
Intan pun akhirnya memutuskan pergi mencari Anton, ia ingin memberitahukan bahwa Dion itu anaknya Anton.
Intan berencana besok akan pergi ke Bali, ia akan menginap selama mencari Anton di rumah lamanya dulu sementara.
Pagi itu ia menunggu tante Aya keluar dari kamarnya. Ia sudah siap dengan koper dan tas tangannya. Semalam ia membereskan semua pakaian Dion dan punyanya untuk dimasukkan dalam koper.
Tepat jam 8 pagi tante Aya keluar dari kamar, Intan bergegas berdiri dan menghampiri tantenya.
" Selamat pagi tante," sapanya.
Tante Aya heran melihat Intan yang sudah rapi dan terlihat ada koper di dekat meja.
" Intan ada apa? Mau kemana kamu sepagi ini ?" tanyanya heran.
" Saya mau pergi tante. Mau mencari bapaknya Dion. Kemarin kan tante bilang untuk mencarinya, jadi pagi ini saya pamit mau pergi tante. Maafkan bila saya sudah merepotkan tante di rumah ini selama 2 minggu ini," kata Intan sambil mengapai tangan tante Aya untuk mencium tangan sebagai tanda pamit.
" Loh Intan maksud tante untuk kamu pergi tuh bukan langsung hari ini, walau tante tetap ingin kamu pergi cari bapaknya Dion," kata Aya agak merasa tak enak.
" Tidak apa tante, makin cepat saya pergi kan tante juga aman dari gunjingan warga, jadi biarkan saya pergi," kata Intan.
" Kamu mencari bapaknya di mana Intan?" tanya Aya.
" Entahlah.. tapi saya akan kembali dulu ke Bali, rumah dan barang- barang saya masih banyak di sana," kata Intan lagi.
" Apa kamu sanggup bawa Dion ke Bali saat masih baru 3 minggu umurnya?" tanya Aya kuatir.
" Tidak usah kuatir tante, Dion kuat kok, saya akan tetap menjaga Dion dengan baik," kata Intan mantap.
" Baiklah Intan, ini ada sekedar uang untuk ongkos kamu, jaga dirimu baik- baik Intan, bertobatlah dan hiduplah benar, jangan pernah putus asa, perjuangkan untuk masa depan anakmu. Tante doakan ayahnya Dion mau terima Dion dan merawatnya bersamamu," kata Aya seraya mencium dan mengelus rambut Dion yang tertidur di pelukan Intan.
" Ya tante, terima kasih untuk segala kebaikan tante selama ini," kata Intan seraya melangkah pergi keluar rumah.
Intan lalu berangkat dengan taxi menuju terminal bus dengan rute menuju ke Bali. Walau beberapa kali singgah di berbagai kota, Intan tak peduli, ia ingin cepat sampai ke Bali.
Setelah beberapa hari diperjalanan akhirnya Intan sampai di Bali. Ia menuju rumah lamanya, rumah yang selama ini ia tempati selama bekerja dengan Anton.
__ADS_1
Rumah di mana pernah Bagas pun menginap selama beberapa hari.
Ia memutuskan untuk beristirahat dulu selama 2 hari, baru kemudian ia akan mencari Anton.
Setelah beristirahat 2 hari ia menelepon Ida temannya dulu di kantor untuk mencari keberadaan Anton.
" Halo Ida.. ini aku Intan," sapanya di telepon.
" Hai Intan, kemana saja kamu itu, sejak ke Jakarta kami tidak pernah tahu keberadaanmu lagi, kamu sekarang di mana?" tanya Ida senang.
" Aku sekarang di Bali, di rumah ku, kamu main kerumahku, ada yang mau aku ceritakan," kata Intan.
" Wah.. pasti aku nanti main ke rumahmu, aku kangen banget nih dengar ceritamu, sekarang kamu sudah jadi istri direktur ya di Jakarta, aku jadi iri padamu, nasib baik selalu berpihak padamu, dulu sama pak Anton sekarang sama direktur kaya," kata Ida terus berkata.
" Ida.. pak Anton ada di mana? apa ada di kantor?" tanya Intan mengalihkan pembicaraan.
" Pak Anton dan ibu sedang berlibur ke Thailand. Mereka baru saja 2 hari yang lalu perginya, katanya sih selama 1 minggu," katanya.
