
Bagas menghela napas, lalu ia menjawab apa yang ditanyakan oleh pak polisi itu.
" Ya anda salah, karena telah merugikan perusahaan saya.
Saya tidak pernah tahu Andi akan merekrut kamu Desi, orang yang menurut saya tidak bisa bekerja.
Saya selalu merekrut orang yang bisa bekerja sama dengan team saya di semua bidang.
Pekerjaan yang dilakukan dan dikerjakan harus sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Bila ada yang melakukan kesalahan bagi saya yang dapat membuat omset perusahaan turun dan merugi saya tidak dapat memaafkannya.
Karena itu saya marah dan memecat kamu Desi. " kata Bagas tegas.
" Pak Bagas.. pertanyaan saya ada yang belum terjawab pak, mengapa saya selalu salah di mata bapak. Itu yang saya mau tahu.
Saya tidak apa di pecat oleh bapak, karena saya pun sudah mengundurkan diri sebelum bapak pecat.
Yang saya mau tanyakan, apa saya punya salah pada bapak sehingga bapak demikian membenci saya seperti itu ?" tanya Desi dengan menatap Bagas.
" Bagi saya, kamu tidak becus bekerja, jadi ya kamu buat salah saya marah. Itu saja. " kata Bagas menatap tajam Desi.
" Baiklah pak Bagas, kasus ini kita akan telusuri sehingga jelas.
Karena bapak sudah membawa kasus ini ke jalur hukum, maka kita pun akan menempuh jalur ini.
Untuk hari ini cukup dulu, saya baru sedikit mendapat gambaran tentang persoalan ini.
Besok mungkin saya akan memanggil Andi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Sekarang silahkan pak Bagas dan saudari Desi pulang, data laporan yang sudah ada cukup lengkap dan nanti akan di beritahu selanjutnya. " kata pak polisi yang bernama Benny.
" Baik pak, saya permisi pulang. Bila ada yang perlu ditanyakan silahkan hubungi di nomor telepon saya yang tadi sudah saya berikan di awal pak," sahut Bagas.
Pak Benny pun mengangguk.
Lalu ia menatap Desi dan mengatakan untuk Desi boleh pulang dan Desi pun permisi pulang juga.
__ADS_1
Sesampainya di depan mobil Bagas menunggu Desi .
Ketika Desi lewat Bagas pun menawarkan untuk mengantar Desi pulang.
Tetapi Desi yang sudah terluka hatinya menolak halus tawaran Bagas.
" Desi.. kamu mau pulang dengan saya, akan di antar sampai rumah. " kata Bagas.
" Tidak perlu pak. Terima kasih. Maafkan segala kesalahan saya yang membuat perusahaan merugi. " sahut Desi seraya berjalan kembali.
" Tidak usah kamu sok Desi, aku tahu kamu pasti butuh tumpangan, kamu sudah membuat perusahaan rugi, sekarang saya niat antar kamu dengan tulus kamu jual mahal. " seru Bagas sambil melotot marah.
Desi menatap Bagas dengan heran, ia semakin tak mengerti harus bagaimana.
Ia menolak untuk ikut tumpangan pak Bagas karena ia tak mau terus diomongin sepanjang jalan hanya gara- gara membuat rugi perusahaan.
Ternyata ia menolakpun Bagas tetap marah.
Ia jadi serba salah dan akhirnya menghela napas lalu berjalan kembali menuruti kehendak hatinya.
Ia merasa aman dengan berdiam dan menjauh darinya.
Desi terus berjalan menuju rumahnya.
Ia harus fokus mengurus ibunya yang masih sakit.
Obat yang sudah dibeli kemarin cukup untuk ibunya bertahan dari kesakitan.
Ia berpikir bila ibunya sampai besok masih seperti itu maka akan dibawa Desi berobat ke rumah sakit untuk dapat perawatan yang lebih baik.
Walau hatinya sedih karena ia mendapat tuduhan yang tidak pernah ia lakukan tanpa suruhan atasannya, ia tetap menunjukkan wajah yang bergembira bila pulang, seolah ia tanpa beban di mata ibunya.
Keesokan harinya pak Andi terlihat ada di kantor polisi, ia sedang dimintai keterangan oleh poliai terkait laporan Bagas yang menuduh Desi sudah membuat rugi perusahaan.
