
Mira tak menyangka Intan akan berani meneleponnya.
Ia merasa marah dengan Intan.
Walaupun ia sudah menikah lagi dan hidup bahagia, tetapi ia tak mau diganggu dan diingatkan lagi masa- masa di mana ia merasa hancur hidupnya dan dikhianati oleh mantan suaminya.
Sekarang di saat dia sudah tenang dan bahagia, musuh terbesarnya mengganggu lagi memori dan ingatannya, itu yang membuat ia marah.
Alhasil seharian Mira kerjanya hanya marah dan marah.
Beberapa kali ia membentak Yunia yang manja tapi menyebalkan tingkahnya hari ini.
Ia merasa hari ini sangat cengeng dan sedikit- sedikit marah.
Ia tahu ini akibat ia memendam marah pada Intan, orang yang merebut kebahagiaannya dulu.
Aria yang melihat Mira seperti itu menegurnya.
" Ada apa sayang ? Kok dari tadi marah- marah terus.
Kasihan itu Yunia menangis di kamarnya. Kenapa kamu ini? Tidak biasanya seperti ini, coba kamu cerita padaku Mira?" tanya Aria heran.
Di hari libur ini Aria sengaja bangun siang, menikmati liburannya.
Ia rencana mengajak keluarganya untuk pergi berjalan- jalan.
Sewaktu ia hendak mendatangi kamar Yunia agar bersiap- siap, ia melihat Yunia menangis terisak- isak.
Aria pun heran dan bertanya ada apa, tetapi Yunia hanya bilang ia di marahi Mira setelah Mira mendapat telepon.
Aria berpikir siapa yang menelepon Mira, karena itu ia mencari Mira di kamarnya.
" Mira.. jawab pertanyaanku, dari tadi aku bertanya padamu kenapa kamu tidak jawab suami kamu hah?" tanya Aria mulai marah. "
" Aku dari tadi diam menahan marah mas, aku tidak mau marah padamu, maaf mas, kemarin Intan telepon aku, jadi aku terbawa emosi," kata Mira kesal.
' Siapa Intan?" tanya Aria heran. Aria lupa nama itu.
" Itu mas, pelakor yang buat rumah tanggaku hancur," jawab Mira mengingatkan.
" Loh.. kenapa kamu masih urusi orang itu, bukankah kalau dia pelakor apa sekarang kamu dirugikan olehnya?
Apa kamu masih berhubungan dengan mantan suamimu ? Itu kan masa lalu mu Mir.. yang harus kamu lupakan. Jangan kamu merasa karena kamu masih sakit hati pada perempuan pelakor itu lalu kamu marah - marah dan kesal pada orang- orang terdekat kamu.
__ADS_1
Jangan kamu cari pelampiasan marah kamu Mir.. aku tidak suka cara kamu, Yunia itu anak kamu. Hanya karena kamu marah pada Intan, kamu korbankan perasaan anakmu.
Kalau kamu kesal, lebih baik kamu selesaikan dulu dengan Intan, jangan kamu marahi Yunia.
Ia menjadi takut padamu." kata Aria menatap Mira dengan tajam.
Mira terdiam mendengar omongan Aria. Ada benarnya juga pikirnya, mengapa aku harus marah- marah pada Yunia, kasihan dia, anakku takut padaku," batin Mira berkata.
" Maaf mas, mungkin aku terlalu terbawa emosi sehingga aku tidak bisa mengontrolnya, aku minta maaf ya mas," kata Mira menyesal.
" Ya, kamu dekati Yunia ya, kasihan ia kamu bentak, kaget dia, selama ini Yunia tahu mamanya sangat sayang padanya, tetapi hari ini kamu bentak dan marah- marah padanya sehingga ia ketakutan.
Mas tidak mau anak- anak terganggu dalam masa perkembangan mereka ya Mir.. mereka harus merasa nyaman dan aman bersama kita orangtuanya," kata Aria menasehati Mira.
" Baik mas, aku menyesal karena telah marah pada anakku Yunia, sekali lagi maafkan aku ya mas, aku janji tidak akan mengulanginya," kata Mira sedih.
" Ya mas percaya padamu, sana lihat Yunia, kamu bicarakan padanya, dia anak yang baik," kata Aria seraya mencium kening Mira.
Mira pun bergegas mendatangi kamar Yunia.
Ia melihat anaknya tertidur dengan masih ada tetesan air mata di sudut matanya.
Hatinya terenyuh. Ia menyesal telah marah pada anaknya karena emosi dengan wanita yang sudah merusak rumah tangganya.
