Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 86. Sidang Cerai Mira dan Bagas


__ADS_3

Setiap hari Mira selalu bersemangat untuk memperbaharui macam- macam masakannya, ia tak ingin mengecewakan langganannya, termasuk bila ada yang hanya pesan masakan untuk rumahan seperti halnya ibunya Aria.


Hanya karena mencicipi makanan dari katering Mira, ibunya Aria sangat cocok dengan rasanya dan ingin masakannya tiap hari.


Mira sedang memasak untuk pesanan ibunya Aria, bibi datang mendekat.


" Ada pesanan Mir, kok hanya sedikit masaknya?" tanyanya.


" Ini ada yang pesan untuk rumahan bi, mamanya ternyata cocok dengan rasa masakan Mira bi, " katanya.


" Wah, ini nanti bisa kita terima katering untuk rumahan, anak kecil, kantor, arisan dan.masih banyak lagi Mira," kata bibi senang.


" Ya bi, semoga saja terus banyak pesanan," kata Mira tersenyum.


Tepat jam 11.30 ada mobil berhenti di muka rumah bibi, ternyata supir pak Aria yang mengambil masakan.


Mira pun bergegas untuk memberikan makanannya.


Tak terasa sudah 2 bulan Mira menekuni bidang usaha ini.


Bibi sekarang banyak di Jogja dan Mira pun bertambah langganannya.


Sementara itu di tempat lain


Ada seseorang datang memasuki halaman rumah Bagas, dan mengetuk pintu.


Tok tok tok


" Permisi pak, apakah anda yang bernama pak Bagas?" tanya seseorang itu pada orang yang membukakan pintu.


" Betul, anda siapa dan dari mana?" tanya orang itu yang tak lain Bagas.


" Saya petugas dari pengadilan pak, membawa surat untuk bapak dan ibu menghadirinya," kata nya.


" Baik, saya terima ya pak, terima kasih, " sahut Bagas.


Bagas lalu membuka surat itu, di situ tertera untuk Bagas dan Mira hadir di persidangan perceraian mereka.


Bagas menghela napas dan ia menelepon Mira.


" Halo mas, ada apa?" tanya Mira setelah sambungan teleponnya tersambung.


" Ini Mir... ada panggilan dari pengadilan untuk proses sidang perceraian kita," sahutnya.


" Kapan mas?" tanyanya.


" Lusa Mir, hari Rabu ini jam 10 pagi " kata Bagas.


" Baik mas, nanti saya akan datang, mas juga hadir kan ? " tanya Mira.


" Ya Mir.. mas akan hadir juga," jawab Bagas.


" Bagaimana Yunia Mir, mas sudah 2 bulan tak mendengar dan melihatnya?"


" Yunia sehat mas, tambah gemuk dan 3 bulan lagi berusia 3 tahun mas." kata Mira.

__ADS_1


" Syukurlah, kalau boleh kamu bawa Yunia ya Mir, biar aku mau lihat, kangen mas dengannya," kata Bagas.


" Baik mas, nanti saya bawa," kata Mira seraya mengakhiri panggilan teleponnya.


" Siapa itu mas yang tadi barusan mas telepon," tiba- tiba Intan sudah ada dibelakang Bagas dan menguping pembicaraan itu.


" Mira, mas telepon untuk dapat datang lusa menghadiri sidang perceraian kami," kata Bagas.


" Oh.. kalau gitu bagus mas, makin cepat makin bagus mas, agar kita bisa mengurus juga surat nikah kita bila mas sudah ada surat cerainya," kata Intan.


Bagas terlihat mengangguk karena memang setelah mereka bercerai nanti Intan meminta untuk di nikahkan secara resmi agar status anak yang dikandungnya itu jelas statusnya nanti ketika lahir.


Intan tak mau statusnya tidak jelas, karena itu ia terus bertahan dengan Bagas untuk ia dan anaknya aman.


Kandungan Intan sekarang memasuki bulan ke 6 dan Bagas sekarang sudah pindah tinggal bersama Intan.


Mereka pun terlihat harmonis karena Intan menerima Bagas apa adanya, dan Bagas merasa senang dengan keadaan mereka.


Hubungan Bagas dengan orangtuanya tak begitu baik, terutama dengan papanya, setelah Mira pergi, Yanto sempat beberapa kali mengancam Bagas untuk tidak meneruskan dengan Intan, tetapi Rianti selalu membela Bagas dengan dalih ada cucunya yang sedang di kandung Intan, darah daging Bagas.


Sehingga Yanto yang tidak mau ribut dengan istrinya mengalah, tetapi dampaknya hubungan antara ayah dan anak ini tidak berjalan dengan baik.


Rianti memohon pada suaminya untuk tidak memecat Bagas dari pekerjaannya, dan Rianti berjanji akan menasehati Bagas untuk dapat membuktikan bahwa ia cerai dengan Mira itu tidak akan membuat masalah lagi baik di perusahaan ataupun dengan papanya sehingga Bagas berharap semakin lama papanya akan luluh melihatnya.


Bagas memberitahukan bahwa lusa adalah sidang perceraian Bagas dan Mira pada mamanya.


Rianti yang mendengar berjanji akan menyampaikan pada Yanto untuk mereka datang menghadirinya.


Malam itu Yanto sudah tampak ingin beristirahat, Rianti yang melihatnya segera membuka pembicaraan dengan suaminya.


" Ya, tadi aku cape sekali ma, habis meeting dengan staff manager semua ma," katanya.


" Bagas bagaimana sekarang pa, apa dia mengikuti aturan yang ditetapkan papa ?" tanya Rianti.


" Ya, sejauh yang papa lihat ia bisa mengikutinya ma," jawab Yanto.


