
Andrian baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Terlihat layar ponselnya menyala. Andrian menghampirinya dan melihat sebuah pesan singkat dari Retha.
[Mas Andrian nggak usah kesini ya. Aku nanti bareng Bian aja.]
Andrian meletakkan kembali ponselnya. Pupus sudah harapannya hidup bersama Retha. Gadis yang sangat dicintainya memilih untuk berpaling darinya. Seketika lenyaplah bayangan pernikahan yang diimpikanmya sejak lama.
Andrian mengerang frustasi. Kembali hubungannya kandas di hari-hari terakhir menjelang pernikahan. Meski Retha belum memutuskan apapun, dengan sikapnya saja, Andrian yakin Retha telah memilih Bian.
Perlahan air mata mulai mengaliri wajahnya. Rasa sesak di dadanya meledak begitu saja. Seolah kutukan baginya dan ibunya, selalu gagal dalam pernikahan. Andrian tertunduk. Tubuhnya merosot hingga ke lantai. Kehancuran itu begitu menghantuinya.
Tok.. Tok.. Tok
Suara ketukan pintu dan panggilan Bu Nunik terdengar. Segera Andrian mengusap wajahnya dengan handuk dan bergegas membuka pintu.
"Kok lama Le buka pintunya? Mata kamu kenapa Le kok merah? Kamu sakit?" tanya Bu Nunik sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Andrian
"Ah nggak kok Ma. Andrian cuma kurang tidur aja hehe. Kebanyakan bergadang mungkin jadi gini." Ujar Andrian mencari alasan
"Oalah Le, lusa kamu itu mau menikah. Nggak baik kebanyakan melek. Ntar pas ijab qobul ngantuk lagi." ujar Bu Nunik
Andrian tersenyum menanggapi kalimat Bu Nunik.
"Ya sudah Le, kamu siap-siap sana. Nanti antar mama dulu ya, ke rumah Pak Dhe mu mau minta tolong buat jadi saksi pernikahan kamu." ujar Bu Nunik
"Iya Ma. Andrian siap-siap dulu." ujar Andrian kembali masuk ke dalam kamarnya.
Kedua matanya menatap nanar ruangan itu. Kamar yang seharusnya menjadi awal kehidupan pernikahannya dengan Retha, kini akan dia tinggali sendiri lagi. Andrian menatap ranjang king size yang baru digantinya beberapa hari yang lalu, beberapa perabot yang disesuaikan dengan keinginan Retha. Juga, hiasan untuk kamar pengantin yang disiapkannya akan terbengkalai begitu saja.
Andrian menarik napas dalam, berusaha mengurangi sesak di dadanya. Tak mau larut dalam kesedihan, Andrian segera bersiap untuk mengantarkan Bu Nunik.
Di kantor...
Andrian baru keluar dari mobilnya saat Retha membuka pintu pagar. Tatapan mereka bertemu sekilas, sebelum akhirnya Andrian memutus kontak dengan Retha. Andrian berlalu begitu saja seolah tidak pernah mengenal Retha.
__ADS_1
Retha tertegun, menatap punggung Andrian yang semakin menjauh. Tidak ada lagi sapaan ramah seperti awal dia sampai di kantor ini. Tidak ada candaan dan obrolan santai Andrian yang selalu bisa membuatnya tertawa.
Retha menitikkan air mata. Dia merindukan Andrian. Ingin rasanya berlari dan memeluk erat Andrian namun dia tidak bisa melakukannya.
Retha mengusap air matanya dan berjalan menuju kantor. Di dalam ruangan, dia juga berpapasan dengan Putra yang melewatinya begitu saja. Dia ada tapi seperti tidak ada. Dunianya runtuh, berbalik 180 derajat. Warna warni indah yang dulu dia lukis bersama Andrian menjadi kelabu kelam yang tidak ada habisnya.
Retha tidak sanggup lagi. Dia menangis tersedu di mejanya. Hatinya sakit, seolah tidak mampu menganggung beban ini sendirian. "Aku harus selesaikan hari ini juga. Aku nggak boleh menunda lagi!"
Sore harinya..
Retha meninggalkan kantor lebih dulu. Tampak Bian yang sudah siap di atas motornya.
"Mau ngajak kemana nih?" tanyanya dengan wajah berseri
"Kita ke taman Kota" ujar Retha singkat.
