Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 111. Intan dan Bagas Terpuruk


__ADS_3

Pada saat Mira merasakan bahagia, Intan dan Bagas makin terpuruk.


Mereka merasakan apa yang sudah mereka lakukan itu yang akan mereka tuai.


Intan merasakan penyesalan yang sangat sekarang karena ternyata makin lama Anton makin kasar pada dirinya. Ia tak bisa lagi lepas dari Anton karena Anton memperlakukan Intan seperti budak **** saja. Dimana Anton mau tak peduli Intan sakit atau lagi lemas Anton bila ingin maka Intan harus melayani, bila tak mau maka tamparan dan siksaan akan ia terima.


Pernah Intan ingin pergi dari hidup Anton tetapi Anton malah menyiksanya sampai ia hampir pingsan.


Hari- harinya penuh dengan air mata dan siksaan.


Intan pernah berpikir ini mungkin karma untuk hidupnya yang merusak rumah tangga orang.


Suatu hari saat Intan sedang mandi, Intan merasa perutnta sakit, sangat sakit dan melilit.


Sampai ia memanggil bu Darsih karena ia sangat sakit.


Ia berencana ke dokter karena itu Dion ia titip ke bu Darsih.


Setelah giliran nya diperiksa di dokter, Intan diperiksa oleh dokter. Ia pun diperiksa darah untuk tahu apakah ada penyakitnya.


Dokter belum dapat memastikan sakitnya Intan karena dokter ingin hasil darahnya Intan untuk dicek memastikan sakitnya.


3 hari lagi Intan harus datang lagi untuk dicek dan diobservasi penyakitnya.


Selama menunggu itu Intan sudah 2 kali sakit perutnya dan melilit serta demam.


Ia bingung sakit apa, karena sangat sakit.


Akhirnya keluar hasil dari dokter Intan kena gejala awal kanker rahim.


Ia sangat terkejut karena tak menyangka akan sakit seperti ini.


Dokter menyarankan untuk Intan berobat rutin agar tidak menyebar kankernya.


Walau hati sedih, ia berusaha tegar demi untuk Dion.


Ia pun akan berusaha untuk kesembuhannya.


Lain Intan.. Lain Bagas ..


Bagas terkejut ketika Riki memberitahunya bahwa Mira sudah menikah.


Ia seakan tak percaya dengan kenyataan itu.


Ia berpikir secepat itu Mira melupakan dirinya.


Ia dari tadi terus termenung memikirkan Mira.


Tadinya Bagas berketetapan untuk mengambil waktu mendekati Mira kembali.


Memang ia tak yakin dengan caranya, tetapi ia ingin merajut kembali benang yang sudah putus.


Pasti tak semudah pemikirannya, tetapi ia akan berusaha untuk menebus kesalahannya dengan akan disapanya Mira kembali.


Tetapi kenyataan yang ia hadapi sungguh berbeda dengan yang terjadi.

__ADS_1


Mira telah menikah hari ini.


Hari di mana dua insan saling berbahagia dan bersatu.


Ia menyesalinya dan merutuki kebodohannya.


Tak bisa lagi ia mendekati Mira.


Ia baru tahu dari Riki bahwa Mira tinggal di Semarang.


Sekian lama ia tak pedulikan Mira dan Yunia lagi.


Tetapi saat dirinya ingin menyambung kembali hatinya dengan Mira, ia baru tahu keberadaan Mira dan ia merasa terlambat sudah karena Mira telah jadi milik orang lain.


Terbayang apa yang tadi Riki dan Bagas perbincangkan di telepon.


" Halo Gas.. apa kabar kamu ? " tanya Riki.


" Hai Riki.. sudah lama kita tak bertemu, kabarku baik Rik, kamu sendiri bagaimana dengan Shinta?" tanyanya.


" Baik. Shinta sedang hamil 7 bulan. Aku senang akan punya anak Gas," kata Riki.


" Gas.. kamu tahu hari ini Mira menikah?" tanya Riki.


" Apa?? aku tidak salah dengar Rik?" tanyanya.


" Betul Gas, Mira menikah dengan seorang lelaki yang sukses di bidang jasa, wakil direktur." kata Riki.


" Kamu tidak tahu Gas?" tanya Riki.


" Aku tidak tahu Rik, aku baru dengar darimu ini berita," kata Bagas terdiam.


