
Besoknya Intan terbangun dengan tubuh letih.
Semalam ia tak dapat tidur, merintih kesakitan.
Bu Marsih yang melihat dan mendengar dari semalam Intan kesakitan berupaya ingin membawa Intan ke rumah sakit untuk di periksa.
" Bu.. bukannya Intan tidak mau ke dokter, tetapi memang tubuh Intan ini sudah tidak kuat, kanker ini sudah mengerogoti Intan bu, jadi biar Intan di rumah saja, masih ada obat penahan sakit yang diberikan dokter padaku," kata Intan pelan.
" Intan, walaupun kamu sudah divonis dokter seperti itu, tidak ada salahnya kamu berobat agar dokter memeriksa apakah semakin parah atau akan ada perbaikan di tubuhmu," kata Darso seraya duduk minum kopi.
" Periksalah nak, agar kami juga tahu sakit kamu," kata bu Marsih sedih.
" Baik bapak dan ibu Intan akan periksa besok ya," katanya.
" Tidak besok, kelamaan. Nanti sore saja biar bapak dan ibu antar kamu ke dokter. Biar Dion nanti di titip dulu pada ibu Marni tetangga depan kita," kata pak Darso kembali.
Intan menggangguk dan ia permisi beristirahat lagi karena tubuhnya yang sangat lemas, beruntung Dion dari semalam tidak rewel, ia seolah mengerti ibunya sedang sakit.
Sore itu Intan pun diperiksa dokter, diperiksa dengan teliti.
Dokter pun mengatakan bahwa memang penyakit Intan sudah mengerogoti tubuhnya.
Kemungkinan untuk hidup tak akan lama lagi, bersyukur apabila masih bisa hidup 1 tahun lagi, tetapi dokter berkata sepertinya sudah dalam hitungan bulan, tetapi berserah saja pada pemilik sang kehidupan.
Ibu dan bapak menangis mendengar itu, mereka seolah tak percaya akan semua yang telah menimpa Intan.
Dalam pikiran mereka keadaan Intan itu di ambang kematian seolah sudah mendekat. Karena itu mereka menangis tidak percaya vonis dokter.
Intan menguatkan hatinya untuk tegar, ia ingin meminta maaf pada orang- orang yang sudah ia sakiti sebelum ia makin terpuruk sakit.
Setelah pulang dari dokter, ia banyak terdiam. Ia sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Bapak dan ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga, dihampirinya.
" Ibu dan Bapak .. Intan ingin meminta maaf, Intan banyak salah dan mengecewakan ibu dan bapak selama ini, Intan sudah membuat malu dan Intan banyak dosa bu, Intan anak yang tidak bisa menjaga nama baik keluarga, maafkan Intan.." sambil ia bersujud dan ia mencium kaki ibu dan bapaknya.
" Maafkan Intan.. ibu dan bapak sudah mau menjadi pengganti orangtua Intan selama ini, tetapi Intan membuat kecewa dan marah kalian.. maafkan aku bu, pak.. " katanya menangis terisak- isak di bawah kaki mereka.
Ibu Marsih dan bapak Darso pun menangis, mereka merengkuh tubuh kurus Intan dan memeluknya.
" Bertobatlah nak selama masih ada waktu, bila Tuhan kehendaki umurmu tak lama, berusahalah kembali untuk meminta ampunan Tuhan. Agar ketika sampai waktumu, dosamu sudah diampuni dan jalanmu lapang kembali pada Nya. " kata bapak Darso memeluknya erat.
" Ya pak.. aku akan bertobat, aku akan kembali pada apa yang sudah ibu dan bapak ajarkan padaku sewaktu kecil. Aku ingin nanti bila kematian itu menjemputku aku sudah bertobat. "
kata Intan sambil tersedu.
Ditatapnya ibu dan bapaknya, lalu ia berkata,
" Aku ada satu permintaan ibu, bapak sebelum aku sudah tidak bisa apa- apa lagi ," kata Intan masih berurai air mata.
" Apa ?" tanya mereka serentak.
Jujur di hatinya ia sangat berat untuk meninggalkan Dion bila nanti ajal menjemputnya. Selama ini beban pikirannya hanya memikirkan nasib Dion bagaimana nanti setelah ia tidak ada.
Akhirnya terlintas untuk datang pada bapak dan ibunya, sebelum akhirnya keputusan akhirnya nanti akan menitipkan Dion di panti asuhan bila bapak dan ibunya menolak mengasuh Dion.
