Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Pindah Tugas


__ADS_3

Belum terlalu sore, namun Andrian sudah kembali ke rumahnya. Mobilnya terparkir rapi di halaman yang penuh dengan bermacam bunga yang ditanam di pot-pot kecil. Ya, hobi baru istrinya telah mewarnai rumahnya.


Andrian pun membuka pintu di depannya.


"Aku pulang. Ma? Tha?" panggil Andrian


Hening. Andrian berjalan masuk menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar dan kosong. Istrinya tidak ada disana. Andrian pun kembali mencari ibunya di kamar namun tidak ada siapapun. Cicitan dua wanita berharganya pun tidak terdengar.


"Apa masih di butik ya? Tapi kok pintunya nggak dikunci sih." gumam Andrian


Andrian melanjutkan langkahnya menuju dapur. Meneguk segelas air dingin untuk membasahi tenggorokannya. Samar terdengar suara wanita yang tengah berbincang. Dengan penasaran, Andrian berjalan ke arah pintu belakang yang terbuka setengahnya.


Tampaklah Retha dan Bu Nunik yang tengah menyulam sesuatu.


"Disitu kalian rupanya." tukas Andrian sambil berjalan menghampiri.


Sebuah kecupan hangat dilayangkan ke dahi Retha. Tak lupa menyambar tangan Bu Nunik dan menciumnya.


"Kok udah pulang Le? Tumben." ujar Bu Nunik


"Sebenarnya ada hal penting yang mau aku omongin ke kalian." ujar Andrian


"Apa Mas? Kok kayaknya serius banget." ujar Retha penasaran


"Jadi gini.." kalimatnya terhenti


"Duduk dulu Le. Sini." ujar Bu Nunik sambil menggeser posisi duduknya


"Mas mau aku buatin teh dulu?" tawar Retha


"Nanti aja sayang." ujar Andrian ikut duduk di sebelahnya


"Jadi gini Ma. Aku nggak tahu sih ini kabar baik atau buruk buat kalian. Cuma yang jelas, aku mau ngasih tahu, aku naik jabatan Ma. Jadi head admin." ujar Andrian


"Syukurlah Le." ujar Bu Nunik mengusap kepala Andrian dengan bangga


"Tapi Ma, mulai Januari besok, Andrian dipindahtugaskan ke Bali. " ujar Andrian


"Loh, kok di Bali to Le?" ucap Bu Nunik sedikit kecewa


"Ya, karena Cabang Bali berkembang pesat dan banyak admin yang kerepotan mengatur pekerjaan mereka. Akhirnya Andrianlah yang harus bertanggung jawab di sana." balas Andrian


"Memangnya nggak bisa ya Mas kalau kerjanya disini aja?" tanya Retha


"Ya bisa sih Tha. Cuma sayang kalau kesempatan sebagus ini nggak diambil." terang Andrian


"Memang selisih banyak banget gitu gajinya?" tanya Retha dengan polosnya

__ADS_1


Andrian pun tertawa.


"Ya jelas to Nduk. Kerjaannya juga beda. Head admin itu kan di atasnya kepala gudang sama para admin. Jadi gajinya jauh lebih besar." jelas Bu Nunik


Retha hanya ber Oh ria mendengar penjelasan dari mertuanya.


"Terus rencana kamu, kapan berangkat kesana Le?" ujar Bu Nunik


"Kemungkinan lusa Ma. Soalnya ini udah tanggal 27. Jadi kurang beberapa hari lagi." ujar Andrian


"Terus nasibku gimana? Masak iya sih baru nikah ditinggal jauh?" keluh Retha dengan wajah sedih


"Kamu ikutlah! Masak iya kamu disini aku disana!" ujar Andrian


"Beneran Mas?" tanya Retha memastikan


Andrian pun hanya mengangguk.


