
Mira bersiap- siap menghadiri sidang yang akan di mulai hari ini jam 10.
Antara rasa sedih, senang, deg- degan juga kuatir datang silih berganti menghantui perasaannya.
Ia merasa siap tapi sebenarnya tidak siap, tidak siapnya karena sebentar lagi akan menyandang status janda, itu bukan hal yang segampang orang bicara, di sini ia harus membatasi sikap dan tindakannya agar tidak diomongin orang, ia harus berjuang untuk kebutuhan hidup anaknya walau mertua dan suaminya menjamin kehidupan anaknya, tetapi sampai kapan ini akan terus dilakukan Mira tidak tahu.
Siapnya Mira ialah ia akan berpisah dan ia tidak akan tersakiti lagi melihat sikap dan tindakan Bagas.
" Mir... kita mau berangkat sekarang ?" tanya Sari membuyarkan lamunan Mira.
" Ya kita pergi sekarang, mana Neni dan Yunia?" tanyanya.
Mira memanggil Neni dan Yunia untuk segera masuk mobil, mereka akan berangkat ke pengadilan.
Sampai di sana, Bagas dan orangtuanya sudah menunggu. Perhatian Bagas tersita pada anak kecil yang sedang digandeng oleh Mira.
" Yunia... Yuni.. sini nak, ini papa," sahutnya berlari kecil menuju anaknya.
Ia langsung menggendong, memeluk dan menciumi anaknya.
Ada rasa kangen dan terharu melihat anaknya yang sudah tak dilihatnya selama hampir 3 bulan.
" Sayang...ini papa nak, Yunia masih ingat papa?" tanyanya seraya mencium pipi cabby anaknya.
Yunia mula- mula takut, ia melihat Neni dan Mira. Mira menggangguk dan berkata," Itu papa nak, papa Yunia," katanya.
Yunia terus memperhatikan wajah Bagas dari dekat, ketika Bagas memeluknya, ia pun berkata dengan pelan," papa... papa.. " Bagas yang mendengar langsung memeluknya erat dan mengeluarkan air mata.
Ia sangat senang dan terharu anaknya masih mengenalinya.
Semua yang di situ terdiam menahan haru melihat moment perjumpaan antara anak dengan papanya.
Mira pun terharu, ia menunduk menahan air matanya, ia sebenarnya tak ingin memisahkan antara anak dan papanya, tetapi untuk kebaikan mereka berdua, Mira mengambil jalan itu.
Rianti pun menghampiri dan berkata," Cucu oma, sudah pintar sekali, Oma kangen " katanya juga seraya memeluk Yunia.
Bagas memberi kesempatan untuk mama dan.papanya memeluk melepas kangen pada Mira.
Setelah kangen- kangenan, mereka pun mulai masuk ke ruangan sidang karena akan di mulai.
Mira berpesan pada Neni untuk berhati- hati menjaga Yunia di belakang tetapi masih satu ruangan.
__ADS_1
Tetapi bila Yunia rewel bisa di bawa keluar sebentar.
Mereka berdua Mira dan Bagas saling sapa dan tersenyum sebelum duduk, akhirnya di bacakannya putusan hakim pada Mira dan Bagas.
Ketika palu di ketok tanda berakhirnya mereka berdua, Mira menangis, Bagas tepekur diam menunduk.
Bagaimana pun kebersamaan itu pernah mereka lalui berdua, suka dan duka bersama, masa yang indah sebelum Bagas merobeknya dengan memasukkan pelakor ke hatinya yang terdalam, membuat rumah tangganyanya hancur oleh karena ulahnya yang tidak setia.
Bagas menghela napasnya, terasa berat, tetapi harus di jalani. Dan mulai saat ini mereka menyandang gelar bukan suami - istri lagi.
Setelah selesai sidang, Mira pun pamit pada Rianti dan Yanto. Mereka memeluk Mira dengan berat hati, enggan melepaskannya.
Yanto banyak memberi nasehat pada Mira, dan Rianti pun memohon untuk Mira dapat membawa Yunia 1- 2 bulan sekali mengunjungi mereka. Mira menyetujuinya, baginya yang terpenting Mira tidak melupakan mereka karena adanya ikatan cucu bagi mereka berdua.
