Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Kenyataan di malam pernikahan


__ADS_3

Retha berjalan cepat menuju Marshall Mansion. Komplek perumahan mewah tempat Andrian dan Bu Nunik tinggal. Butuh waktu satu jam lebih untuk sampai karena memang jarak dari taman kota menuju kesana sangat jauh. Retha menelusuri rumah dengan bentuk bangunan yang sama itu. Satu per satu rumah dia lewati. Dia memang belum pernah ke rumah Andrian secara langsung, hanya diberitahu nama perumahannya saja. Retha masuk ke area Blok W. Tampak rumah berlantai dua dengat cat putih dan jendela besar berjajar. Retha terfokus pada satu rumah dengan pagar yang terbuka. Tampak banyak orang di dalamnya. Mata Retha terhenti, menatap sosok lelaki yang dia rindukan ada di salah satu kerumunan itu. Kedua matanya berair. Retha hanya terdiam di halaman, tanpa berani masuk ke dalamnya.


Langit senja telah berubah warna, tanpa sadar waktu magrib sudah terlewati. Acara kirim do'a sebelum pernikahan sedang dilakukan di rumah Andrian. Andrian hanya menatap kosong ke arah orang-orang disana.


"Untuk apa semua ini dilakukan, jika sudah bisa dipastikan pernikahan ini akan batal." gumam Andrian dengan setetes air mata yang turun.


"Le, Andrian. Tolong kamu pinggirkan itu kardus minumannya, biar Pak Imron bisa duduk." tukas Bu Nunik


"Iya Ma." Andrian menurut saja. Diangkatnya kardus itu dan ditepikan di belakang jendela. Tepat saat ingin kembali, Andrian melihat siluet perempuan berdiri dengan menyedihkan di halaman rumahnya. Andrian berjalan maju dan mendekati jendela untuk memastikan. Ya, Rethanya ada disana menangis tanpa suara. Andrian menoleh sekilas ke acara pengajian yang akan dimulai. Andrian lalu permisi ke belakang, berniat menemui Retha lewat jalan samping rumah.


Andrian berdiri di jalan kecil itu tanpa berniat memanggil Retha. Menatap wanitanya dalam diam dengan air mata yang berurai. Retha yang menyadari Andrian tidak lagi dalam pandangannya pun berniat pergi.


"Tha.." panggil Andrian pelan


Retha menghentikan langkahnya.


"Tha." panggil Andrian lagi.


Retha menoleh ke sisi rumah.


Andrian menatapnya sendu. Air mata Retha semakin deras. Retha menghambur ke arah Andrian. Memeluknya dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Diluapkannya segala rasa rindu di hati Retha. Sambil tersedu dia menatap sekilas wajah Andrian.


"Aku kangen Mas." ucap Retha lirih


Retha kembali membenamkan wajahnya ke dada bidang Andrian


Andrian pun balas memeluknya. Diciumnya puncak kepala Retha berkali-kali. Dia rindu gadis itu, sangat merindukannya. Hingga tidak bisa membayangkan, bagaimana pernikahan ini akan terjadi tanpa kehadiran gadis itu.


Andrian menjauhkan dirinya.


"Ayo ke belakang rumah. Nggak enak kalau ada yang lihat." ajak Andrian


Retha mengangguk patuh.


Andrian membawanya di taman belakang yang cukup luas. Dengan kolam renang kecil dan pendapa kayu di ujung kanan kolam.


Retha duduk bersebelahan dengan Andrian, dengan kaki tercelup di kolam. Mereka sama-sama diam. Seolah bingung hendak memulai dari mana.


"Aku kira, kamu milih Bian Tha. Kamu belain dia, selalu sama dia. Aku pikir, pernikahan kita nggak akan terjadi." ujar Andrian akhirnya


"Apa alasanmu kembali kesini Tha? Apa kamu mau memberi keputusan atas pernikahan ini?" tanya Andrian datar


"Maaf Mas." ujar Retha


Andrian tertunduk. "Kamu memilih bersama Bian?" tanya Andrian pelan

__ADS_1


Retha menatap wajah Andrian. Mata itu tampak sendu.


"Maaf udah buat mas salah paham." ujar Retha


Andrian menoleh.


"Pas aku sakit, aku dengar Mas dan Bian berantem di depan rumah. Bian udah nantang Mas Andrian, bersikap seolah Mas lah yang udah datang dan ganggu hubunganku sama Bian." ujar Retha


"Kamu tahu soal itu Tha?" tanya Andrian


Retha mengangguk."Tapi aku pura-pura tidur dan baru melek pas Bian masuk. Terus besoknya aku lihat dari jendela kamar, pas Mas datang, Bian bilang kan.. Kalau udah terjadi sesuatu diantara kita. Dia juga remehin Mas, katanya Mas cowok lemah yang berharap aku balas perasaan Mas. Saat itu, hatiku sakit Mas. Aku nggak terima sama semua perkataan Bian." ujar Retha


"Tapi kamu belain dia Tha." ujar Andrian sedih


"Jujur, aku lakuin itu buat kasih Bian pelajaran." ujar Retha


"Pelajaran?" tanya Andrian memastikan pendengarannya


"Jika dia bisa begitu mudah menyakiti perasaan orang lain. Maka dia juga harus merasakan, bagaimana jika disakiti orang lain." ucap Retha datar


Andrian terkagum, gadisnya tidak selugu dulu. Tahu caranya memperlakukan dan diperlakukan.


