
Aria pun menunggu Mira yang baru tersadar dari pingsan nya.
Setelah Mira merasa tubuhnya enak dan segar kembali, Aria menanyakan padanya.
" Mira.. apa kita lanjut acara lamaran ini atau kita tunda dulu sampai kamu benar- benar sehat?" tanya Aria lembut.
" Lanjut saja mas, tanggung, aku sudah dandan rapi begini, mas juga sudah bawa seserahan segala, tiba- tiba di tunda kan nggak lucu mas," kata Mira.
" Benar kamu kuat, nggak akan pingsan lagi?" kata Aria mengejek Mira.
" Mas ini main- main terus dari tadi, benar aku siap," kata Mira.
" Siap apa?" tanya Aria meledek lagi Mira.
" Siap dilamar Aria Kusuma," katanya mantap seraya mengerling manja pada Aria.
Aria pun langsung memberitahukan orangtua mereka berdua untuk melanjutkan acara lamaran ini.
Maka mereka pun bersiap menuju ke ruang tamu kembali mengatur semuanya.
Aria menggandeng Mira keluar dari kamar dan membantu Mira duduk.
Maka acara lamaranpun berjalan dengan lancar.
Aria memasangkan cincin yang Mira sukai di jari manis nya Mira.
Mira tersenyum ketika dipasangkan cincin itu, ia ingat ia yang memilih cincin itu dan sekarang cincin itu ada di jarinya. Ia sangat senang melihatnya.
Setelah selesai acara, orangtua dan beberapa kerabat ada yang pulang, ada juga yang masih tinggal di rumah Sari.
Aria dan Mira berbicara di teras depan. Mereka masih membahas apa yang tadi terjadi .
" Mas.. kenapa mas ini tidak jujur padaku bilang bahwa mas mau melamar aku ? Bahkan mas bilang mau adakan acara lamaran ini dengan membawa calon istri mas. Mas sudah bohong padaku." kata Mira.
" Mas rasa mas tidak bohong padamu Mir, mas kan bilang mau beli cincin untuk calon mas, mas mau acara lamaran untuk melamar calon istri mas, apanya yang bohong coba?" tanya Aria menatap Mira.
__ADS_1
" Ya mas bohong, tidak mau kasih tahu siapa calonnya tiba- tiba mas mau melamar aku, ya kaget lah aku." kata Mira menyalahkan Aria.
" Kenapa tidak tanya pada mas, siapa calonnya mas? Kenapa percaya sepenuhnya pada mas? Memang mas tidak tahu betapa cemburunya kamu pada saat mas beli cincin untuk calon mas, Memang mas tidak tahu betapa sedihnya hati kamu ketika mas minta untuk masak acara ini ? Mas tahu sayang.. betapa cemburunya kamu, tapi dari situ mas tahu kamu mencintai mas walau pun kamu sembunyikan rapat- rapat rasa itu dari mas," katanya lembut di telinga Mira.
" Mas ini apaan sih, sok tahu memang mas peramal apa, tahu hatinya Mira," sahut Mira malu menutupi perasaannya yang sudah terbaca oleh Aria.
" Mas tahu semua, hatimu tak bisa bohongi sikapmu, ayoo masih mau nggak ngaku? Kalau masih mau tidak mengaku mas akan paksa buat kamu mengaku," katanya dengan senyum nakal.
" Memangnya kalau nggak mau mengaku mas mau apa? Mau bohongi lagi Mira?" tanya Mira.
Aria yang sudah gemas dengan Mira menoleh ke kiri dan ke kanan lalu ia mencium bibir Mira dengan lembut ketika Aria tahu tidak ada orang lain disekitarnya.
Mira yang tak menyangka dicium Aria hanya melongo melihat sikap Aria. Ia merasakan desir aneh di dadanya. Ia mendorong tubuh Aria lalu ia menunduk.
Aria yang melihat itu tertawa dan mengelus rambut Mira.
Mira merasa seperti anak gadis lagi yang baru pertama kali di cium. Dia tahu ia jatuh cinta kembali pada pria lain yaitu Aria.
Lalu mereka berdua tertawa dan bercerita lagi sampai menjelang tengah malam.
Akhirnya Aria pun pamit pulang karena tidak enak masih banyak kerabat Mira yang ada.
