
Acara pemakaman Intan di mulai jam 10 pagi.
Dion dari tadi tidak mau jauh dari peti jenazah mamanya.
Ia kadang mengusap- usap petinya dan berucap lirih memanggil nama mamanya.
Setiap yang melihat merasa sedih, mereka ada yang meneteskan airmata melihat betapa kehilangannya Dion.
Walau Intan sakit, kasih sayang, perhatian selalu dicurahkan untuk Dion.
Saat Intan melihat Dion dicampakkan oleh ayah kandungnya Anton, ia berusaha merangkul dan menjadi seorang single parent yang tangguh dan tegar membesarkan anak sendiri.
Semua itu terlihat dari seorang Dion kecil yang sangat kehilangan mamanya.
Dion berusaha tegar, tetapi untuk usia anak 6 tahun itu sanggup membuat orang- orang yang melayat Intan sedih dan menangis terharu.
Bu Marsih berulang kali memeluk Dion dan mengusap rambutnya.
Air mata pun bercucuran melihat Dion yang terus meratap.
Dion walau belum terlalu mengerti arti kematian, atau meninggal, tetap ia mengerti arti kehilangan.
Ya ia kehilangan mamanya. Tempat ia bermanja, bercerita, dan menjadi guru terbaik dalam mengajarkan arti kehidupan baginya.
Setelah usai pemakaman maka Dion terlihat letih. Ia selalu di dekat neneknya. Setelah sampai rumah, ia pun tergolek lemah di sofa.
Tak lama Dion tertidur dengan muka sedih.
Marsih mulai lebih ekstra memperhatikan Dion yang kehilangan mamanya di usia masih belia.
Rasa kehilangan yang dirasa Dion membuat hati Marsih pilu.
Dicobanya untuk menghibur Dion dengan mengajaknya ke kebun bersama bapak.
Tetapi tetap Dion sering menangis bila malam tiba mencari mamanya.
Marsih kadang merasa kasihan pada Dion. Ia ingin Dion tertawa seperti dulu saat Intan ada, tetapi yang dijumpai Dion sering termenung dan menangis.
Seperti hari ini, Dion terduduk di beranda dan terdiam. Matanya fokus ke depan, ada linangan air mata di pipinya.
__ADS_1
Marsih yang melihat itu hanya menatap pilu. Ia tak kuasa menahan air mata yang juga mengalir di pipinya.
Ingin rasanya bu Marsih berteriak dan mengeluarkan semua yang ada di hatinya melihat cucunya seperti itu.
" Dion.. makan dulu ya nak, sini nenek suapi," kata bu Marsih mendekat pada Dion.
" Dion nggak lapar nek, Dion ingin ketemu mama, kenapa mama tinggalkan Dion," katanya sendu.
" Dion harus kuat, pandangi foto mama ya bila kangen, berdoa pada Tuhan bila ingat mama, " kata Bu Marsih membelai rambut Dion.
" Ya nek, Dion akan berdoa untuk mama agar kangen Dion hilang. Besok ke kuburan mama ya nek, mau lihat mama," kata Dion memandang neneknya.
Bu Marsih mengangguk dan menyuapi Dion makan.
Sementara itu di tempat lain
Bagas terdiam di kamarnya, malam ini dia gelisah, sepertinya ada sesuatu masalah yang menganggu pikirannya.
Di cobanya untuk tidur tapi tak kunjung dapat menejamkan mata Akhirnya ia pun bangun dan duduk di sofa. Pikirannya melayang ke Intan, ada yang mengganggu dalam benaknya
Ia memikirkan kata- katanya sewaktu Intan meminta maaf padanya.
Hati kecilnya mengatakan mengapa ia tak mau memaafkan, bila memang benar Intan sakit dan sudah di vonis dokter tak lama lagi harusnya ia pun dapat mengerti dan menurunkan egonya untuk dapat memaafkan Intan.
Di buka ponselnya lalu ia melihat kontak nama disana., ia mencari nama Intan.
Ragu- ragu ia ingin menelepon Intan.
Bagas penasaran ingin mendengar kenapa Intan bisa kena kanker rahim.
Di pandangi nama Intan di kontak nama, ingin dipencet tetapi ragu.
Diliriknya jam sudah larut malam, tidak enak untuk menelepon. Diputuskan besok pagi akan menelepon Intan. Untuk urusan bertanya dengan lebih mempertegas mengapa ia sudah di vonis dokter tidak lama lagi hidupnya.