"Mas, sebenarnya.." ujar Retha terhenti


Andrian menatap serius ke arah Retha.


Andrian mengingat kembali, saat itu Andrian melihat pintu ruangan terbuka sedikit. Berarti benar yang dia rasakan, Retha ada di balik pintu itu.


Andrian tersenyum. "Kamu special buatku Tha."


"Gombal!." Retha memukul pelan lengan Andrian.


"Eh, tapi sejak aku dekat sama Bian. Semua orang musuhin aku loh. Tante Lita marah, Rahma juga ngolokin aku! Dan Mas Putra.. Parah sih.. Malah nyumpahin aku yang jelek-jelek. Sakit banget rasanya." ujar Retha mengingat setiap perkataan Putra waktu itu


"Putra? Kapan kalian ngobrol? Kok aku nggak tau?" heran Andrian


"Pas itu, Mas Andrian udah balik dulu sih! Bian kan jemput aku terus sempet berantem juga sama Mas Putra. Habis itu Mas Putra bilang, penyesalan selalu datang di belakang. Jadi kalau besok aku nyesel, nggak ada lagi orang yang mau nolongin." ujar Retha tertunduk


Andrian menyadari, tidak hanya dirinya yang terluka. Bahkan gadis di depannya pun merasakan tekanan yang sama. Mungkin lebih besar. Andrian menyisipkan rambut Retha yang terurai ke telinganya.


"Kamu juga sih yang salah, punya rencana kayak gitu nggak bilang-bilang. Gini kan jadinya?" ujar Andrian mengacak pelan rambut Retha


"Ih, jadi berantakan Mas! Usil!" ujar Retha mendorong tubuh Andrian


Tanpa sengaja, Andrian tergelincir dan masuk ke dalam kolam.

__ADS_1


BYUR...


"Hahahaha, enak Mas mandi malam-malam." seloroh Retha


Andrian timbul tenggelam di kolam itu.


"Mas! Jangan bercanda deh. Mas nggak bisa berenang? Aduh gimana nih!" teriak Retha panik.


Perlahan Andrian mendekati tepian kolam renang. Tangannya menggapai-gapai meminta bantuan. Retha pun mengulurkan tangannya. Dalam satu tarikan,


BYUR..


Retha ikut tercebur di dalam kolam.


"Mas.. Aku nggak bisa berenang. Aku takut." teriak Retha berusaha meraih dinding kolam.


"Sssst.. Diem. Kamu nggak akan tenggelam kok. Ada aku disini." ujar Andrian memeluk erat tubuh Retha.


Kaki Retha berasa melayang, tidak menyentuh dasar kolam. Sementara air kolam itu hanya sebatas leher Andrian yang tingginya melebihi 180 cm.


"Tha.. Jangan kayak gini lagi ya! Aku nggak bisa lihat kamu sama cowok lain. Apalagi itu Bian." ujar Andrian serius


"Kalau nggak bisa kenapa sok-sokan nyuruh aku milih! Aneh deh Mas." protes Retha


"Karena aku mau lihat kamu bahagia." ujar Andrian singkat


Retha menatap manik mata yang meneduhkan itu. Tubuh mereka merapat, menghantarkan kehangatan dalam dinginnya air kolam. Andrian mendekatkan wajahnya, yang disambut dengan pejaman mata Retha.


CUP..


Entah untuk ke berapa kalinya bibir mereka bertemu. Decapan itu terasa dalam. Menyalurkan kerinduan selama seminggu mereka tidak intens bertemu. Andrian memiringkan wajahnya beberapa kali, mencari posisi yang pas dan tautan itu terlepas.


"Owh dicariin dari tadi ternyata lagi pacaran disini to!" seloroh Bu Nunik dari pintu belakang.


Andrian yang terkejut sontak melepaskan tubuh Retha.


"Aaaaa.. Mas.." Retha berteriak ketakutan sambil memegang erat leher Andrian


Andrian tertawa melihat responnya.


"Kalian ayo cepat keluar dari kolam! Dingin loh malam-malam kok malah berenang." ujar Bu Nunik sambil geleng-geleng kepala


Andrian membawa Retha ke tepi dan membantunya naik. Setelah itu, Andrian mengangkat dirinya ke atas. Kemeja putih yang basah menunjukkan otot perut Andrian yang sempurna. Sejenak Retha terpukau. Bukan hanya Bian, calon suaminya juga memiliki abs yang sama. Sejenak pikirannya berkelana.


"Nduk. Kok bengong. Ayo masuk. Ganti baju dulu. Nanti sakit loh!" ujar Bu Nunik menarik tangan Retha masuk ke dalam rumah

__ADS_1


Sementara Andrian menatap gadisnya yang mulai menghilang di balik pintu. "Terima kasih telah kembali Tha."


__ADS_2