
Mira merasa tidak enak melihat pertengkaran Yanto dan Bagas, di mana papa mertuanya membela dirinya.
Maka Mira pamit pulang pada mama mertuanya.
" Ma..aku pamit pulang dulu ya ma, Yunia mau tidur sepertinya, " kata Mira pelan.
Rianti ingin menahan Mira lebih lama lagi karena ia masih ingin berlama- lama dengan cucunya, tetapi ia pun menyadari situasi di mana Yanto tadi marah pada Bagas karena membela Mira, dan dampaknya Mira merasa canggung dan tidak nyaman dengan situasi ini.
" Ya Mir... pamitlah dulu pada papa, baru kamu pulang," kata Rianti.
Mira pun masuk ke dalam rumah mencari papanya.
Dilihatnya papa sedang duduk di teras halaman belakang, Mira lalu menghampiri dan menyapanya,
" Pa..Mira pamit pulang ya, maaf karena Mira maka papa dan mas Bagas harus berdebat, doakan Mira sukses ya pa dan Mira dapat berhasil nanti mencari kerja. Terima kasih papa sudah banyak membantu, membela dan perhatian pada Mira, saya tidak akan melupakan jasa baik papa. Mira akan terus merindukan papa dan mama," katanya menahan tangis.
Yanto memegang pundak Mira, ia merasa sedih harus berpisah dengan menantu kesayangannya.
" Pergilah nak, buka lembaran baru, berjuanglah dan berusaha demi masa depan Yunia. Ingat Mira, jangan pernah kamu menolak pemberian dari kami dan Bagas berupa uang untuk menafkahi Yunia kebutuhannya sampai ia besar. Semua ini untuk Yunia, cucu kami" kata Yanto.
Mira menetskan air mata haru atas perhatian Yanto.
Mira berjalan keluar dan memanggil Neni untuk pulang. Sebelum ia melangkah pergi, ia menemui Bagas di ruang keluarga.
" Mas.. aku pamit mas, maafkan segala kesalahanku padamu bila aku ada salah. Aku hendak memulai segala sesuatu dari awal, mas juga harus tetap bertahan, jaga kesehatan mas, aku pergi," kata Mira.
Bagas yang mendengar itu terharu, ia ingin menahan Mira, tetapi Mira tidak mau, di peluknya terakhir kali istrinya dengan tiba- tiba.
Mira yang tak menyangka akan di peluk 'suaminya itu hanya diam saja.
Mereka masih sah karena belum ada ketukan palu yang menandakan berakhirnya hubungan mereka.
" Jaga dirimu baik- baik Mir, jaga anak kita Yunia, ijinkan aku bila ingin melihat anak kita, aku akan rutin menafkahi untuk Yunia setiap bulan," katanya.
Mira pun berkata," Mas.. aku tak melarang mas lihat Yunia, silahkan saja. Aku pamit mas, jaga kesehatanmu mas," katanya seraya melepaskan dirinya dari pelukan Bagas.
Rianti pun memeluk Mira dan menangis di dada Mira.
" Ma.. jaga kesehatan mama ya, bila kangen aku telepon saja, bila ingin bertemu Yunia aku siap untuk datang membawa Yunia," katanya seraya membalas memeluk Rianti dengan erat.
Mira melangkah pergi dan memesan taxi online untuk pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Sampai di rumah, Sari menyambut Mira. Ia mengabarkan Mira bahwa adiknya sudah menanti kedatangan Mira dan Yunia.
" Mira.. itu bibimu sudah menunggu kedatanganmu, besok kita berangkat ya," kata Sari.
" Ibu jadi ikut mengantarkan aku ?" tanya Mira senang.
" Jadi, ibu kangen juga dengan bibimu itu, " katanya.
" Baiklah ibu, aku teruskan beres- beres barang yang mau ku bawa, tinggal sedikit lagi," katanya.
Besok paginya, mereka semua pergi, ayahnya pun ikut, karena minta cuti dan diperbolehkan oleh tempat bekerjanya.
Mira senang tak sabar ingin sampai.
Setelah menempuh perjalanan 5 jam sampailah mereka di kota Semarang.
Mira menghirup udara kota Semarang yang tak sesibuk kota Jakarta.
