Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 150. Kehidupan Masih Panjang


__ADS_3

Kehidupan setiap orang itu mempunyai sejarah dan lika- liku peristiwa yang di hadapinya.


Tergantung setiap orang menghadapinya.


Masing- masing memiliki peran untuk membuat kehidupannya bahagia atau suram.


Demikian pula dengan setiap kita yang ada, kehidupan yang dijalani itu dengan rasa bersyukur dan iklas maka jalan yang dilalui terasa damai dan bahagia.


Berkisah kembali pada kehidupan Bagas


Demikian pula dengan sisi kehidupan Bagas.


Ia menikmati kesendiriannya setelah berpisah dengan Mira.


Mira pun akhirnya berbahagia dengan Aria, keluarga barunya.


Takdir yang mempertemukan Mira dengan Aria.


Setelah menjalani beberapa tahun menikah dengan Anita, penyakit mulai menggerogoti Anita, dan sampai batas akhir kehidupannya Anita sangat berbahagia dengan Aria.


Bagas pun takdir yang mempertemukan dengan Desi seorang bawahan di kantornya yang pernah tak sengaja bertubrukan di kantornya.


Desi yang baru dan belum mengenal Bagas itu membentaknya.


Dan Bagas sangat tersinggung di bentak di depan karyawannya.


Bagas pun selalu berniat tidak baik pada Desi karena sakit hati.


Sudah beberapa kali Bagas mempermalukan dan mempermainkan Desi karena kesal setiap ingat peristiwa itu.


Dan 3 hari yang lalu puncaknya, Bagas membuat Desi menangis karena kejengkelan Bagas padanya.


Saat itu di pagi yang cerah, Bagas masuk ke kantor dengan hati yang gembira.


Disapanya setiap karyawan yang ada di dekatnya.


Ketika Bagas akan masuk lift yang menuju ruangannya, tiba- tiba ada yang menahan pintu lift.


Dan Desi pun masuk ke dalam lift dan tersenyum pada bos nya.


Desi tidak mengetahui aturan yang sudah diterapkan di perusahaan itu.


Setiap bos nya masuk lift maka tidak ada yang boleh ikut masuk, karena harus menghormati privasi dari bos nya itu.


Bagas terdiam di dalam lift tanpa menoleh pada Desi.


Desi menatap Bagas lalu menyapanya.


" Selamat pagi pak, " sapanya ramah.


Bagas terdiam tak menyahut.


Hatinya jengkel karena Desi tak mengikuti aturan yang ada.

__ADS_1


Akhirnya Desi pun terdiam.


Sampai akhirnya lift terbuka di lantai yang menuju ruangan utama direktur.


Sesampainya di dalam ruangan, Bagas menelepon Pak Andi, kepala bagian tertinggi di divisi pemasaran dan menyuruhnya untuk ke ruangannya.


" Selamat pagi pak," sapa pak Andi saat masuk ruangan Bagas.


" Silahkan duduk pak Andi. Begini saya mau tanya sudah berapa lama karyawan bapak yang bernama Desi itu bekerja?" tanyanya.


" Sudah lebih dari 6 bulan pak. " kata pak Andi.


Dirinya heran dan bertanya- tanya dalam hati kenapa pak Bagas menanyakan itu.


" Tolong pak Andi untuk lebih mendidik anak buah untuk lebih mengerti tentang aturan yang ada di perusahaan ini.


Ini bukan untuk main- main ya, harus dipahami lebih jelas.


Saya tidak mau karyawan yang ada lebih menggunakan cara yang kurang tepat beretika dalam menggunakan lift bersama .


Ajarkan untuk lebih menghargai aturan yang sudah di buat. " kata Bagas tegas.


" Ya pak.. saya akan beri tahu lagi staff saya untuk lebih disiplin . " kata pak Andi .


" Baik pak Andi, itu saja keperluan saya memanggil pak Andi. Silahkan lanjutkan pekerjaan bapak . " kata Bagas menyuruh pak Andi keluar.


Sesudah keluar dari ruangan Bagas, Andi langsung memberitahukan staff yang ada untuk memanggil Desi ke ruangannya.


" Selamat siang pak," sapa Desi seraya masuk ke ruangan pak Andi.


" Desi duduk .. saya mau bicara pada kamu," sahut pak Andi dengan raut muka masam.


