Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Ikuti saja alurnya


__ADS_3

Bian menatap tajam Rahma yang sudah terpojok. Tersirat ancaman dalam setiap kalimatnya.


"Apa yang kamu inginkan dari Retha An?" tanya Rahma


"Semuanya Ma, tanpa kecuali." ujar Bian


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka, mengalihkan pandangan Rahma dan Bian yang sedang bersiteru. Mereka berdua menoleh ke arah pintu. Tampak Tante Lita masuk dengan barang belanjaan di tangannya.


"Loh, kok.. Kamu cowok yang waktu itu nitipin barang buat Retha kan? Kok kamu bisa ada disini?" heran tante Lita


"Kamu juga Ma.. Apa kalian saling kenal?" tanya tante Lita


"Ehem, iya tante. Dia temanku sama Retha." ujar Rahma menengahi


"Oalah, kok tahu kalau Retha lagi sakit. Pada jenguk kesini." ujar tante Lita tanpa menaruh curiga sedikit pun


"Iya tante, Mas Andrian yang tadi ngasih tahu saya. Jadi saya kesini buat nemenin Retha." ujar Rahma memaksakan senyumnya.


"Oalah, iya Nak Andrian kan harus kerja. Tante juga belanja ini. Kamu ini ngajakin Retha kemana to Ma? Kok hujan-hujan baru kamu pulangin." ujar tante Lita


Rahma menatap heran 'Ngajak Retha keluar? Kapan? Orang kemarin aku tidur sore di kosan.'


Rahma menoleh ke arah Bian, Bian kembali melirik tajam ke arahnya. 'Pasti kemarin Retha keluar sama Bian.'


"Ma! Kok diem to ditanya orang tua lho." ujar tsnte Retha.


"Eee itu tante. Rethanya sih, Rahma suruh neduh dulu nggak mau." ujar Rahma berbohong


"Lain kali kalau mau hujan ya jangan diajak keluar." ujar tante Lita


"Eh, kalian sudah makan siang belum?" tanya tante Lita


Rahma menoleh sekilas ke arah Bian yang hanya terdiam. "Belum tante."


"Ya udah, Ma bantuin tante masak ya. Nak, kamu bisa tunggu di depan dulu. Nanti kalau sudah matang kita bisa makan sama-sama." tukas tante Lita sambil mengambil apron dari gantungan


"Emm saya mau langsung pamit aja tante." ujar Bian


"Lho kok buru-buru?" tanya tante Lita


"Nggak apa kok tante. Saya ada perlu. Lagipula kan, tante sudah datang jadi Retha udah ada temannya." ujar Bian


"Nggak mau makan dulu kamu Nak. Tunggu sebentar aja, tante masakin ya!" ujar tante Lita


"Nggak usah tante. Mungkin lain kali aja." ujar Bian merasaa tak enak

__ADS_1


"Oalah, ya sudah kalau gitu." ujar tante Lita mengantar Bian sampai ke pintu depan.


Suara motor Bian pun terdengar menggema sampai ke dapur. Bian pergi tanpa berpamitan pada Retha.


Sementara di dalam kamar. Retha menerima pesan singkat dari Bian yang isinya [Maaf ya Tha. Gue pulang nggak pamit Lu. Besok Gue mampir lagi.]


[Nggak apa kok An. Trims ya buat hari ini.] ~send


Retha bangkit dari tidurnya, mencari nomor telepon seseorang yang sejak tadi dipikirkannya.


Tut... Tut... Suara sambungan telepon terdengar.


"Halo Tha? Gimana kondisi kamu?" sapa seseorang dari ujung sana


"Udah mendingan kok Mas. Mas Andrian, tadi kesini ya?" tanya Retha memastikan


"Iya Tha. Tadi aku bawain sarapan sama obat buat kamu. Tapi kamu lagi tidur. Jadi, aku titipin ke Rahma." ujar Andrian


'Bohong. Sedari tadi, aku belum tidur sama sekali. Aku yakin banget Mas Andrian nglihat aku dan Bian dari celah pintu.' batin Retha


"Tha?" panggil Andrian


"Eh.. Iya Mas?" balas Retha


"Iya kok masih. Tante Lita juga udah pulang. Mas tenang aja, aku udah ada yang nemenin kok. Nggak kayak tadi." ujar Retha dengan hati-hati


"Syukurlah kalau gitu." ujar Andrian


"Buryamnya jangan lupa dimakan ya, terus diminum obatnya. Habis itu istirahat biar cepat sembuh." ujar Andrian menyampaikan perhatian kecilnya


'Kok Mas Andrian nggak bantah kalimatku ya? Padahal jelas dia tahu kalau aku nggak sendirian tadi. Ada Bian di kamarku.' pikir Retha


"Iya Mas. Mas semangat ya kerjanya. Love you." kalimat itu terlontar tanpa aba-aba


"Love you too Tha." terdengar kekehan kecil Andrian


Retha pun tersipu malu. Jika Andrian ada disana sudah pasti akan menggoda pipinya yang semerah tomat.


