Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Malam Istimewa


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah, Andrian dan Retha yang masih lengkap dengan pakaian resepsi mematung di halaman depan. Dengan jari-jari yang saling tertaut satu sama lain. Retha menatap gugup ke arah suaminya. Tangannya terasa dingin. Andrian pun menatap dalam istrinya.


"Tha.. Kamu udah siap?" goda Andrian


"A.. Apanya?" Retha terbata


"Jadi istri yang baik, nurut sama suami dan jangan ngeyelan." ujar Andrian


Retha tertawa. "Mas yang suka ngeyelan!"


"Kok bisa?" tanya Andrian


"Udah tau aku gamon sama Bian, masih aja dipepet!" seloroh Retha menyilangkan kedua tangannya


Andrian mencubit gemas pipi Retha.


"Kenapa sih mama nggak ikut pulang sekalian?" tanya Retha


Andrian berdeham.


"Udah cocok kali ya sama tante Lita. Jadi pengennya nempel terus!" tukas Retha menjawab sendiri pertanyaannya


Andrian hanya terbahak. Lucu. Gadisnya ini memang unik. Sikapnya yang random semakin membuatnya tak bisa melepaskan Retha.


"Mau aku kasih kejutan nggak?" tanya Andrian melingkarkan lengannya di pinggang Retha


"Apa?" tanyanya heran


Andrian mengangkat tubuh mungil itu dengan mudahnya. Dalam sekejap gendongan ala bridal style membawa Retha masuk ke dalam kamar Andrian.


"Kok gelap Mas?" tanya Retha begitu mendarat di ranjang


Andrian berjalan menjauh dan menyalakan lampu kelap kelip yang mengelilingi plafon. Retha mengamati sekitarnya, beberapa foto kebersamaan Retha dan Andrian terpajang di sisi dindingnya. Meja rias besar lengkap dengan kosmetiknya. Kelambu putih yang bertengger di jendela kamar, mengarah langsung ke arah kolam. Juga pernak-pernik pernikahan yang sengaja Andrian siapkan untuk menyambutnya. Retha berbalik ke arah kasur yang dia duduki. Bunga mawar merah tersusun rapi berbentuk Love dan inisial nama mereka berdua.


"Romantis banget Mas!" pukau Retha


"Terinspirasi dari mana nih?" tanya Retha


Andrian duduk di sebelah istrinya. "Terinspirasi dari kamu Tha."


"Kok aku? Mana kepikiran aku buat ginian?" tanya Retha


"Kamu yakin? Aku baca loh bukumu yang sampulnya biru itu!" ujar Andrian


Retha terdiam. "Mas baca buku harianku!" kejut Retha


"Iya dan ada kalimat mengganjal yang pengen aku tanyain, saat ini hatiku ragu, apa yang sebenarnya Mas Andrian inginkan dariku? Apa benar dia mencintaiku?" ujar Andrian membacakan kembali tulisan terakhir Retha


"Ih nyebelin! Kok dibaca sih!" Retha memukul pelan dada suaminya, berkali-kali sampai Andrian tertawa. Istrinya tengah salting di depannya.


"Sekarang kamu percaya kan sama perasaanku?" tanya Andrian serius


Retha mengangguk pelan. Andrian mendekatkan wajahnya. Pelan namun pasti bibir itu menempel satu sama lain. Decapan terdengar menggema di seluruh kamar. Cuaca dingin dan remangnya penerangan menambah kesan romantisnya malam itu. Andrian melepaskan ciumannya untuk mengambil napas.

__ADS_1


"Kita lakukan pelan-pelan Tha." ujar Andrian


Retha mengangguk patuh. Tubuhnya terangkat menuju ke tengah ranjang. Andrian pun kembali menciumnya. S*sa*an lembut Andrian daratkan di leher Retha. Dalam. Prosesi wajib yang dilakukan pengantin baru di malam pertama pun telah terjadi. Bukti ikatan cinta yang telah mempersatukan mereka, berhasil mereka lewati bersama. Tidak ada orang lain yang tahu. Kamar itu, menjadi saksi sejarah awal kehidupan rumah tangga mereka.


Andrian menjatuhkan diri di samping Retha. Memeluknya penuh kasih sayang. Tanpa sehelai benang pun, tubuh mereka saling menempel.


"Terima kasih Tha. Terima kasih banyak." ucap Andrian mengecup singkan pipi Retha


Retha hanya bergumam dan membenamkan diri di dada Andrian. Entah kenapa dia merasa malu.


"Nggak usah malu. Kamu kan udah jadi istriku Tha. Kita akan sering seperti ini. Lama-lama kamu juga akan terbiasa." ujar Andrian mengelus kelapa Retha


"Sering? Berarti nggak cuma sekali dong!" tukas Retha dengan polosnya


Andrian terbahak. Bisa-bisanya kalimat itu terlontar dari bibir istrinya.


