mira yang sedang memasak di dapur mendengar beberapa kali teriakan dan gelak tawa Stefan.
Yunia, yang sekarang sudah menjadi mahasiswi sebuah universitas terkenal di Semarang beberapa kali menengok keluar melihat keceriaan mereka.
" Papa dan Stefan asyik sekali bermain ya ma, lihat Stefan sampai terdengar teriakannya.
Apa dulu aku juga kalau bermain seperti Stefan ma, sampai teriak- teriak kesenangan bersama papa ?" tanyanya .
Mira yang mendengar terdiam kaget.
Ia mengingat Yunia jarang sekali bermain dengan papanya Bagas.
Saat Yunia perlu papanya, Bagas sedang asyik bermain dengan selingkuhannya dan sibuk kerja.
Sehingga baik Yunia maupun Bagas mereka melewatkan moment kebersamaan saat kecil yang tak mudah dilupakan oleh seorang anak maupun oleh orangtua.
" Nia.. kamu itu dulu pendiam dan cuek. Jadi papa jarang main denganmu.
Karena bila kamu mau bermain harus tunggu papa mu tidak sibuk kerja dulu, karena papa dulu sangat sibuk. " kata Mira pelan.
" Tapi ma, seingatku aku hanya bermain dengan papa itu sejak SD.
Aku sering di ajak nonton, makan dan main dengan papa itu ketika aku kelas 1 SD sampai sekarang.
Yang aku mau tanya apa sebelum aku SD itu seperti Stefan kah tingkahku yang teriak- teriak dan tertawa bila bermain dengan papa?" tanya Yunia penasaran.
Mira menghela napas.
Ia bingung akan bercerita pada Yunia atau tidak.
Karena memang masa kecil Yunia tidak secerah, semulus dan seindah Stefan.
" Apa kamu tidak ingat bermain dengan papa sewaktu kecil ?" tanya Mira.
" Yang ku ingat papa selalu ajak main aku ketika SD. " kata Yunia kembali.
" Papa Aria maksudmu ?" tanya Mira.
" Iya papa Aria. Memang ada lagi papa selain papa Aria ma?" tanya Yunia heran.
Mira terdiam.. ia ingin memberitahukan Yunia tetapi ia masih menimbang- nimbang apa Yunia sudah pantas mengetahui semuanya apa belum.
" Yunia..mama akan ceritakan pada kamu yang sejujurnya.
Papa kamu itu bukan papa Aria. " kata Mira.
" Maksud mama apa ?" tanya balik Yunia heran.
" Maksud mama memberitahukan padamu bahwa ayah kandungmu itu bukan papa Aria, tetapi papa Bagas. " sahut Mira pelan.
" Apa ?? papa Bagas? bukan papa Aria ?? mama nggak lagi bercandakan ? " tanya Yunia serius.
" Benar nak.. mama tidak bohong. Papamu Aria itu adalah suami ke 2 mama.
Waktu itu mama bercerai dari papa waktu umurmu baru beberapa tahun.
Kamu masih sangat kecil waktu itu jadi belum mengerti. " kata Mira mengelus rambut putrinya.
" Terus kenapa mama bercerai dengan papa?" tanya Yunia.
" Ada masalah yang sangat melukai hati mama waktu itu, sehingga mama tidak dapat memaafkan papamu dan mama minta cerai. " kata Mira.
" Masalah apa ma? Papa selingkuh? papa bohongi mama ?" tanya Yunia lagi.
__ADS_1
Mira terdiam.
" Kalau benar papa seperti itu, Nia pun tak akan mau bersama papa.
Jelas mama sakit hati, papa sudah berbuat yang jahat pada mama.
Apa yang kurang dari mama sehingga papa selingkuh?" tanya Yunia kesal.
" Aku tak mau kenal lagi dengan papa. Aku tidak mau dan malu punya papa tukang selingkuh. " kata Yunia ketus.
" Nia.. kamu jangan begitu nak, jangan nodai hidupmu dengan membenci papamu. " kata Mira.
" Ma .. jadi selama aku kecil sampai dewasa ini papa tidak pernah menemui mama lagi ? " tanyanya.
" Pernah papamu datang sewaktu kamu masih SD beberapa kali. Tetapi kamu ketakutan dan selalu menjerit bila papamu datang. " kata Mira.
" Mengapa aku selalu menjerit ketakutan ma setiap papa datang ?" tanya Yunia heran.
" Karena setiap papa datang selalu papa bilang dia papamu, dan kamu sambil menangis ketakutan selalu bilang papa Bagas bukan papamu, tetapi papa Aria.
Mama kasihan padamu yang selalu menangis ketakutan, jadi mama melarang papa untuk datang menjengukmu. " kata Mira lagi.
" Dan papa tidak pernah datang lagi setelah itu ma?" tanya Yunia penasaran.
Mama mengangguk dan menatap Yunia.
Yunia merasakan ada yang terasa nyeri di dadanya.
Sakit rasanya tidak mengenal papanya lagi setelah itu, walaupun ia tak ingat wajah papanya tetapi ia merasa seperti seorang anak yang telah ditinggalkan papa selamanya.
Ada air mata yang menetes di pipinya.
Dengan cepat ia hapus karena tak ingin bersedih terus.
" Nia... bila suatu hari papamu datang kembali padamu, apa yang akan kamu lakukan nak?" tanya Mira.
" Aku tak akan terima papa kembali di sisiku ma," sahut Yunia.
" Kenapa ?" tanya Mira lagi.
" Apa papa tahu kalau dulu waktu kecil itu aku rindu papa? Apa papa tahu ketika aku menangis mencarinya ma?" tanya Yunia.
" Papa tidak tahu nak waktu kamu rindu papa, nangis ingin bertemu papa karena papa sibuk kerja. " kata Mira menunduk.
" Jujurlah padaku ma, kenapa papa tidak rindu padaku ?
Aku sudah tahu jawabannya.
Pasti tidak mencariku dan tidak rindu padaku karena papa sedang asyik dengan selingkuhannya, sehingga ia lupa pada mama dan aku. " kata Yunia dengan geram.
" Yunia.. dia itu masih papamu nak selain papa Aria. " tegas Mira.
" Dia bukan papaku lagi dan aku akan menolaknya bila ia datang kembali sama seperti dulu ketika dia datang saat aku kecil.
Aku tidak mau lagi ada hubungan dengan dia.
Aku cuma punya papa Aria, mama, Kak Antony dan adik Stefan.
Itu saja keluargaku.
Selain nama yang ku sebut ini, dia bukan keluargaku. " sahut Yunia dengan air mata berlinang.
Mira memeluk Yunia yang menangis tersedu- sedu.
Ia sedih Yunia harus tahu segalanya dan kata- kata yang Yunia ucapkan barusan sangat menusuk hati Mira yang mendengarnya.
__ADS_1
Ia tahu Yunia tidak dapat menerima kenyataan ini.
***