Pak Andi menjelaskan semuanya secara tepat, ia pun awalnya menuduh Desi telah merugikan perusahaan tetapi ternyata setelah ia berbicara dengan Desi sendiri, ia pun menyebut Desi dikhianati oleh staff yang lainnya, yaitu Krisna untuk menjual semurah- murahnya.
Dan Desi pun mengikuti anjuran Krisna agar penjualan sebanyak- banyaknya untuk supaya barangnya cepat laku dan habis.
__ADS_1
Polisi mendengarkan dengan cermat dan akhirnya mengambil kesimpulan untuk memanggil Krisna datang ke kantor polisi untuk di mintai keterangan.
Sementara itu dikediaman Bagas, dia gelisah dengan sikap Desi yang tak menyambut baik uluran tangannya.
Ada terbersit dalam hatinya ingin berdamai dan tidak memusuhi lagi Desi, tetapi ketika ia ingat harga dirinya yang ia rasa tidak dihargai Desi membuat ia berpikir ulang untuk berdamai.
Tiba- tiba ponselnya berdering.
Dilihatnya nama pak Andi, segera digesernya icon hijau dan diterimanya.
" Halo Andi.. ada apa? " tanyanya.
" Selamat malam pak, maaf menganggu . Saya tadi siang di panggil ke kantor polisi untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya.
Saya memberikan keterangan sesuai dengan yang saya dengar dari Desi beberapa hari yang lalu sebelum Desi di bawa bapak ke kantor polisi. Ternyata Desi itu tidak tahu pak tentang omset perusahaan yang merugi, malah Desi bilang ia di suruh Krisna untuk menjual barang semurahnya karena banyak stock menumpuk di pabrik.
Jadi ini inisiatif Krisna untuk menghianati bapak sehingga perusahaan merugi. " kata Andi menjelaskan.
" Hmm .. memang ada dia cerita bahwa ia di suruh Krisna, ia tak menduga Krisna seperti itu. Ada Desi mengaku di depan polisi itu bahwa Krisna yang suruh. Tetapi aku tidak percaya itu karena Krisna itu salah satu karyawan kita yang jujur dan selalu beres tugas- tugasnya bila di suruh, masakan demi uang yang tak seberapa ia mau melakukan semua itu yang mana ia akan mempertaruhkan segalanya demi niat jahat itu. ," kata Bagas dengan heran.
" Entahlah pak, saya juga kurang tahu apa motif dan rencana Krisna pada perusahaan kita ini. Ia seperti sengaja untuk membuat perusahaan kita hancur dan bangkrut. Kita dengarkan saja pak apa yang akan dikatakan Krisna bila nanti ia di panggil untuk memberikan keterangan. " sahut Andi.
" Baguslah.. mudahan cepat selesai kasua ini. sehingga aku pun tahu alasan kenapa Krisna berbuat seperti itu. " jawab Bagas.
" Ya pak, nanti bila Krisna di panggil, saya akan ikut hadir mendengarkannya, sehingga kita tahu dan bisa mengambil kesimpulan dari apa yang telah dilakukannya. " jawab Andi.
" Baik.. lakukan yang menurutmu terbaik Andi. Aku percaya padamu kau tak mungkin akan mendiamkan siapa yang salah. Kita harus mencermati semua yang dilakukanya. Kita harus menindak siapa yang salah dan melindungi yang benar. " sahut Bagas seraya menatap Andi.
" Baik pak. .saya siap. Kalau nanti ada perkembangan kasus ini, saya akan laporkan lagi pada bapak. Terima kasih pak, selamat malam. " kata Andi seraya menutup telepon.
Bagas terdiam, ada perasaan bersalah telah kelewatan menuduh Desi tanpa ia mendengar lebih dahulu apa yang terjadi, ia lebih menuruti emosinya dibandingkan akal sehatnya untuk mendengar dan menyimak alasan serta kebenaran Desi.
Rasa penyesalan itu membuat ia tidak bisa untuk tidur.
Besok ia bertekad menjemput Desi dan berbicara untuk menyampaikan permintaan maafnya telah menuduh dan membawa paksa Desi ke kantor polisi beberapa waktu yang lalu.
***
__ADS_1