Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 104. Mira Harus Terima Kenyataan


__ADS_3

Hari- hari Mira sekarang di penuhi dengan kegembiraan. Usaha katering yang dirintisnya berjalan dengan baik. Mira dapat mencukupi kebutuhan hidupnya serta Yunia dari usahanya itu.


Mira sangat bersyukur melihat pertumbuhan Yunia yang sehat, anak semata wayangnya yang sangat ia sayangi.


Apalagi Yunia sekarang tambah pintar, bila Aria datang maka ia akan bermanja- manja dengan Aria dan selalu memanggil dengan sebutan papa.


Aria mencegah Mira yang selalu melarang Yunia bila memanggilnya dengan sebutan " papa" .


Seperti hari ini, Aria datang ke rumah Mira, Yunia yang melihatnya lalu berlari, memeluk dan memanggil nama papa.


" Mira... biarkan saja Yunia memanggilku dengan sebutan papa," kata Aria.


" Bukannya begitu mas.. aku nggak enak bila tetangga ngomong," katanya.


" Kok kamu jadi repot dengan omongan tetangga Mir, biarkan saja, mulut orang memang begitu nanti baru diam kalau aku sudah nikah," katanya.


" Maksudnya mas apa? memang apa mereka akan diam setelah mas nikah? Apa mas sudah ada calonnya? dan apa hubungannya dengan Yunia mas?" tanyanya heran.


" Ampun.. nanyanya banyak banget ," kata Aria.


" Ya habis mas juga kasih penjelasan sedikit jadi aku penasaran," kata Mira .


" Hehehe... mau di jawab satu persatu ya.. " kata Aria mulai bercanda.


" Apaan sih mas ini, memangnya kuis apa?" jawab Mira juga sambil bercanda.


Mereka pun tertawa berdua.


" Baik.. mas akan jawab, memang mas rencana akan melamar dan menikah dengan seorang wanita pilihan mas. Tetapi mas masih bingung apa wanita itu mau menerima mas yang sudah punya anak ini ?" tanyanya.


" Oh.. kapan mas akan melamar wanita itu. Nanti Mira akan bantu memasaknya mas," katanya lagi.


" Kalau memang wanita itu cinta mas, pasti ia juga mau menerima semuanya yang ada di dalam diri mas dan sekitar mas," katanya lagi.


Mira terdiam sejenak setelah bicara itu, hatinya terasa ada yang tidak enak dan terasa sedih ketika Aria mengatakan akan melamar seorang wanita.


Ia berusaha menutupi perasaan itu karena ia tahu diri ia bukan siapa- siapa Aria. Mereka baru berkenalan.


" Apakah kamu mau nanti hadir di acara lamaranku, Mira ?" tanya Aria menyelidik.


Mira mengangguk dan berkata," Mas kapan acaranya, nanti aku datang sekalian pesan masakan nggak ?" tanyanya berusaha untuk mengendalikan hatinya.


" Hmm ... boleh. Dandan yang rapi ya. Malu kan kalau nanti nggak cantik," kata Aria tersenyum.

__ADS_1


Mira terdiam.. hilang sudah mood nya. Dia hanya diam dan termenung saja.


Hatinya sempat melambung waktu- waktu itu, tetapi ternyata harapannya tidak seindah yang diimpikan.


" Mira.. maukah kamu luangkan waktu untuk ikut denganku membeli cincin untuk lamaranku?" tanyanya dengan hati- hati.


" Mas kok nggak beli sama mama saja, kan lebih baik nanti dipilihkan oleh mama," kata Mira menunduk.


Serasa tak sanggup lagi ia mendengarnya.


Mira akhirnya sadar, ia ternyata diam- diam mencintai Aria.


Ia melihat Aria sangat berbeda dengan Bagas.


Dari rasa kagum akhirnya timbul benih cinta dihatinya.


Dan hari ini ia harus siap untuk menjauh agar hatinya tidak tambah sakit karena orang yang ia cintai akan melamar wanita lain.


" Mama tadi bilang tidak bisa, karena ada urusan, justru aku ke sini untuk minta tolong kamu antar aku beli cincin. Mau ya antar aku Mir?" katanya mengharap.


