Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Sah !


__ADS_3

"Retha!" sapa Rahma yang baru datang dengan sebuah kado di tangannya


Retha yang sedang di make up hanya melambai ke arahnya.


"Wah, jadi manten beneran nih! Aku kapan ya?" ujar Rahma


"Ntar, kalau Danu udah jenggotan." seloroh Retha usil


"Yee, mending nikah sama cowok lain daripada nunggu dia kelamaan! Keburu tua ntar." ucap Rahma asal


"Yakin mau cari yang lain? Chat nggak di bales aja galau seharian!" celoteh Retha


"Ih kamu nih jangan buka aib dong. Malu sama Mbaknya!" ujar Rahma menunjuk ke arah MUA yang sedang merias Retha


Retha tergelak. Rahma melempar asal bantal kecil ke arah Retha.


"Aduh.."


"Rasain!"


Retha menghembuskan napas lega.


"Akhirnya, kamu udah balik jadi sahabatku yang dulu." ujar Retha


Rahma pun tersenyum, dihampirinya Retha yang tampak cantik dengan kebaya abu-abu muda yang menjuntai ke lantai dan sanggul jawa yang khas.


"Maafin aku ya Tha." ujar Rahma memeluk Retha dari belakang


"Iya Ma. Salahku juga sih nggak bilang yang sejujurnya soal rencana ku." ujar Retha


"Iya semuanya gara-gara kamu! Aku jadi salah paham beneran kan." gerutu Rahma


Retha mengusap lengan Rahma. Dengan wajah manyun di depan kaca. Mereka berdua tampak seperti saudara.


"Eh, tapi aktingku bagus kan! Sampai semua orang terbawa suasana loh." ujar Retha tiba-tiba


"Siapa yang ngajarin?" tanya Rahma


"Bakat terpendam kali ya!"


Mereka berdua tertawa.


"Yuh tawanya, bahagia sekali kalian Nak." seloroh tante Lita yang tiba-tiba masuk


"Iya dong tante. Sahabatku kan mau sold out." ujar Rahma


"Iya iya.. Deg deg an nggak Nak?" tanya tante Lita


"Lumayan tante." ujar Retha gugup


Rahma mendengar suara ramai di luar. Rahma mengintip dari celah jendela kamar Retha. Benar saja, rombongan keluarga Andrian sudah datang.


"Calon suamimu udah datang tuh!" teriak Rahma


"Yang mau nikah siapa sih? Kok kamu yang heboh Ma!" celetuk Retha


"Habisnya nggak sabar lihat kamu jadi istri orang. Hehehe." ujar Rahma


"Ya udah, sekarang ayo segera ke depan, bapak penghulu juga udah nungguin dari tadi." ujar tante Lita membantu Retha berdiri


Rahma dan tante Lita mengiring Retha keluar dari kamar. Perlahan-lahan mereka sampai di tempat ijab qobul. Andrian tampak tampan berbalut tuxedo berwarna senada dan pantofel hitamnya.

__ADS_1


Sejenak Retha dan Andrian saling menatap, saling mengagumi satu sama lain. Ya, mereka berdua sedikit pangling dengan penampilan masing-masing.


Retha duduk perlahan di sebelah Andrian. Sesekali Retha melirik Andrian yang sama gugupnya dengan Retha.


"Bismilah Mas." bisik Retha


Andrian hanya mengangguk pelan.


"Baik kita mulai saja acaranya. Assalamualaikum Wr. Wb. Hari ini saya selaku wakil dari saudari Retha akan memimpin jalannya ijab qobul pada hari ini. Bismillahirrahmanirrahim saya nikahkan saudara Rafka Andrian bin Wijaya dan Margaretha Nurcahya binti Saputro dengan emas kawin seperangkat alat sholat dan cincin kawin seberat 5 gram dibayar tunai." ujar pak penghulu


"Saya terima nikah dan kawinnya Margaretha Nurcahya binti Saputro dengan emas kawin tersebut dibayar tunai."


Kalimat ijab itu terucap lancar dari mulut Andrian.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu


"Sah."


Ucapan hamdalah dan do'a terpanjat diantara keduanya. Andrian memasangkan cincin itu di jemari Retha begitu pun sebaliknya. Retha mencium punggung tangan Andrian. Andrian pun mencium puncak kepala Retha.


Sorak sorai hadirin yang ada disana sontak menambah bahagia keduanya.


"Akhirnya setelah sekian lama. Kita bersatu juga Tha." ujar Andrian menatap istrinya penuh syukur


"Aku nggak nyangka Mas. Ternyata semua perjuangan kita nggak sia-sia ya." ujar Retha


Andrian menggenggam erat jemari Retha yang terukir henna di atasnya.


"Mari Mas Mbak, saya bantu ganti pakaian untuk acara temu manten dan resepsi." ujar Mbak MUA itu dengan sopan


Adrian membantu Retha berdiri. Tangan Retha melingkar di lengannya. Mereka berjalan beriringan menuju rumah Retha. Andrian berganti pakaian di kamar tante Lita dan Retha masuk ke kamarnya.


