
Sesuai janjinya semalam, pagi itu Andrian datang menjemput Retha. Dengan membawa sebungkus nasi gaplek yang dipesan Retha lengkap dengan urapan dan ikan asin goreng. Sengaja, Andrian berangkat lebih awal untuk membelikannya. Andrian merapikan rambutnya di cermin lalu membuka pintu bagian kanan mobil.
Langkahnya terhenti, Bian, laki-laki itu sudah termenung di kursi teras rumah Retha.
Andrian menghampiri laki-laki berwajah angkuh itu dan mencoba menyapanya.
"Kamu kenapa disini?" tanya Andrian
"Gue mau jemput Retha." ujarnya ketus
"Antar jemput Retha itu udah jadi tanggung jawabku. Jadi, kamu nggak perlu repot-repot kesini." balas Andrian
Seringaian muncul di wajah Bian. "Gue udah lebih dulu nungguin Retha di sini. Jadi silahkan pergi dari sini."
Andrian mengepalkan tangannya.
"Retha calon istriku. Jadi akulah yang lebih berhak mengantar jemput Retha." ujar Andrian
"Owh gitu ya! Lagian, apa Lu yakin kemarin nggak terjadi apa-apa antara Gue dan Retha. Sedangkan Lu tau sendiri kan? Gue dan Retha hanya berdua di dalam kamar. Bisa jadi kan Retha udah jadi milik Gue sepenuhnya." kalimat penuh ledekan itu memancing emosi Andrian.
Andrian meletakkan bungkusan di tangannya ke meja kecil di teras lalu melayangkan sebuah bogeman mentah ke wajah Bian. Bian pun jatuh tersungkur. Belum puas, Andrian mengangkat kerah baju Andrian dan menekan tubuh Bian ke dinding.
"Jaga mulutmu itu. Dan cara bicaramu yang tidak sopan. Jangan pernah merendahkan Retha dengan omong kosongmu itu!" ujar Andrian geram
"Retha dan Gue saling mencintai. Sedangkan Lu? Lu hanya laki-laki lemah yang berharap sama Retha agar dia balas perasaan Lu!" ujar Bian
Andrian melayangkan pukulan keduanya di pipi Bian. Bian kembali tersungkur. Sudut bibirnya berdarah. Namun tawa meledek tak lepas dari bibirnya.
BRAK.. Pintu rumah terbuka. Tampaklah Retha dan tantenya keluar karena keributan yang mereka buat. Posisi Andrian masih sama, dengan tangan yang mencengkeram kerah kemeja Bian.
"Apa-apaan ini?" bentak Retha sambil menepis kasar tangan Andrian
Andrian menatap tak percaya ke arah Retha.
"Kenapa kalian bertengkar? Ada apa sampai ribut begini?" tanya Retha
"Dia yang mulai duluan Tha. Dia udah ngomong yang nggak-nggak soal kamu." ujar Andrian berusaha menurunkan nada bicaranya
Retha menghela napas dan menoleh ke arah Bian.
"Tha, Gue udah disini sedari pagi, tiba-tiba dia dateng bikin masalah. Gue nggak tau salah Gue apa!" bela Bian
Retha terdiam sejenak. Sudah jelas kedua lelaki ini berebut untuk mengantarnya.
"Tha, aku bawain pesanan kamu. Kamu bilang kemarin, mau sarapan ini kan?" tanya Andrian
Retha tak bergeming.
"Ayo kita berangkat Tha, kita sarapan bareng di kantor." pinta Andrian
"Pergi aja Lu! Retha maunya berangkat sama Gue. Kita udah janjian semalam." ujar Bian.
Andrian berniat maju dan memberi pelajaran, namun Retha lebih dulu menghadangnya.
"Cukup Mas. Jangan ada keributan lagi. Aku berangkat sama Bian." ujar Retha tak terbantahkan
Andrian terhenyak, secinta itukah Retha pada Bian. Hingga disaat seperti ini pun, Bian yang selalu dia bela. Andrian membalikkan badannya. Membawa kembali bungkusan kresek di tangannya.
