Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 138. Kisah Anton (1 )


__ADS_3

Semua orang ingin selalu bahagia.


Itu pun yang ada di benak kehidupan keluarga Mira, keluarga Shinta dan kehidupan Bagas.


Tetapi terkadang semua itu tak sesuai dengan kenyataan.


Kita yang harus menjalankannya sesuai dengan harapan kita.


Mira sekarang sedang menikmati kebahagiaan yang diberikan Tuhan dengan semakin naiknya karier Aria menjadi pengusaha sukses, anak- anak yang baik dan taat serta rajin dalam ibadah.


Nikmat dari Tuhan sedang Mira rasakan.


Sementara itu kebahagiaan dan nikmat Tuhan itu juga sedang dirasakan oleh keluarga Shinta yang berbahagia dengan Riki dan anaknya.


Sedangkan dengan Bagas yang masih berjuang keluar dari keterpurukannya,ia berusaha mengapai kebahagiaan itu dengan jalan mencari hiburan dengan teman- temannya.


Ada beberapa gadis yang berusaha juga mencari perhatiannya, tetapi akhirnya mundur teratur melihat betapa dingin dan cueknya Bagas.


Sehingga sampai sekarang belum ada pengganti Mira di hatinya.


Dan bagaimana dengan Anton, pria yang pernah singgah di hati Intan dulu, yang sudah tak ada kabarnya dan tak mau mengakui keberadaan Dion sebagai anaknya, apakah ia masih ada ? Itu yang ada di benak kakeknya Dion semalam setelah istrinya mengutarakan kekuatiran bila Dion tahu ayahnya masih hidup.


Bapak memikirkan hal itu semalam. Ia tak habis pikir dengan sepak terjang almarhum Intan yang selalu mencintai lelaki yang sudah punya seorang istri.


Ada penyesalan di hati bapak karena tidak tekun mengajarkan ilmu agama dan kehidupan yang benar pada anaknya.


Sementara itu di tempat lain


Bagas pagi itu bergegas pergi ke Bali karena ada pertemuan para pengusaha yang diadakan di sana selama 3 hari.


Acara ini diselenggarakan oleh suatu perusahaan besar dengan tujuan menyatukan persepsi pikiran para pengusaha untuk kemajuan bisnis usahanya di Indonesia.


Bagas sebenarnya enggan pergi.


Ketika diumumkan tujuannya ke Bali, ia langsung menolak ikut.


Bayangan penghianatannya tergambar jelas menari- nari dimemorinya


Ia tak mungkin tidak ingat di Bali ini awal mula ia membohongi Mira, di Bali ini awal mula ia mengacuhkan Mira dan Yunia.


Di Bali ini penghianatan besar ia mulai.


Tetapi kenyataan pada hari ini ia ada di Bali dengan sejuta ingatan dan kisah cintanya.


Ketika semua orang sibuk bergembira makan siang di suatu restoran mahal, Bagas terlihat menyendiri dan terdiam di sudut.


Hatinya gelisah dan ingatan itu kembali muncul dibenaknya.

__ADS_1


Akhirnya ia menghampiri seorang yang dipercaya menjadi manager selama acara ini.


" Pak, kita beristirahat nanti di hotel mana ? " tanyanya.


" Bapak Bagas nikmati dulu makan siang kita, setelahnya kita berjalan- jalan menyusuri pantai sebentar untuk merilekskan tubuh baru ke hotel pak," kata si manager pemandu acara ini.


" Maaf pak, kalau saya langsung ke hotel bagaimana ?" tanyanya lagi mendesak.


" Kenapa bapak mau langsung ke hotel. Kita ikuti aturannya ya pak," katanya .


" Saya mendadak sakit pak, badan saya rasa lelah dan pusing, kalau saya paksa besok saya tidak maksimal mengikuti seminar acaranya" kata Bagas lagi.


Si manager itu berpikir sebentar lalu berkata," Baiklah pak, nanti supir kami akan duluan antar bapak ke hotel. Istirahatlah bapak agar besok kita sehat untuk ikut acara," katanya.


Lalu ia memanggil anak buahnya dan mereka berbicara sebentar dan tak lama Bagas di antar menuju hotel.


Ia lalu bergegas mandi dan berendam di bath tub. Ia ingin melupakan semua yang pernah ia lakukan di Bali.


Setelah mandi ia pun merilekskan tubuhnya dan tak lama ia tertidur pulas.


Keesokan harinya ia bangun dengan tubuh segar.


Ia merasa hari ini harus dimulai dengan semangat.


Ia pun bersiap- siap untuk breakfast dan akan dilanjutkan dengan acara pertemuan dengan para pengusaha.


Tiba- tiba bahunya ditepuk oleh seseorang.


Ia pun menengoknya, lalu terkesiap sejenak melihat siapa yang menepuknya.