" Ada apa ma, dari tadi mama menanyakan Bagas?" tanyanya lagi.


" Ini pa, tadi Bagas telepon mama bilang kalau lusa itu sidang perceraian Bagas dan Mira, mama mau ikut pa, mau lihat Yunia, tadi Bagas bilang Yunia akan di bawa Mira untuk bertemu Bagas.


Mama kangen Yunia pa," katanya Rianti seraya menatap suaminya dengan mata berkaca- kaca.


" Hmm... baiklah ma, kita akan datang ke sana, bertemu Mira dan cucu kita," kata Yanto.


" Ya pa, makasih ya pa, mama tak sabar mau lihat Yunia," kata Rianti tersenyum.


" Sudah malam, ayo kita tidur ma, papa cape sekali tadi di kantor," katanya seraya menutup mata, tak lama Rianti mendengar dengkuran halus suaminya.


Di kediaman Mira


Mira malam itu menelepon ibunya memberitahukan bahwa Mira akan pulang sebentar ke Jakarta untuk menghadiri sidang perceraiannya. Sari menyetujuinya lalu agar Mira tidak tergesa- gesa lusanya sidang, Sari menyarankan untuk Mira besok pagi saja berangkat, sehingga tidak terlalu cape di jalan.


Mira menyetujuinya dan langsung menelepon bibi Rina.


" Selamat malam bibi, " sapanya di telepon setelah Rina menyahut nya.

__ADS_1


" Ya Mira, ada apa?" tanyanya.


" Bi, apa aku bisa ijin besok dan lusa ke Jakarta?" tanyanya.


" Memang ada apa kamu mau ke Jakarta, mendadak sekali Mir, ibumu sakit?" sahut Bi Rina.


" Ibu sehat bi, hanya Mira ada panggilan untuk sidang perceraian Mira bi, baru 5adi mas Bagas beritahu bahwa lusa itu sidangnya dan Mira di minta datang bi, apa boleh Mira ijin sama bibi untuk ke Jakarta,," kata Mira pelan.


" Kapan kamu mau berangkat Mir?" tanya bibinya lagi.


" Besok siang bi, setelah memasak untuk mamanya pak Aria, nanti juga Mira akan menelepon pak Aria mengabarkan untuk lusa tidak bisa memasak kateringnya nanti akan Mira ganti hari bi, kan kateringnya dari senin sampai jumat, jadi sabtu Mira akan masak sebagai ganti hari rabu bi, bagaimana menurut bibi ?" tanyanya.


" Hmm.. boleh juga, tapi coba kamu telepon pak Aria ya apa dia setuju di ganti hari apa tidak untuk makanan mamanya," kata bibi.


" Yang penting kamu persiapkan semua dengan baik Mir, jangan kamu janji tapi tidak ditepati, juga kamu harus tetap konsisten Mir dengan apa yang kamu kerjakan sekarang," kata bibinya.


" Baik bi, Mira mengerti, sesudah sidang perceraian Mira akan langsung pulang agar Mira bisa persiapan lagi untuk esoknya, sehingga pelanggan tetap senang dengan katering Mira bi," katanya.


" Oke Mir.. coba kamu telepon dulu pak Aria nya ya," kata bibi seraya menutup telepon.


Mira kemudian menelepon Aria, cukup lama tak di angkat, tetapi akhirnya di angkat juga setelah dua kali Mira menelepon.


" Selamat malam mbak Mira, maaf tadi saya lagi ada kesibukan, jadi lambat di angkat," katanya.


" Ada apa mbak?" tanyanya.


" Pak Aria saya mohon maaf menelepon malam- malam, ada yang mau saya bicarakan pak," katanya.


" Ya mbak bicara saja," katanya heran.


" Begini pak, saya mohon ijin untuk hari rabu tidak bisa memasak makanan untuk mamanya bapak karena saya ada urusan ke Jakarta, nanti saya ganti hari untuk hari rabu ini menjadi hari sabtu pak saya masaknya, apa boleh pak?" tanya Mira dengan kuatir.


" Hmm.. kalau boleh tahu ada urusan apa ya mbak sampai mbak tidak bisa buat masakan untuk mama saya, karena saya harus kasih tahu alasan mbak tidak masak hari rabu itu," katanya.


Mira menghela napas sejenak, sebenarnya ia tak ingin memberitahukan pada siapapun selain keluarganya, tetapi karena ia sudah terikat janji untuk sanggup memasak makanan pada orang lain, maka konsekuensinya ia harus memberitahukannya agar konsumen tidak kecewa.


" Begini pak, maaf sebenarnya ini privasi saya pak, tapi agar mamanya bapak tidak kecewa maka saya beritahukan bahwa saya akan menghadiri sidang perceraian saya pak hari rabu itu," katanya.


" Oh maaf mbak Mira, saya mungkin terkesan memaksa mbak untuk beritahu, baik mbak.. saya mengerti, mudahan lancar ya mbak sidangnya," kata Aria pelan.


" Jadi pak Aria setuju ya ganti hari untuk kateringnya?" tanya Mira lagi.


" Setuju mbak.. " " katanya.


" Untuk besok, saya akan buatkan dulu sebelum saya pergi, jadi supir bapak bisa ambil seperti biasa," katanya lagi.


" Baik mbak Mira, terima kasih infonya, nanti saya sampaikan pada mama, besok hati- hati di jalan ya mbak Mira," kata Aria .


" Baik pak, terima kasih " seraya Mira menutup telepon


Mira tersenyum, masalahnya sudah beres, ia pun membereskan baju Yunia dan dirinya untuk besok siang berangkat ke Jakarta untuk menuntaskan semuanya.


***


.

__ADS_1


__ADS_2