
Intan dengan sekuat tenaga mempersiapkan ulang tahun Dion.
Ia ingin Dion sangat gembira di ulang tahunnya.
Walau ibu dan bapak mencegahnya untuk Intan tidak sendirian mempersiapkan semuanya, Intan tak mengubrisnya, ia ingin ulang tahun Dion berlangsung dengan meriah.
Dari soal undangan, kue ulang tahun, catering, hadiah dan cemilan untuk anak- anak yang diundang dia atur semua, walau orang lain yang mengerjakannya.
Raut wajah bahagia dari Intan membuat orangtuanya sedikit melonggarkan waktu Intan untuk banyak beristirahat, mereka ingat perkataan dokter untuk membuat Intan bahagia.
Tiga hari lagi Dion berulang tahun, tubuh Intan hari ini sangat letih, tetapi ia memaksakan diri untuk tetap mengatur semuanya yang kurang.
Tiba- tiba Intan sangat lemas, barang yang di pegangnya terjatuh, dan Intan pun ambruk.
Dion yang melihatnya berteriak kencang, "Mama... mama... " katanya berlari menghampiri mamanya.
Bi Marsih dan bapak yang mendengar berlari menghampiri.
Bapak panik, dengan sigap membopong Intan ke kamar dan menyuruh ibu menelepon dokter kembali.
Lama dokter memeriksa Intan, lalu memanggil bapak dan ibu .
" Bapak dan ibu.. Intan sedang tertidur setelah saya beri suntikan.
Maaf bapak dan ibu.. penyakit yang mengerigoti tubuhnya semakin banyak menyebar ke organ yang lain.
Bila Intan terbangun dan sadar ini berarti daya tahan Intan sedang berjuang untuk memberi kekuatan pada Intan.
Mungkin ada sesuatu yang masih memberatkan Intan sehingga ia berjuang untuk bertahan.
Tetapi bila memang daya tahannya tak dapat berjuang Intan tak akan sadar kembali sampai pada saatnya nanti.
Saya harus beritahukan yang sebenarnya, Intan tak akan bertahan dalam minggu ini karena sel yang berkembang semakin ganas, karena itu persiapkan semuanya bapak dan ibu, iklaskan dan relakan bila saatnya telah tiba. " kata dokternya berkata dengan pelan.
Bu Marsih menangis tersedu di pelukan suaminya. Ia sebenarnya belum rela untuk ditinggal Intan apalagi Dion yang masih belum mengerti apa - apa.
Lebih dari 7 jam Intan teronggok di tempat tidur, acara persiapan ulang tahun Dion dihentikan dulu, semua fokus pada Intan.
Mereka semua kerabat dan tetangga sudah berdoa untuk kesembuhan Intan.
Bu Marsih sudah pasrah dan iklas. Dion hanya termangu di dekat mamanya seraya terus memanggil nama mamanya.
Lewat 10 jam, Intan mulai tersadar, ia mulai memanggil nama Dion.
__ADS_1
Dion sudah tertidur lelap di dekatnya tak mendengar, bapak yang mendengar suara lirih Intan.
" Dion... Dion... Dion... " panggilnya lemah.
" Nak.. jangan banyak gerak dulu, istirahatlah, Dion ada dekatmu sudah tertidur, bapak dan ibu ada di sini menemanimu," kata bapak sendu.
" Pak.. Intan boleh minta sesuatu ?" tanyanya pelan. Bapak serasa tercekat tenggorokannya mendengar anaknya meminta sesuatu.
" Pak... pak.. tolong aku pak," katanya lirih.
" Apa nak yang dapat bapak bantu ?" tanyanya sedih.
" Besok ulang tahun Dion, lanjutkan semuanya pak, aku mau lihat Dion senang, aku mau lihat Dion tertawa, dan aku akan ikut acara itu, tapi aku akan duduk diam di kursi roda, boleh ya pak, dilanjutkan acaranya. Ini yang aku tunggu pak, aku mau lihat anakku bahagia, " tatap Intan dengan wajah sedih.
" Pak... kabulkan permintaanku pak... sebelum aku pergi," katanya lagi.
Bapak terdiam, ia melihat pada ibu, dan ibu mengangguk. Maka bapak pun mengangguk dan berkata pada Intan," Baik.. tapi kamu duduk diam saja ya di situ, jangan banyak gerak dan kamu juga harus ceria di depan anakmu, kasihan Dion dia sedih melihat ibunya pingsan sampai dua kali di depannya," kata bapak.
" Terima kasih pak, aku janji akan bahagia melihat anakku tertawa pak," katanya seraya membelai rambut Dion yang masih tertidur menyusup di dekatnya.
