
Bagas mengelengkan kepalanya, tanda ia tak mengerti mengapa pak Andi bisa mendapat karyawan yang seperti Desi.
Dilayangkannya pandangan melihat sekelilig, lalu ia pun menatap tajam pak Andi, lalu ia berkata," Pak Andi, saya ingin tahu bagaimana anda dapat menerima Desi di perusahaan ini dan dapat kecolongan besar sampai perusahaan ini merugi besar. "
Pak Andi menunduk lalu berkata," Maaf pak, saya mendapat rekomendasi dari personalia yang menerima Desi dari awal wawancara .
Setelah mereka oke, baru saya wawancara lagi dan melihat ketrampilan anak itu.
Tidak semena- mena langsung saya terima pak, itu hasil setelah saya lihat kinerjanya baru saya terima. " kata Andi .
Bagas terdiam, tetapi dari raut wajahnya terlihat kesal dan geram.
Andai Desi ada dalam ruangan ini maka sudah habis ia maki- maki.
" Oke pak Andi, sudah fix ya , saya keluarkan Desi dari perusahaan.
Kalau 1 orang yang seperti Desi tidak kita ambil tindakan tegas, maka akan membawa pengaruh bagi omset perusahaan.
Satu saja buat ricuh begini, bisa bangkrut perusahaan ini bila kita diamkan Desi- Desi lain untuk berbuat kesalahan fatal." kata Bagas .
" Silahkan pak Bagas, ini keputusan bapak. Karena Bapak yang punya perusahaan ini. Saya ikut segala keputusan yang di atur oleh bapak. " sahua pak Andi mantap.
" Ya.. sekarang bagaimana solusi kita agar omset perusahaan tetap berjalan bahkan naik kembali seperti dulu ?" tanya Bagas meminta pendapat Andi.
Akhirnya mereka berdua urun saran dan saling memberi ide agar omset perusahaan naik kembali. Saran dan ide pun Bagas buka untuk para staff nya agar masukan - masukan yang ada dapat menunjang kemajuan omset perusahaan.
Tak terasa tiga jam sudah rapat ini berlangsung.
Bagas puas karena ternyata anak buahnya banyak yang mempunyai ide brilian yang dapat memajukan omset perusahaannya.
Bagas berniat nanti makan siang bersama staff nya di kantin perusahaan untuk membuat mereka semua merasa senang dan diperhatikan.
Sesudah makan pak Andi dan Bagas pun kembali ke ruangan masing - masing.
Saat pak Andi masuk dia melihat ada tumpukan tugas yang kemarin dia berikan pada Desi untuk diselesaikan dalam batas hari ini.
Dia heran dan langsung menghampiri mejanya melihat tumpukan berkas yang ada.
" Kapan Desi kerjakan ini? Tidak mungkin dia baru antarkan sedangkan dia tak masuk kerja ?
Ini apa ya, kok ada selembar kertas di bawah tumpukan berkas tugas yang dikerjakan Desi?" batinnya berkata.
" Apa ini ?" tanya hatinya heran.
Lekas di ambilnya lalu ia membacanya. Ia sempat terkejut dan melihat tanggal surat itu.
__ADS_1
Tertera kemarin.
" Desi ternyata mengundurkan diri kemarin.
Mengapa dia tak ada bicara dulu padaku malah main seenaknya pergi tanpa dia beritahu aku ya ?" kening pak Andi berkerut.
" Berarti dia sudah tahu kesalahannya bahwa ia yang membuat omset perusahaan menurun, siapa yang beritahu, aku dari kemarin menelusuri tidak ada yang tahu karena baru sore ada pemberitahuan itu masuk di emailku.
Apa Desi sudah tahu tentang ini semua, sehingga dia lalu keluar mengundurkan diri takut di marahi oleh pak Bagas ?
Betapa liciknya dia kalau gitu, sudah tahu salah, malah mengundurkan diri lagi, harusnya dia bertanggung jawab bukan lari," kata Andi dengan geram.
Lalu dia keluar dan memanggil Leli, sekretarisnya dan menyuruh memanggil Ina untuk masuk ke ruangannya.
" Leli.. tolong panggil Ina ke ruangan saya sekarang ya. " kata pak Andi.
