Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab.85. Mira Mulai Bekerja


__ADS_3

Mira sangat senang dengan kehidupan barunya.


Bibi Rina membimbing Mira dengan keahliannya memasak agar Mira dapat memasak dan menjalankan katering itu dengan baik.


Mira bersemangat sekali mencoba sesuatu yang baru, sehingga Mira mulai melupakan rasa sedih dan sakit hatinya.


Satu bulan telah berlalu, Mira sudah mulai menguasai masakan bibinya dan rasanya pun sudah mirip dengan cita rasa bibinya bila memasak.


Bibi Rina makin senang dan berusaha untuk mengembangkan usaha kateringnya.


Di samping itu bibi Rina pun sudah mulai tenang meninggalkan usaha yang di Semarang ini, dan mulai fokus membuka usaha katering yang baru di Jogja.


Suatu malam bibi memanggil Mira dan berkata," Mira.. bibi senang usaha katering kita makin berkembang, ternyata kamu bisa usaha juga ya, bagaimana kalau usaha katering yang di sini kamu yang pegang Mir.. bibi akan lebih fokus pada buka usaha katering di Jogja.


Nanti usaha yang di sini kamu kelola dan keuntungan nya bisa kamu ambil berapa persen dan bibi sebagai pemilik berapa persen, kamu setuju nggak?" tanya bibi seraya tersenyum.


Mira berpikir sejenak, lalu ia mengangguk dan berkata," Aku yang bibi percayakan pegang katering di sini ? Aku mau bi, terima kasih bi, aku akan terus kembangkan usaha ini agar makin ramai dan maju., " jata Mira gembira.


Bibi mengangguk dan berkata," Tekuni ya Mir.. bila kita rajin Allah juga akan memberikan rejekiNya pada kita," kata bibi.


" Amin.. " sahut Mira.


Mira sangat senang sekali mendapat kepercayaan dari bibinya.


Ia pun menelepon ibunya saat malam hari.


" Selamat malam bu, gimana kabar ibu dan ayah?" tanya Mira.


" Kabar kami baik mak, bagaimana kamu di sana betah ?" tanya Sari.


" Betah bu, bibi banyak mengajarkan tentang usaha katering pada Mira, jadi sekarang Mira lebih menguasainya.


Juga bu, ada kabar gembira ini," kata Mira terdengar nada suaranya senang.


" Kabar gembira apa? " tanya ibunya.


" Bu, aku dipercayakan oleh bibi untuk mengelola usaha katering di sini, karena bibi akan fokus untuk usaha yang baru di bukanya di Jogja, katering juga bu," kata Mira sambil tertawa kecil.


" Wah .. bagus dong, bibi bisa percaya secepat itu pada kamu," kata Sari sambil tertawa juga.


" Doakan ya bu, aku mau mengembangkan usaha ini jadi lebih besar," kata Mira.


" Pasti nak, ibu selalu doakan yang terbaik untukmu," kata Sari.


" Mi... kamu sudah tidak sedih lagi kan?" tanya ibu pelan dengan nada kuatir.


" Tidak bu... tenang saja, di sini Mira tak ada waktu untuk sedih, menangis ataupun galau, hari- hari Mira disibukkan dengan katering ini bu," katanya dengan nada riang.

__ADS_1


" Syukur... ibu senang mendengarnya, bulan depan bila ayah tidak sibuk ibu mau main ke sana ya, mau lihat usahamu" kata Sari dengan nada senang.


" Ya bu, Mira tunggu ya, sekalian itu cucu ibu sudah kangen neneknya ," kata Mira tertawa lagi.


" Baik Mir.. salam untuk bibi dan Yunia ya," kata ibu seraya tak lama menutup teleponnya.


Pagi itu Mira sangat sibuk, ia mendapat pesanan katering untuk 100 porsi. Dari subuh ia berkutat dengan bibi untuk mempersiapkannya.


Katanya akan di ambil oleh yang memesannya.


Tepat jam 12 siang semua masakan sudah beres, dan Mira tinggal menunggu yang mau mengambilnya.


Tak lama yang memesanpun datang.


Ia mengambil semua pesanannya.


Mira menatap kepergian orang yang mengambilnya dengan hati senang. Ia menyerahkan uang katering pada bibi.


