Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
JADI INGIN DEKAT


__ADS_3

Aku jadi berharap mengantarnya ke rumah temannya. Bukan berharap untuk jadi kekasihnya. Berharap temannya itu ada di rumahnya. Aku masih pacar dari sahabatnya. Aku tidak mau merusak persahabatan mereka.


Setelah pulang mengantarnya pikiranku semakin fokus kepadanya. Wanita yang selama ini hanya diam memandangiku ketika ikut bersama pacarku main. Ternyata memiliki masalah sekelam itu. Entah ini perasaan peduli atau memang perasaan lainnya.


Entahlah aku sendiri pun bingung mau berbuat apa.


Hari berlalu esok, seperti hari kemarin aku menjemput Desi pacarku di gang dekat jalan raya karena memang biar lebih cepat begitu ucapnya. Meskipun kami lama berpacaran aku belum pernah main ke rumahnya. Sabtu malam minggu ini aku janjian main di rumahnya. Berbekal alamat yang d berikan oleh dia.


Tepat sudah hari ini hari sabtu malam minggu. Sesuai janji kulajukan sepeda motor ke alamat yang di berikan. Bermodalkan buah di tangan untuk orang tua Desi aku semakin percaya diri. Aku memang masih remaja. Tapi aku cukup dewasa untuk hal macam ini.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Desi aku berbincang sedikit dengan orang tuanya lalu kami mengobrol di teras. Sejam berlalu begitu saja dan datang dua orang teman Desi. Tidak asing dengan keduanya mereka menghampiri kami di teras setelah memarkirkan sepeda motornya. Ya mereka Nisha dan Echa. Hah, hatiku terpana melihat pemandangan yang tak terduga ini. Ternyata Desi teman mantanku Echa. Aku dan Echa saling melirik satu sama lain. Entah perasaan apa yang membuatku tiba-tiba menggoda Desi agar terlihat hatiku baik-baik saja di depan Echa. Aku pun menatap Nisha yang memandangiku penuh arti. Perasaan ini semakin bergejolak ketika kupergoki ia sedang melihatku. Aku tepis itu semua dan mulai bercanda dengan Desi. Semua terlihat biasa saja seakan tak terjadi apapun. Tapi aku sungguh kasihan dengan Desi, kedua temannya ini telah membohonginya kalau kami saking kenal. Bahkan pernah dekat. Semua terlihat dari cara Desi memperkenalkanku. Seolah mereka pun menurutinya seakan baru pertama bertemu.


Malam semakin larut, aku pun turut pamit pulang. Kuajak Desi jalan esok harinya. Niatnya mah Cuma buat Echa cemburu. Dia begitu senang mendengarnya dan kami pun berpisah.


Kulajukan sepeda motor menuju ke rumah. Di kamar aku tersenyum lebar. Niat balas dendam terhadap Echa pun aku mulai. Ini semakin menarik bagiku. Ketika perasaan hancur yang aku alami dan melihat orang yang membuatnya dekat denganku. Aku terobsesi akan ini. Bukan hal kriminal yang akan aku kerjakan. Tapi perasaan yang tersakiti harus di balas. Entah kenapa ini menjadi obsesiku.


Tring ...


[ Hai, lagi apa?]

__ADS_1


Sebuah pesan dari Nisha, tumben sekali dia. Ada apa ini.


[ lagi tiduran aja, tumben ada apa nih?]


Balasku sedikit bercanda, moodku kembali segar sepertinya. Setelah dari tadi mengumpat soal Echa.


Dia bercerita kalau ingin curhat saja. Tentang masalah keluarganya. Dia pun sedikit menyinggung soal aku ajak jalan Desi, sebenarnya ini bukan yang pertama. Mungkin dia baru mengetahuinya. Dia sempat menyindir ingin aku ajak jalan juga. Bermodal nekat aku pun menjanjikannya. Hatiku senang saat itu. Meskipun ini menyakitkan bagi Desi. Dia wanita yang baik. Apa pantas mendapatkan aku. Aku ingin melepasnya perlahan. Aku tidak mau membohongi perasaan ini lebih lama.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2