Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 141. Bagas Terpesona


__ADS_3

Bagas terlihat senang dapat mengerjai salah seorang staff pemasaran yang bekerja di kantornya yang bernama Desi.


Hari ini Bagas sibuk sekali sehingga waktu jam kantor untuk pulang terlewat.


Ketika pekerjaannya selesai waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Ia pun bergegas turun dari ruangannya dan menuju pintu utama keluar masuk.


Dilihatnya hujan turun dengan deras.


Ia pun memanggil pak satpam untuk membawa payung bagi dirinya masuk ke mobil.


Setelah mengucapkan terima kasih, Bagas masuk mobil dan langsung melajukan mobilnya.


Ketika sampai pintu gerbang ia melihat ada seorang gadis yang berjalan dalam dinginnya malam. .


Bajunya sebagian basah oleh kehujanan.


Ditatapnya dengan penasaran siapa gadis itu. Ternyata itu Desi.


Ingin ia mengajak gadis itu pulang, tetapi ketika ia ingat apa yang dilakukan oleh Desi pada dirinya, ia mendadak senyum menyeringai.


Ada ide lagi dalam benaknya.


Dengan cepat ia melajukan mobilnya dan dalam hitungan detik air hujan yang tergenang di jalan ditembus oleh mobilnya dan menghasilkan cipratan air yang cukup keras mengenai tubuh Desi dan mengotori bajunya.


Desi berteriak kaget karena tidak menyangka ada mobil yang ngebut melintas di dekatnya dan ternyata air hujan yang tergenang itu mengenai tubuhnya.


Ingin ia marah, tetapi ketika di lihatnya mobil bosnya pak Bagas yang melintas, ia terdiam.


Ia tak menyangka pak Bagas tidak melihat dirinya yang sedang berjalan.


Amarahnya ia simpan di hati, ia tidak mau berurusan lagi dengan pak Bagas.


Cukup sudah dari tadi ia dipermainkan oleh Bagas.


Ia tak berani melawan karena ia takut dipecat, sedangkan ia sangat butuh uang untuk membantu ekonomi keluarganya yang sedang terpuruk keuangan.


Bagas tertawa senang melihat Desi yang basah kuyup di terjang genangan air hujan.


Ia melihat wajah Desi yang pasrah dan terdiam sedih melihat mobil Bagas yang melaju meninggalkannya.


" Baru kamu tahu kan siapa Bagas? Jangan coba bermain- main denganku. Itu baru permulaan karena kamu coba memaki aku di depan banyak orang. " batin Bagas berkata.


Ia pun tertawa kembali lalu melajukan mobilnya dengan cepat menembus kegelapan malam.


Desi cepat- cepat memanggil tukang ojek yang ada di dekat situ. Ia langsung naik dan meminta tukang ojek untuk cepat pergi dari situ.


Sepanjang perjalanan ia menggigil kedinginan karena hembusan angin yang lumayan kencang menembus kulitnya.


Ibu yang membukakan pintu terkejut melihat keadaan anak gadisnya yang basah kuyup.


" Ya ampun Desi.. kenapa kamu basah kuyup begitu nak? Kamu kenapa hujan- hujanan? Apa tidak bisa menunggu hujan reda dulu Des?" kata ibu cepat membawa Desi masuk rumah.


" Lekas mandi dulu ambil air panas di panci, ibu akan buatkan teh panas untukmu agar badanmu hangat nanti. " kata ibu seraya menuntun Desi menuju kamar mandi.

__ADS_1


Selesai mandi ibu membuatkan nasi goreng kesukaan Desi dan menanyakan kenapa Desi tidak tunggu hujan reda.


" Desi.. kenapa kamu tidak tunggu hujan reda saja nak pulangnya ?" tanya ibu .


" Tadi Desi kehujanan ketika di jalan pulang bu, daripada berteduh lagi lebih baik lanjut karena hari sudah malam bu," katanya.


Ia menunduk dan terdiam. Lebih baik ia berkata tidak jujur pada ibunya daripada ibu mengetahui yang sebenarnya.


Malam itu ketika akan tidur, Desi memikirkan sikap Bagas pada dirinya, ia merasa tak punya kesalahan yang fatal pada Bagas, hanya ia pernah marah dan memaki Bagas karena ia tak tahu siapa yang telah menabraknya dan karena kaget, spontan ia marah.


" Apa mungkin karena hal itu Bagas marah padaku ?" tanya Desi dalam hatinya.


" Lebih baik bila ada kesempatan aku kan bertanya padanya," batinnya berkata lagi.


Tak lama Desi pun tertidur lelap karena kecapean dan kehujanan.


Di luar hujan turun semakin deras menghantar malam semakin sunyi.


Bagas terbangun dengan menggeliatkan tubuhnya.


Ia sangat nyenyak tidurnya semalam.


Dengan tergesa ia cepat membersihkan diri serta mempersiapkan segalanya lalu berangkat bekerja.


