Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 114. Mira merasakan Sesuatu


__ADS_3

Hari ini Aria dan Bagas pulang dari Singapura. Yunia sudah menunggu di depan rumah untuk menyambut kepulangan papa dan kakaknya.


Ketika mobil papanya masuk ke rumahnya, Yunia langsung berteriak dan waktu Aria keluar dari mobil Yunia ingin langsung di peluk.


Aria tidak mau langsung memeluk Yunia, ia ingin mandi dan membersihkan dirinya dulu, karena ia baru habis dari perjalanan jauh dan ia ingin ketika memeluk Yunia sudah segar dan harum.


Yunia merajuk dan menangis ketika ia melihat papanya tidak mau memeluknya.


Mira lalu mengendongnya dan berkata," Yunia.. papa mandi dulu ya, biar segar dan harum. Papa dari luar bau badannya, apa Yunia mau dicium oleh papa yang bau?" tanyanya.


Yunia menggeleng- gelengkan kepalanya dan berkata," Nggak mau dicium papa kalau bau," katanya seraya mengusap air matanya.


" Karena itu tunggu papa mandi ya," kata Mira.


Setelah 10 menit kemudian, Aria keluar dan langsung memeluk Yunia. Ia menggendong dan mencium pipi Yunia. Dengan gemas ia mencubit pipi gembul Yunia. Dan Yunia dengan manja bergelayut di dada Aria.


Mira yang melihat itu terharu melihat betapa manjanya Yunia serta betapa sayangnya Aria pada Yunia walau Yunia bukan anak kandungnya.


" Papa... bawa oleh - oleh untuk Nia?" tanyanya dengan mata penuh harap.


" Ada.. di tas, tapi sebelum papa kasih hadiah, papa mau tanya bagaimana sekolah dan belajar Nia? Apa tugas- tugas diselesaikan walau papa nggak ada?" tanya Aria kembali.


" Tugas sudah Nia selesaikan pa, Nia juga rajin belajar serta Nia nggak malas- malasan sekolah pa," katanya dengan cepat.


" Baik.. ambil sekarang di tas papa ya yang biru itu, semua oleh - oleh ada di situ. Sudah kakakmu kasih nama. Cari saja namamu ya," kata Aria tersenyum.


Yunia berlari mengambil hadiahnya, lalu ketika ia membuka hadiah dari papanya, ia berkata, " Pa.. kemarin Nia juga dapat hadiah pa dari om ... ( ia mengingat dulu nama Bagas ), siapa ma Nia lupa namanya " kata Yunia menatap mamanya.


Aria mengerinyitkan alisnya, ia bingung Yunia bilang hadiah dari orang lain bukan dari Aria.


" Om ini bilang Nia harus memanggil papa tapi Nia nggak mau, papa Nia cuman 1, papa Aria," katanya polos.


Aria lalu menatap Mira dengan muka yang tidak mengerti, ia tidak senang Mira tidak cerita apapun.

__ADS_1


Dengan wajah tak senang ia menatap terus wajah Mira. Mira yang ditatap tak bisa berbuat apa- apa hanya ia mengisyaratkan dengan mata bahwa ia akan bercerita .


Mira menghampiri Yunia, lalu dengan lembut ia berkata, " Yunia.. ikut kakak Tony ke kamar dulu ya, " katanya.


Lalu ia melihat Tony dan berkata," Tony ajak dulu adikmu ke kamar ya, biar kalian saling melepas rindu dulu, mama mau bicara sebentar dengan papamu dulu, nanti malam kakak cerita perjalanannya dengan mama ya " kata Mira seraya mengelus rambut Tony.


" Baik ma, ayo Nia ikut kakak ke kamar, ada oleh- oleh dari tante Rossa untuk kamu," ajak Antony pada Yunia.


Mereka pun bergandengan tangan menuju kamar Antony.


" Mas.. mau teh, aku buatkan dulu ya," kata Mira dengan lembut.


Aria mengangguk lalu Mira pergi ke dapur membuatkan teh.


" Mas.. minum dulu tehnya, maaf aku belum cerita karena aku tidak mau mas salah paham bila ditelepon," lata Mira menatap Aria.