" Aku kaget Rik.. Aku tidak menyangka Mira secepat itu akan menikah. Ku kira Mira tak akan menikah lagi, tetapi ternyata dia menikah." kata Bagas lirih.


" Aku menyesal Rik.. sudah menyia- nyiakan Mira. Aku bahkan tak pernah menanyakan Yunia. Aku tidak tahu keberadaan mereka Rik," kata Bagas.


" Mira tinggal di Semarang Gas, dia bekerja mencari uang dengan buka katering. Dari situ ia menghidupi Yunia," kata Riki.


Bagas termenung sejenak. Ia tak menyangka Mira akan sekuat dan segigih ini bekerja untuk mencukupi dirinya dan Yunia.


Rasa penyesalannya bertumpuk di hatinya.


Pantas Mira tak mau lagi diberi uang untuk Yunia. Ternyata Mira adalah wanita yang tegar, mandiri dan terlalu sayang pada Yunia. Ia berusaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya itu.


" Gas.. Gas.. kamu masih di situ ?" tanya Riki.


" Eh iya, Rik.. aku masih mendengar. " kata Bagas yang ternyata melamun.


" Ya sudah Gas.. aku hanya kasih kabar saja. " kata Riki.


" Baik Riki.. terima kasih ya infonya. ," kata Bagas.


Bagas menutup teleponnya dan ia pun termenung memikirkan Mira.


Bagas menghela napas yang terasa berat.

__ADS_1


Di tempat lain..


Mira sangat bahagia, hari- hari di lalui dengan penuh keceriaan. Mereka selalu bersama. Antony sekarang lebih manja pada Mira.


Ia merasa seperti dulu waktu ada Anita ibunya


Sampai suatu hari, Aria tertidur cepat hari ini karena pekerjaannya yang banyak tadi di kantor.


Antony sejak sore sudah panas tubuhnya


Ia tidur dalam gelisah. Mira kerap berjaga untuk melihat Antony dan mengompresnya.


Antony demam tinggi. Mira membangunkan Aria untuk membawa Antony ke rumah sakit karena kuatir.


Arua yang terlelap pun bangun dan langsung membawa Antony ke rumah sakit.


Di perjalanan Antony pingsan, panas tubuhnya sangat tinggi. Mira panik.


Mereka menunggu pemeriksaan dokter.


Tiba- tiba dokterpun keluar dan berbicara pada mereka berdua.


" Malam pak, ini anaknya harus cepat dapat transfusi darah," kata dokter.


" Sakit apa anak saya dokter? tanya Aria kuatir.


" Saya tadi suruh tes darah anak bapak. Ternyata demam berdarah. Dan butuh tambahan darah secepatnya.


Silahkan bapak dan ibu periksa darahnya agar cepat dapat kantong darah. Antony golongan darah A kebetulan di rumah sakit ini golongan darah A habis tadi pagi. " kata dokter.


" Baik dokter saya akan segera diambil darah, karena golongan darah saya A juga dok," kata Aria cepat.


Mira menunggu di luar dengan cemas, ia berdoa terus agar Antony cepat dapat melalui sakitnya.


Aria pun datang sesudah dari laboratorium tempat ia transfusi darah.


" Mas... sudah selesai?" tanya Mira cemas.


" Sudah.. mudahan Antony cepat melalui masa kritisnya," kata Aria.


" Mas aku takut Antony kenapa- kenapa," sahut Mira.


" Tenang saja, berdoa agar Antony dapat bertahan" kata Aria memeluk Mira.


Aria melihat Mira yang sangat mengkuatirkan Antony. Timbul rasa sayang yang besar dalam diri Aria melihat kecemasan Mira pada Antony.


Diam- diam ia bersyukur pada Tuhan karena Tuhan sudah tempatkan pendamping yang sangat baik seperti Mira pada anaknya.


" Mira... terima kasih ya ," kata Aria.


" Untuk apa mas,?" tanyanya heran.


" Untuk kebaikanmu pada Antony, mas bersyukur memilikimu," katanya mencium kening Mira lembut.


" Mas.. seorang istri itu bukan hanya memperhatikan suaminya saja, tetapi semua yang ada dekat suaminya, dan Antony sudah ku anggap seperti anakku sendiri, jadi aku menyayanginya seperti Yunia," kata Mira seraya merangkul manja pada lengan Aria.

__ADS_1


Aria mengangguk dan tersenyum menatap istrinya yang sangat ia cintai.


***


__ADS_2