
Dion sangat senang hari ini ulang tahunnya sangat meriah.
Terlebih yang paling ia senang mendapat sepeda baru dari mamanya.
Ia pernah meminta sepeda itu satu bulan lalu sebelum ulang tahun.
Dan mamanya mengabulkannya sekarang.
Dion merasa bahagia sekali.
Ia masuk dalam kamar, dilihatnya Intan tertidur.
Didekatinya Intan dan ia lalu memeluk mamanya dengan erat.
Intan tersadar lalu ia tersenyum pada Dion.
Dengan lirih ia berkata pada Dion, " Sayang.. anak mama.. senang ya ulang tahun ini banyak teman Dion datang, sudah di buka semua kadonya ?"
" Sudah ma, makasih mama sayang Dion boleh ulang tahun. Hadiah dari mama yang paling Dion suka. " katanya seraya mencium pipi mamanya.
" Dion suka hadiah sepeda?" tanya Intan lirih.
" Suka banget ma, nanti kita jalan- jalan ya ma, mama pakai kursi roda, Dion naik sepeda," katanya tersenyum.
" Dion sayang.. sini peluk mama.
Dion sudah berumur 6 tahun sekarang ya, sudah harus turut ya apa yang kakek dan nenek katakan.
Dan mama berpesan dan berharap Dion tidak menangis terus bila mama akan pergi jauh ya," kata Intan tersendat seraya memeluk Dion.
" Mama pergi jauh mau kemana ?" tanyanya tidak mengerti.
" Pergi dan tidak menemani Dion lagi, yang nanti temani Dion kakek dan nenek," kata Intan mulai menangis .
" Dion mau ikut mama, Dion harus jagain mama, mama nggak boleh tinggalin Dion," kata Dion lalu menangis.
Intan pun menangis tersedu menatap Dion lalu ia menciumi wajah anaknya dan memeluknya erat.
" Kalau Dion kangen mama, berdoa ya nak, mama selalu ada di hati Dion, " Intan tersenyum dengan uraian air mata menutupi pandangannya.
" Sudah jangan menangis, kita istirahat ya, besok kita coba sepeda barunya. Sini dekat mama, peluk mama ya, mama sayaaaang sama Dion, cinta mama untuk Dion " kata Intan menghapus air matanya dan air mata Dion.
" Janji ya ma, kita coba sepeda baru, mama harus lihat Dion naik sepeda itu," kata Dion penuh harap.
Intan tersenyum.
__ADS_1
Dion penasaran dan menanyakan lagi," Janji ya ma ? Mana jari kelingking mama, kita janji dulu, besok kita jalan- jalan naik sepeda," kata Dion mengambil jari kelingking Intan lalu saling menautkan sebagai sebuah janji.
Intan terdiam dan memeluk Dion dengan erat.
" Ayo tidur Dion, besok kita jalan- jalan," ucap Intan seraya menghela nspas berat, seolah ada yang menindih dadanya.
Dion pun lalu menyusup di badan mamanya dan tak lama tertidur.
Sampai jam 3 subuh, Intan tak tidur, akhirnya jam 4 ia pun bersujud berdoa pada Tuhan memohon segalanya atas doa- doa yang dipanjatkan.
Ia berserah dan pasrah atas kehendak Nya, apapun itu yang ia minta agar Dion tetap kuat dan tegar bila ia sudah waktunya pergi menghadap Tuhan.
Tepat jam 5 pagi, Intan berbaring lagi, di peluknya Dion dan diciumnya Dion .
Intan berdoa lagi memohon ampun, memohon Tuhan jaga Dion, lalu ia menghela napas yang terasa berat di dadanya lalu ia menutup matanya seraya tersenyum.
Pagi hari Dion terbangun kesiangan, ia lalu menatap mamanya yang masih tertidur.
Ia lalu memeluk mamanya, dan mengelus rambut mamanya.
Diciumnya pipi mamanya dan ia berbisik menyapa mamanya.
" Selamat pagi mama, Dion sudah bangun, ayo mama bangun, kita sarapan lalu jalan- jalan pakai sepeda baru, ma bangun ma.. yuk ma.. " katanya pelan.
" Ma.. bangun yuk ma.. katanya mau jalan- jalan," rengek Dion yang melihat Intan terdiam saja.
