
Intan tertidur dari sore sampai malam. Tubuhnya terasa lelah dan sakit.
Ia mengumpulkan tenaga mempersiapkan untuk bicara pada Dion besok tentang hari- harinya yang tinggal sebentar lagi.
3 minggu lagi Dion berusia 6 tahun.
Intan ingin ketika ia pergi, Dion sudah memahami arti perpisahan walau hanya sebatas pikiran anak seusianya.
Ia berencana akan merayakan ulang tahun Dion secara besar- besaran sehingga Intan lega dan tenang itulah masa- masa Dion bersama dirinya.
Intan terbangun karena rasa sakit mulai menyerangnya lagi, ia berusaha menahannya, tangannya cepat bergerak untuk mengambil obat dan air minum yang selalu ia sediakan di meja dekat tempat tidurnya.
Ia meminum obatnya dan tak lama berangsur rasa sakitnya hilang.
Setelah tidak rasa sakit lagi, ia berdoa memohon pada Tuhan diberi waktu sampai anaknya berulang tahun.
Hati seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya tetapi tidak berdaya ketika sakit menghampirinya.
Ia menangis mengadu pada Tuhan, ia memohon diberi kekuatan untuk melihat anaknya bahagia.
Dibelai rambut anaknya dengan penuh kasih sayang, diciuminya dengan lembut pipinya.
Terus doa ia panjatkan pada Tuhan untuk memberikan kesehatan padanya 1 bulan ini.
Malam semakin larut, tetapi Intan terus memanjatkan doa dan berserah, pasrah akan kehendakNya.
Pagi- pagi Dion terbangun, ia memeluk mamanya dengan erat.
Diciumnya pipi mamanya, tetapi Intan diam saja.
Dipanggilnya nama Intan oleh Dion dua kali, tetapi Intan tetap terdiam. Diguncangkan tubuhnya, Intan tetap terdiam.
Dion mulai menangis. Dipanggilnya nama mamanya beberapa kali lagi, tetap Intan terdiam.
" Ma.. mama.. bangun ma.. kenapa mama diam saja, ma jawab ma.. " Dion masih mengguncang- guncang tubuh Intan seraya menangis keras.
Dion menangis memanggil kakek dan neneknya.
__ADS_1
" Kakek.. nenek .. mama .. kek.. nek.. mama ini kenapa?" jerit tangis Dion pagi itu.
Bu Marsih dan suaminya yang baru selesai berdoa di kamarnya langsung berlari ke kamar Intan karena mendengar Dion menangis dan menjerit.
" Dion ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya bu Marsih ketika ia membuka pintu.
" Mama nek.. mama diam saja, mama tidak bergerak nek, Dion takut.. mama.. " sahutnya seraya terus menguncangkan tubuh Intan.
Bapak lalu menghampiri Intan memeriksa detak nadi di tangan Intan.
Masih ada, tapi lambat, lalu ia berseru pada istrinya, " Bu.. cepat hubungi dokter Intan, dia pingsan ini, bilang suruh ke sini cepat," kata bapak seraya memeriksa tubuh Intan yang lain.
Bu Marsih pun cepat menghubungi dokter yang merawat Intan, beruntung dokter sedang dalam perjalanan ke suatu tempat tetapi arah tujuannya dekat dengan rumah Intan.
Tak lama dokterpun datang dan memeriksa Intan.
" Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya Bapak cemas.
Ibu terlihat menangis dan memegang tangan Intan. Sesekali terdengar panggilan lirih dari mulutnya agar Intan cepat sadar.
" Kondisi Intan semakin merosot pak, ia seperti punya beban pikiran yang sangat banyak, dan itu mempengaruhi kesehatannya sehingga drop seperti sekarang.
Bapak menoleh pada ibu, dan ibu pun berkata," Intan sudah beberapa hari ini menangis terus pak, ia banyak pikiran, ia ingin meminta maaf pada orang- orang yang telah disakitinya di masa lalunya, tetapi mereka menolak memaafkan Intan. Dan ia memikirkan Dion pak bila nanti ia sudah pergi, karena itu mungkin ini salah satu penyebab ia drop seperti sekarang ini, juga ia semakin sering kesakitan dok, sehingga ia jadi kurang istirahat," jelas ibu pada dokter.