" Bu... " panggil Intan lirih.
" Nanti bila aku sudah tak ada, ibu bersedia ya menjadi aku yang akan di cari Dion bila ingin tidur, menyusup di tubuh ibu, " kata Intan sedih.
" Ya Intan.. ibu akan berusaha untuk memenuhi kemauanmu untuk kebahagiaan Dion. " kata ibu pelan.
Dua jam kemudian Dion terbangun, ia melihat mamanya ada di sampingnya sudah terbangun.
Lalu ia mencium pipi mamanya.
" Mama... sudah bangun? mama masih sakit ?" tanyanya.
Bu Marsih memberikan susu pada Dion, dan ia pun minum susu itu dan menghabiskannya.
Setelah 10 menit, Intan menyuruh Dion berada dekatnya.
" Dion.. mama mau nanti Dion itu selalu dengar apa kata kakek, nenek ya, jangan melawan atau membantah kakek, nenek ya.
Dion harus sayang ya pada kakek dan nenek, jangan buat susah mereka.
Kamu harus sekolah yang pintar nanti ya, harus capai cita- citamu dengan baik, biar nanti mama bangga padamu nak.
Mama harus pergi, pergi yang jauh, mungkin mama tidak akan bertemu Dion lagi.
__ADS_1
Bila Dion kangen mama, lihat foto mama ya, mama selalu ada di hati Dion.
Dion jangan menangis cari mama, ada kakek dan nenek. Dion harus kuat, anak laki- laki tidak boleh cengeng. Boleh nangis tetapi tidak boleh lama, kamu harus semangat nak, mama sayang sekali padamu, andai mama masih bisa bertahan,mama akan selalu dekat Dion.
Tetapi mama sudah tidak tahan. Iklaskan dan relakan mama pergi ya sayang,.mama sangat cinta pada Dion. Dion yang buat mama bertahan melawan sakit, " kata Intan, matanya sudah penuh dengan air mata.
Dan pecahlah tangis Intan saat itu.
" Mama... Dion sayang mama, Dion mau ikut mama pergi, jangan tinggalkan Dion ma," katanya seraya menangis keras.
Intan memeluk anaknya dengan erat.
Ia tersenyum dan berkata," Sudah jangan menangis, besok hari ulang tahunmu, ayo tertawa dan tersenyum pada mama,' kata Intan masih tergugu menahan tangisnya.
Hatinya perih serasa ditusuk oleh pisau.
Besoknya acara ulang tahun Dion berlangsung meriah. Intan tersenyum perih melihat Dion yang tertawa bahagia, apalagi saat pembukaan kado, teman- temannya bersorak untuk Dion membuka kado dari mereka.
Intan memberikan sepeda pada Dion.
Dion sangat senang dan berkali- kali mencium mamanya.
Acara pun selesai, teman- teman Dion pun sudah banyak yang pulang.
Hanya tinggal saudara jauh yang masih asyik cerita dengan bapak dan ibu.
Intan ingin istirahat, ia meminta untuk ibu dan bapaknya sebentar mengantar Intan ke kamar.
Bu Marsih mendorong kursi roda dan bapak mengikutinya.
Setelah sampai di kamar, giliran bapak yang mengendong dan menaruh Intan di tempat tidur.
Intan memegang tangan bapak dan ibunya, ia mrnatap dalam mereka dan berkata," Bapak dan ibu, maafkan Intan belum sempat berbakti pada kalian, Intan belum bisa menyenangkan bapak dan ibu, Intan malah menyusahkan kalian, Intan minta maaf ya bapak dan ibu, " kata Intan menangis.
Bapak maju mencium kening anaknya lalu berkata, " Istirahatlah.. tak usah kamu berkata seperti itu. Ingat.. hidup dan mati di tangan Tuhan, percaya itu, kamu bisa bertahan sampai hari ini, itu merupakan anugerah dari Tuhan, kasih sayang dari Tuhan. Berserah nak pada kehendakNya. " kata bapak menahan tangis.
" Bapak dan ibu .. aku minta tolong rawatlah Dion...aku sangat percaya bapak dan ibu dapat mendidik Dion dengan baik. " kata Intan lemah.
" Sudah istirahat saja, kamu pasti sangat lelah seharian ini, " kata ibu mencium kening Intan.
" Baik bu, aku tidur dulu, bila aku tidak bangun lagi maka waktuku di dunia sudah habis, bila aku terbangun lagi maka Tuhan masih memberiku hidup untuk bertahan. " kata Intan dengan suara yang sangat lirih.
Maka Intan pun memejamkan matanya dan tak lama ia pun tertidir.
__ADS_1
***
.