"Tha?" panggil Andrian


"Iya Mas?" tanya Retha


"Aku lanjut kerja dulu ya! Nanti pulang kerja aku mampir kesana." ujar Andrian


"Oke Mas." Retha mematikan panggilannya

__ADS_1


"Sabar ya Mas Andrian. Sabarlah sebentar lagi" ujar Retha pada dirinya sendiri. Entah apa yang Retha rencanakan, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Retha menatap Rahma yang baru masuk ke dalam kamarnya sambil membawa beberapa potong pisang goreng.


"Mau pisang goreng nggak?" tanya Rahma dengan muka tertekuk


"Bawa sini dong Ma. Aku masih puyeng nih, susah kalau mau jalan. Pasti sempoyongan." ujar Retha mencoba mencairkan suasana


Rahma duduk di tepian ranjang. Digigitnya pisang goreng yang masih hangat itu dengan kesal.


"Kamu bawain itu buat aku apa buat kamu makan sendiri sih Ma?" tanya Retha


"Buat sendiri!" ujar Rahma menyodorkan sepotong pisang ke arah Retha.


Retha mengamati sejenak pisang di tangannya.


"Ini kamu atau tante ya yang goreng? Kok bisa sampai gosong begini." goda Retha


"Sini kalau nggak mau!" Rahma mengambil lagi pisang itu dan memasukkannya ke dalam mulut.


Sontak Retha pun tertawa. "Kasihan Danu kalau punya istri kayak kamu Ma! Masak aja nggak bisa." ledek Retha


"Yee.. Kasihan tuh Andrian! Udah baik, pengertian masih aja kamu selingkuhin!" seloroh Rahma


Seketika Retha terdiam. Bukan.. Bukan bermaksud menghianati Andrian. Hanya saja Retha ingin mengungkap kebenaran. Bukankah untuk itu Retha harus mengikuti alur permainan? Semua kalimat itu terbesit dalam benak Retha. Nanti, saat semua sudah selesai. Retha akan memaparkan segalanya pada Rahma.


"Semalam kenapa kamu bohong ke tante? Kamu bilang ke tante kalau keluar sama aku. Padahal kamu keluar sama Bian kan?" tanya Rahma


Retha terdiam. Menatap wajah kesal sahabatnya itu.


"Kenapa sih? Kamu bela-belain kehujanan buat ketemu sama dia. Kenapa kamu masih mau berhubungan dengan dia? Ingat Tha! Bian pernah nolak kamu. Nggak cuma sekali. Beberapa kali di depan banyak orang, dia terang-terangan bilang kalau dia nggak suka sama kamu!" ujar Rahma meluapkan amarahnya


Retha tak membantah. Semua yang Rahma katakan adalah kebenaran. Harusnya memang Retha tidak menanggali serius ajakan Bian. HARUSNYA..


"Satu yang mau aku bilang Tha. Kalau kamu pilih Bian. Tinggalin Andrian. Kalau kamu pilih Andrian, kamu harus tegas lupain Bian. Beri batasan yang jelas! Jangan bersikap seperti pecundang Tha. Yang membawa masalalumu ke hubunganmu yang sekarang." ujar Rahma seperti motor tanpa rem.


Retha tersentak, baru kali ini Retha mendengar serentetan kalimat kasar keluar dari mulut sahabatnya. Apalagi, kata-kata itu ditujukan padanya.


"Sorry Ma. Kalaupun aku jelasin sekarang, kamu nggak akan ngerti." ujar Retha lirih


"Terserah kamu aja deh Tha." ujar Rahma sambil ke luar dari kamar Retha


Retha menghela napas. Ini bukan hal yang bisa diputuskan dengan mudah. Seperti segumpal benang tipis yang sulit terurai.


"4 hari lagi. Waktuku nggak banyak. Aku harus bisa melakukannya." tekad Retha dalam hati

__ADS_1


__ADS_2