Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 128. Kebencian Bagas


__ADS_3

Bagas melempar ponselnya ke tempat tidur.


Ia baru datang dan berniat mandi ketika ponselnya tadi berdering.


Ia dengan cepat mengangkatnya karena ia menyangka rekan bisnisnya yang sudah janjian dengannya akan minum kopi bersama menelepon, ternyata itu telepon dari orang yang sangat dia benci.


Hatinya mendadak sangat marah, napasnya naik turun dan wajahnya menunjukkan kegeraman.


Ya Bagas tak dapat membohongi dirinya, ia sangat marah dan benci pada Intan.


Selepas Intan meninggalkannya hati Bagas sangat gelisah, ia merasa kehilangan Intan.


Ia ingin cepat- cepat menyusul Intan. Ia merindukan Intan.


Tetapi...ketika semua itu tak seindah kenyataan maka yang terjadi akan berbalik menjadi kebencian.


Bagas sangat terpukul dan kaget mendapati dirinya dibohongi dan ditipunya, anak yang dikandung , yang di jaga Bagas, diberi asupan gizi baik, ternyata .. bukan anak kandungnya.


Belum lagi ia membayangkan betapa jahatnya ia pada Mira dan Yunia anaknya, Betapa teganya ia menghianati Mi


ra sampai akhirnya Mira melepaskan dirinya, bercerai dari Bagas dengan membawa luka hatinya.


Bagas pun kecewa dan sedih karena Yunia anaknya tidak mengenalinya lagi setelah ia bercerai dan memutuskan untuk lebih fokus pada Intan.


Semua ia korbankan untuk Intan, wanita yang dulu sangat ia cintai, yang akhirnya membuat ia sangat marah, benci dan kecewa.


Karena kenyataan tak seindah angan dan harapan.


Bagas mengepalkan tangannya mengingat tadi betapa Intan memohon maafnya.


Batinnya berkata," Mungkin bila ia tidak sakit, tak akan pernah mencariku meminta maaf,"


Kemarahan Bagas makin menjadi, ia meninju pintu kamar dan membanting apa yang ada, dia meluapkan emosinya karena sakit hatinya.


" Aaarrghhh " geramnya kesal.


Diacaknya rambutnya dengan kesal.


Ia menyesal telah bertemu Intan, ia menyesal telah melepas Mira.


Apalagi ia sudah mendengar Mira telah menikah lagi dan hidup berbahagia membuat ia semakin terpuruk dalam kebencian.


Bagas menghela napas, ia teringat ketika itu ia sedang mempersiapkan diri hendak mengunjungi Yunia dengan membawa hadiah boneka kesukaan anaknya


Bagas telah beberapa kali mengunjungi Yunia ke Semarang sejak ia bercerai dengan Mira.

__ADS_1


Saat itu hatinya gembira, walau ada rasa sedih dihati Yunia lupa akan dirinya.


Ketika tiba di sana, ternyata sudah ada seorang pria yang sedang mendekati Mira.


Mira terlihat biasa saja, tidak ada reaksi membalas perhatian pria itu.


Bagas merasa ada goresan di hatinya karena mendengar pria itu yang tak lain Aria berniat melamar Mira dan segera menikahinya.


Dia tak dapat berbuat apa- apa karena status perkawinan mereka memang sudah berpisah.


Bagas pun pulang dengan membawa kesedihan dan penyesalan yang luar biasa, Ia merasa hidupnya sia- sia dan terpuruk.


Apalagi 1 bulan setelah itu Shinta meneleponnya dan mengabarkan Mira menikah.


Hancur hatinya, ia menangis di sudut kamarnya, ia menyesali semuanya.


Rianti yang mendengar anaknya terpuruk, tidak tega, ia mendampingi Bagas dalam menghadapi masa sulit itu.


Sebagai seorang ibu melindungi anak itu akan muncul dengan sendirinya walau anaknya sudah dewasa dan mandiri. Dan itu yang terjadi pada Bagas.


Rianti ikut menangis melihat Bagas, ia tak menyangka anak semata wayangnya di sia- siakan hidupnya oleh Intan.


Sampai saat ini Rianti kadang menjenguk Bagas, mendampinginya walau ia tak sepenuh waktu karena masih ada suaminya yang harus ia urus juga.


*


1 kali, 2 kali tidak diangkat sampai hitungan 3 kali baru Bagas mengangkat.


" Halo Gas.. kamu tertidur ya, kok lama tidak angkat telepon mama? " tanya lembut.


" Bagas tidak tidur ma, Bagas lagi kesal." katanya lagi.


" Ada apa lagi Gas, kenapa kamu kesal? Apa rekan bisnismu menolak kerja sama ? " tanyanya heran.