Bagas datang menghampiri Mira, ia melihat pada Mira, tatapannya sendu, ada rasa sedih yang tak dapat diungkap oleh Bagas mengingat kenangan mereka saat masih bersama.
Mira telah memilih untuk berpisah dan pilihannya tidak dapat digoyahkan, karena itu Bagas hanya dapat membiarkan semua kenangan akan menghilang dari benaknya sejalan waktu.
" Mira... sekali lagi mas minta maaf ya atas semua kesalahan mas pada Mira, apapun itu yang sudah membuat kamu kecewa dan sakit hati mas minta lupakan, sambut bahagiamu di depan sana, mas doakan yang terbaik untukmu Mir," sahutnya pelan.
Mira menunduk lalu berkata," Ya mas, walau kita sudah bukan suami istri lagi, aku pun mendoakan mas untuk tetap bahagia dengan Intan, aku lebih baik meminta berpisah mas agar hatiku tidak bertambah sakit, kita saling berdoa untuk kehidupan kita masing- masing ke depannya.
" Ya Mir.. jaga baik- baik Yunia ya, aku sayang padanya, " kata Bagas.
" Aku pulang ya mas, masih ada urusan aku untuk besok," kata Mira.
Mereka pun akhirnya berpisah dan Mira kembali ke Semarang.
Di kediaman Aria
Aria memberitahukan mamanya tadi pagi bahwa hari ini tidak ada katering dari tempat Mira.
Lena, ibu Aria heran dan bertanya.
" Kenapa hari ini katering Mira tidak mengirim masakan untuk mama?," tanya Lena.
" Ya ma, kemarin mbak Mira itu telepon bahwa ia ada urusan ke Jakarta, dan hari ini pulang. Besok dikirim lagi ma, hanya hari ini saja, mama mau makan di luar?," tanya Aria yang kebetulan libur hari ini.
" Jadi kalau hari ini tidak dikirim, nanti di ganti hari kah Aria? " tanyanya.
" Iya ma, mbak Miranya janji seperti itu," katanya.
__ADS_1
" Oh baik lah, karena mama senang sekali dengan masakan dari katering Mira, nanti kapan- kapan kenalin ya Aria mama dengan Mira." sahutnya.
" Hmm baik ma, ayo kita siap- siap makan di luar," kata Aria semangat.
Mira telah sampai di Semarang, di rumah. Ia sedang melepas lelah karena perjalanan yang panjang.
Badannya cape apalagi hatinya, ia harus mempersiapkan diri untuk memasak katering besok.
Neni dan Yunia telah tidur karena kelelahan.
Tiba- tiba ponselnya berbunyi, ia melihat nama yang ada pak Aria.
" Halo pak Aria, " sapa Mira.
" Malam mbak Mira, apa sudah di rumah?" tanyanya.
" Sudah pak, tadi sekitar 1 jam yang lalu sampai," katanya.
" Bagaimana apa semua lancar mbak tadi persidangannya?, " tanya Aria.
" Ya pak.. bersyukur lancar," katanya.
" Mbak Mira, besok berarti bisa ya kateringnya di ambil ?" tanya Aria lagi.
" Bisa pak, besok jam 11.30 suruh saja supir ambil pak, mohon maaf ya tolong bilang pada mamanya bapak, karena hari ini tidak kirim masakan." kata Mira.
" Ya tadi memang mama tanya, jadi saya jelaskan, untung mama mengerti, tetapi minta untuk hari sabtu dimasakin khusus bu untuk mama," katanya.
" Oh, mamanya bapak minta apa, nanti saya masakin," katanya Mira.
" Apa saja mbak, yang paling penting saya sudah senang bila mama bahagia, jadi terserah mbak saja," kata Aria tertawa.
" Baik pak, nanti saya buatkan yang istimewa untuk mamanya bapak ya," kata Mira tertawa juga.
" Terima kasih mbak Mira mau menjawab telepon saya, ini sudah malam, selamat istirahat mbak," kata Aria.
" Malam juga pak Aria," sahut Mira seraya menutup telepon.
Mira pun menuju kamarnya, ia ingin segera tidur karena kantuk menyerangnya. Tapi ia merasa senang dan bahagia malam ini, entah kenapa ..
***
__ADS_1