Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 140. Hubungan Antony


__ADS_3

Tampak di sudut ruangan Bagas dan Anton serius berbincang seraya makan malam bersama.


Perbincangan mereka sekitar perusahaan yang akan dirintis oleh mereka berdua untuk masa depan mereka nanti.


Dan mereka berdua tampak semangat membicarakan sebelum akhirnya besok mereka berpisah karena acara selesai besok siang.


Sementara itu dikediaman Mira


Hari ini Mira terlihat senang karena Antony akan datang dari Singapura.


Ya Antony putra dari Aria akan datang liburan semester.


Mira tampak sibuk memasak makanan kesukaan anaknya ini.


" Bi.. apa sudah selesai semua disiapkan masakan untuk Antony ?" tanya Mira sebelum ia berangkat bersama Aria dan Yunia ke bandara menjemputnya.


" Sudah bu ... sudah semua, nanti bibi tinggal siapkan semua," katanya seraya masih sibuk menata piring dan sendok di meja makan.


" Ayo ma.. kita berangkat, " kata Aria seraya menggandeng Mira.


Yunia dan Stefan bergegas lari menuju mobil.


" Papa.. Pan mau kaka Ony, " kata Stefan dengan mimik lucu memandang papanya.


Stefan sekarang sudah berusia 4 tahun dan sedang belajar merangkai kata yang panjang.


Walau belum bisa memanggil dirinya dan kakaknya dengan benar tetapi Stefan selalu membuat Yunia gemas setiap dia bicara.


" Siapa itu Pan dan Ony, dek ?" tanyanya tertawa dengan gemas melihat wajah adiknya.


" Ini Pan .. " katanya menunjuk dirinya.


Mira dan Aria tertawa melihat Stefan yang kesulitan menyebut namanya.


" Kalau kakak ini siapa?" tanya Yunia menunjuk dirinya.


" Kak Ia.. " katanya.


Yunia tertawa mendengarnya.


Lalu ia peluk adiknya dengan penuh kasih.


Sungguh bagi mereka kehadiran Stefan membuat hari- hari mereka penuh kebahagiaan.


Setelah menunggu sebentar di bagian penjemputan, tampak Antony keluar dengan gagahnya dan melambai pada orangtua dan adiknya.


" Papa.. mama... " Antony memeluk dan membungkuk mencium tangan orangtuanya.


Yunia dan Stefan melihat dan menunggu giliran di peluk kakaknya.

__ADS_1


" Hai nona... sudah tambah cantik rupanya ya, apa adik kakak ini tambah pintar belajar ?" tanya Antony seraya memeluk adiknya.


" Pasti dong kak, aku masih juara di kelas, tenang aja kak," kata Yunia tersenyum bangga.


" Ini adikku yang bungsu.. sudah bisa apa sekarang ?" tanyanya seraya menggendong dan mencium Stefan.


" Pan.. mau kaka Ony," katanya dengan bicara yang masih belum jelas terdengar.


" Stefan kangen kakak?" tanya Tony gemas.


Stefan mengangguk cepat dan balas memeluk kakaknya.


Tony senang adik- adiknya merindukan dirinya.


" Sekarang kita pulang ya, kita akan makan masakan mama, kakak sudah lama tidak makan masakan mama kan?" tanya Mira.


Tony mengangguk dan berkata," Asyik aku kangen masakan mama, ayo dek kita cepat pulang kakak lapar nih," kata Antony seraya menggandeng Yunia di tangan kiri dan Stefan di tangan kanan dan Aria yang mengambil alih membawa koper Antony karena kedua adiknya tak mau lepas dari pelukan Tony.


Suasana di meja makan berjalan penuh gelak tawa. Antony pandai membuat suasana menjadi hidup.


Stefan dengan kelucuannya di meja makan membuat Mira hampir kewalahan, tetapi Aria dengan sigap membantu Mira.


Setelah makan Tony minta ijin untuk mandi dulu, ia merasa tak nyaman dengan tubuhnya setelah hampir seharian ada di pesawat dan bandara.


Antony tersenyum melihat keadaan kamarnya masih sama seperti dulu ia belum pergi.


Ada banyak kenangan menari di benaknya termasuk memori tentang mamanya tersayang Anita.


Setelah mandi ia bergegas menelepon seseorang.


Tak lama terdengar suara indah yang selama ini ia rindukan. Cepat Tony alihkan pada video agar ia dapat memandangnya.


" Hai.. sayang.. aku sudah sampai di Indonesia, di rumah.


Nanti besok kita bertemu ya, sudah hampir 2 tahun kita tak bertemu hanya video call saja, pastikan besok kamu ada waktu untukku ya," kata Antony sambil tersenyum di video pada seorang gadis.