" Ya bu, usahakan Intan tidak banyak pikiran, harus gembira dan saya akan tambah dosis obatnya untuk tahan sakitnya bu, karena penyakitnya sudah mengerogoti bagian organ tubuh yang lain. Memang ini sudah terlambat sekali untuk di kemoterapi apalagi di operasi, karena Intan datang ke dokter sudah parah, dia datang pada saat penyakitnya sudah stadium akhir, sehingga obat yang ia minum hanya untuk menahan sakitnya saja serta menahan laju sel kankernya, berdoa saja bu, minta yang terbaik dari Tuhan, kita hanya berusaha tetapi Tuhan semua yang menentukan," jelas dokter.
Bu Marsih menangis tersedu, ia merasa kasihan melihat anaknya yang menderita ini.
Setelah Intan di suntik dan di beri obat, dokter pun pulang.
Mereka duduk di sisi Intan menunggu Intan sadar.
Ibu ingin membuat bubur dulu agar nanti Intan bangun dapat menyuapi anaknya makan.
Dion menyusup ke badan Intan, ia memegang tangan Intan dengan erat serta memeluknya.
Tangisannya lirih terdengar, bapak menahan tangis mendengarnya.
__ADS_1
Dua jam kemudian Intan tersadar, Dion yang mendengar mamanya memanggil namanya terbangun.
" Dion.. Dion .. mama kenapa?" tanyanya lirih.
" Mama... mama sudah sadar? Mama tadi pingsan ma, pak dokter tadi periksa mama ?" katanya seraya menangis lagi lalu memeluk mamanya erat.
" Kakek.. nenek.. mama sudah sadar, " teriak Dion.
Bapak dan bu Marsih lalu lari tergopoh masuk kamar.
Dipeluknya Intan dan diusapnya rambutnya, bu Marsih tersenyum berurai air mata.
" Pak, bu ada apa? Kenapa ibu menangis? " tanyanya heran.
" Tadi kamu pingsan Intan, Dion yang sadar pertama kali kamu dipanggil, diguncang tubuhmu oleh Dion tak bergerak, maka bapak menyuruh ibu memanggil dokter," kata bu Marsih menjelaskan.
" Aku pingsan bu ? Aku tidak tahu, yang ku ingat ketika itu aku sedang berdoa, menangis pada Tuhan untuk aku dapat dikuatkan melewati penyakitku bu, memang sebelumnya aku kesakitan dan ku minum obat bu," kata Intan menjelaskan.
" Intan.. bapak minta kamu jangan banyak pikiran. Lalui hari- hari yang Tuhan masih berikan padamu dengan bersyukur, hati senang, jangan kau sesali masa lalumu, terus mohon ampun padaNya, terus berbuat baik dalam hidupmu, jangan menyakiti hati orang lain, kamu masih bersama anakmu, syukuri semua itu.
Bila orang yang kamu sakiti dulu tidak memberi maaf padamu, ya serahkan pada Tuhan. Tidak usah kamu pikirkan, niat baikmu kan sudah kamu lakukan untuk minta maaf pada mereka, tetapi bila mereka tidak mau memaafkan itu bukan urusanmu lagi. Jadi bapak harap kamu jangan banyak pikiran, istirahat yang banyak, bergembira bersama anakmu, dan nikmatilah hidup. Itu saja nak," kata bapak menasehati Intan.
" Ya pak, Intan akan ikuti nasehat bapak, Intan masih mau untuk melihat Dion bahagia di hari ulang tahunnya.
Intan ingin bersenang- senang dengan Dion, bermanja- manja dengan Dion dan ingin melihat Dion tertawa, " kata Intan seraya memeluk Dion.
Dion tersenyum lebar, ia sudah tenang mamanya sudah sadar dan memeluknya lagi.
Dion mencium pipi Intan, mengusap air mata Intan dan ia menyusup di pelukan Intan kembali.
" Mama harus sehat, harus lihat nanti Dion SD, SMP, SMA bahkan sampai Dion kuliah ya ma, Dion akan jaga mama, Dion akan rawat mama, aku janji ma," katanya seraya mengangkat dua jarinya tanda ia berjanji.
Intan meraih Dion dalam pelukannya.
Air mata nya mengalir di pipinya.
" Mama ingin Dion, mama ingin melihat Dion masuk SD sampai nanti kuliah, tetapi mama sudah tidak kuat lagi Dion.. maafkan mama tidak bisa memenuhi harapanmu nak, tetapi sebelum ajal menjemput nanti, mama akan tetap berusaha membahagiakan dirimu nak, mama sayang sekali Dion, Dion adalah harapan , alasan untuk mama berjuang melawan penyakit mama, agar dapat selalu bersama kita. " batinnya mengatakan itu.
__ADS_1
***