Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 126. Intan Mulai Melemah


__ADS_3

Tiga hari setelah ia pingsan menangis dan meraung sesudah menelepon Bagas, bu Marsih sangat kuatir sekali dengan keadaan Intan.


Intan terlihat lebih pendiam, melamun dan kadang tiba- tiba sakit dan menjerit.


Mungkin itu karma bagi hidupnya. Ia tak siap dengan kenyataan bahwa Bagas tak akan memaafkannya.


Intan saat ini ada di teras rumahnya, Dion ada di dekatnya bermain sendiri.


Ia menatap Dion dan memanggilnya pelan.


" Dion.. sini peluk mama dulu. Mama mau peluk Dion. " katanya sambil matanya berkaca- kaca.


Ada yang memberati pikiran Intan.


Ia merasa berat harus berpisah dengan anaknya, ia belum siap melepas Dion.


Karena itu ia menangis sambil memeluk Dion.


" Dion.. kamu sayang mamakah ?" tanyanya sendu.


" Iya mama, jangan nangis lagi. Dion sedih kalau mama sakit. Cepat sembuh ma, nanti kita jalan- jalan," kata Dion mengelus rambut mamanya.


" Dion mau jalan- jalan ?" tanya Intan.


" Mau ma, tapi mama sembuh dulu," katanya.


" Mama sehat kok hari ini, atau bagaimana kalau besok kita jalan- jalan di taman ya, nanti Dion mau apa? Es krim mau ?" tanya Intan sambil memeluk dan mencium anaknya.


Ia menangis memikirkan nanti bila ia tidak ada Dion bagaimana nasibnya.


Walaupun sudah ia serahkan pada ibunya, tetapi perasaan seorang ibu tetap tak tega.


Itulah beban pikiran Intan yang membuat penyakitnya makin hari makin parah.


" Memangnya mama sudah sembuh besok ?" tanyanya


" Sudah.. mama besok sehat kok. " kata Intan tersenyum sedih.


" Horee.. kalau gitu kakek dan nenek ajak ya ma, kita makan es krim bersama," katanya dengan girang.


Intan mengangguk dan menatap sedih pada Dion.


" Dion mau bilang dulu sama kakek dan Nenek ya ma, " katanya seraya berlari ke dalam .


Intan pun termenung sejenak, ia menguatkan hatinya untuk satu hal yaitu ia akan menelepon Mira untuk minta maaf akan segala kesalahannya.


Ia menarik napas sejenak lalu ia mencari nomor Mira di ponselnya.


Setelah dapat nomornya, ia pun meneleponnya.

__ADS_1


Telepon tersambung tetapi belum ada jawaban.


Lebih dari dua kali Intan mencoba, sampai akhirnya ada suara yang menjawab.


" Halo... ini dengan siapa ?" tanya suara di sana.


" Halo.. halo.. siapa ini ?" tanyanya lagi.


Intanpun mulai menjawabnya.


" Halo ini Mira ya ?" tanyanya.


" Iya, ini aku Mira, ini siapa ya ?" tanyanya kembali.


" Aku Intan.. " katanya cepat.


Mira terdiam di sana, ia masih bingung dengan apa yang di dengarnya.


" Siapa ?" tanyanya memastikan pendengarannya.


" Aku Intan, Mira.. " sahutnya.


" Ada perlu apa kamu mencari aku ?" tanya Mira heran.


" Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan Bagas, jadi jangan cari dia kemari, aku tidak tahu keberadaan dia," kata Mira dingin.


" Mira.. aku bukan cari Bagas. Aku mau minta maaf padamu, aku menyesal telah membuat keluargamu hancur, aku minta maaf Mira," kata Intan sedih.


Aku salah Mira, aku sudah merebut suamimu, suami yang setia padamu," kata Intan mulai menangis.


" Apa maksudmu menelepon aku ? Kamu belum puas untuk menghancurkanku, apa kamu mau merebut suamiku yang sekarang juga? Aku tak akan ijinkan kamu untuk melihat sekalipun suamiku ini, jangan kamu ganggu lagi hidupku Intan, cukup kamu jadi pelakor yang merebut suamiku dulu ! " kata Mira dengan tegas.


" Urus itu Bagas, aku tidak mau tahu lagi urusan itu, hidupku sudah bahagia dengan suamiku sekarang, bila kamu mau rebut lagi suamiku yang sekarang, aku akan lapor pada polisi dan siap memperkarakanmu Intan!


Dulu aku diam saja, tetapi sekarang aku tidak akan tinggal diam.


Sudah cukup kamu menabur luka di hatiku Intan, di saat kamu bahagia aku terpuruk oleh penghianatan suamiku yang lebih memilih kamu dan rela tinggalkan aku istri sahnya dulu, jadi apa yang kamu mau perbuat lagi pada hidupku?" tantang Mira marah.


" Mira.. dengarkan aku dulu. Aku sungguh- sungguh menyesal dengan apa yang aku perbuat padamu.


Tujuanku menelepon hanya satu aku ingin minta maaf padamu, umurku tak lama lagi, aku sakit Mira, aku divonis dokter umurku tinggal menunggu bulan saja.