Sepeda motor Bian melaju menuju tempat yang Retha inginkan. Bian menarik kedua tangan Retha agar lebih erat memeluknya. Retha yang dibonceng pun hanya menurut tanpa protes.
Motor itu pun terhenti di depan sebuah pendopo di ujung taman. Tampak lampu hias berwarna kuning mulai menyala. Kursi panjang yang berjajar rapi tersusun dengan indahnya. Memberi kesan romantis ala anak muda disana.
"Bian, aku mau ngomong sesuatu." ujar Retha serius
"Gue udah tahu kok apa yang mau Lu omongin ke Gue." ujar Bian dengan seulas senyum
Dahi Retha mengernyit. "Baguslah kalau kamu udah tahu An. Jadi kan aku nggak perlu sungkan lagi buat jelasin."
"Nggak usah ngomong apa-apa Tha. Gue udah tahu kok jawabannya. Pasti iya kan?" tebak Bian
"Maksudnya?" tanya Retha kembali
"Pasti Lu jawab Iya kan. Iya buat milih Gue kan?" ujar Bian memastikan
Retha tertawa getir. "Sayangnya bukan itu yang aku maksud An."
__ADS_1
Bian menatap wajah Retha yang memandang lurus ke depan.
"Aku rasa ini udah waktunya An. Aku nggak bisa nahan ini terlalu lama."
Retha menoleh ke arah Bian yang ada di sampingnya.
"Kita sudahi saja sandiwara ini. Cukup sekian semua kepura-puraan antara aku dan kamu."
Bian memejamkan matanya sejenak berusaha mencerna setiap perkataan Retha.
"Pura-pura? Maksud Lu apa Tha?" ujar Bian tak percaya
"Maaf aku udah buat kamu berharap lebih sama aku. Sejujurnya, semua yang aku lakuin ke kamu itu nggak sungguh-sungguh. Aku coba kasih kesempatan itu buat kamu, aku kira itu bisa mengembalikan perasaanku ke kamu An. Tapi, sejauh aku mencoba. Aku sadar.."
"Perasaan ini udah lama hilang. Nggak ada sama sekali tentang kamu di dalamnya." ujar Retha
Bian tertunduk dengan segala kekecewaan di wajahnya.
"Kenapa Lu tega Tha? Lu nggak pernah bilang dari awal. Lu biarin Gue habisin beberapa hari Gue dengan sia-sia! Cuma demi cinta palsu Lu yang nggak pernah ada. Gue nggak habis pikir ada cewek setega Lu!" ujar Bian tak terima
Retha kembali tertawa. Miris. Ternyata memang seperti itulah watak asli Bian. Egois dan tidak mau mengalah.
"Terus gimana sama kamu? Kamu nolak aku berkali-kali An. Kamu menghilang gitu aja. Kamu nggak pernah anggap serius perasaanku An. Dan sekarang kamu kembali, saat aku mau menikah sama orang lain. Harusnya kamu malu An! Malu untuk datang dan batalin rencana pernikahanku!" ujar Retha meluapkan emosinya.
"Tapi nyatanya apa? Kamu justru memperlebar jarak antara aku dan Mas Andrian dengan sikap dan kata-katamu! Kamu remehin dia, seolah cuma kamu laki-laki yang baik buat aku." lanjut Retha
Bian terdiam. Menghayati setiap ucapan Retha. Retha benar, dialah pengecut yang sebenarnya. Yang takut akan kekalahan dan menganggap cintanya sebagai sebuah persaingan. Dia memaksa untuk bersaing dengan Andrian disaat hari pernikahan Retha sudah ditentukan. Itu adalah kesalahan fatal yang pernah dia perbuat.
"Sekarang aku udah tahu semuanya An. Ini keputusan paling tepat untukku. Aku akan tetap menikah dengan Mas Andrian. Jadi aku mohon sama kamu. Jangan pernah dekati aku lagi dengan alasan apapun!" ujar Retha mencoba berdiri
"Selamat tinggal Bian. Semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik daripada aku."
Retha berlari meninggalkan Bian yang masih termangu di kursi itu. Erangan terdengar dari mulutnya. Retha tak menghiraukannya dan tetap menjauh. Pipinya sudah basah dengan air mata.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Aku harus ketemu Mas Andrian. Aku harus menjelaskan semuanya agar dia nggak salah paham lagi." tekadnya