" Desi.. berapa kali saya harus menanggung malu karena sikapmu membuat saya selalu ditegur pak Bagas," kata pak Andi .


" Maksud bapak ? " tanya Desi tak mengerti.


" Kamu... kamu sudah membuat saya malu terus Desi. Semenjak kamu masuk ke perusahaan ini saya selalu kena tegur pak Bagas, apalagi hari ini pak Bagas marah besar karena sikapmu itu yang kampungan. " kata pak Andi marah.


" Sikap saya ? yang kampungan ? maksud bapak apa?" tanya Desi bingung.


" Sikapmu itu, sudah tahu kan aturan yang ada, apa kamu tidak pahami itu semua?


Kamu kan tahu bila ada pak Bagas sebagai pimpinan perusahaan akan naik ke lantai perusahaannya maka kita sebagai karyawannya tidak boleh 1 lift dengannya.


Itu sudah aturannya. Mengapa kamu melanggarnya?


Saya yang kena marah karena punya karyawan yang tidak disiplin dalam hal kecil.


Apa kamu sudah siap dikeluarkan dari perusahaan ini ?" tanya pak Andi dengan nada marab .


Desi terkejut mendengar penuturan dari pak Andi.


Ia terdiam menunduk.

__ADS_1


Ia mengakui dalam hati memang ia masuk dalam lift itu tidak melihat- lihat lagi dan setelah itu ia tersadar dan berusaha menjalin percakapan dengan pak Bagas, tetapi diacuhkan pak Bagas.


Sekarang aku akan di pecat hanya karena kelalaian ku ini yang menyebabkan pak Bagas marah padaku. " kata hati Desi yang berkecamuk dalam hati.


" Pak.. apa kesalahan saya sangat fatal sehingga saya harus dikeluarkan dari perusahaan ini ? " tanya Desi pelan.


" Saya minta maaf pak bila saya memang salah dalam hal ini, tetapi tidak adakah sedikit pengertian pada saya untuk tidak memecat saya pak ?


Saya harus bekerja karena saya menghidupi keluarga saya.


Saya dari keluarga tidak mampu pak .Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, saya mohon jangan dipecat pak saya.


Saya berjanji akan lebih baik lagi dalam disiplin, sikap dan pekerjaan saya," ucap Desi dengan air mata berlinang di pipi.


Ia pun tak tahan dengan semua itu, sehingga tak lama ia pun menangis tersedu- sedu.


Di antara isak tangisnya ia pun berkata lagi," Tetapi bila ini memang keputusan dari perusahaan, saya bisa apa? Hanya karena kelalaian saya naik 1 lift dengan bos perusahaan maka saya di pecat, ya sudah.


Saya akan menerima dengan lapang dada bila saya di pecat.


Mungkin bukan jidoh saya dengan perusahaan ini. " kata Desi dengan linangan air mata.


Desi pun pamit ijin ke ruangannya pada pak Andi.


Hatinya sangat kecewa. Baginya tidak masuk akal di pecat hanya gara- gara dirinya 1 lift dengan bos perusahaan.


Dia merasa sangat salah karena dia masuk ke dalam lift tanpa melihat lebih dahulu ada bosnya di dalam.


Dirinya baru melihat bosnya saat sudah di dalam dan karena tidak enak hanya terdiam saja, maka ia pun berinisiatif untuk membuka percakapan dengan bosnya.


Tetapi inisiatifnya berbuah pemecatan dirinya.


Desi hanya meratapi nasibnya hari ini.


Dia pun bergegas membereskan semua yang harus diselesaikan hari ini.


Ia akan menyelesaikannya sampai senua beres hari ini, bahkan ia akan mengambil lembur hari ini untuk semua terselesaikan hari ini.


Sehingga besok ia akan keluar dari perusahaan ini dengan tanpa beban karena pekerjaannya sudah selesai semua.


Ia menghela napas dengan berat.


Disekanya air mata yang keluar dengan derasnya.


Ia berusaha mengendalikan perasaannya.


Ia tidak siap dengan apa yang barusan terjadi tetapi ia harus menerima nya dengan lapang dada.


Hidup haŕus dijalani walau kadang tak sesuai dengan harapan yang ada.


Karena kehidupan masih panjang dan mau tidak mau harus iklas dan tabah ketika sesuatu yang sangat kita punyai atau kita genggam harus dilepaskan dari kehidupan.


***

__ADS_1


__ADS_2