Jadi sebelum aku meninggal aku ingin minta maaf pada orang- orang yang pernah aku sakiti dulu. Itu saja tujuanku menelepon kamu, tidak ada niatku untuk merebut suami kamu sekarang, aku hanya ingin minta maaf " kata Intan.


Intan memohon pada Mira untuk memaafkan dirinya. Dan Mira pun termenung mendengar penuturan Intan.


Tapi bagi Mira tak semudah itu percaya, ia tak bisa melihat fisik Intan secara nyata, pikiran negatif nya muncul dan berkata " siapa tahu ia hanya pura- pura sakit, padahal yang sebenarnya ia ingin berbuat jahat lagi padaku," batin Mira berkata.


" Aku tak ingin diganggu lagi olehmu Intan. Biarkan aku bahagia dengan keluarga baruku ini.

__ADS_1


Untuk permintaan maaf mungkin tak semudah yang kamu pikirkan, cukup perbuatanmu itu membuat aku kehilangan segalanya." kata Mira dingin.


" Aku rasa cukup Intan, aku merasa terganggu oleh percakapan ini.


Ingat sekali lagi Intan, jangan kamu ganggu hidupku ini, camkan itu ! "


Mira pun menutup telepon tanpa memberi kesempatan untuk Intan menjelaskannya.


Intan pun terdiam, ia kecewa, harusnya Mira mendengarkan penjelasannya lebih dahulu baru memutuskan.


Ia bermaksud baik untuk meminta maaf, bukan untuk mengganggu hidup Mira lagi.


Ia pun terisak, mengingat usaha baiknya di tolak oleh Mira dan Bagas.


Bu Marsih keluar hendak mencari Mira, di lihatnya Mira terdiam dan terisak di kursi.


Dihampiri anaknya, lalu dielus rambutnya.


" Ada apa Intan? Mengapa kamu menangis lagi ? Sakit lagi perutmu ?" tanya bu Marsih kuatir.


" Tidak bu, aku barusan telepon Mira, dan jawaban Mira tidak mau memaafkan aku bu, Bagas juga kemarin seperti itu, padahal niatku baik bu, aku hanya ingin minta maaf sebelum ajal menjemputku bu," kata Intan terisak lagi.


Bu Marsih menghela napas lalu berkata," Intan.. dosamu yang dulu sudah terlalu banyak, kau sudah buat orang lain kecewa dan sakit hati padamu.


Tidak gampang memang Intan memaafkan itu, walau kamu punya niat baik, tidak semudah itu.


Yang terpenting kamu mohon ampun pada Tuhan, dan kamu sudah minta maaf pada orang yang kamu sakiti. Itu yang utama, meminta maaf.


Bila orang itu tidak dapat memaafkan kamu, ya tidak apa, kan kamu yang salah yang sudah minta maaf.


Urusan memaafkan kamu itu bukan lagi urusanmu, hanya masalah waktu, bila mereka sudah tidak sakit hati lagi pasti mereka memaafkanmu.


Kamu tidak bisa paksa orang saat ini harus memaafkanmu, luka hati orang berbeda ketika disakiti.


Jadi sekarang yang harus kamu pikirkan adalah kesehatanmu, kamu sebisa mungkin minta maaf pada orang lain yang kamu sakiti juga selain Mira dan Bagas.


Bila ada secepatnya kamu lakukan dan ingat bila mereka tak memaafkanmu kamu harus terima, jangan sedih. Tuhan juga melihat usahamu nak.


Tuhan pasti akan menolongmu bila niatmu baik, dan terus berdoa mohon ampun padaNya. " kata bu Marsih .


" Jalani hari- harimu dengan bersyukur pada Tuhan, jangan patah semangat, tapi harus gembira dan tenang, maka hidupmu akan lebih baik lagi daripada merenung, menangis yang akan membuat tambah drop sakitmu," sahutnya lagi menasehati Intan.


" Iya bu, memang kadang aku bangun badanku lemah, tak ada tenaga, pikiranku pun memikirkan kematian terus,aku berpacu dengan waktu bu bila aku tak cepat- cepat minta maaf," katanya lagi.


" Berdoalah.. dengan kamu sering berdoa, mengadu pada Tuhan, mohon ampunanNya, maka nanti pikiranmu akan lebih positif, kamu harus lawan sakitmu dengan selalu bersyukur pada Nya," kata nya pada Intan dengan tersenyum.


" Ya bu.. aku ingin ketika aku pergi, aku tersenyum. aku bahagia bu," jawab Intan semangat.


" Hidup dan mati di tangan Tuhan, jangan mendahului apa yang belum menjadi ketetapanNya. Dokter bilang umurmu hanya terhitung bulan, tetapi tetap kamu pasrah dan berserah pada sang pemilik kehidupan ini, bila belum waktunya maka bersyukurlah berarti masih ada kesempatan kamu untuk terus bertobat, memperbaiki diri dan berbuat baik pada orang lain, tetapi bila sang pemilik kehidupan berkata sudah waktunya maka tinggal berserah, memohon ampun dan berbuat baik pada orang lain dan orangtua sambil menunggu waktunya tiba.

__ADS_1


Diatas semua itu bersyukur, berdoa dan memohon ampun serta berbuat baik pada semua orang," kata bu Marsih dengan bijak menasehati anaknya.


***


__ADS_2