" Intan.. jangan berpikir yang macam- macam dulu, memang tadi bapak dan ibu sempat berpikir kamu akan meninggal nak, tapi semua itu kuasa Tuhan nak, jangan kamu mendahului kehendakNya," kata bu Marsih.
" Bu.. penyakitku ini sudah parah bu, tubuhku kadang sudah tidak kuat, penyakit ini semakin lama semakin mengganas dalam tubuhku, aku memikirkan anakku bu, bila nanti ajalku sampai di sini, aku ingin tenang pergi karena aku sudah tahu siapa yang mengasuh Dion.
Karena itu aku kembali pada bapak dan ibu, bila kalian mau mengasuh Dion aku akan tenang menjalani hari- hari terakhirku, tetapi bila ibu dan bapak tidak mau mengasuh Dion, aku akan menitipkannya pada panti asuhan." katanya seraya mengusap airmatanya.
Bu Marsih menangis keras mendengar kata- kata Intan.
__ADS_1
" Intan.. jangan bicara begitu nak, kamu sudah ibu anggap anak sendiri dari dulu, masa ibu tidak mau merawat dan mengasuh Dion yang adalah anakmu sendiri. Ibu bersedia merawat Dion. Ibu akan anggap itu cucu ibu sendiri," katanya dengan menjerit dalam kesedihan yang dalam.
" Ya Intan.. bapak akan didik Dion di jalan yang benar, agar kelak dewasa ia tidak salah jalan sepertimu," kata Darso pelan.
" Terima kasih bapak dan ibu, beban pikiranku sudah berkurang satu, aku lega bila nanti saatku tiba, aku percaya Dion akan bertumbuh dengan baik di tangan ibu dan bapak, terima kasih," kata Intan seraya mencium tangan ibu dan bapaknya.
Dion yang sedari tadi ada dekat Intan bingung, karena ibunya menangis terus juga kakek dan neneknya.
" Mama .. kenapa menangis, Dion jadi ikut sedih lihat mama menangis?" tanyanya.
" Dion.. mama nanti akan pergi jauh suatu hari, Dion nanti akan tinggal bersama kakek dan nenek ya, jangan nakal, kamu harus jadi anak kuat, harus jadi anak baik, buat mama selalu tersenyum ya sayang," katanya pelan seraya memeluk Dion.
Airmatanya mengalir kembali.
" Mama mau pergi kemana? Dion ikut, Dion nggak mau ditinggal," katanya mulai menangis.
Darso yang melihat itu lalu mengajak Dion untuk pergi ke depan melihat ada tukang makanan yang lewat. Ia tak mau Dion menangis melihat ibunya seperti itu. Karenanya ia mengalihkan perhatian Dion agar tidak sedih.
" Intan.. bangunlah nak, sudah jangan menangis lagi. Kamu tidak boleh larut dalam kesedihan. Kamu harus gembira dan nikmati hidupmu itu dengan baik, berbuat baik, maka kamu akan merasakan sesuatu yang membuatmu semangat kembali." kata bu Marsih menyemangati Intan.
" Ya bu... aku akan berusaha terus agar nanti hidupku akan semakin baik, besok aku akan ke makam ibu, aku mau lihat ibuku, ibu yang melahirkan dan membesarkanku sampai aku sekokah dulu, nanti ibu antar aku ya besok," kata Intan pada Marsih.
" Ya besok ibu antarkan ya, sekarang kamu mandi, terus makan dan istirahat. Kamu sudah lelah dari tadi. " kata bu Marsih mencium kening Intan.
Intan pun bergegas ke kamar mandi, air yang dingin menyegarkan tubuhnya. Membuatnya semakin semangat menjalani hari- hari ke depan.
Ia sudah tenang Dion ada yang mau merawat, besok ia akan ke makam ibunya, berdoa dan memohon ampun pada ibu kandungnya.
Setelah mandi ia mengambil waktu untuk berdoa, ia mengadukan semuanya pada Tuhan.
Ia memohon ampun dan meminta kekuatan Tuhan untuk menjalani hari- hari ke depannya dengan baik, menjalani sisa- sisa kehidupan dengan berbuat baik.
__ADS_1
Ia merencanakan untuk meminta maaf pada orang yang telah ia sakiti dan bohongi sebelum ia meninggal.
***