"Kamu yakin Tha? Nggak mau bareng Nak Andrian aja? Biasanya kan kamu selalu sama dia Nak." ujar tante Lita
__ADS_1
"Yakin tante. Kali ini Retha pengen dianter Bian." ujar Retha sambil masuk untuk mengambil tasnya
Sesampainya di kantor, tampak wajah lesu Andrian yang baru keluar dari mobilnya.
"Mas, tumben sendirian. Ayang mana?" seloroh Putra
"Ini nasi gaplek buat sarapan Put." ujar Andrian enggan menanggapi Putra
Dug.. Dug..dug.. Suara knalpot yang khas terdengar. Tampak Retha membuka pagar dan masuk ke halaman kantor. Retha melengos dan bergegas masuk ke dalam ruangannya.
"Gila! Retha boncengan sama cowok! Kok kamu biarin aja Mas!" protes Putra
Andrian terdiam dan menatap balik ke arah Putra.
"Mas, pernikahan kalian kan tinggal bentar lagi. Retha kok malah sama cowok lain? Kamu nggak takut kejadian 3 tahun lalu terulang lagi?" cecar Putra
Tampak Andrian menghela napasnya.
"Mau gimana lagi Put. Yah, terkadang mencintai bukan hanya soal memiliki kan? Mungkin juga dengan membiarkan orang yang kita cintai bahagia meski dengan orang lain sekalipun." balas Andrian pasrah
"Tapi Mas! Gimana sama mamamu, kamu nggak takut dia shock lagi tuh kayak dulu. Dia sampai kena serangan jantung!" tukas Putra mengimbangi langkah Andrian
"Semoga aja nggak. Semoga.." jawaban Andrian begitu gamang.
Putra hanya melongo dibuatnya. Tidak habis pikir dengan atasannya itu. Bagaimana bisa melepaskan tampak begitu mudah baginya, sedang butuh bertahun-tahun untuk Andrian berhasil move on.
Andrian hendak berjalan menuju ke gudang. Langkahnya terhenti melihat pintu geser ruangan Retha sedikit terbuka. Andrian hanya menoleh sekilas, lalu kembali berjalan.
"Maafin aku Mas. Aku juga sebenarnya nggak ingin lihat Mas kayak gini. Tapi aku nggak bisa bilang sekarang. Besok, aku akan kasih keputusan itu."
Jam kerja pun berlangsung begitu cepat, sekarang pukul 17.00 WIB. Andrian lewat tepat di depan ruangan Retha, saat Retha membuka pintu. Andrian tersenyum ke arahnya. Tampak sekali senyum yang dipaksakan.
"Mau pulang bareng Tha?" tawar Andrian
Retha terdiam sejenak.
Retha menggeleng. "Aku bareng Bian aja."
Andrian kembali menghembuskan napasnya kasar lalu berjalan menuju mobilnya.
"Tha! Kok bengong depan pintu sih! Aku juga mau lewat" protes Lusi
"Eh, iya Mbak. Maaf." balas Retha berjalan keluar.
"Loh, Mas Andrian kok pulang sendirian? Tumben kamu nggak bareng Tha?" ucap Lusi begitu menyadari mobil Andrian telah pergi
"Aku bareng temen kok Mbak. Ada acara soalnya hehehe " ujar Retha
"Owh, mendingan gitu! Kalau mau nikah tu nggak boleh sering-sering ketemu. Kan harus dipingit biar kangennya numpuk." seloroh Lusi sambil menyalakan motornya
Retha hanya tersenyum kecil menanggapi Lusi.
"Aku pulang dulu ya Tha." pamit Lusi
"Iya Mbak." balas Retha
Tak lama kemudian, motor Bian terhenti di luar pagar. Retha pun bergegas menghampirinya.
"Retha sama cowok itu lagi! Nggak bisa dibiarin ini." gumam Putra yang baru keluar dari gudang.
__ADS_1
Retha memakai helm yang Bian sodorkan. Tiba-tiba..
"Heh Tha! Kamu nggak tahu diri ya ternyata! Udah mau nikah, masih sempat berhubungan sama cowok lain." labrak Putra
Retha memejamkan matanya sejenak. Untuk kedua kalinya kalimat menyakitkan terdengar di telinganya. Setelah Rahma memakinya kemarin, hari ini olokan tajam datang dari mulut Putra.
