
Retha tersenyum tipis menanggapi kalimat Bian. Bian membersihkan pecahan gelas yang dijatuhkan oleh Retha. Dengan berhati-hati dipungutnya kaca itu hingga tidak ada yang tertinggal.
"Gue buatin bubur dulu ya Tha." ujar Bian sambil membawa pecahan gelas yang sudah dimasukkan ke dalam baskom bekas air kompresan Retha.
Retha menatap punggung Bian yang semakin jauh. Retha kembali mencoba meraih ponselnya. Sedikit memaksakan diri hingga denyutan keras muncul di kepalanya. Seketika dia menjadi mual dan mengeluarkan seluruh isi perutnya ke lantai. Hueek.. Cairan itu mengotori kembali lantai yang sudah Bian bersihkan. Retha ambruk di tepi ranjang dengan kepala masih tertunduk ke bawah.
"Tha, kamu nggak apa-apa kan? Aduh, muntah ya!" teriak suara yang amat dikenal Retha.
Retha menoleh ke arah pintu. Tampak wajah panik Rahma yang menatapnya.
Rahma bergegas keluar kamar untuk mengambil kain pel. Setibanya di dapur dia dikagetkan dengan pria yang sudah tak asing lagi baginya.
"Bian! Kamu Bian kan?" ujar Rahma menunjuk ke arah Bian yang tengah memasak bubur
"Iya, ini Gue." balas Bian dingin
"Kamu kok disini? Bukannya kamu jadi TKI. Kok udah balik?" heran Rahma
Bian tak menyahut, dituangkannya bubur itu ke sebuah mangkuk.
"Apa tujuanmu sih An? Kamu pergi gitu aja ninggalin Retha. Terus sekarang kamu datang pas Retha udah mau menikah?" tanya Rahma sedikit tak senang
"Baru mau kan? Belum sah menikah!" ujarnya dingin seraya mengambil nampan kayu
"Apa niatmu sebenarnya An? Mau hancurin rencana pernikahannya Retha?" tanya Rahma yang mulai emosi
Bian meletakkan nampannya. Ditatapnya wajah Rahma yang menatap marah ke arahnya. Bian mendekati Rahma sampai Rahma harus mundur beberapa langkah.
"Gue balik buat Retha. Gue pengen nyembuhin luka yang udah Gue buat. Gue pengen bahagiain Retha dan jadiin Retha milik Gue seutuhnya." terang Bian
Rahma tercengang. Laki-laki di hadapannya pernah menolak Retha secara terang-terangan, bagaimana bisa berubah perasaan dalam waktu kurang dari setahun.
Bian mengangkat nampan berisi bubur dan segelas susu hangat untuk Retha. Bian berjalan menuju kamar Retha.
"Lakukan apa yang mau Lu lakuin tadi. Biar Gue yang nyuapin Retha." ucap Bian pada Rahma yang sedang memegang kain pel di tangannya.
Rahma mengekor di belakang Bian dengan penuh tanda tanya di kepalanya. Bian masuk kembali ke kamar Retha, menyadari bahwa Retha mengeluarkan semua isi perutnya di lantai, bergegas dia meletakkan nampan itu di nakas. Bian berlari mengambil tisu dan membersihkan muntahan Retha dengan kedua tangannya tanpa rasa jijik. Dengan telaten Bian mengelap seluruh permukaan lantai dengan tisu itu.
"Biar aku yang ngepel An." ujar Rahma
"Iya." balas Bian singkat sambil membuang gumpalan tisu itu ke tempat sampah.
__ADS_1
Bian masuk ke dalam kamar mandi Retha dan mencuci tangannya dengan sabun. Bian pun kembali untuk menyuapi Retha. Didekatkannya semangkuk bubur itu ke arah Retha. Bian meniupnya perlahan dan menyuapkan bubur itu ke Retha. Retha yang memang sudah kelaparan segera mengunyah bubur itu tanpa banyak bicara.
Diam-diam Rahma mengamati mereka berdua, timbul perasaan khawatir pada hatinya. Ya, Rahma takut hubungan Retha dan Andrian berakhir dengan tidak baik-baik saja karena kedatangan Bian.
"Ma, tolong tutup pintunya ya. Dingin." pinta Retha
"Iya Tha. Aku balikin dulu nih pel nya." ujar Rahma berjalan meninggalkan kamar dengan pintu yang tertutup di belakangnya.
Retha menerima suapan kedua dari Bian. Belum ada penolakan dari perutnya meski lidahnya terasa pahit.
"Enak nggak Tha?" tanya Bian
Retha mengangguk dengan seulas senyuman.
"Syukurlah kalau Lu suka. Berarti harus dihabisin. Nanti kalau habis, Gue kasih sesuatu" ujar Bian sambil menyuapkan sesendok bubur lagi.
"Apa An?" tanya Retha penasaran
"Ini." Bian mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat dahi Retha.
Retha pun tersipu.
