Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 121. Permulaan Dari Sesuatu


__ADS_3

Keluarga Aria terus merasakan kebahagiaan demi kebahagiaan.


Mira dan Aria bersyukur melihat Antony yang sebentar lagi akan lulus SMA.


Wajah ganteng Antony merupakan warisan dari Aria, yang membuat banyak gadis tertarik pada Antony.


Salah satunya Stella yang begitu menyukai Antony dari kelas 1 SMA. Cintanya pada Antony membuat dirinya terus mengejar Antony.


Antony menganggap Stella hanya teman saja, ia tak mencintai Stella walau Stella gadis paling cantik di SMA nya.


Antony diam- diam telah menyukai Rani dari kelas 2 SMA. Mereka sekelas sampai kelas 3 ini.


Rani gadis pendiam, pintar, dewasa dan sederhana.


Di sekolah pun ia mempunyai teman sedikit.


Antony tertarik pada Rani setelah ia melihat Rani di bully oleh Stella dan teman- temannya. Saat itu Rani hanya terdiam dan menangis. Antony yang kebetulan lewat menolong Rani.


Ia memarahi Stella hanya karena masalah sepele membuat Rani di bully oleh Stella.


Dengan tubuh gemetar Rani mengucapkan terima kasih pada Antony dan bergegas pergi.


Antony merasa ada yang berbeda pada dirinya pada saat itu. Ia tak mengerti apa itu, yang ia tahu ia sangat merasa sedih melihat gadis itu menangis dan serasa ada yang hilang pada saat gadis itu pergi meninggalkannya.


Kesan pertama itu yang membuat Antony tak pernah melupakan bagaimana wajah Rani yang ketakutan dan mengucapkan terima kasih.


Wajah seorang gadis yang butuh perlindungan. Dan Antony merasakan ia harus melindungi Rani.


Antony belum pernah bicara pada papa dan mamanya tentang hal itu.


Ia ingin fokus dulu pada ujian akhir nanti . Bila memang jodoh pasti Tuhan akan mempersatukan mereka berdua.


Demikian juga dengan Yunia, anak ke 2 dari Mira dan Aria.


Yunia sekarang sudah kelas 5 SD.


Ia anak yang cantik, perhatian, apa adanya, agak sedikit bawel dan manja.


Ia sayang sekali pada kakaknya Antony dan Stefan adiknya.


Yunia sangat sayang pada Aria. Ia mengira selama ini yang ia panggil papa adalah Aria. Yunia tak mengetahui bahwa papa yang sebenarnya adalah Bagas yang dari ia kecil tak begitu memperhatikannya karena sibuk dengan usahanya.


Pernah Bagas datang beberapa kali pada Yunia tetapi Yunia tetap menganggap papanya adalah Aria.


Penyesalan yang terlambat bagi Bagas karena Yunia kecil sudah terlebih dahulu diambil perhatian dan hatinya oleh Aria sehingga ketika Bagas mulai memperhatikan Yunia, ia sudah tak mengenali Bagas lagi.


Pernah Bagas memaksa Yunia untuk mengakuinya sebagai ayahnya tetapi yang ada Yunia malah ketakutan pada Bagas yang sebenarnya adalah ayah kandungnya.

__ADS_1


Jadi sekarang Bagas tidak memaksa Yunia untuk mengakuinya karena ia tahu Yunia tidak bisa dipaksa untuk hal- hal yang ia tidak mengetahuinya.


Sedangkan Stefan anaknya yang ke 3, sekarang berusia 7 bulan.


Bayi yang sangat lucu dan menggemaskan. Stefan sudah mulai bisa duduk dan mulai memanggil- manggil nama papa dan mamanya.


Sekarang sedang belajar untuk merangkak dan mulai untuk berdiri.


Suatu malam Aria memanggil Antony.


" Tony.. sebentar lagi kamu akan lulus, rencanamu apa sesudah ini ? Mau kuliah di mana?" tanya Aria serius.


" Tony mau teruskan kuliah di tempat tante Rossa pa, di Singapura kalau boleh," kata Antony berharap.


" Kamu mau ambil jurusan apa di sana?" tanya nya lagi.


" Mungkin management publish pa, untuk ikut menunjang usaha papa juga nantinya," kata Tony.


" Hmm baiklah, itu bagus sepertinya. Kamu belajar yang rajin, agar lulus ujian dengan nilai terbaik.


Karena sekolah di sana persyaratannya cukup ketat. Daya saing nya lumayan berat," kata Aria mengingatkan.


" Iya pa, Tony juga tahu, karena itu Tony belajar sungguh- sungguh agar nanti dapat masuk ke universitas di sana. " kata Tony mantap.


