Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 94. Menunggu Hari


__ADS_3

Bagas pagi itu sebelum berangkat bekerja berjanji besok akan test DNA untuk Dion.


Intan hanya mengangguk pasrah dan menyetujui karena ia ingin memberi bukti bahwa Dion memang anak Bagas.


Siang itu di tempat kerja, Yanto menelepon Bagas untuk menanyakan tentang pekerjaannya.


" Halo Gas, lagi apa kamu ?" tanya Yanto.


" Halo pa, Bagas lagi mau makan siang ini," kata nya.


" Makan siang sama papa aja ya, di cafe dekat kantor, sekalian papa mau bicarakan pekerjaan," sahutnya.


" Oke pa, jam 1 siang ya pa," jawab Bagas.


Yanto pun setuju dan menutup telepon.


Sebelum jam 1 Bagas sudah bergegas pergi menuju cafe itu, ia tak mau papanya yang menunggu.


Hanya 5 menit Bagas menunggu papa, dan tak lama papa datang.


Mereka berdua memesan makanan dan terlibat pembicaraan masalah pekerjaan.


Taklama makanan datang lalu mereka makan tanpa berbicara lagi.


Setelah makan papa memulai pembicaraan.


" Gas.. kamu sibuk hari- hari ini sejak punya Dion?" tanya papa.


" Ya sibuk kalau di kantor saja pa, kalau di rumah tidak terlalu sibuk, karena Intan bisa mengatur Dion dengan baik, hanya besok Bagas ijin tidak bekerja mau ke rumah sakit pa," katanya.


" Kontrol Dion atau istrimu ?" tanya papa.


" Bukan pa, mau test DNA ," kata Bagas.


" Kenapa mau test Gas, apa kau pun ragu itu anakmu?" tanya papa lagi.


" Sebenarnya Bagas sih yakin itu anakku pa, tetapi Intan ingin membuktikan pada papa dan mama bahwa itu memang anak kami pa," sahut Bagas.


" Hmm...ya lebih baik memang test saja, untuk meyakinkanmu, karena papa dan mama juga melihat wajah Dion itu tak ada mirip denganmu Gas," kata papa.


" Ya pa, hanya untuk memastikan saja agar aku dan Intan tenang," kata Bagas.


Mereka pun berbincang lagi tentang pekerjaan, dan kemudian Yanto menyudahinya karena iapun ada yang harus dikerjakan.


Mereka pun berpisah.


Dikediaman Mira


Mira hari ini sangat sibuk, dari pagi ia memasak untuk pesanan sebuah kantor dan harus selesai jam 11 siang ini.


Dari tadi peluh bercucuran di keningnya, dengan di bantu oleh 1 orang asisten nya ia kadang tetap merasa kewalahan. Karena di samping kualitas rasa, ia pun mementingkan kemasan yang bagus sehingga pelanggan akan merasa puas dengan pelayanannya.

__ADS_1


Di tengah kesibukannya, ponselnya berdering, ia tak sempat mengangkatnya karena tak fokus pada handphonenya.


Ia tetap asyik memasak dan setelah memasak ia menatanya dengan sebaik mungkin.


Tepat pukul 10.30 semua telah selesai. 80 porsi kotakan sudah terbungkus rapi. Ia tersenyum dan berkata pada asistennya untuk menaruh di meja makan dan merapikan dapur, sedangkan ia menuju kamar mandi untuk mandi


karena badannya lengket oleh keringat.


Setelah mandi, ia berniat menghubungi orang yang akan mengambil makanannya.


Setelah dihubungi ternyata orangnya sudah di jalan menuju ke rumah Mira. Hatinya senang dan lega karena pekerjaannya sudah selesai.


Matanya tiba- tiba tertuju pada chat panggilan tak terjawab.


Ia pun membukanya dan melihat.


Ada nama Aria di situ, ia melihat jam panggilan ternyata 1 jam yang lalu Aria memanggilnya.


Mira menulis pesan di chat pada Aria.


" Srlamat siang pak, maaf tadi saya lagi memasak. Ada apa pak?" tulisnya.


5 menit kemudian chat masuk dari Aria.


" Mbak sekarang lagi apa? Masih masak?" tulis Aria.


Mira pun membalasnya " Sudah selesai pak, tinggal nunggu yang ambil pesanan, juga lagi nunggu supir bapak untuk ambil masakan makan siang ibunya bapak," tulisnya lagi.


Lalu diangkatnya," Ya halo pak.. ada apa ya ?" tanyanya.