" Kenapa tanya pak Anton? Mau kerja lagi kah? Masa istri direktur mau kerja lagi ? " tanyanya seraya tertawa.
" Asyikk berarti kita satu kantor lagi ya," katanya .
Setelah berbincang- bincang cukup lama Intan pun mengakhiri telepon. Ia mendengar Dion menangis.
1 minggu Intan menunggu pak Anton pulang sampai pada 2 hari setelah pak Anton pulang ke Bali, Intan menelepon Ida kembali memastikan ada pak Anton di kantor.
Dan Ida pun menjawab bahwa pak Anton sudah masuk kerja dari kemarin.
Intan pun berencana pergi ke kantor pak Anton, tetapi ia bingung harus menitipkan Dion pada siapa. Tak mungkin Dion di bawa ke kantor menemui pak Anton.
Ketika ia sedang bingung ingin menitipkan Dion pada siapa, ia teringat pada tetangga yang biasa ia panggil ibu Darsih, ibu ini selalu membantu Intan untuk membersihkan rumahnya dulu seminggu 3x, sangat baik dan pasti mau bila dititipi Dion selama beberapa jam saja.
Intan pun bergegas menuju rumahnya, kebetulan ibu Darsih sedang menyapu halaman.
Disapanya dengan sopan dan bu Darsih pun kaget melihat Intan.
__ADS_1
" Mbak Intan .. apa kabar? Kemana saja mbak? Kok ke Jakarta tanpa ngomong- ngomong dulu, tiba- tiba sekarang muncul di depan saya, kaget ibu, apalagi sudah bawa momongan. Mana suaminya mbak kok sendiri?" tanya bu Darsih .
" Bu.. saya baru datang 2 hari yang lalu, waktu itu saya ke Jakarta hanya sebentar tapi karena mau menikah jadi akhirnya tinggal di Jakarta. Saya lagi ada urusan dengan kantor yang dulu mbak, jadi maksud saya kemari mau bertanya apa boleh saya titip anak saya sebentar selama beberapa jam sampai urusan saya selesai bu? " tanyanya berharap.
" Boleh mbak.. saya senang dapat membantu mbak Intan, " kata bu Darsih tertawa.
Intan pun memberikan Dion pada bu Darsih dan tak lama terlihat bu Darsih menidurkan Dion yang tadi sempat menangis ingin menyusu.
Intan pun cepat- cepat pergi ke kantor Anton. Ia sudah tak sabar untuk bertemu Anton.
Sampai di kantor, beberapa temannya masih menyapa Intan, ada pula yang tidak suka padanya.
Intan ijin untuk menemui pak Anton. Setelah mendapat persetujuan pak Anton Intanpun masuk dan berhadapan dengannya.
" Selamat siang pak Anton," sapa Intan.
" Selamat siang Intan, lama tak berjumpa kamu," kata pak Anton tersenyum melihat Intan.
Di mata Anton Intan terlihat lebih dewasa, lebih cantik dan lebih gemuk sedikit dari yang dulu.
" Bagaimana kabarmu Intan setelah kau menikah dengan Bagas? Kamu lupa ya denganku sampai kamu tak pamit pindah ke Jakarta ? Dan ada apa kamu datang ke kantorku sekarang? Mana suamimu ?" tanyanya heran.
" Pak Anton.. boleh aku bicara dengan bapak sekarang?" tanyanya
" Silahkan, ada apa Intan, kau terlihat makin cantik," kata Anton dengan mata yang menyelidik nakal.
" Pak, saya ingin menunjukkan sesuatu pada bapak, tapi bukan di sini, aku ingin bapak ikut denganku," katanya.
" Hei.. hei.. berarti kamu tak lagi bersama suamimu ya, kok sudah lama tak berjumpa tiba- tiba kamu memaksa aku untuk ikut denganmu, kamu rindu padaku Intan? Ingin mengulang masa- masa yang lalu kah sayangku?" tanya Anton seraya bangkit berdiri menghampiri Intan. Anton berpikir Intan sangat rindu padanya dan mengajaknya berkencan seperti dulu.
" Ayo kalau begitu, aku mau ikut denganmu, aku senang kau memaksaku, kita akan melepas rindu yang tertahan selama ini," kata Anton bersemangat.
Tak lama merekapun pergi dari kantor dengan pandangan mata dan cibiran dari teman- teman lama Intan yang tidak suka dengan Intan dari dulu.
***
__ADS_1