" Baik nak.. papa dukung untuk keberhasilanmu," kata Aria bangga.


" Ya pa, makasih ," katanya dengan bersyukur.


Sehingga Aria tetap bersyukur atas nikmat Tuhan yang luar biasa bagi hidupnya.


Sementara itu...


Dion sudah bertumbuh menjadi seorang anak yang kurang perhatian dan pendiam, ia besar tanpa kasih sayang ayahnya.


Intan sang ibu.. sudah sakit- sakitan dan mengidap kanker rahim sudah stadium lanjut.


Sekarang dengan penyakit itu membuat aktivitas geraknya tidak lagi sekuat dan selincah dulu.


Kanker sudah mengerogotinya. Ia sudah tak sanggup untuk bertahan. Tetapi ia masih berharap dapat menemukan Anton untuk memberikan anaknya ini.


Penyakit itu bukan hanya me gerogoti tetapi ingin membinasakan hidupnya.


Ia merasa begitu sendiri hidupnya, tak ada teman berbagi cerita, ia menghadapinya sendiri di usia yang hampir ajal menjemputnya.


Usia Dion yang sudah berusia 5 tahun membuat dirinya miris untuk meninggalkan ia suatu saat bila di panggil Tuhan kembali yaitu meninggalkan Dion seorang diri.


Intan menyesali masa lalunya, seharusnya saat ini dengan adanya kehadiran diri keluarga utuh, harmonis menjadikan dirinya paling bahagia, tetapi yang ada sekarang yaitu keterpurukan hidup.

__ADS_1


Ia menyesal dan kata tobat selalu ia dengungkan dan katakan dalam tiap doanya.


Andaikan ia tak gila harta dan kenikmatan mungkin sekarang ia sudah mempunyai sebuah keluarga yang bahagia.


Akhir hidupnya sangat terpuruk.


Anton yang meninggalkannya beserta Dion anaknya Anton, dirinya yang sedang berjuang melawan penyakit, Bagas yang telah ia tipu demi cinta dan uang serta korban berikutnya Mira yang telah ia porak- porandakan rumah tangganya, ia menangis mengenang itu semua.


Ada keinginan hati yang terdalam untuk kembali pada Bagas, orang yang pernah tulus menyayanginya, tetapi ia takut Bagas marah dan mengusirnya karena Dion bukan anaknya.


Akhirnya di sudut kampung, di sebuah kontrakan kecil ia terdiam dan menyesali dirinya yang bodoh dalam bertindak.


" Mama... Dion lapar, dari tadi mama menangis terus, kenapa ma ?" celoteh Dion yang tak mengerti melihat Intan menangis dari tadi.


" Tidak sayang.. mama cuman sakit perut, jadi mama menangis," kata Intan berbohong.


Lalu dipeluknya Dion erat- erat seakan tak mau melepaskan.


Ia bingung akan menitipkan Dion pada siapa bila nanti ajalnya tiba karena makin hari Intan merasa makin lemah.


" Ayo kita makan ya nak, mana sudah goreng telur tadi untukmu," sahutnya dengan tersenyum perih.


Terlintas di pikirannya ia akan menitipkan anaknya di kedua orang tuanya atau ke panti asuhan saja, karena ia tak tahu mencari Anton di mana.


Anton menghilang bak di telan bumi.


Dipandanginya wajah Dion yang sedang lahap makan.


Ia tak kuasa menahan airmatanya yang memaksa keluar, makin di tahan makin deras air matanya yang keluar.


Ia pun menangis tersedu- sedu, tak kuat dengan semua ini.


Ia akan datang pada ayah dan ibunya sebelum ia akan menitipkan Dion di panti asuhan.


Ia ingin minta maaf pada orangtuanya sebelum ia meninggal nanti.


" Dion.. habis makan, kita berkemas pergi ke rumah nenek dan kakek ya, mama ada perlu dengan mereka," kata Intan membelai rambut Dion yang hitam lebat.


" Ya ma, Dion sudah selesai, Dion cuci piringnya dulu ya ma," sahutnya.


Intan sudah mengajari Dion untuk mandiri dan tegar dalam hidup ini.


" Ma.. bajunya Dion bawa berapa? ini yang Dion suka ma baju ini," kata Dion seraya membantu Intan mengepak baju Dion.


" Bawalah baju kesukaan mu nak, " kata Intan tersenyum.


Setelah Intan membereskan semua baju Dion dalam koper, ia pun mengajak Dion untuk ke rumah orangtuanya.

__ADS_1


Sepanjang jalan ia kuatir, mengingat dulu ibunya marah padanya karena ia merusak rumah tangga Bagas dan ibunya mengusirnya karena ia tetap ingin bersama Bagas.


***


__ADS_2