Sesampai di kantor tampak para karyawan sudah sibuk dengan urusan pekerjaan masing- masing.


Bagas pun sibuk dengan urusan proyeknya yang harus ditangani minggu depan di Surabaya.


Hari ini rencananya ia akan mempersiapkannya agar waktunya ia harus pergi tak mendadak mempersiapkan pekerjaannya yang lain.


Pintu ruangannya diketok seseorang.


Tok Tok Tok


" Masuk " sahutnya seraya wajahnya masih fokus pada kertas yang dipegangnya.


" Permisi pak, maaf menganggu," sahut suara seseorang yang masuk.


" Ada apa bu Elia?" tanyanya heran.


Bu Elia seorang kepala bagian pemasaran datang menghampirinya.


" Pak, saya mohon bila bapak ada waktu dapat menghadiri undangan ulang tahun anak saya yang sekarang berusia 6 tahun.


Bila bapak berkenan mungkin bapak dapat meluangkan waktu untuk ikut acara ini," jawab bu Elia dengan wajah menunduk.


" Hari apa bu itu acaranya?" tanya Bagas.


" Hari minggu sore pak, semua saya undang.


Acaranya di hotel pak. Tidak di rumah. Jadi lebih luas dan dapat membawa keluarga bila mau. " kata bu Elia.


" Baiklah bu Elia, nanti saya akan usahakan datang ya," kata Bagas.


" Baik pak. Terima kasih. " kata Elia seraya melangkah keluar ruangan Bagas.

__ADS_1


Semua yang di kantor hari ini membicarakan undangan yang diberikan bu Elia.


Mereka senang karena bisa bawa keluarga dan anak. Dan yang sudah punya pasangan kekasih juga boleh membawanya.


Desi yang mendengar itu hanya tersenyum kecut, jangankan keluarga, pacar saja belum ada .


Hari minggu sore, Desi bersiap untuk pergi ke acara ulang tahun anaknya bu Elia.


Ia janjian pergi bersama teman wanitanya.


Hari ini penampilannya sangat berbeda dengan saat ia ke kantor.


Riasan sederhana dengan baju dress hitam selutut menambah cantik penampilannya.


" Des... cantik sekali kamu hari ini, coba kalau ke kantor kamu juga berias seperti ini," kata temannya mengagumi kecantikannya.


" Hehe... kalau ke kantor penampilanku seperti ini yang ada tiap hari aku kena omel pak Bagas karena telat terus." kata Desi tertawa.


" Iya ya.. kenapa sih pak Bagas tuh sering narah dan mengerjai kamu ya Des?" katanya heran.


" Nggak tahu aku , ya sudah ayo kita berangkat. Jangan ngomongin pak Bagas, nanti moodku jadi nggak enak. Biarkan saja orang itu mau marah atau apa, aku tidak peduli. Yang penting kita hadir ke acara ulang tahun anaknya bu Elia," kata Desi seraya melangkah keluar.


Bagas hari ini pun meluangkan waktu untuk pergi ke acara ulang tahun anaknya bu Elia.


Sesampainya di sana acara baru saja mulai. Bagas duduk di sudut ruangan dengan minuman dan makanan yang diantarkan oleh pegawai hotel.


Bu Elia sudah memberi arahan untuk pihak hotel melayani bosnya bila datang.


" Pak Bagas, terima kasih sudah datang. Ini anak saya pak, Leo yang berulang tahun serta ini suami saya . " kata bu Elia mengenalkan leluarganya.


" Selamat ulang tahun Leo," kata Bagas menjabat tangan Leo.


Setelah berbincang sejenak, mereka pun beranjak meninggalkan Bagas kembali seorang diri.


Bagas pun mulai menikmati makanan dan minuman yang terhidang di depannya. Pembawa acara memasuki sesi foto.


Bu Elia memang meminta untuk di panggil teman- teman dan bosnya berfoto sebagai kenangan saat ulang tahun anaknya.


" Sekarang saya panggilkan semua teman kantor dari ibu Elia untuk berfoto bersama keluarga dari Leo, juga untuk pak Bagas berkenan untuk berfoto bersama juga. " kata pembawa acara mengangguk hormat pada Bagas.


Tak ingin lama- lama di acara itu, Bagas pun lalu bergegas ikut berfoto bersama semua karyawan kantornya dan Leo.


Saat sedang maju ke depan, ekor matanya menangkap sesosok wanita yang melintas di depannya.


Dipandangnya wanita itu, diamati sebentar. Ia pun terpesona melihatnya.


Wanita yang biasanya berpenampilan sangat sederhana, jauh dari kata menarik.


Tetapi malam ini membuat ia terpesona.


Desi sangat cantik di matanya.


Dan ia pun tak dapat mengalihkan matanya untuk terus menatap Desi walau dengan mencuri- curi pandang.


Niat untuk pulang pun hilang dari pikirannya. Karena ada pesona Desi yang menahan hatinya untuk pulang cepat.

__ADS_1


__ADS_2