Apa mungkin aku masih tidak dapat melupakan Bagas walau aku sudah dengan mas Aria? Apa mungkin aku masih mencintainya ? Apa karena aku terluka oleh penghianatan mereka sehingga ketika mereka membuka peluang untuk ada percakapan emosiku langsung mencuat muncul?, mengapa emosiku tak bisa ku redam ya tadi ?" pertanyaan itu silih berganti bermain di pikiran Mira.
Ia memikirkan semuanya, karena sifat karakter Mira itu tidak seperti saat Intan dan Mira berbicara.
Biasanya Mira hanya terdiam, mengamati dan akan menyimpulkan sesuatu apa itu baik atau buruk, baru berbicara.
Ia merenung memikirkan itu semua, dan menjawab di hatinya.
Rasa cinta pada Bagas sudah tak ada di hatinya, ia sudah melupakan Bagas yang sudah menelantarkan Yunia dan menghianati dirinya.
Walau nanti suatu kali bertemu muka pun Mira sudah tak ada rasa padanya, karena sekarang rasa itu ada pada Aria, suami yang sangat mencintainya.
Jadi mustahil ia marah pada Intan hanya karena ia masih mencintai Bagas.
Apa mungkin karena aku belum memaafkan Bagas dan Intan dalam hatiku sehingga marah itu yang muncul keluar sebagai reaksi kekecewaanku ? batinnya berkata lagi.
Aah.. sudahlah.. aku pusing memikirkannya. Yang terpenting sekarang aku harus memikirkan hati Yunia dan keluarga baruku, agar kehidupan yang bahagia ini tidak direbut dan diganggu lagi oleh mereka.
Mira tersadar dari lamunan batinnya pada saat Yunia terusik tidurnya.
__ADS_1
Di belai rambut anak tersayangnya yang sebentar lagi akan naik ke kelas 6 SD.
Dipandangi wajah Yunia, banyak kemiripan dengan Bagas, hidung mancung, mata yang berbinar- binar, rambut hitam Bagas dan bibir mungil Mira ada di wajah Yunia.
Sifat manja Bagas, tegar dan mandiri dari Mira tercermin kuat pada Yunia.
Dibelainya rambut Yunia dengan lembut, diusap pipinya dan diciumnya dengan penuh kasih.
" Nia... Nia.. maafkan mama ya, tadi marah pada Nia," kata Mira sedih.
" Mama tidak marah pada Nia, mama tadi lagi emosi nak, maafkan mama ya," ujarnya seraya masih mencium pipi Yunia.
" Nia sudah maafkan mama kok dari tadi, " katanya seraya membuka mata.
" Heh Nia nggak tidur dari tadi, Nia tahu mama liatin dan bicara pada Nia?" sahut Mira kaget.
Yunia mengangguk dan berkata," Waktu mama masuk Nia tahu, Nia masih menangis, karena Nia takut dimarahi lagi jadi Nia pura- pura tidur," katanya polos.
Mira yang mendengar langsung memeluknya lagi dan menangis.
Ia sangat menyesal anaknya sampai pura- pura tidur karena takut dimarahi lagi olehnya.
" Nia.. sekali lagi maafkan mama ya, mama janji tidak akan marah lagi pada Yunia bila itu bukan kesalahan Yunia. Mama tadi lagi emosi, mama menyesal sudah marah padamu nak," kata Mira memeluk anaknya dengan kasih.
" Ayo mandi, belum makan kan ? Nanti mama buatkan masakan kesukaanmu, ajak kakakmu untuk makan bersama. Papa hari ini libur, kita nikmati kebersamaan ini ya," kata Mira tersenyum.
" Papa libur ma? aku mau main sama papa dan adik hari ini, aku mau jalan- jalan sama papa, " katanya dengan senang.
Lalu ia bergegas ke kamar mandi dan terdengar senandung kecil dari mulutnya bernyanyi.
Mira tersenyum dan melangkah keluar menuju dapur.
Hatinya lega, Yunia sudah tersenyum dan tertawa kembali.
Keceriaan keluarga ini sudah kembali lagi.
Ia bersyukur memiliki seorang suami yang sangat mengerti dirinya.
***
Mohon maaf para readers, author minggu - minggu ini sangat sibuk, sehingga agak jarang up date, tetapi tetap author usahakan untuk up date, semoga para readers yang selalu setia membaca novelku ini sabar menunggu ya..
Salam sehat selalu .. 🌷⚘🙏🙏
__ADS_1