"Terus Mama gimana?" tanya Retha mengkhawatirkan mertuanya


"Gampang Nduk. Mama tinggal ajak tantemu tinggal bareng di sini. Biar ada temannya." ujar Bu Nunik


"Wah pas banget kalau gitu Ma. Sekalian kan Andrian mau ngajak Retha honeymoon." goda Andrian sambil mengedipkan sebelah matanya


"Ih Mas Andrian.."


Lusanya, Andrian dan Retha sudah siap dengan koper besar di tangannya. Bu Nunik dan tante Lita mengantarkan mereka ke halaman depan.


"Nak Andrian nitip Retha ya. Jaga baik-baik." pesan tante Lita


"Pasti tante."


"Le, pesan mama cuma satu. Jangan menunda lagi, biar cepat dapet momongan!" ujar Bu Nunik memperagakan cara menggendong bayi


"Kalau itu tergantung Retha Ma. Kalau diajaknya susah ya..." goda Andrian


Retha mencubit kecil pinggang Andrian


"Tuh kan, keponakan tante tuh jahat. Sering loh saya dicubitin gini." ujar Andrian mencari pembelaan.


"Salah sendiri nyebelin!"


Dug.. dug.. Dug.. Sebuah motor hitam berhenti di depan pagar. Tampaklah sepasang kekasih turun dan berlarian ke dalam.


"Retha.." teriakan bar-bar Rahma terdengar


Dipeluknya sahabat masa kecilnya itu penuh kerinduan.

__ADS_1


"Gimana nih udah.?" tanya Rahma sambil membentuk bulatan dengan tangan di perutnya


"Belum Ma, doain ya!" ujar Retha


"Mas Andrian kurang canggih nih! Masak iya kalah sama saya?" seloroh Danu


Kedua gadis itu melotot ke arahnya.


"Kamu.. Hamil?" tanya Retha


"Hush! Ngawur.. Dibikin aja belum." bantah Rahma


"Trus kenapa Danu bilang gitu?" tanya Retha menganggap serius candaan Danu.


"Ck.. Mulut sompral aja dipercaya!" seloroh Rahma


"Mas, jagain Retha ya! Ini sahabat terbaikku loh. Kok aku ditinggalin sih!" ujar Rahma sedih


"Kalau kangen nyusul ya Ma!" ujar Retha


"Mana bisa? Nyeberang pulau. Jauh." balas Rahma


"Bisa kok Ma, holiday bareng berdua kesana." ujar Danu


"Naik motor nih? Kapan sampainya!" protes Rahma


"Kan yang penting aku dan kamu bahagia!" gombal Danu


Riuh tawa menggema diantara mereka. Dua sahabat kocak Retha memang ahli mencairkan suasana. Setelah berpamitan dan memasukkan kopernya ke bagasi, Andrian dan Retha memulai perjalanannya. Mereka memilih berangkat dengan mobil Andrian. Selain untuk transportasi selama di Bali juga agar bisa mampir kapanpun mereka mau beristirahat.


10 jam telah mereka lewati dari sore pukul 4 hingga jam 2 dini hari mereka berhasil menyeberangi Selat Bali. Mereka tiba dengan selamat di pelabuhan Gilimanuk. Andrian memutuskan untuk menginap dulu di sebuah hotel yang sudah direservasi sebelumnya.


Andrian memarkirkan mobilnya. Dilihatnya Retha tengah pulas tertidur. Andrian mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke lobi hotel.


"Mas tolong bukakan kamar saya ya. No. 153." terang Andrian menyodorkan kunci kamar dengan tangan kirinya


"Baik Mas."


"Terima kasih Mas."


Andrian pun masuk dan membaringkan istrinya. Wajah polos Retha tampak menggemaskan saat dia tidur. Dengan bibir sedikit melongo. Ekspresi wajahnya benar-benar lucu.


Andrian mengecup singkat dahi Retha.


"Sekarang kehidupan pernikahan yang sebenarnya akan dimulai Tha. Kita jauh dari orang tua dan keluarga. Semoga dengan ini bisa mempererat hubungan kita." ujar Andrian


Andrian pun memeluk Retha dari samping dan mencoba tertidur.

__ADS_1


__ADS_2