Mobil melambat di suatu kompleks perumajan dan berhenti di sebuah rumah besar.
" Kita sudah sampai, ayo turun," katanya Sari.
Terlihat adik ibunya keluar menyambutnya.
" Hai Mira, selamat datang di rumah kami," katanya ramah.
" Ya bibi, maaf baru datang mengunjungi bibi lagi," kata Mira.
" Tak apa, bibi sudah mendengar dari ibumu tentang kamu, harus sabar dan kuat ya Mir, buka lembaran baru di sini, agar kamu semangat menjalani hari demi masa depan anakmu," katanya.
Setelah menyalami kakak dan iparnya, bibi Rina membawa kami masuk ke dalam.
Setelah berbincang- bincang mereka lalu melanjutkan dengan makan bersama.
Bibi Rina menunjukkan kamar yang akan ditempati Mira.
Bibi tinggal bersama anak bungsunya yang sudah bekerja. Anaknya yang pertama sudah menikah dan tinggal di Surabaya.
Bibi Rina sudah bercerai lama ketika anak- anaknya masih sekolah di SMP. Suami bibi meninggalkannya demi wanita lain.
Mira yang mendengar cerita bibi Rina merasa semangat kembali untuk melangkah demi anaknya Yunia.
__ADS_1
Keesokan harinya Mira membantu bibi Rina yang mempunyai usaha sampingan catering, ia sangat senang dan bersemangat membantu bibinya.
Sejenak ia lupa dengan kesedihannya.
Sari yang melihat itu berbicara pada adiknya untuk melibatkan Mira dalam usahanya. Sari melihat adanya keceriaan di wajah Mira yang sudah beberapa bulan ini ia tak jumpai.
" Rina.. mbak mau bicara denganmu sebentar," kata Sari pada Rina.
" Ya mbak, ada apa?" tanyanya.
" Besok mbak sudah harus balik, karena kakak ipar harus masuk kerja kembali.
Aku titip Mira ya, aku lihat ia terlihat semangat dan senang membantu kamu menyiapkan catering kemarin. Mbak melihat wajahnya gembira. Itu sudah tak ku lihat lagi sejak masalahnya datang, tapi kemarin aku bahagia, terharu melihatnya semangat lembali.
Kamu jadikan dia asisten mu saja, agar dengan dia bekerja, gembira, semangat maka ia akan melupakan kesedihannya.
Aku titip dia ya Rin.. biar dia ceria lagi seperti dulu," kata Sari .
" Baik mbak, kebetulan memang aku butuh orang untuk mengatur catering ini, karena aku mulai sibuk membuka cabang catering di kota Jogja, jadi aku sering bolak,- balik dan kadang tidak tertangani. " kata Rina antusias.
Sari merasa tenang melihat Mira anaknya akan sibuk dan berharap dapat melupakan kesedihan dan sakit hatinya.
Besoknya ibu dan ayah Mira kembali ke Jakarta.
Mira sudah merasakan bahwa ia akan sangat betah di Semarang ini.
" Mira, ayah dan ibu pamit pulang ya, jaga dirimu baik- baik. Banyak belajar dari bibimu itu ya," kata ibu.
" Jaga cucuku juga ya nak, jangan sedih- sedih, kamu harus gembira, kamu bahagia ayah dan ibupun bahagia mendengarnya," kata ayah Mira seraya memegang pucuk kepala Mira.
" Baik ayah dan ibu hati- hati di jalan.," kata Mira.
" Mira, ayo bantu bibi, ada catering lagi untuk nanti sore jam 5, kita persiapkan semuanya dari sekarang, kata bibi Rina.
" Baik bibi, siap," katanya seraya tersenyum.
Mira pun mulai menyibukkan diri dengan catering bibinya, dari belanja di langganan sayur bibi Rina, mengatur menu masakan, memasak, mengatur kotakannya sampai mengantarkannya.
Lama- lama ia terbiasa dan mulai aktivitasnya sibuk, sehingga Mira tak terlihat lagi menangis meratapi kesedihannya, tetapi dia semakin semangat dan makin menekuni bidang pekerjaan barunya yang diajarkan oleh bibi Rina.
Mira bersyukur memiliki bibi yang baik, yang dapat membantu ia melupakan kesedihannya dengan kesibukannya di catering.
__ADS_1
***