
1 Minggu telah lewat, Mira mulai dapat melupakan Aria.
Ia berusaha untuk tidak mengingat - ingat semua yang ada hubungannya dengan Aria.
Kebetulan sekali Mira pun tak memasak katering untuk ibu Lena karena beliau sedang pergi ke kampung halaman di Jogja karena budenya Aria sedang sakit.
Sehingga peluang untuk bertemu dengan Aria hanya sedikit.
Ada dua kali Aria meneleponnya tetapi Mira tak mau angkat.
Ia ingin melupakan Aria dan tak ingin bertemu.
Siang itu Yunia sedang bermain di teras depan bersama Neni.
Ketika sedang bermain Mira mendengar Yunia berteriak kegirangan, dan tak lama terdengar suara Yunia menyebut nama " papa".
Mira terperanjat, dadanya berdebar kencang.
" Aria datang.. Yunia menyebut nama papa, aku harus bagaimana ini," batinnya berkata.
Ia masih diam di kamarnya sampai terdengar suara Neni mengetuk pintu kamarnya.
" Bu.. ada pak Aria, mau bertemu ibu ," kata Neni.
Beberapa kali Neni mengetuk pintu, akhirnya Mira keluar untuk menghampiri Aria.
" Ya Neni, sebentar," sahutku keluar.
Aria menyambutku dengan wajah gembira.
Ia tersenyum manis pada Mira.
" Mira.. kemana saja kamu, aku tunggu- tunggu kabar darimu tapi ponselmu susah kuhubungi, ada apa?" tanya Aria.
" Duduklah mas, aku tidak ada apa - apa," sahutnya.
" Oh ya, bagaimana mas, kapan jadinya biar aku masak yang enak untuk acara lamaran mas," kata Mira sambil tersenyum.
" Menunggu ibu pulang dari Jogja, baru aku akan melamar," katanya.
" Selamat ya mas, sudah dapat calon yang tepat untuk Antony," kata Mira tersenyum.
" Terima kasih. Antony dan mama sudah cocok dengannya. Antony senang sekali bila kami pergi bersama," sahut Aria tertawa.
Mira melihat wajah Aria sangat senang. Ada yang menyakitkan di sudut hati Mira.
" Nanti aku akan kabari ya bila semua sudah siap,kamu harus datang dan masak yang enak," kata Aria lagi lalu tertawa.
Mereka berdua berbincang- bincang ringan sampai akhirnya Aria pamit pulang.
Ada yang berubah pada Aria, biasanya kami akan terlihat ceria dan banyak ledekan, tetapi tadi yang terasa kaku adanya.
Sementara itu di tempat lain ..
__ADS_1
Bagas terlihat sedang duduk di teras belakang rumah.
Sejak ia ditipu Intan Bagas lebih banyak diam merenung.
Kadang bisa beberapa hari tak bicara pada siapapun.
Bagas yang biasanya cerewet seakan hilang dalam dirinya.
Tiba- tiba ponselnya berdering. Ia melihat nama mama di situ. Ia pun mengangkatnya.
" Ya ma.. halo.. ada apa ma?" tanyanya.
" Bagas.. lagi apa? Mama mau ke rumah kamu, tunggu ya," kata mama.
" Bagas lagi libur ma, di rumah saja ma, baik Bagas tunggu mama ya," sahutnya.
Bagaspun mematikan telepon dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dua jam kemudian Rianti datang bersama supir ke rumah.
Ia membawa masakan kesukaan Bagas.
" Gas.. makanlah dulu ini mama sudah bawa masakan kesukaanmu," kata Rianti.
" Ya ma, aku makan dulu ya, masakan mama enak seenak masakan Mira ma," katanya seraya makan dengan lahap.
" Kamu bilang apa Gas tadi? Masakan mama seenak masakan Mira. Kamu lagi ingat Mira, Gas?" tanya mama.
" Hehe... ingat pas lagi makan masakan yang enak ma," sahut Bagas menunduk malu.
" Belum pernah lagi ma Bagas telepon. Terakhir kita bertemu dan bicara saat sidang saja, sudah lama sekali itu ma," kata Bagas.
" Teleponlah nanti.. tanya Yunia, agar mama juga tahu perkembangan Yunia," kata Rianti.
