Hati Yang Terluka

Hati Yang Terluka
Bab. 119. Posesifnya Aria


__ADS_3

Mira terbangun pagi itu dengan tubuh yang segar.


Hari ini ia akan ikut program senam hamil untuk persalinan yang diadakan oleh rumah sakit tempat ia merujuk untuk nanti waktunya tiba melahirkan.


Ia sudah menentukan di mana nanti akan melahirkan.


Cepat- cepat ia bangun dan menuju kamar mandi.


Sesudah mandi ia melihat Aria yang masih terlelap.


Aria hari ini akan pergi bertemu dengan klien nya jam 10 sehingga Aria lebih santai tidak terburu- buru berangkat kerja.


Mira merias tipis wajahnya, dengan baju hamil dan rambut yang digerai membuat wajahnya semakin cantik.


Ia pun perlahan membangunkan suaminya. Aria berjanji kemarin akan mengantarkan Mira ke tempat senam ibu hamil.


" Mas... mas.. bangun," kata Mira menggoyangkan tubuh Aria lembut.


" Hmm.. ada apa sayang.. mas masih ngantuk ini," kata Aria tetap memejamkan mata.


" Aku mau ikut senam hamil mas, katanya mau janji antar," kata Mira masih lembut.


" Suruh saja si Marwan supir kita antar kamu dulu, nanti waktu jemputnya aku ikut," kata Aria masih dalam pusaran alam bawah sadarnya.


Sesudah bicara itu, ia pun tertidur lagi


Mira tak tega membangunkannya lagi karena terdengar dengkuran halus Aria.


" Suamiku benar- benar kelelahan ini, kasihan dia cape bekerja terus. Ya sudah aku akan berangkat dulu, yang penting mas Aria tahu aku pergi ke mana," batin Mira berkata.


Mira pun di antar oleh pak Marwan ke tempat senam hamil. Ia senang sekali dapat bergabung dengan ibu- ibu hamil lainnya.


Dari perkenalan biasa, lama- lama mereka menjadi akrab dan banyak bertukar cerita seputar kehamilan. Tak jarang canda tawa mengiringi kegiatan mereka senam.


Tak terasa 1 jam terlewati. Acara senam hamil pun selesai. Mereka semua menuju pintu keluar.


Suami- suami mereka sudah menunggu di depan. Ada yang menyambut dengan senyuman, ada yang langsung mencium pipi istrinya.


Mira menoleh ke kiri dan ke kanan, tetapi Aria dan pak Marwan belum terlihat.


Diraihnya ponsel dan dihubunginya pak Marwan.


Ternyata supirnya ini dalam perjalanan menuju tempat Mira.


Dan Mira pun menunggu kedatangan supirnya.


Dicarinya bangku dan ia pun duduk di situ.


Dibukanya ponsel untuk melihat chat pesan dan dibacanya.

__ADS_1


Ketika sedang membaca muncul seorang pria duduk di sebelahnya.


Mira melihat sekilas dan tersenyum pada pria itu karena pria itu menyapanya dengan sopan.


" Maaf mbak.. kosong ya bangku ini?" tanyanya dengan tersenyum sopan.


Mira melihat dan tersenyum pula lalu menjawabnya.


" Iya kosong pak," katanya.


" Wah saya terlihat tua sekali ya mbak, disebut bapak," katanya tertawa.


" Maaf mas.. saya salah sebut, masih muda kok mas nya," kata Mira tertawa.


" Habis senam ya mbak," seraya matanya melihat perut Mira.


" Iya , senam khusus ibu- ibu hamil mas " katanya.


" Lagi nunggu jemputan mbaknya ini ?" lanjutnya lagi.


" Iya.. tunggu supir jemput," kata Mira.


" Mas ini menjemput juga istrinya yang senam ?" tanya Mira.


" Bukan.. saya menjemput istri saya yang jadi instruktur senamnya mbak," kata pria itu tersenyum.


" Oh iya," sahut Mira tersenyum lagi.


Aria yang melihat Mira sedang tersenyum dengan pria lain, langsung cemburu dan keluar dengan muka marah.


" Mira... ayo pulang !, " bentaknya.


" Mas Aria belum berangkat kerja?" tanyanya heran.


"Mas.. saya pamit pulang dulu, sudah di jemput," kata Mira sopan pada pria itu.


Aria langsung menyeret Mira untuk cepat masuk mobil.


Mira kaget dengan perlakuan Aria. Tetapi ia diam saja karena ia tahu mas Aria salah sangka dan cemburu.


Di dalam mobil ia berkata pada pak Marwan," Antarkan saya dan ibu pulang lagi ke rumah. Ada yang saya harus urus sebentar pak," tegas Aria pada supirnya.


" Baik pak," sahut pak Marwan.


