
Readers kali ini author berkisah pada Intan dan Bagas.
Setelah pasca bercerai Bagas sering terlihat lebih banyak terdiam, hatinya masih kadang memikirkan Yunia anaknya.
Kadang rindu menghampirinya tetapi ia pun kadang tak dapat berbuat apa- apa.
Intan sering melihat Bagas yang tidak seperti dulu, timbul pikiran Intan untuk ia harus bisa membuat Bagas melupakan Yunia anaknya dan mantan istrinya Mira.
Seperti pagi ini, Intan sedang menyiapkan kebutuhan Bagas untuk berangkat ke kantor. Kandungan Intan sekarang sudah memasuki 9 bulan, perkiraan dokter dalam minggu ini Intan akan melahirkan.
" Mas... nanti pulang kantor jangan kemana- mana lagi ya, temani aku takut waktu melahirkanku semakin dekat," katanya.
" Iya.. aku nanti langsung pulang, kamu hati- hati di rumah," kata Bagas.
Setelahnya Bagaspun pergi kerja.
Di kantor Bagas menelepon Rianti.
" Halo ma, gimana kabar mama?" tanyanya.
" Baik Gas, gimana istrimu, kapan melahirkan?" tanya Rianti.
" Katanya dalam minggu ini ma," sahut Bagas.
" Ya hati- hati saja ya, " katanya.
Bagas senang karena Rianti mamanya sudah mulai bisa menerima Intan.
Rianti sebenarnya tidak mau menerima Intan tetapi demi anak Bagas yang sedang di kandung Intan maka ia pun menerimanya.
Tidak demikian dengan Yanto, ia masih tidak mau untuk menerima Intan sebagai menantunya pengganti Mira.
Ketika waktu di kantor menunjukkan tepat pukul 4 sore dan Bagas sedang fokus mengerjakan tugas yang belum selesai, ponselnya tiba- tiba berdering.
" Halo Intan ada apa?" tanya Bagas setelah tersambung.
" Mas, pulang mas, perutku dari tadi siang sakit dan sedikit mulas," katanya.
Bagas yang mendengar kaget, lalu ia berkata," Baik mas pulang sekarang, kamu tunggu mas ya," katanya memutus percakapan.
Lalu Bagas bergegas pulang.
Sesampainya di rumah ia mendapati Intan yang terlihat kesakitan.
" Ayo kita ke dokter, di periksa, walau belum waktunya, " kata Bagas bergegas membawa Intan ke dokter.
Di dokter saat Intan di periksa, dokter mrngatakan Intan tak lama lagi akan melahirkan jadi ia di larang untuk pulang.
__ADS_1
Setelah menahan kesakitan yang amat sangat, pada subuh itu Intan melahirkan seorang anak lelaki yang tampan seperti Bagas.
Rasa syukur Bagas terlihat dari wajahnya, ia senang akhirnya ada generasi penerus darinya.
Pagi hari Bagas menelepon mamanya mengabarkan Intan sudah melahirkan.
" Pagi mama, ini Bagas mau kabarkan bahwa Intan sudah melahirkan tadi malam, anaknya laki- laki ma," kata Bagas.
" Wah syukur, laki- laki ya, jadi mama punya cucu 2 ya sekarang,"kata Rianti gembira.
" Iya ma, kabari papa ya ma," katanya.
" Ya nanti mama beritahu papamu," katanya.
Intan terlihat sudah lebih segar daripada kemarin. Ia sedang bersama bayinya.
Bagas senang melihatnya karena anaknya ini laki- laki yang mana dia sangat harapkan.
Dulu waktu Mira hamil pun ia mengharapkan anaknya laki- laki tetapi ternyata anaknya perempuan Yunia yang lahir, tetapi ia tetap bersyukur.
" Mas, mama dan papamu sudah di kabari kelahiran anak kita?" tanya Intan.
" Sudah, terus orangtuamu Intan apa mas kabari ya?" tanyanya.
" Ya mas, kabari saja, tapi mungkin mereka tidak dapat datang secepat itu karena sudah tua mas," katanya.
" Ya nanti aku kabari" katanya.
" Oh ya mas, siapa nama anak kita? Apa mas sudah ada nama?" tanyanya.
" Sudah " jawab Bagas.
" Siapa mas namanya?" Intan ingin tahu.
" Dion Saputra Wibowo" katanya.
