
Mira sangat bersyukur karena mempunyai seorang suami yang sangat baik dan perhatian padanya.
Ia merasa nyaman dengan kehidupan sekarang yang sangat jauh berbeda dengan pada saat ia dibohongi dan dikhianati okeh Bagas.
Aria selalu menjaga perasaan dan sangat tahu menjaga hati Mira yang pernah dilukai sehingga sampai sekarang pernikahan mereka sangat langgeng dan harmonis.
Karena suatu pernikahan akan tetap berjalan bila sepasang suami dan istri berkomitmen untuk saling mengerti, mengasihi dan menghormati.
Mira beristirahat selama 2 hari di rumah sakit. Ia merasa lebih segar dan ia senang dirinya dan anaknya sehat.
Sebelum pulang banyak nasehat dokter padanya untuk menjaga kehamilannya yang sudah 7 bulan. Pokoknya dokter bilang padanya untuk menjaga kesehatan dan selalu harus makan walau sedikit agar tidak terjadi anemia lagi.
Aria yang sangat memanjakan Mira kadang membuat Mira bahagia dan risih dengan segala kekuatiran Aria pada Mira yang hamil besar ini.
Mira ingin jalan- jalan di sekitar kompleks rumah pun kalau tidak di temani Aria atau mama Lena, tidak boleh jalan- jalan sendiri. Kadang ia bosan di rumah. Ia ingin juga bebas menentukan ingin melakukan apa. Tetapi Aria tetap tidak memperbolehkan dengan alasan takut kecapean dan sakit lagi.
Mira sudah berkali- kali mengatakan bahwa ia pun dapat menjaga dirinya, tetapi
Aria yang sekarang terlihat agak posesif pada Mira tetap melarang Mira untuk melakukan apapun termasuk pergi ke usaha tempat makannya.
Mira diharuskan untuk diam dan tak melakukan apa pun.
Ia sebenarnya tidak mau diperlakukan seperti ini, tetapi bila Mira protes akan tindakan Aria maka Aria akan makin posesif pada Mira.
Kadang Mira tertekan dan itu sangat mempengaruhi pada kehamilannya.
Mira ingat 2 minggu yang lalu ingin sekali makan sate ayam.
Ia sampai berkhayal makan enak dengan sate dan lontong.
Mira pun ingin membeli. Ia ingin makan sate di tempat pak Kumis jualan.
Maka Mira pun berkata pada Aria untuk mereka keluar membeli sate.
Tetapi Aria menolak dan marah pada Mira.
" Mira.. untuk apa kamu mau beli sate. Itu makanan tidak bergizi untuk anak kita.
Jangan kamu makan sembarangan, lebih baik makan sayur yang di masak oleh mbok, itu juga bagus untuk kamu dan anak kita Mir," kata Aria.
Mira yang mrndengar itu hanya terdiam lalu tidak berkata apa- apa lagi.
Aria yang tidak menyadari dirinya menjadi seperti itu, makin membuat Mira tambah tertekan.
__ADS_1
Sehingga belum 3 minggu Mira masuk rumah sakit lagi tetapi bukan anemia, tetapi ia muntah- muntah terus sepanjang hari.
Dokter hanya memprediksi Mira mungkin kelelahan atau stress dan dokter menyuruh Mira untuk istirahat total.
Di kamar ini Mira menangis tersedu- sedu, ia tak menyangka dirinya yang sekarang sering sakit. Ia tak mengerti mengapa ia harus menjalani hari- hari seperti ini.
Mira hanya berdoa agar hari- hari menunggu anaknya lahir sekitar 2 bulan lagi tidak membuat dirinya tambah stress dengan perlakuan Aria yang sekarang Mira rasa berubah sejak Mira terkena anemia.
Pasrah dan hanya terdiam.. Mira menahan gejolak batin yang ada.
Sementara itu di tempat lain
Intan baru keluar dari ruang periksa dokter. Kanker yang mengerogotinya membuat dirinya tambah tak berdaya.
Dokter telah menvonisnya dengan memberi harapan agar tetap hidup itu hanya 50 persen. Bila ia tidak rajin mengobati kankernya ini maka hidupnya mungkin hanya 1 tahun lagi paling lama.