Keesokan harinya, Bagas terbangun. Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Ia bergegas mengambil ponselnya dan berniat menelepon Intan sepagi ini untuk dapat kejelasan tentang vonis dokter.
Hatinya ingin tak peduli pada Intan tetapi rasa penasaran yang membuatnya ingin mendapat kabar yang jelas.
__ADS_1
Di hubunginya Intan terus tetapi belum diangkatnya. Ia terus mencoba sampai pada akhirnya ada jawaban dari seberang sana.
" Halo... ini siapa?" tanya suara itu lembut.
" Halo ibu saya temannya Intan, maaf bila mengganggu, boleh saya bicara dengan Intan?" tanyanya sopan.
" Mau bicara dengan siapa?" tanyanya kaget.
" Intan bu " kata Bagas .
" Intan ?. Ini siapa?" tanyanya heran.
" Saya teman Intan bu, sudah kenal lama dan dekat sekali dengan Intan." katanya lagi.
" Maaf namanya siapa?" tanya bu Marsih .
" Saya Bagas bu, " katanya mengenalkan diri.
" Terakhir kamu bertemu Intan kapan?" tanya bu Marsih ingin tahu.
" Sekitar 10 bulan lalu bu, Intan ini pergi meninggalkan saya tanpa pamit, jadi beberapa waktu yang lalu Intan telepon saya minta maaf pada saya agar saya mau memaafkan Intan bu, jadi saya telepon ini mau bicara sama Intan sendiri bu, katanya ia sakit dan sudah tidak dapat disembuhkan.Yang mau saya tanya padanya sakit apa Intan ini sehingga menelepon saya hanya ingin minta maaf," kata Bagas menjelaskan panjang lebar.
Bu Marsih terdiam sejenak lalu berkata pelan," Saya tidak tahu sebelumnya Intan ini menghubungi teman- temannya untuk meminta maaf secara pribadi. Saya tidak menyangka Intan ingin minta maaf setelah apa yang ia lakukan selama ini. " kata bu Marsih pelan.
" Berarti kamu itu bukan Anton ya, ku pikir Anton karena terakhir ia menyebut nama Anton itu sebagai papanya Dion." katanya.
" Bukan bu, saya memang dulu dekat dengan Intan, bahkan kami ini sangat dekat, sampai akhirnya berniat untuk menikah dengannya.
Saya menikah dengannya secara siri bu karena Intan hamil, tetapi tiba- tiba Intan pergi dan mengatakan ingin pulang ke Jawa karena ibunya sakit parah. Saya ijinkan dan saya akan menyusulnya ketika saya mendengar dari pihak rumah sakit bahwa anak yang Intan kandung itu bukan anak saya, maka saya hubungi Intan terus tetapi Intan pergi meninggalkan saya dan membuat saya sakit hati ketika mendengar semua ini. Apalagi terakhir Intan bilang itu anak Anton, laki- laki yang telah membuatnya hamil. " kata Bagas pelan seraya menundukkan kepalanya.
" Apa bisa saya bicara dengan Intannya bu ? Saya akan memaafkannya bu walau hati saya masih terluka," kata Bagas pelan.
" Nak Bagas.. Intan sudah meninggal tadi pagi, dan sudah di kuburkan," katanya sedih.
" Apa bu.. sudah meninggal ? Tadi pagi ?? Ibu tidak bercanda ?" tanyanya kaget.
" Tidak nak.. Intan memang sudah meninggal dalam keadaan tenang, meninggal ketika tidur dan Intan memang sebelumnya sakit kanker rahim stadium lanjut, dokter pun sudah memvonisnya umur nya tidak lama dan ternyata Intan sejak pulang kemari hanya 3 bulan saja bertahan," kata bu Marsih menangis tersedu.
Bagas kaget sekali, ternyata Intan memang ingin benar- benar minta maaf padanya, ia menyesal waktu itu tidak memberikan maaf bagi Intan yang sangat ingin dimaafkan di sela sakitnya yang parah.
__ADS_1
Penyesalan yang membuat Bagas menitikkan air mata, bagaimana pun ia pernah sangat dekat dengan Intan, tetapi hari ini ketika ia mendengar Intan meninggal dan sudah dikuburkan, ada rasa kehilangan dalam dirinya.
***