"Merah kan mukanya. Berarti udah mau sembuh dong! Nggak sia-sia Gue disini." ujar Bian
Tanpa mereka sadari sepasang mata mengintip dari balik pintu. Dengan sebungkus obat dan bubur ayam kesukaan Retha. Andrian berdiri di depan pintu kamar. Kedua tangannya mengepal. Ingin rasanya menerjang Bian yang sudah berani menyentuh kekasihnya. Namun hati kecilnya menahan begitu kuat karena tidak mau memperburuk kondisi Retha.
"Mas Andrian." panggil Rahma
Andrian mengisyaratkan jari telunjuk ke mulutnya, meminta Rahma untuk tetap diam. Andrian melihat Retha yang dengan lahap disuapi Bian. Canda dan tawa keduanya terdengar. Retha tampak bahagia saat Bian ada di sisinya.
Andrian tersenyum kecut. Dia meminta izin Pak Ferdinant setelah bongkar muatan truk pengiriman selesai. Hanya untuk melihat keadaan Retha dan membawakan sarapan juga obat untuknya. Namun bukan sambutan hangat dari kekasihnya, melainkan hal lain yang dia dapatkan.
Andrian menyodorkan kresek hitam itu pada Rahma.
"Tolong kasihkan ke Retha ya." ujar Andrian setengah berbisik
"Nggak mau masuk aja Mas?" tanya Rahma
Andrian menggeleng. "Nggak mau ganggu Ma."
"Mas, tapi Retha itu calon istrimu. Mas yakin biarin Retha berdua sama laki-laki lain di dalam kamar?" tanya Rahma
__ADS_1
Andrian hanya tersenyum. "Retha lagi sakit Ma. Tolong jagain dia ya. Aku masih ada pekerjaan di kantor." alih Andrian agar Rahma tidak bertanya lebih jauh. Andrian pun memutuskan untuk meninggalkan rumah Retha.
Seperginya Andrian, Rahma pun masuk sambil membawa obat dan segelas air putih untuk Retha.
"Minum obat dulu ya Tha." ujar Rahma sambil membuka bungkusan obat flu dan antibiotik.
Retha mendekat ke arah Rahma. Ditelannya pil berwarna pink dan tablet kecil kuning yang disiapkan Rahma. Retha meneguk air di gelas itu hingga habis.
"Kamu yang beli obatnya Ma?" tanya Retha
"Ayangmu yang kesini tadi. Ngantar obat sama buryam." ujar Rahma sedikit keras sambil menatap ke arah Bian
Bian yang tampak malas menanggapi Rahma, memutuskan untuk membawa nampan berisi mangkuk dan gelas kosong itu pergi. Rahma menatap sinis ke arah Bian. "Aku harus ngomong sama Bian. Dia nggak boleh jadi penghalang buat kebahagiaan Retha sama Andrian." gumam Rahma
"Kamu istirahat ya Tha. Biar aku yang beresin ini dulu." ujar Rahma pada Retha yang mulai berbaring
Retha menarik pelan tangan Rahma.
"Kemana Mas Andrian?" tanya Retha
"Dia balik kerja, setelah lihat kamu dicium Bian. Kamu nyadar nggak sih Tha? Sikap kamu udah nyakitin dia!" ujar Rahma tak bisa menahan diri lagi
Retha hanya terdiam. Sungguh bukan itu yang Retha inginkan. "Sabar Ma. Tunggulah sebentar lagi. Kamu akan tahu yang sebenarnya." batin Retha
"Aku nggak habis pikir sama kamu Tha." ujar Rahma seraya bangkit dari duduknya
Retha menatap datar ke arah pintu yang tertutup. Retha memegang pelipisnya yang semakin pusing. Andai dia bisa memberi tahu pada semua orang apa yang sedang dia pikirkan, mungkin tidak akan ada kesalah pahaman yang tercipta.
Rahma menghampiri Bian yang sedang mencuci piring.
"Keterlaluan kamu Bian! Tadi tunangan Retha datang, kamu malah nyium Retha di depan dia!" ujar Rahma
Bian menyeringai dan manjawab santai bentakan Rahma. "Kalau dia ada disitu dan lihat semuanya, kenapa dia diam aja?"
"Ya dia nggak mau buat Retha makin overthinking! Secara Retha lagi sakit kan?" ujar Rahma
"Semakin sering dia tahu, semakin baik. Semakin dia cemburu, semakin besar peluang buat Gue dapetin Retha." ujar Bian sambil tertawa
"Nggak tahu diri kamu An! Retha mau nikah loh! Kamu datang sebagai perusak hubungannya, nggak akan aku biarin!" ujar Rahma makin kesal dibuatnya
"Terus Lu mau apa?" tanya Bian
__ADS_1
Rahma gelagapan. Tatapan tajam dari laki-laki di depannya seolah akan membunuhnya. Bian mendekati Rahma dan berbisik, "Urus saja hidup Lu sendiri, hidup Gue, biar Gue yang ngurus."