"Mau Lu apa? Nggak usah ikut campur!" ujar Bian dari atas motornya
"Retha ini mau nikah sama atasanku. Mas Andrian udah seperti kakakku sendiri! Jadi wajar aku ikut campur dalam hal ini!" balas Putra
Bian turun dari motornya dan menghampiri Putra.
"Dapat apa Lu dari Andrian? Sampek segininya Lu ngebet belain dia!" ledek Bian
"Br*ngs*k!" umpat Putra. Sebuah kepalan tangan ditujukan ke wajah Bian. Namun dengan sigap, Bian menahannya.
"Lu sama lemahnya kayak bos Lu itu!" ujarnya melemparkan kembali kepalan tangan Putra
"Cukup!" ujar Retha menengahi mereka. Jengah, sejak kembalinya Bian pertengkaran selalu mengelilinginya.
"Dengar satu hal Tha. Penyesalan selalu ada di belakang. Dan pada saat itu terjadi, jangan harap ada seorang pun yang mau nolongin kamu lagi!" ujar Putra meninggalkan Retha
Retha menelan ludahnya. Mencoba menahan tangisannya agar tidak keluar. Jika dia menangis sekarang maka segala yang dia lakukan akan sia-sia.
"Ayo Tha, omongan cowok itu. Nggak usah didengerin." ujar Bian sambil menarik tangan Retha
Retha pun naik ke motor Bian. Sepanjang perjalanan, Retha hanya terdiam. Memikirkan segalanya. Keputusan yang diambilnya seolah membuat semua orang benci padanya. Bahkan orang-orang terdekatnya tampak sekali membela Andrian. Retha hampir tidak mampu menahan semuanya. Retha menarik napasnya kembali dan mencoba mengalihkan pikirannya.
Sesampainya di depan rumah. Retha mengembalikan helm merah itu ke Bian. Tampak tante Lita memandangnya dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa kamu pulang sama dia?" tanya tante Lita
"Itu tante, aku.." ujar Retha tak bisa menjelaskan.
"Untuk apa kamu menerima lamaran Nak Andrian, kalau ujungnya begini? Tante tahu dari Rahma. Dia ini Bian kan? Cowok yang kamu sukai dulu?" ujar tante Lita
"Iya tan." balas Retha menunduk
"Tante kecewa sama kamu Tha." ujar tante Lita masuk ke dalam rumah.
Air mata Retha sudah di pelupuk. Dia mendongak untuk mencegah agar air mata itu tidak jatuh.
"Tha, Gue tahu ini berat buat Lu. Kehadiran Gue buat banyak masalah di hidup Lu!" ujar Bian sambil menggenggam tangan Retha.
"Gue janji Gue bakal bantu Lu lewatin ini semua. Gue nggak akan ninggalin Lu lagi Tha." ujar Bian
Retha tersenyum tipis. Kalimat itu begitu indah terdengar, namun tidak di telinga Retha. Retha melepas genggaman tangan Bian.
"Aku masuk dulu ya!" ujar Retha
"Iya Tha. Sampai ketemu besok." ujar Bian menyalakan motornya kembali.
Retha menatap kosong ke punggung Bian. Dia berjalan gontai ke arah pintu. Menarik napas sejenak, mempersiapkan diri jika tantenya akan memarahinya lagi.
Ceklek..
Tante Lita duduk di sofa dengan tangan menyilang di dadanya.
"Tante.." panggil Retha
__ADS_1
Tante Lita hanya diam. Sama sekali tak merespon panggilannya. Retha pun berlari masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Tangisnya pecah. Retha meluapkan segalanya di balik pintu itu. Sakit.. Hatinya benar-benar sakit. Retha terduduk di lantai. Meratapi setiap perkataan dari orang-orang itu. Ya, Rahma benar, Retha memang pecundang. Yang sudah mengorbankan perasaan orang sebanyak itu hanya demi keegoisannya. Tanpa berani mengakui yang sebenarnya.
"Malam ini aku tidak akan menahannya lagi. Biarkan aku meluapkannya. Hanya malam ini saja. Besok, aku janji akan lebih kuat dari ini. Aku akan memberi keputusan atas segala keambiguan yang sudah aku ciptakan sendiri. Aku udah nggak sanggup jika terus seperti ini."