Malam itu Bagas tidak dapat tidur, pikirannya menerawang kemana- mana.
Ia teringat Mira dan Yunia. Ada rasa rindu teringat mereka berdua.
Ingin hatinya merasakan kembali perhatian dan kasih sayang Mira. Tetapi itu tak mungkin. Mira sudah pergi dan berpisah dengannya.
Ia merasa kehilangan Mira dan Yunia.
Rasa penyesalan selalu datang terlambat
Ia menyesal bertemu Intan yang akhirnya berujung dengan perpisahan dan ditipu dirinya.
Ia pun mencari nomor ponsel Mira. Ia ingin menanyakan Yunia.
__ADS_1
Ia pun meneleponnya, tetapi berkali- kali ia mendengar " Nomor telepon yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan saat ini, cobalah beberapa saat lagi," Ia pun menulis chat tetapi centang satu. Ia pun merasa Mira sudah mengganti nomor ponselnya.
Ia tak tahu lagi harus menghubungi Mira di mana." Mira telah melupakannya dan mungkin telah bahagia bersama orang lain. Yunia pun mungkin sudah lupa dengannya," batin Bagas berkata.
Ia menggigit bibirnya dengan keras, hatinya sedih, ia merasa seperti seorang diri di dunia ini, ia tak punya siapa- siapa lagi. Airmata menetes di ujung matanya, dengan cepat ia hapus. Sama seperti secepat ia menghapus air mata maka secepat itu pula ia harus melupakan Mira.
Tetapi pada kenyataannya, semalaman ia tak dapat tidur sedih memikirkan nasibnya dan sedih mengenang Mira.
Di lain tempat pun...
Intan sedang menidurkan Dion. Ia menggeser tubuhnya dengan perlahan. Rasa sakit ditubuhnya demikian hebat, ia menahan sakitnya dengan menggigit bibirnya.
Setelah beberapa saat ia menahan sakit ketika hendak bangun, akhirnya ia pun dapat bangun dengan susah payah.
Intan melangkah menuju kaca riasnya di depannya. Ia melihat tubuhnya yang lebam- lebam. Ia meringis kesakitan ketika dipegangnya.
Ya tubuhnya banyak lebam karena seharian kemarin ia harus melayani Anton yang ganas menikmatinya. Bukan hanya menikmati, Anton pun memukulinya agar Anton lebih menikmatinya.
Anton dan Intan sudah ada perjanjian dan mereka berdua sudah setuju. Anton akan mencukupi semua kebutuhan Intan dan Dion tetapi imbalannya tubuh Intan yang akan ia kuasai.
Intan menangis menyesali nasibnya.
Ia merasa ia sangat jauh lebih berbahagia dengan Bagas daripada Anton. Ia teringat akan kebaikan, perhatian Bagas padanya.
Ia menyesal telah membohongi Bagas.
Andaikan waktu dapat terulang kembali ia akan merasa sangat bahagia dengan Bagas.
Tetapi yang terjadi sekarang adalah apa yang tidak ia harapkan.
Ia mencari Anton dengan harapan Anton akan menerimanya dengan baik. Tetapi kenyataannya Anton tak berani untuk menikahinya, karena Anton pun masih hidup dengan semua fasilitas istrinya sehingga tak pernah ada niat Anton menceraikan istrinya, karena dampak bila ia menceraikan istrinya diri Anton akan jatuh miskin dan bisa - bisa hidup menggembel di jalan. Karena itu ia tetap mempertahankan untuk tidak menikahi Intan, hanya mencukupi kebutuhannya saja dan menikmati sepuasnya tubuh Intan tanpa boleh Intan mengeluh atau memberontak.
Anton bisa bertindak semaunya dan sesukanya karena ada Dion diantara mereka berdua sehingga Intan menahan semua penderitaan ini agar Dion dan dirinya dapat bertahan hidup dicukupi semuanya.
" Alangkah nistanya hidupku ini, betapa bodohnya aku lari dari Bagas demi mengejar Anton, tetapi penderitaan yang ku dapat," batinnya berkata.
__ADS_1
Tangisannya makin terdengar bersahutan dengan tangisan Dion yang terbangun karena lapar.
***