" Baik pak, saya akan panggilkan sekarang pak. " sahut nya.
Lalu Leli bergegas pergi memanggil Ina.
Dihampirinya Ina yang sedang sibuk mengerjakan tugas yang ada.
" Ina.. kamu di panggil pak Andi sekarang ke ruangannya.
" Aku ... ? ada apa ya ?" sahutnya.
Ina pun dengan heran pergi menemui pak Andi.
Tidak biasanya pak Andi memanggilnya.
Biasanya kalau ada kesalahan dan laporan yang kurang baru di panggil.
Tok . tok .. pintu di ketuk Ina.
" Masuk Ina.. " sapa pak Andi.
" Selamat sore pak. Bapak memanggil saya ? Maaf ada apa pak ?" tanya Ina pelan.
" Duduk Ina, ada yang mau saya tanyakan pada kamu. " jawab Andi.
" Ya pak. " sahut Ina seraya menunduk ketakutan.
Dalam hatinya terus bertanya apa kesalahannya.
" Ina.. kamu kenal Desi ? Kamu tahu rumahnya ?" tanya pak Andi menatap Ina.
__ADS_1
" Saya kenal Desi pak ketika sama- sama kerja di sini .
Saya tahu rumahnya pak. " sahut Ina pelan.
" Coba kamu ceritakan tentang Desi selama kamu kenal dia " kata Andi.
" Desi itu gadis sederhana pak. Dia bekerja keras untuk keluarganya.
Dia itu senang kerja di sini karena gajinya besar bisa untuk berobat ibunya yang sakit.
Dia itu tumpuan keluarganya pak.
Memang dia itu anaknya polos, tapi saya yakin Desi tidak punya niat untuk membuat perusahaan rugi pak.
Dia kemarin ada menangis ketika bapak memanggil dan memarahinya sebab ia naik lift yang punya direksi bukan untuk karyawan.
Ia sedih karena bapak akan memecatnya hanya karena ia terlanjur naik lift yang biasa pak Bagas naik. " kata Ina.
" Apa dia cerita bahwa ia ajan mengundurkan diri itu karena susah buat perusahaan merugi ?" tanya pak Andi.
" Tidak ada pak. Ina juga baru dengar tadi waktu bapak cerita di meeting. Sebelumnya tidak pernah Ina dengar.
Seperti yang saya bilang tadi pak, Desi sedih karena ada perkataan bapak yang mengatakan Desi bisa dipecat gara- gara naik lift yang biasa pak Bagas direksi naik. Hanya itu pak.
Dan Desi sudah langsung mengira bahwa bapak sudah memecatnya. Jadi kemarin dia lembur pak untuk menyelesaikan tugas- tugasnya.
Tetapi saya tidak tahu sampai jam berapa dia lembur. Hanya ketika saya pulang dia bilang mau lembur dan bilang bahwa ia di pecat oleh bapak. " sahut Ina panjang lebar menjelaskan.
Pak Andi termenung sejenak.
Tak pernah ia menyangka Desi akan mengundurkan diri hanya karena ia bilang Desi akan di pecat karena tidak taat peraturan yang ada, bukan karena ia telah membuat omset turun karena ia salah mempromosikan.
" Ya sudah Ina, saya minta alamat Desi untuk anak buah saya menjemput Desi untuk datang ke kantor sore ini.
Nanti b8ar saya minta Desi menjelaskan semuanya pada bapak alasan utama ia mengundurkan diri. " kata pak Andi.
Ina pun memberi alamat Desi pada pak Bagas.
Dan Ina pun memohon pada pak Andi untuk tidak terlalu menekan Desi karena saat ini dia merasa temannya ini sedang tertekan oleh situasi dan kondisi yang ada disekelilingnya.
Pak andi pun mengangguk menyetujui.
Ia pun tak akan menekan Desi karena ia tahu Desi bukan tipe yang cepat putus asa.
Selama 6 bulan ia melihat Desi sebenarnya gadis tangguh hanya kadang persoalan yang dipendam membuat ia berpikir pendek.
__ADS_1
" Aku harus menunggu untuk ia mau menceritakan yang sejujurnya. " batin Andi berkata.
***