Aria diam menunggu Mira memberi penjelasan.


" 2 hari yang lalu ada mas Bagas beserta rekan kerjanya ke rumah makan ini karena temannya mengajak untuk kuliner di Semarang. Mereka ada kerjaan di Jogja sebelumnya.


Ia sampai menunggu Yunia pulang sekolah selama 2 hari ini dan memberi oleh- oleh pada Nia, " kata Mira.


" Mas Bagas datang hanya untuk Yunia mas, ia tidak ada tanya- tanya aku, atau berniat mendekatiku mas, aku menjaga jarak juga dengan mas Bagas,mas," kata Mira meyakinkan Aria.


Aria masih menatap Mira dan terdiam.


" Mas.. marah denganku karena mantan suamiku datang di saat mas tidak ada ?" tanyanya sedih.


" Aku tidak mengundang ia datang mas, mas Bagas datang sendiri, aku pun kaget," kata Mira mengulang bicaranya untuk meyakinkan Aria.


" Aku tidak bohong mas, bisa tanya para pegawai apa aku dekat- dekat dengan mas Bagas, aku tidak mau lagi mas, aku masih ingat sakit hatiku dulu dikhianati, diselingkuhin mas," kata Mira mulai meneteskan air mata.


Dilihatnya Aria yang terus terdiam, lalu Mira pun menangis tersedu- sedu karena sikap Aria yang terdiam.

__ADS_1


Aria yang menatap Mira merasa iba, lalu berkata," Mira .. aku percaya padamu, apa yang sudah kamu katakan semua, aku percaya kamu tidak akan meladeni mantan suamimu lagi, aku percaya kamu sudah jaga kesetiaanku dengan baik, aku bangga padamu Mira," kata Aria


" Sudah jangan menangis, hapus air matamu, aku tidak mau melihatmu menangis, kamu harus tersenyum terus, aku merasa senang bila melihatmu tertawa, " kata Aria sambil berdiri dan memeluk Mira.


Mira merasa ingin menangis lagi dan ia pun menangis di dada Aria.


" Sudah.. sudah .. kok kamu jadi cengeng begini Mira, aku tidak marah padamu, aku mencintaimu, sangat mencintaimu," bisik Aria lembut di telinga Mira.


Mira mencium bau badan Aria yang segar dan timbul hasratnya ingin dicium Aria.


Aria yang melihat itu membawa Mira ke kamar. Ia ingin Mira bahagia dan ia pun melepaskan rindu dan cintanya pada Mira.


Mereka terhempas dalam buaian cinta dan terkapar menikmati semua itu.


Aria mencium pipi dan bibir Mira dengan lembut.


Mira tiba- tiba merasa pusing kepalanya dan ia mual. Aria yang melihat itu panik, ia menyangka Mira sakit atau karena tadi Mira menangis terus sehingga Mira tidak enak badan.


Ia memanggil simbok untuk membuatkan teh panas.


Ia mengelus rambut Mira dengan kasih sayang dan ketika ia akan mencium kembali bibirnya, Mira lalu dengan cepat mendorong tubuh Aria lalu berlari ke kamar mandi dan muntah- muntah.


Aria bingung, ia pun mengajak Mira untuk ke dokter. Aria cemas Mira sakit.


Akhirnya Mira mau ke dokter dan sepanjang perjalanan ia hanya terdiam dan bersandar pada tubuh Aria.


Rasa pusingnya tak tertahankan dan ia pun sendiri bingung kenapa tiba- tiba ia merasa pusing dan lemas serta mual.


Apa karena ia banyak menangis atau karena tadi mereka berdua saling melepas rindu dengan bersatu atau karena ia mencium bau badan Aria ? Pertanyaan itu berkecamuk terus dalam hatinya.


Ia merasakan sesuatu yang lain dalam tubuhnya. Ia merasa dirinya dulu pun seperti ini. Tetapi ia tak berani menyimpulkan lebih dahulu karena ia tak mau gegabah.


Tapi bila memang itu yang terjadi, hanya rasa syukur yang ingin ia sampaikan pada Tuhan.

__ADS_1


***


__ADS_2