" Ya ma. Nanti aku cari waktu telepon Yunia," kata Bagas.
Di rumah Aria
Aria menelepon mamanya yang sedang ada di Jogja.
" Halo ma, sehat? Kapan mama pulang ke Semarang ?" tanya Aria.
" Mungkin hari minggu nak mama pulang. Bude sudah lebih baik sekarang," kata Lena.
" Memang ada apa Aria?" tanya Lena.
" Gini ma, Aria mau serius dengan Mira. Mau melamarnya ma," kata Aria kembali.
" Wah bagus itu. Mama setuju," kata Lena senang.
" Apa kamu sudah beritahu Mira?" tanya Lena lagi.
" Belum ma, nanti mau kasih kejutan," katanya.
__ADS_1
" Maksudmu Aria? Mama tidak mengerti." kata Lena .
" Nanti Aria jelaskan kalau mama sudah pulang ya, maka itu mama cepat pulang," kata Aria
" Ya..tunggu saja minggu ini mama pulang," jawab Lena seraya menutup telepon.
Lena hari ini sudah pulang dari Jogja. Keadaan budenya Aria sudah jauh membaik.
Lena sore itu memanggil Aria untuk duduk di teras depan rumahnya dan berbincang- bincang.
" Aria.. coba jelaskan pada mama maksudmu waktu itu ditelepon. Mama masih tidak paham," kata Lena.
" Begini ma, aku ini berniat serius dengan Mira, tapi aku sendiri ragu dengannya," kata Aria.
" Kenapa kalau ragu kamu mau melamarnya?" tanya Lena kembali.
" Ya masalahnya apa dia mau dengan aku yang sudah punya Antony ?" tanyanya.
" Kan Mira juga sudah punya anak. Kalian berdua sama- sama sudah bawa anak. Ini kan tinggal dibicarakan berdua saja, dicari solusi dan pendekatannya bagaimana," kata Lena.
" Tapi ma, apa Mira mau terima aku ?" tanyanya pesimis.
" Sudah dicoba belum?" tanya mamanya.
" Sudah ma dengan cara aku pura- pura minta bantuannya untuk mencarikan cincin untuk calonku, dan aku lihat perubahan wajahnya yang terlihat kesal dan cemburu walau ditutup- tutupi tapi jelas terlihat ia cemburu dan kesal ma," katanya.
" Maksudmu apa dengan begitu, mama semakin nggak mengerti." tanyanya.
Aria pun menceritakan semuanya pada mamanya tanpa ada yang terlewat.
" Wah itu toh yang kamu bilang ditelepon kemarin. Ya mama paham sekarang." kata Lena.
" Tapi Aria.. mama tidak terlalu yakin apa benar Mira dengan caramu nanti seperti itu akan menerimamu loh, habis mama aja kaget dan tak menyangka idemu seperti itu.
Kalau Mira senang dan ia punya rasa denganmu pasti ia akan kaget tetapi pasti menerimamu.
Tetapi bila Mira tak ada rasa padamu dan menolakmu, itu juga yang harus kamu siapkan mentalmu." kata Lena.
" Iya ma, ini memang ide gilaku untuk melamar Mira. Memang akhirnya bisa diterima atau bisa juga ditolak. Tetapi setidaknya aku sudah melihat dulu reaksinya kemarin ini.
Aku pancing terus Mira untuk aku melihat apa dia kesal dan cemburu. Memang sempat ku lihat wajahnya ketika aku mengajaknya untuk membeli cincin yang kubilang untuk calonku. Ia banyak menunduk dan terdiam saja ma," kata Aria.
" Kamu pun harus siap patah hati ya Aria bila kamu ditolaknya.
Kamu harus bisa terima kenyataan bila kamu hanya dianggap teman oleh Mira.
Jangan berharap terlalu tinggi.
ini mama kasih tahu dulu karena cara melamar kamu seperti ini. Biasanya mereka sudah sepakat dulu baru ada lamaran.
Ini belum sepakat sudah mau melamar, ya harus tahu resikonya nak," kata Lena panjang lebar.
" Aku yakin diterima ma," kata Aria optimis.
__ADS_1
Lena hanya tersenyum dan menggeleng- gelengkan kepalanya melihat betapa Aria benar- benar cinta pada Mira.
***