"Nggak nyangka Ma." ujar Retha memeluk sahabatnya itu.


"Siap-siap loh Tha. Ntar malam pertama, jangan sampai malu-maluin ya!" ucap Rahma cekikikan


"Hush! Jadi takut nih! Mana belum pengalaman lagi, tahu juga enggak!" balas Retha


"Udah ntar nurut aja sama suamimu. Pasti dia mau kok sabar bimbing kamu." ujar Rahma


"Iyaa.. Iya.. Kamu kapan?" seloroh Retha.


"Ck.. Mulai deh!" ujar Rahma


Retha tertawa. Segala air mata dan penderitaan yang tercipta dari kejadian di masa lalu kini terbayar sudah. Ya, hari ini hal yang paling Retha impikan menjadi kenyataan.


"Tha kok kamu cantik banget sih! Jadi iri." tukas Rahma


"Lebay kamu Ma." ujar Retha bercermin di kaca lemarinya.


Baju basahan hijau itu tampak pas di tubuhnya. Lekukan pinggang ramping dan rangkaian melati berbau harum menghiasi sanggulannya.


"Tuh kan cantik." ujar Rahma


"Foto yuk!" ajak Retha mengambil ponselnya


Setelah berpose dan menekan tombol putih. Beberapa gambar tercipta.


"Bagus Tha. Kirimin dong, mau aku share nih!" ujar Rahma


"Eh, jangan deh. Ntar ada yang kepoin trus nongol lagi kayak kemarin." ujar Retha

__ADS_1


Rahma tampak berpikir.


PLAK..


Gebukan keras mendarat di pundak polos Retha.


"Santai sudah aku blokir si Bian. Nggak bakal tahu dah! Lagian kalau tahu juga kenapa, orang kamunya udah sah sama Andrian." ujar Rahma


"Iyaaaa tahu tapi nggak usah pake mukul juga!" ujar Retha meringis kesakitan


"Uluh.. Uluuh.. Maaf ya hehe saking semangat soalnya." ujar Rahma


Retha hanya berdecak kesal.


"Ayo, acara temu manten sudah mau dimulai Nak." panggil tante Lita yang sudah siap dengan kebaya marun yang pas di badannya.


"Duh cantiknya tanteku." ujar Retha


"Kamu jauh lebih cantik Nak. Nggak ngira ya kamu sudah jadi istri orang sekarang. Padahal rasanya baru kemarin, tante rawat kamu. Kok cepat sekali sudah sedewasa ini." ujar tante Lita menangis haru


"Tante. Makasih banyak ya. Udah sabar ngrawat Retha." Retha memeluk tantenya dengan erat


"Udah ah tangis-tangisannya. Jadi ikut sedih lihatnya." gerutu Rahma


"Sini.. Sini peluk." ujar Retha.


Mereka bertiga pun saling memeluk.


Acara demi acara berlangsung dengan baik. Ramainya tamu undangan dan alunan gamelan jawa disertai tembang karawitan menambah khidmat acara pernikahan Retha.


Setelah semua acara selesai. Andrian membawa serta Retha untuk pulang ke rumahnya. Beberapa sanak saudara saling berpamitan dan mengucapkan terima kasih.


Tampak Retha menatap sahabatnya dengan sedih.


"Jangan lupain aku ya Tha." ujar Rahma


"Mana mungkin Ma, kamu kan sahabat terbaikku." ujar Retha menggenggam tangan Rahma


"Nak Andrian jaga Retha dengan baik ya. Jangan disakiti. Kalau Retha salah tolong diingatkan baik-baik, jangan sampai dibentak atau dipukul." pesan tante Lita pada Andrian


"Pasti tante. Andrian akan belajar jadi suami yang baik untuk Retha." ujar Andrian dengan yakin


"Kamu juga ya Nak. Patuh dan hormati suamimu. Jangan bandel, jangan ngeyelan. Kamu sudah jadi istri, harus bisa lebih dewasa." pesan tante Lita pada Retha


"Iya tanteku sayang. Tante jaga diri baik-baik ya!" Retha memeluk erat tante Lita


"Mas, Jagain sahabatku ya. Jangan sampai disakiti! Awas kalau kamu sakitin Retha dikit aja. Urusanmu panjang sama aku." ancam Rahma


Andrian tertawa.


"Sok-sokan nasehatin orang. Kamu loh kapan?" ucap Retha tak kuasa menahan tangisnya


Mereka pun kembali berpelukan. Sebelum akhirnya,


"Retha, ayo pulang. Ini sudah malam." ujar Andrian mengusap pelan punggung Retha


"Aku pamit ya." ujar Retha


"Pamit dulu tante. Ma pulang ya!" ujar Andrian


"Hati-hati ya kalian!" ucap tante Lita melepas kepergian mereka

__ADS_1


__ADS_2