" Hmm.. bagus juga. Ya aku setuju saja namanya itu, semoga anak ini menjadi anak baik, taat serta hormat pada orang tua ya," kata Intan demgan wajah berseri.
Esoknya Rianti datang menjenguk. Ia ingin melihat cucunya. Hati kecilnya tak kuasa untuk berkata tidak jujur bahwa ini cucunya, anak Bagas.
Karena itu ia paksakan dirinya untuk menengok.
" Ma, apa kabar?" sapa Intan yang senang mertua perempuannya datang.
" Baik," sahut Rianti singkat.
" Tidak bersama papa ma?" tanya Intan kembali.
__ADS_1
" Tidak," jawab Rianti.
" Mana anaknya Bagas aku mau lihat," katanya.
" Sedang di ruang bayi ma, lagi di mandikan," kata Intan.
" Baik, aku ke sana saja, aku datang hanya ingin lihat anaknya Bagas saja," kata Rianti tergesa pergi.
Intan terdiam, ia tak menyangka mertua perempuannya hanya ingin melihat Dion saja tanpa sedikitpun menanyakan kesehatan Intan setelah melahirkan ini.
Hatinya sedih belum diakui sepenuhnya oleh mamanya Bagas.
Di depan ruangan bayi terlihat Bagas berdiri memperhatikan anaknya di mandikan.
" Gas... " Rianti menghampiri Bagas.
" Ma...kok tahu Bagas di sini," kata Bagas antara heran dan senang mamanya datang.
" Tadi mama ke ruangan kamar, terus kata wanita itu bayinya lagi di mandikan," kata Rianti.
" Wanita itu ? Intan maksud mama?" tanya Bagas menegaskan.
" Iya, wanita itu, mana anakmu mama ingin lihat," katanya.
" Ma, wanita itu namanya Intan, ia sudah jadi istri Bagas sekarang, menantu mama juga," kata Bagas seraya memegang tangan mamanya.
Rianti lalu menatap Bagas dan berkata," Kalau bukan ada anakmu Bagas di wanita itu, takkan mau mama akui dia. Mama belain kamu dari papamu hanya 1 yaitu ada anakmu, cucu mama yang di kandungnya, darah dagingmu Gas, jadi mama bersikap seperti ini, tetapi untuk menerima wanita itu mama belum siap," kata Rianti mengagetkan Bagas.
Ia terdiam, dia salah mengira, ia menyangka mamanya sudah menerima Intan, ternyata hanya menerima anak yang di kandungnya saja.
" Ma.. kenapa mama tak mau menerima Intan sebagai menantu mama?" tanya Bagas.
" Aku tidak mau karena wanita itu seharusnya tahu kamu sudah punya istri, tetapi terus didekatinya kamu sejingga kamu khilaf dan jatuh dipelukannya sehingga itu tujuan dia mengikatmu dengan cara hamil, sehingga mau tidak mau kamu akan menikahinya dengan menjadikannya istri ke 2 atau kamu berpisah dengan Mira, itu tujuannya Bagas, masa kamu tidak paham? ," kata Rianti.
" Ma, memang Bagas salah ma, tetapi Intan tak seperti itu ma, dia baik, dia wanita baik- baik," kata Bagas membela Intan.
" Hmm bila dia wanita baik- baik, tidak mungkin dia merebut kamu dari Mira," kata Rianti tegas.
" Ahh sudahlah ma, jangan buat Bagas marah, mama kesini kan mau lihat cucu, lihatlah tapi jangan mama bicara yang lain yang memojokkan Intan, bagaimanapun cucu mama Dion itu, anaknya aku dan Intan, jadi mau tidak mau mama juga harus sayang pada Intan," katanya dengan nada agak tinggi.
Rianti terdiam, ia memperhatikan cucunya yang sudah siap di bawa suster kepada Bagas.
Bagas memperlihatkan Dion pada mamanya, dan ia berharap Rianti dapat menggendongnya.
Rianti memperhatikan dengan saksama dan kemudian memandang Bagas bergantian dengan Dion cucunya, alisnya berkerut sedikit, lalu ia mulai mengulurkan tangannya untuk menggendongnya.
Tetapi di sudut hati kecil yang terdalam ada rasa aneh menyelinap yang ia pun tak tahu itu apa, hanya rasa aneh yang ada.
__ADS_1
***