"Kalau cuma sekali namanya bukan pernikahan Retha, tapi pelampiasan!" goda Andrian


Dalam keremangan cahaya tampak bibir Retha mengerucut. Andrian menarik pelan manyunan itu.


"Kayak bebek!" candanya


"Ih Mas Andrian nyebelin!" Retha pun membalikkan diri, memunggungi Andrian


Andrian mendekapnya dari belakang.


"Ayo tidur Tha. Ini udah dini hari loh." ujar Andrian yang mulai menguap


Terasa hembusan napas Andrian di tengkuknya. Retha pun menoleh. Prianya sudah tertidur. Retha mencari posisi yang nyaman dan ikut tertidur bersamanya.


Paginya, tubuh Retha menggeliat. Tidak ada lengkungan tangan di pinggangnya. Retha mengedarkan pandangannya. Gaun resepsinya teronggok di lantai. Tebaran bunga mawar dimana-mana Sprei yang mereka pakai tampak kusut tak karuan dan satu lagi, noda darah itu yang menguatkan bahwa telah terjadi sesuatu di antara mereka.


CEKLEK..


Pintu kamar mandi terbuka. Bergegas Retha menarik selimut dan menutupi tubuh polosnya.


"Aku udah lihat semuanya semalam. Nggak usah ditutupin juga aku udah tahu." goda Andrian


"Ih Mas Andrian nyebelin!" teriak Retha


Andrian kembali tertawa. Dibukanya pintu lemari dan mengambil selembar kaus dan celana pendek.


"Kamu nggak mau mandi Tha?" tanya Andrian berbalik menatap istrinya


"Aku mau mandi tapi mas keluar dulu!" ujar Retha


"Ck.. Nggak usah malu. Kita kan udah sah jadi suami istri." ujar Andrian


"Jangan ngintip ya!" ancam Retha


Retha pun berdiri dengan berbalut selimut. Melangkah pelan ke arah kamar mandi, terasa sedikit pedih. Retha meringis, langkah demi langkah akhirnya dia tiba di depan pintu kamar mandi. Melihat istrinya terbesit ide jahil di kepala Andrian. Dengan sengaja, Andrian menginjak ujung selimut istrinya. Dan...


Selimut itu terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Aaaaaa." Retha terkejut dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Pintu tertutup dengan keras.


Gelak tawa Andrian terdengar.


"Awas kamu ya Mas!" teriak Retha dari dalam.


Andrian mengusap ujung matanya yang berair. Dia menatap sekilas ke arah ranjangnya dan tersenyum. "Akhirnya, semua yang aku impikan telah terjadi."


Andrian mengambil sprei kotor itu dan menggantinya dengan yang baru. Tak lupa dia bersihkan sisa-sisa aktivitas semalam. Andrian membuka gorden dan jendela kamarnya, membiarkan cahaya matahari masuk menggantikan penerangan lampu semalam.


Ting tong..


Bel rumah berbunyi. Andrian pun keluar kamar dan menghampiri pintu.


CEKLEK..


"Duh, Toleku sudah bangun ternyata." sapa Bu Nunik sumringah


"Eh, mama. Kirain siapa?" ujar Andrian


"Mana istrimu le?" tanya Bu Nunik sambil membawa bungkusan masuk ke dalam rumah


"Lagi mandi Ma." jawab Andrian singkat


"Ini Mama bawain sarapan. Nasi jagung, urapan, terik tahu sama ikan asin. Kesukaan istrimu to?" tanya Bu Nunik


"Tahu aja ma. Pasti tanya ke tante Lita ya?" terka Andrian.


"Iyalah Le. Mama harus tahu apa yang disukai dan tidak disukai istrimu. Biar dia nyaman tinggal sama kita." ujar Bu Nunik


Andrian tersenyum. Bu Nunik memang ibu yang sangat pengertian.


"Andrian nyuci ini dulu Ma." pamit Andrian sambil membawa gulungan sprei


Bu Nunik senyum-senyum sendiri.


"Mama udah pulang? Barusan apa dari tadi?" tanya Retha yang baru keluar kamar


"Baru aja Nduk. Ayo ambil piring. Sini makan dulu " ajak Bu Nunik


"Mas Andrian mana Ma?" tanya Retha mencari sosok suaminya


"Lagi nyuci! Sana kamu panggil, kita sarapan bareng." ujar Bu Nunik


Retha berjalan ke arah dapur, di sebelahnya ada kamar mandi besar yang memang difungsikan untuk ruang pencucian. Andrian tampak memasukkan selimut itu ke dalam mesin dan memberinya sabun.


"Mas, ayo sarapan! Udah laper nih." ajak Retha manja


"Jelas laper lah, kan semalam habis." goda Andrian berbisik di telinga Retha


"Ih Mas Andriaaaaan."


Aksi kejar kejaran pun tak terelakkan..

__ADS_1


__ADS_2