Diguncangkan tubuh Intan beberapa kali, tetapi Intan tetap terdiam.
Dion mulai menangis lalu ia memanggil kakek dan neneknya.
" Kakek.. nenek .. mama ini pingsan lagi," teriak Dion.
Bapak dan ibu yang sedang di dapur menyiapkan makanan lalu berlari menghampiri kamar Intan.
" Dion.. mama kamu kenapa? pingsan lagi ?" tanya bapak.
" Pingsan kek, mama nggak mau bangun, Dion sudah bangunin ini ," kata Dion sambil terus mengguncangkan tubuh Intan.
" Bu.. panggil dokter lagi, " katanya, seraya memeriksa nadi Intan.
Wajahnya panik dan ia melihat pada bu Marsih.
Mereka berdua terlihat pasrah dan bu Marsih menangis.
Tak lama dokterpun datang.
__ADS_1
Dokter memeriksa dan ia pun berkata pada bapak dan ibu yang ada di dekatnya.
" Bapak dan ibu .. Intan sudah tidak ada, ia sudah meninggal. Di perkirakan ia meninggal tadi sekitar jam 5 atau 6 pagi.
Ibu dan bapak harus iklas. Intan sudah tak merasa sakit lagi. Ia sudah bahagia.
Tolong ibu dan bapak beri pengertian pada Dion. Kasihan dia karena sudah berkali- kali melihat mamanya pingsan. Ia menduga kali ini mamanya pun pingsan ternyata Intan sudah menghembuskan napas terakhirnya sambil memeluk Dion.
Saya turut berduka ya bapak, ibu, saya terharu melihat perjuangan Intan untuk melawan penyakitnya. Ia sudah menyelesaikan garis akhir yang ditentukan. " ujar dokter dengan suara lirih.
Ia mengusap air matanya yang menetes turun karena melihat Dion yang masih memanggil dan menguncangkan tubuh mamanya.
Bu Marsih memeluk Dion dan meminta Dion berhenti mengguncangkan tubuh mamanya.
Dion tetap menangis memanggil mamanya.
Bapak terlihat mulai sibuk menghubungi tetangga untuk membantu dalam mengurus jenazah Intan.
Dion yang masih menangis di gendong bu Marsih untuk menjauh dari jasad Intan.
Bu Marsih pun menangis tersedu.
Hatinya perih menahan pilu. Anaknya meninggal dalam keadaan sakit dan tertidur.
Satu sisi ia sedih kehilangan anak, satu sisi ia bersyukur Intan meninggal dalam keadaan tertidur tanpa kesakitan.
" Mama... mama... mama nek, kenapa mama nggak bangun- bangun nek ? Kenapa mama tidak di bawa ke rumah sakit? Mama janji mau jalan- jalan sama Dion. Kenapa mama nek?" tanyanya seraya menangis pilu.
" Dion... kamu anak pintar, ingat pesan mama apa? " tanya bu Marsih tersendat.
" Dion tidak boleh menangis, tidak boleh cengeng, tetapi kenapa nenek pun menangis, ?" tanyanya lagi.
" Dion.. mama sudah pergi jauh nak, mama sudah bahagia, tidak sakit lagi. Mama sudah pergi nak, kamu harus iklas dan menerima ya, lebih baik mama pergi dan bahagia, daripada menahan sakit selama ini, iklaskan ya nak," kata bu Marsih pada Dion cucunya.
" Maksud nenek mama pergi jauh itu apa?
Mama kenapa nek, mama sudah tidak sayang Dion, mama pergi tidak ajak Dion. " katanya seraya menangis keras.
" Mama sudah meninggal Dion. Jangan ditangisi lagi ya, lebih baik berdoa ya untuk mama. " kata bu Marsih memeluknya.
" Mama meninggal ? Mama tidak bisa dibangunin nek ? Mama tidak bisa memeluk Dion lagi nek," katanya tidak percaya. Airmatanya menetes deras.
" Iya nak, mama mu sudah bahagia, lepas dari sakit penyakit yang dideritanya. Kita berdoa ya untuk mama agar mama diterima disisi Tuhan dan Dion, kakek serta nenek bisa melepas mama," kata bu Marsih yang kesulitan menjawab pertanyaan Dion yang belum terlalu mengerti arti kehilangan di usia yang masih kecil.
***
__ADS_1