" Ya sayang.. aku tunggu ya seperti penantianku yang selalu merindukanmu," sahut gadis itu dengan menunduk malu.


" Ha ha ha.. kamu merindukanku ?" tanya Antony menggoda.


Sang gadis hanya tersenyum dan menyuruh Antony untuk mandi dan beristirahat.


Setelah mandi, Antony belum mau istirahat, ia menuju ruang keluarga di mana papa dan mamanya ada.


Ia membawa oleh- oleh untuk papa dan mama serta adik- adiknya.


Walau sederhana tetapi ia ingin memberikannya.


" Pa.. ma.. ini ada oleh- oleh untuk papa dan mama, Yunia dan adik Stefan," katanya seraya menyerahkan pada Mira.

__ADS_1


" Kenapa bawa oleh- oleh segala Tony.. pasti minta uang sama tante Rossa ya?" kata Aria menyelidik.


" Tidak pa.. ini Tony beli dari menyisihkan uang jajan yang papa kasih setiap bulan. Aku jarang jajan di sana pa, karena makan siang di kampus sudah disediakan bagi mahasiswa yang tidak mau cari makan di luar. Kita tinggal bayar pa, karena itu tiap papa kasih Tony sisihkan karena itu sudah termasuk biaya Tony semuanya. " katanya menjelaskan.


" Maksudmu sudah semua biaya yg papa transfer ke kampus untuk tiap semester ?" tanya Aria.


" Iya pah, jadi yang papa kasih untuk jajan Tony, aku belikan buku dan sisanya aku sisihkan untuk di tabung. "sahutnya.


Aria mengangguk senang mendengar dan ada bangga di hatinya melihat anaknya yang dapat hidup sederhana tanpa menggantungkan seluruh hidupnya pada orangtuanya seperti kebanyakan anak- anak lain yang memanfaatkan kekayaan orangtuanya untuk gaya hidup tinggi.


Yunia dan Stefan sangat senang dengan hadiah yang diberikan.


Mereka berdua memeluk Antony dan berterima kasih.


Mira pun senang dengan hadiah dari Tony.


" Tony.. mama senang hadiah darimu, ini gelang unik yang baru mama lihat.


Makasih ya nak, mama akan pakai terus ini," sahut Mira tersenyum.


" Ya ma.. Tony senang kalau mama suka hadiahnya. " kata Tony memeluk mamanya.


" Oh ya Tony.. kamu istirahat saja dulu. Besok ada rencana kemana? Berapa hari liburanmu di Indonesia? Biar papa atur waktu kita akan rekreasi bersama- sama," kata Aria.


" Pa.. ma.. besok Tiny ijin mau bertemu teman. Tony libur 2 minggu pa, jadi masih banyak waktu untuk kita bersama- sama terus.


Tetapi besok Tony ketemu teman dulu ya pa, ma," katanya dengan penuh harap.


" Ya sudah papa dan mama ijinkan. Siapa temanmu itu yang sangat ingin kamu temui, wajahmu berseri- seri ketika kamu bicarakan dia, " tanya Aria menatap Tony.


" Hehe.. teman pa.. " kata Tony tersenyum malu.


" Teman apa teman Tony .. " tanya Mira menahan tawa.


" Teman dekat ma, Tony sudah menjalin persahabatan dari SMA. Orangnya baik dan sederhana. Itu yang membuat aku tertarik. Kami sudah menjalin hubungan selama 1 tahun ini lewat telepon ma," kata Tony menunduk. Ia takut Aria marah.


" Kenapa kamu menunduk seperti itu nak, kamu takut papa marah ?" tanya Aria tersenyum.


" Iya pa.. kan kata papa harus belajar dulu. Aku waktu SMA sampai tidak berani mengutarakan rasa sukaku padanya karena ingat pesan papa.


Ternyata hubungan kami tetap berlanjut sampai sekarang. " kata Tony.


" Tony.. papa kemarin itu melarang kamu pacaran karena takut mengganggu studi kamu. Tetapi sekarang sudah kuliah ya papa hanya minta kamu jaga diri, pergaulan dan bila ada yang kamu suka silahkan .. papa tidak melarang. Hanya kamu harus menjaga kepercayaan yang papa dan mama berikan ya," kata Aria menasehati Tony.


" Baik papa dan mama ..Tony jaga kepercayaan yang diberikan pada Tony.


Sekarang Tony mau istirahat dulu ya, baru terasa cape perjalanan," katanya.


" Ya sudah istirahatlah.

__ADS_1


Besok bawalah pacarmu ke sini. Papa dan mama perlu melihat dan berkenalan pada kami ya," sahut Aria seraya mengelus rambut anaknya.


***


__ADS_2