" Bisakah mbak yang antar masakan ke rumah? nanti supir saya jemput mbak, mama sakit jadi tidak mau makan dari semalam, mungkin bila mbak yang antar dan suruh mama makan, mama mau makan, saya kuatir mbak mama kenapa- napa," sahutnya dengan nada cemas.


Mira berpikir sejenak lalu ia berkata,


" Saya masih menunggu orang yang mau mengambil pesanan makanan saya pak, katanya mau ambil jam 11 siang ini, nanti bila sudah datang, saya akan ke sana pak," katanya.


" Kalau begitu saya suruh supir saya berangkat lebih lambat dari biasanya ya mbak, biar tidak terlalu lama menunggu," katanya.


" Ya silahkan saja pak," katanya.


Mira menunggu orang yang mau datang mengambil masakannya, sampai jam 11 lewat orangnya belum datang. Tepat jam 11.30 orangnya datang dan mengambil serta membayar makanannya.


15 menit kemudian supir Aria datang dan menjemput Mira untuk ke rumah Aria.


Mira pamit pada ibunya dan mengatakan bahwa ibunya Aria sakit dari kemarin. Mira berniat menjenguknya.


Sari terlihat menyunggingkan senyuman di bibirnya ketika Mira bercerita dan pamit pergi.


Sari menatap Mira yang pergi dengan harapan ada masa yang terbaik untuk anaknya yang sudah mulai pulih luka hatinya.


Mira telah sampai di rumah Aria, ia di sambut asisten rumah tangga di situ, dipersilahkannya Mira untuk masuk dan duduk.

__ADS_1


Inah pembantu Aria berkata," Mbak.. apa mau langsung ke kamar nyonya? tadi den Aria ada pesan untuk menanyakan ini pada mbak," sahutnya.


" Ibu tidur ?" tanyanya.


" Ibu baru bangun tadi habis tidur, barusan tadi saya masuk memberi jus kesukaannya, tetapi ibu diam saja," katanya.


" Baik, saya akan mencoba masuk, kamu tolong siapkan makanan untuk ibu, bawa ke dalam ya, nanti saya yang suapi," katanya Mira.


" Tolong kamu ketuk pintu kamar ibu dan dampingi saya, nanti bila saya sudah ketemu ibu baru kamu keluar siapkan makanan," kata Mira.


" Baik mbak," sahut Inah.


Mereka berduapun berjalan menuju kamar Lena.


Tok Tok Tok..


" Permisi nyonya menganggu, ini ada mbak Mira mau ketemu nyonya," sahut Inah pelan.


" Mira... Mira yang katering itu ya?" sahut Lena.


" Ya bu, ini saya Mira," sahut Mira mendatangi ibu Lena.


" Ibu kenapa sakit ?" tanya Mira.


Lena mengangguk dan berkata," Saya dari kemarin tak ada mau makan badan saya sakit semua, juga lemas," kata Lena.


" Ibu sudah ke dokter?" tanya Mira.


Lena menggelengkan kepalanya lalu berkata," Belum. Aria sibuk terus, suami ibu juga baru pulang 2 hari lagi," katanya.


" Ibu mau makan ya, sebentar Inah bawa makanan, nanti saya suapi," kata Mira tersenyum.


Lena mengangguk.


Kemudian Inah membawa makanannya dan Mira mulai menyuapi Lena makan.


Dengan telaten Mira menyuapi seraya sesekali mereka berdua saling berbicara tentang mereka.


Ketika Mira sedang menyuapi, Aria masuk dengan tergesa, ia sangat kuatir dengan mamanya.


Langkahnya terhenti ketika melihat betapa telatennya Mira menyuapi mamanya. Ada rasa haru melihatnya. Ia ingat mendiang istrinya pun selalu menyuapi Lena bila mamanya sakit.


Lena melihat ke pintu dan memanggil Aria," Hei Aria, kenapa berdiri di situ, sini, temani mama, masa Mira saja yang temani mama," kata Lena memanggil.


Aria tersadar dari lamunannya lalu beranjak menghampiri mamanya dan Mira.


" Mbak.. terima kasih ya mbak, mbak sudah mau repot-repot datang dan menyuapi mama yang sakit, saya sangat berterima kasih," sahutnya dengan badan sedikit dibungkukkan.


" Tidak apa pak, yang penting ibu Lena mau makan dan habis sehingga ada kekuatan untuk tetap sehat," kata Mira tersenyum.


Lena pun tersenyum melihat Mira yang tulus mau menolongnya di mana Mira bukan siapa- siapa mereka hanya orang yang memasak katering untuk keluarganya.

__ADS_1


***


__ADS_2