" Bi.. ini uang nya, tadi orang yang memesan sudah ambil dan menitip uang pada Mira untuk disampaikan pada bibi," katanya.


Bibi menghitung dan mengkalkulasi semua pengeluaran, lalu ia memberikan Mira sebanyak 1 juta rupiah.


" Ini untuk apa bi?" tanyanya heran karena ia disodorkan uang oleh bibi.


" Upahmu Mir, ambilah, katanya.


" Tidak apa, itu upah kita, hasil keringat kita, bibi juga sama nilai uangnya, yang sisanya lagi untuk modal lagi kita besok- besok bila ada orderan lagi," sahutnya.


" Ambillah Mir, beli kebutuhan Yunia atau kebutuhanmu," kata bibi seraya tersenyum.


Mira meneteskan air mata.


" Loh di kasih uang kok menangis, harusnya bersyukur, tertawa, bukan menangis begitu, apa kurang Mir?" tanya bibi heran.


" Tidak bi, ini sangat lebih malah, aku menangis bukan apa- apa bi, aku bersyukur aku masih dapat bekerja, dengan tanganku sendiri menghasilkan uang, selama ini aku selalu dicukupkan oleh Bagas, tetapi hari ini aku bisa cari uang dari keringatku sendiri, ini yang buat aku terharu dan menangis bi," katanya.


" Besyukurlah pada Allah, pada saat nya kita tak menduga sesuatu itu yang diberikan pada kita sebagai berkatNya." kata bibi.


" Ya bi, aku sangat bersyukur, " kata Mira senang.


" Lusa, ada lagi Mir yang pesan untuk kantor baru, 50 porsi, ayo kita semangat ya Mir.. " kata bibi tertawa.


Mereka berdua bersyukur atas kelimpahan rwjeki untuk mereka.


Mira sedang menyiapkan semua keperluan masakan untuk hari ini, ada kantor baru yang memesan 50 porsi.


Tiba- tiba telepon bibi berbunyi, karena bibi sedang mencuci ikan maka disuruhnya Mira yang mengangkat.

__ADS_1


" Angkat Mir.. telepon itu, mungkin pelanggan kita yang mau pesan lagi," katanya.


" Baik bi," katanya.


" Halo, selamat pagi ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lembut.


" Ini Katering Ayu ya?" tanya suara di telepon.


" Betul pak, ada apa?" tanyanya


" Saya itu yang suruh anak buah saya pesan kemarin yang 100 porsi, masakannya enak, apa mba yang masak?" tanyanya.


" Ya mas, kami yang masak?" katanya cepat.


" Ya ampun mbak, enak sekali, saya sampai tambah loh mbak makannya gara- gara katering mbak enak rasanya,:" katanya.


" Ya pak, terima kasih ya," kata Mira tersenyum.


" Terus maksud bapak telepon apa ya ? "


" Kemarin waktu masakan itu datang, mama saya yang mencoba pertama, katanya mama saya ingin di masakkan dari katering mbak , tiap hari, apa bisa ?" tanyanya.


" Untuk berapa orang pak?" tanya Mira.


" Untuk 5 orang, bisakah mbak? karena mama saya sudah cocok dengan masakannya. "


" Bisa saja pak, nanti saya antar ke alamat nya di mana?" tanya Mira.


" Tidak usah di antar mbak, nanti supir mama saya yang akan ambil setiap hari.


" Ini untuk makan siang saja pak atau makan pagi, siang, sore pesannya? " tanya Mira.


" Untuk makan siang saja mbak, karena pagi kami semua pergi, siang mama saja yang ada, baru malam kami semua kumpul mbak," katanya.


" Oh.. kalau begitu silahkan supirnya datang ambil jam 11.30 ya setiap hari, agar mama nya bisa makan siang jam 12. " jawab Mira.


" Baik mbak... ? " tanyanya.


" Nama saya Mira pak," katanya.


" Ok, nama saya Aria Kusuma, panggil saja Aria," katanya.


" Baik pak Aria, terima kasih. " jawab Mira.


Lalu Mira menutup teleponnya, ia tersenyum senang karena masakannya di sukai oleh orang banyak. Ia bersyukur atas segala yang sudah Tuhan berikan pada hidupnya.


***

__ADS_1


__ADS_2