Intan menangis mendengar itu semua.
Ia melihat pada Dion dan rasa sedih itu pun menghimpit perasaannya saat ini.
Intan sudah ditinggal oleh Anton karena Anton tidak mau bermasalah dengan Intan yang sedang sakit.
Intan sempat protes tetapi lagi- lagi Anton tak menghiraukannya.
Ia masih merasa beruntung memiliki rumah yang dulu dibelikan Anton pada saat Anton masih memanfaatkan tubuhnya untuk dinikmati.
Ia kadang merasa menyesal meninggalkan Bagas, lelaki yang sangat ia sayangi dan cintai.
Ia merasa dirinya telah jahat membiarkan ***** dan tindakan yang ia anggap benar ternyata membuahkan perbuatan merusak rumah tangga orang.
Intan pun meratapi nasibnya yang kini makin terpuruk dan tak berdaya seperti pepatah " habis manis sepah di buang " .
Hanya dianggap mainan belaka dan membuat dirinya telah dimasuki penyakit yang mematikan bagi setiap wanita yakni kanker rahim.
Ia merasa inilah karma bagi dirinya karena dulu ia tak peduli saat ia merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain.
Sekarang ia merasa ditinggal oleh orang- orang yang dulu ia cintai.
Tiba- tiba Dion menangis keras di pangkuannya.
Ia berusaha menenangkan Dion, tetapi tangisannya semakin membuat Intan kuatir.
Cepat- cepat ia membuat susu dan memberikannya pada Dion.
__ADS_1
Bergegas ia berjalan untuk cepat sampai ke rumah.
Dion yang sekarang berusia hampir 1 tahun pun terlihat kurus dan tubuhnya kecil seperti kurang gizi.
Dulu Anton berjanji akan mencukupi dan menjamin semua nya untuk kehidupan Dion.
Tetapi ternyata sejak Intan sakit Anton berubah. Tak lagi ada perhatian dan kasih sayang pada Dion sedikitpun.
Itulah yang disesali oleh Intan.
Dulu yang ditakuti oleh Intan adalah ditinggal pergi, dicampakkan serta tidak diakuinya Dion oleh Anton.
Dulu semua itu ia berharap tak terjadi tetapi kenyataannya.. semua itu terjadi bahkan lebih parah dari yang dibayangkan.
Pernah Intan mencari Anton untuk tetap dapat bersama lagi, tetapi Anton sudah memikirkan hal yang lain. Dirinya tak mau terikat lagi karena Intan sakit.
Sesampainya Intan di rumah, ia bergegas memandikan Dion dan saat akan memakaikan baju ia melihat adanya beberapa bercak merah melebar di punggungnya.
Intan heran karena tadi pagi bercak merah itu belum ada.
Diamati setiap bagian tubuh Dion, anak ini tidak menangis, tetapi badannya dari tadi masih di jalan sudah hangat. Hanya tak dihiraukan.oleh Intan.
Ia pun bertekad bila besok masih badannya hangat terus maka ia akan ke dokter sore harinya untuk diperiksa keadaan Dion.
Ia peluk anak ini. Dion tak bersalah, yang salah orangtuanya karena itu walau Intan sekarang single parent ia bertekad akan menjaga dan membesarkan anak ini seorang diri.
Dion pun sesudah mandi terlihat segar dan ia pun lagi bermain di depan televisi diamati Intan yang sedang beres- beres rumah.
Dion tampak diam tidak selincah biasanya. Intan sangat kuatir tetapi ia berharap Dion akan baik- baik saja.
" Dion... Dion .. ini mama nak, lihat sini.. " panggil Intan dengan lembut.
Tetapi Dion diam saja. Ia masih sibuk dengan mainan yang dipegangnya.
Intan pun memanggil lagi dengan suara yang lebih keras, tetapi Dion tak menoleh sibuk dengan dunianya.
Akhirnya Intan menepuk tangan Dion dan baru ia bereaksi tersenyum pada Intan.
Intan merasakan dadanya berdetak kencang. Ia melihat reaksi dari Dion yang sangat berbeda.
Dipeluknya Dion dan ia bertekad membawa Dion ke dokter besok untuk diperiksa.
***
__ADS_1