" Hai pak Bagas... apa kabar ? Sudah lama kita tIdak bertemu ya ?" kata orang itu tertawa lebar.


Bagas terdiam lalu ia pun tersenyum dan berkata," Baik pak Anton.. bagaimana juga kabarnya ?" tanya Bagas yang jelas tak dapat menyembunyikan rasa tidak sukanya pada Anton.


" Ha ha ha... aku selalu baik pak Bagas.. bagaimana dengan istrinya ? Apa sekarang sudah melahirkan?" tanya Anton seraya memincingkan matanya dan tersenyum licik mengejek Bagas.


" Apa maksud kamu Anton ? Kenapa dari tadi kamu tanya hal seperti itu ? " tanya Bagas mulai marah.


" Wah.. wah.. kamu cepat marah ya sekarang Bagas.. sejak tahu Intan pergi meninggalkanmu ya, ha ha ha.. Intan itu wanita murahan.. kamu mau saja ditipu olehnya.. " katanya seraya tertawa lebar dan pergi meninggalkan Bagas.


Bagas mengepalkan tangannya tanda ia marah.


Tadi ia berusaha bersikap sopan dengan Anton, tetapi ternyata Anton tidak bisa dihargai sebagai seorang teman kolega sehingga ia pun bicara tanpa ada rasa sopan padanya.


Jam makan siangpun tiba, Bagas sengaja mendekati Anton untuk mengetahui apa yang telah terjadi pada Intan dan Anton.


" Anton.. kita bisa bicara berdua secara dewasa ?, Aku mau bertanya beberapa hal," kata Bagas .

__ADS_1


" Baik, silahkan, mau duduk di mana kita sekalian santap siang, perutku sudah lapar dari tadi," kata Anton seraya matanya mengitari tempat duduk.


Akhirnya mereka pun duduk di sudut ruangan .


" Anton.. aku mau tanya beberapa hal, ku minta kamu jujur menjawabnya, dan kita harus tahan emosi karena aku tidak mau kita malu dihadapan para kolega kita di tempat ini," kata Bagas dengan tegas.


Anton mengangguk- angguk seraya terus mengunyah makanannya.


" Makan dululah Gas.. nanti bila kita bicara seperti ini akan membuat selera makan kita hilang," kata Anton sambil terus makan.


Bagas pun mengangguk setuju.


Setelah makan lalu mereka berdua berbicara serius.


Bagas pun memulai bertanya karena dari tadi dia sudah tak sabar bertanya.


" Anton.. aku ingin tahu sejauh mana hubunganmu dengan Intan dulu," kata Bagas menatap Anton.


" Aku pertama mengenal Intan ketika ia lulus kuliah mendaftar di perusahaanku menjadi bagian administrasi.


Kerjanya bagus dan orangnya supel maka itu tak lama aku minta ia menjadi sekretarisku karena waktu itu sekretarisku yang lama mengundurkan diri karena menikah.


Lama- lama Intan sangat menguasai tugasnya sehingga aku percayakan untuk menemani orang yang mau bekerja sama dengan perusahaanku.


Ia sangat piawai untuk meloby orang sehingga omset perusahaanku naik terus, karena itu ia menjadi orang kesayanganku. " kata Anton.


" Apakah kamu akhirnya menjadikan ia simpananmu ?" tanya Bagas.


" Ya.. aku menjadikan ia simpananku karena selain ia dapat membuat perusahaan semakin maju juga membuat kolegaku semakin menyenangi sistem yang kubuat. " katanya lagi.


" Apa juga termasuk anak yang dikandung Intan itu anakmu ?" tanya Bagas.


" Aku hampir tak percaya pertama kali ia datang dengan mengatakan bahwa ia sedang hamil anakku dan ia sedang sakit.


Sempat ku membiayai hidupnya dan kehamilannya tetapi aku tak mau untuk menikahinya, karena siapa tahu itu bukan anakku," katanya menatap jauh.


" Kenapa kamu tega sekali menuduh anak yang sedang dikandungnya itu bukan anakmu ?" tanya Bagas.


" Karena Intan berhubungan tidak denganku saja, ia sering bersama dengan pria yang lain juga.


Bagi dia uang itu yang terpenting.


Jadi akupun menyangkal bahwa itu anakku walau Intan bilang itu adalah anakku karena yang terakhir berhubungan sebelum dekat denganmu yaitu aku memang," kata Anton.


" Anak Intan sudah di test DNA, ternyata itu bukan anakku, dan Intan tak mau membohongiku karena itu ia pergi dari hidupku. Dan menurut orangtuanya Intan berterus terang mengatakan bahwa itu memang anak Antom karena beberapa bulan sebelum denganku, kamu sangat dekat dengan Intan," kata Bagas.


Bagas terus bertanya pada Anton.

__ADS_1


***


__ADS_2