" Loh mas.. nanti terlambat bertemu klien nya loh. Aku tidak apa ikut saja dulu sampai kantor mas, baru nanti pulang dengan pak Marwan. " sahut Mira.


" Diam kamu ! Ikuti saja apa kemauan aku, jangan cerewet! " kata Aria membentak Mira.


Mira lalu terdiam. Ia tak bicara sepatah kata pun pada Aria sampai mobil masuk ke halaman rumah mereka.

__ADS_1


" Cepat keluar Mira, aku mau bicara padamu," kata Aria tegas.


Mira pun keluar. Aria tak sabar melihat jalan Mira yang pelan lalu diseretnya Mira ke kamar.


" Mas.. ada apa sih? Kok kasar begitu sama aku?" tanya Mira heran.


" Siapa yang kasih ijin kamu untuk lama- lama di luar?" tanya Aria dengan marah.


" Kamu senang kan bicara dan tertawa- tawa dengan pria lain? Kamu suruh pak Marwan jemput tapi malah kamunya lagi asyik ngobrol dengan pria lain. Aku lihat Mir.. kamu ingin bebas tanpa aku kan?" tanya Aria dengan marah.


Mira kaget dengan apa yang diucapkan Aria. Ia tak menyangka Aria sangat kasar dan posesif padanya.


" Mas.. dengar dulu.. aku sudah ijin pergi senam hamil padamu kan? katanya kemarin mau antar, tetapi mas kan masih tidur dan mas bilang aku pergi dengan pak Marwan." kata Mira heran dengan pertanyaan Aria.


" Aku tanya siapa yang kasih ijin kamu lama- lama di luar?" tanyanya lagi.


" Aku tidak lama- lama mas, 1 jam saja senamnya, tetapi yang lama itu pak Marwan dia pulang tidak menunggu aku karena tadi mas kan yang bilang saat aku minta ijin pada mas katanya mas Aria yang mau jemput aku, jadi ku sampaikan itu pada pak Marwan. " kata Mira kesal.


" Terus.. kenapa kamu tahu aku mau jemput kok malah kamu duduk- duduk dan berbicara, tertawa dengan pria lain?," tanyanya lagi dengan kesal.


" Mas.. aku tuh lagi duduk sendiri, mas itu menghampiri aku dan lagi menunggu istrinya yang instruktur senam hamil kami mas, masa orang tanya aku tidak jawab dan diam saja?" Kata Mira mulai marah juga.


" Mas ini harusnya tanya dulu baik- baik, jangan seperti itu, aku diseret- seret, di bentak padahal aku lagi hamil anak mas ini," katanya dengan kesal.


Aria terdiam dan tersadar, lalu ia berkata.


" Ok mas berarti salah sangka. Mas itu tidak ingin kamu kenapa- kenapa Mir, mas itu sayang pada kamu, itu bukti rasa sayang mas padamu," kata Aria .


" Kalau mas sayang padaku, bukan seperti itu mas, itu bukan sayang padaku tetapi curiga pada ku dan berpikir di luar sana aku itu senang digoda pria lain, mikir mas aku ini istri kamu pasti lah hidup, hati dan tubuhku untuk kamu bukan untuk orang lain. " kata Mira dengan masih marah.


" Jangan terlalu seperti itu mas, aku juga butuh suasana yang tidak membuatku merasa tidak nyaman, bosan mas kalau hanya diam tanpa melakukan apapun.


Biar aku hamil besar tapi aku tahu batasan kekuatanku dan kemampuanku. Jangan mas kira aku ini lemah, tidak boleh kerjakan apa- apa. Justru dengan seperti itu membuat aku stress mas dan itu akan mempengaruhi kesehatan anak kita mas," kata Mira.


" Ya sayang.. maafkan mas ya, mas salah selama ini. Mas pikir dengan kamu diam saja tak banyak gerak akan membuat tubuhmu semakin baik, tetapi yang terjadi kamu malah stress. "


" Ya mas, tidak apa. Jangan terlalu cemburu padaku mas." kata Mira berharap.


" Percayalah aku sangat cinta padamu, aku mau lakukan apa yang terbaik untukmu asal kamu bahagia," kata Aria seraya mencium kening Mira.


" Ya mas.. aku pun sayang sekali dengan mas,aku bersyukur dapat memiliki mas," kata Mira.


Mereka pun berpelukan dan saling mencium. Mereka terbenam sebentar dalam kenikmatan itu.


Tetapi Aria melepaskan dan berkata bahwa ia harus segera bertemu klien.


" Mas harus bertemu dulu ya dengan klien mas, tunggulah mas pulang nanti sore, kita akan lanjutkan ya sayang.. " kata Aria tersenyum nakal.


Mira pun tersenyum malu.

__ADS_1


***


__ADS_2