" Bukan ma, itu tidak ada hubungannya dengan suasana hatiku saat ini, " kata Bagas.


" Apa kamu bisa mengatasi sendiri hal ini, atau butuh mama dampingi?" tanya Rianti.


" Bagas malu ma pada mama, Bagas sudah dewasa seperti ini, tetapi kadang butuh sesorang mama untuk menemani Bagas menyelesaikannya, Bagas seperti seorang pecundang yang kalah ma," sahut Bagas lirih.


" Memangnya ada apa Gas, kok kamu seperti ini ? " tanya Rianti heran.


" Tadi Intan telepon aku ma, dia ingin minta maaf karena sudah menipu dan membohongi Bagas ma," katanya.


" Intan?... Intan si pelakor itu? Yang sudah membuat hidupmu hancur?" tanya Rianti dengan nada yang tinggi.

__ADS_1


" Ya ma, dia telepon Bagas," katanya.


" Mau apa dia telepon kamu ?" tanya Rianti ketus.


" Dia mau minta maaf pada Bagas ma, karena sekarang ia sakit dan sudah divonis dokter hidupnya tak lama lagi, mungkin dalam hitungan bulan, katanya ma tapi kita kan tidak tahu dia benar- benar sakit atau pura- pura, hidupnya Intan kan banyak kebohongan," katanya lagi


" Sakit ? Baguslah itu karma karena membohongimu Gas," kata Rianti marah.


" Ma, jangan bicara seperti itu, kalau bicara karma, anakmu ini juga dapat dikatakan kena karma, karena aku pun menyakiti dan meninggalkan Mira serta membohonginya," jelas Bagas


Rianti terdiam, ia membenarkan Bagas pun telah menerima buahnya , dirinya semakin terpuruk dalam urusan wanita dan ditinggalkan terus sejak dari dulu jauh sebelum ia bersama Mira dan setelah bersama Mira.


" Gas, terus tindakanmu bagaimana Gas, kamu memaafkannya atau tidak ?" tanya Rianti.


" Tidak segampang itu ma, aku mau memaafkan Intan. Aku masih sangat terluka oleh perbuatannya.


Aku tidak memaafkannya ma," sahut Bagas.


" Gas... kalau memang benar Intan itu sakit dan hidupnya memang sudah tak lama lagi, apa kamu tidak memikirkannya untuk memaafkan Gas?" tanya Rianti lagi.


Rianti memikirkan seandainya benar Intan seperti itu, apalagi sampai memohon maaf berkali- kali, berarti benar keadaannya Intan.


" Tidak ma, tidak semudah itu. Bagas telah berapa kali ma disakiti dan ditinggalkan oleh wanita.


Sebut saja Sherly, Shinta, Mira dan Intan, itu semua meninggalkan Bagas. Biar aku pria ma, aku juga punya perasaan dan hati, aku harus melindungi diriku agar aku tak disakiti oleh wanita lain manapun lagi.


Aku bangkit dari keterpurukan saat ditinggal oleh mereka, aku sudah berhasil sekarang melupakan mereka semua, terus semudah itu memaafkannya? Tidak ma, aku tidak akan melupakan semuanya dan memaafkannya. Sudah cukup ma," katanya.


Rianti terdiam. Ia tak dapat berkata apapun pada Bagas.


Bagas yang mengalaminya, ia yang tahu sekuat apa dirinya dalam menghadapinya.


Rianti hanya dapat berdoa agar Bagas dikuatkan dalam menghadapi semua ini, memang berat tetapi ia harus melewatinya agar ada kemenangan dalam hidupnya setelah lulus dalam ujian hidup ini.


" Gas.. mama tidak bisa berkata apapun, selama ini kamu yang tahu dan mengalaminya, mama hanya minta kamu memutuskan segala hal dalam keadaan tenang, tidak emosi. Berserah pada Tuhan, minta yang terbaik untuk hidupmu. Percayalah Tuhan pasti memampukan kamu melewati ini semua. Jangan pendam sakit hati, itu tidak baik untuk hidupmu, banyak berdoa dan pasrah, pasti ada jalan terbaik untuk hidupmu " kata Rianti.


" Ya ma, aku akan ikuti nasehat mama, tetapi untuk sekarang aku belum mampu untuk menyingkirkan itu semua dari hatiku. " kata Bagas.


" Baiklah Gas, mama juga akan berdoa untukmu nak, " kata Rianti.


" Ya ma, terim kasih untuk pengertiannya pada Bagas," kata Bagas seraya menutup teleponnya.


Ia menghela napas, lalu berjalan ke kamar mandi, ingin mandi sekalian mendinginkan hatinya yang masih marah.


***

__ADS_1


__ADS_2