Mira akhirnya bilang " Ya sudah.. ayo kita pergi beli, tapi sesudahnya aku pulang ya, tidak nemani kamu lagi mas, karena ada urusan juga," kata Mira mencari alasan.


" Oke.. nggak apa, yang penting aku diantar beli cincin," kata Aria.


Sesampainya di sana, Aria antusias sekali melihat cincin .


" Mira.. menurut kamu yang paling bagus yang mana cincinnya?" kata Aria.


" Terserah mas, kan mas yang tahu selera calon nya mas " kata Mira seraya melihat- lihat contoh cincin di etalase.


" Tolong pilihkan Mir.. yang paling bagus, yang paling kamu sukai, " kata Aria.


" Kok yang aku sukai mas? Kan selera berbeda?" tanyanya heran.


" Justru wanita dan pria itu suka tidak cocok bila memilih, jadi kalau selera yang kamu sukai pasti calonku juga suka, biasanya wanita itu seleranya sama," kata Aria.


Mira melihat dan akhirnya ada 1 yang sangat menarik hatinya. Bentuk cincin nya sederhana tapi unik menarik.


" Itu saja mas, sepertinya calon mas mudah- mudahan menyukai itu," kata Mira.


" Coba di jari mu Mir, karena calonku ini juga seperti kamu badannya dan tangannya," kata Aria.


" Mas yakin? nanti kekecilan loh," kata Mira.

__ADS_1


" Nggak.. aku yakin karena memang tangannya seperti kamu Mir," kata Aria.


Mira menunduk malu karena ternyata Aria sering melihat tangannya.


Mira pun langsung memakainya. Sangat pantas dan menarik ditangannya.


Aria pun langsung menyuruh membelinya dan membayarnya.


Setelah itu Aria pun meminta tolong untuk Mira membeli sepatu dan baju untuk calonnya.


" Mas... untuk sepatu dan baju lebih baik mas beli bersamanya saja, aku takut tidak cocok atau beda selera mas," kata Mira menolak untuk ikut terus dengannya.


Hatinya sudah sakit, tadi saja waktu beli cincin dia sudah tak tahan, tapi ia tahan - tahan karena merasa tak enak dengan Aria.


Ia akan merasa sangat malu bila Aria tahu hatinya yang sesungguhnya.


Ia harus tahu diri dengan statusnya sekarang, seorang janda.


Aria melihat wajah Mira yang jelas kesal dengan apa yang ia ingin belikan untuk calonnya, maka itu ia berkata," Maaf ya Mira.. aku lupa mungkin kamu kelelahan dan tidak suka untuk mengantar aku, jadi lebih baik aku antar kamu saja ke tempat urusanmu," kata Aria menatap Mira.


Mira menjawab," Tadi aku sudah bilang kan mas, aku bersedia untuk antar mas beli cincin, sesudahnya aku harus pulang karena ada urusan," kata Mira mengingatkan Aria.


" Baiklah.. kita pulang saja," kata Aria.


" Tidak usah mas, aku bisa pulang sendiri, mas mau beli baju dan sepatu dulu untuk calonnya kan, jadi mas tetap saja belanja, aku pulang naik taxi online saja, tidak apa mas," kata Mira seraya tersenyum.


Setelah bicara itu ia pun pamit lalu bergegas keluar dari toko cincin itu.


Aria yang melihat Mira pergi ia menghela napas.


Ia ingin tetap bersama Mira tetapi Mira yang ingin pulang lebih dahulu.


Di taxi online Mira meneteskan air mata, harapannya sudah sirna untuk memulai hidup baru dengan Aria.


Ia harus membunuh perlahan- lahan benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya.


Mulai sekarang ia tak boleh menyiram air cinta di hatinya agar tak bertumbuh makin subur.


Ia harus mematikan rasa cinta di hatinya agar tak ada lagi yang ia harapkan dan diukir namanya dihati.


Ia akan fokus kembali pada apa yang ditekuninya. Ia harus fokus pada anaknya Yunia yang saat - saat ini sangat memerlukan perhatian dan kasih sayangnya.


***

__ADS_1


__ADS_2